Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Keceriaan Naria


__ADS_3

Semilir angin sore di pekarangan nan teduh, rimbun dan banyak di tumbuhi bunga-bunga nan cantik. Di antara bunga menawan itu hadir pula sosok cantik, si bontot dari keluarga Charlotte.


Nari terus tersenyum memandangi Ponselnya. Nggak bosan-bosan gadis cantik ini berbalas pesan dengan Kai, si pemuda kecintaan sejak dua jam lalu. Dari perbincangan yang serius sampai perbincangan yang nggak bermutu. Dengan patuh Kai tak pernah telat membalas pesan Nari, sungguh seorang pelayan yang patut di acungi jempol, dan Nari bahagia karena hal itu.


"Si bontot suasana hatinya udah normal kembali?," tanya Nyonya Sook kepada Ghina.


"Denger-denger udah ketemu pawangnya, mah," sahut Ghina sembari menyuapi makan si gembul Bae.


"Duileh, berarti kemarin galau merana karena cinta?."


Ghina mengangguk tersenyum kepada sang mertua"Selalu saja, permasalahan di keluarga kita nggak jauh-jauh dari cinta," ucapnya menggelengkan kepala.


"Kamu Bae, jangan sampai terlena sama yang namanya cinta,yah!!," sembari mengunyel-unyel pipi bakpao sang cucu. Sedangkan Bae, terkekeh geli akan tingkah sang nenek padanya.


Ghina tersenyum kecil melihat betapa gemasnya sang mamah mertua pada putranya. Usai menyuapi Bae, Ghina meninggalkan nya bersama sang Nenek, sedangkan dia berjalan ke dapur mengantar piring bekas makan Bae.


"Hihihihi," Nari cekikikan di kursi taman belakang, dia masih sibuk dengan ponselnya.


"Hati-hati lho. Tertawa sendiri adalah gejala Sin to the ting." Tegur ghina yang kini muncul di belakang Nari.


"Ahahaha!!," tawa Nari pecah setelah membuka kembali pesan masuk di ponselnya.


"Apaan sih, Nar. Aku ngomong sampai di kacangin, lho!," seru Ghina duduk di samping Nari, sembari mengintip ke layar ponselnya.


Dan...."Buakakakka," Ghina juga tertawa renyah menyusul Nari.


"Kalian ngapain?," tanya Ghina di sela tawa renyah itu.


"Ini nih cowok minderan, sok-sok manggil aku Nona muda, nyebelin banget kan!." Dan Nari pun bercerita panjang lebar perihal suka dukanya mencari si Kai kemarin, juga tentang langkah mundur Kai dalam mendekatinya.


"Jadi kamu mengancamnya?."


"Hu-um," sahut Nari bertingkah imut.


"Wuaahh---, aku merinding," ghina bergidik dengan tangan memegangi kedua pundaknya menyilang"Kamu memang nenek sihir, Nar," ujar Ghina menimpali.


"Dari pada di embat orang, mending di perjuangkan mati-matian," seperti orang yang kehilangan akal sehat, Nari begitu terobsesi memperhankan, bahkan memaksa Kai harus bersamanya.


Si Ghina hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Nari, yang baginya mengerikan bahkan sangat mengerikan.

__ADS_1


"Kasihan banget cowok bernama Kai itu," gumam Ghina sembari berjalan menemui Bae dan Nyonya Sook.


Setelah di pikirkan, kasihan juga nasib Kai. Nggak salah kalau Ghina sampai merasa iba padanya, sebab selain memiliki kesabaran setipis tisu, Nari juga keras kepala.


Di kediaman Kai.


Kai tinggal di sebuah rumah sederhana yang berukuran sedang, nggak terlalu besar juga nggak terlalu kecil. Berpenghuni empat orang, yaitu Ibunda Kai, seorang anak laki-laki yaitu adik Kai yang bernama Baro, dan seorang wanita paruh baya yaitu nenek tersayang Kai.


Di sebuah kamar, Kai tak kalah terpingkalnya dengan Nari. Merasa terus di pojokannya Nari karena berusaha menjauhinya, otak cerdas Kai pun berusaha menerima dan menikmati saja segala sesuatu yang Nari paksakan kepadanya.


๐Ÿ‘ฏโ€โ™€๏ธ:"kirimkan lagi foto jelek mu!."


๐Ÿ‘ฏโ€โ™‚๏ธ:"Kamu sangat nggak adil, aku sudah mengirimkan foto jelek ku padamu!."


๐Ÿ‘ฏโ€โ™€๏ธ:"So???."


๐Ÿ‘ฏโ€โ™‚๏ธ:"Kirimkan juga ugly face mu kepadaku."


Di kediaman Charlotte, Nari berpikir sejenak. Sang gadis nampak sedang memilih foto jeleknya untuk di kirimkan pada Kai.


Tapi---"Kalau dia lihat foto jelek ku, terus nggak suka lagi sama aku gimana dong? apa dia bakal semakin menjauhi ku?."


"Oh iya ya, jari kanan nya kan cidera," gumamnya lagi.


๐Ÿ‘ฏโ€โ™€๏ธ:"sabar!!lagi milih foto terjelek," pesan terkirim lagi kepada Kai.


Perlahan, Kai berpikir tentang watak asli gadis yang awalnya dia kagumi ini. Semenjak resmi menjadi pelayan Nari, sikap Nari nggak pernah sok lembut lagi kepadanya. Dia terus memaksa kalau menginginkan sesuatu dari Kai, baik itu menyuruh Kai melakukan sesuatu atau meminta Kai membelikannya sesuatu.


"Ternyata ini sifat asli kamu," gumamnya menatap layar ponsel, entah kenapa mengetahui jati diri Naria yang sebenarnya membuat Kai tersenyum simpul.


Tring!!. Yang di nanti pun tiba"Hahaha, mari kita lihat."


Dan...


๐Ÿ‘ฏโ€โ™€๏ธ:"Sorry ternyata aku nggak punya foto jelek. Udah deh jangan maksa, di antara kita cuman aku yang berhak memaksa sama kamu. Dan kewajiban kamu harus selalu patuh padaku."


๐Ÿ‘ฏโ€โ™‚๏ธ:"Curang!!."


๐Ÿ‘ฏโ€โ™€๏ธ:"kamu nggak berhak bilang aku curang!."

__ADS_1


๐Ÿ‘ฏโ€โ™‚๏ธ:"Curang ya curang aja, nggak usah ngeles kaya bajai!!."


"ish!bisa banget ngomporinnya ni cowok, akh serah deh yang penting dia berhenti bilang aku curang."


Nari berselca di tempat dan segera mengirimnya kepada Kai.


Tring!!, sebuah foto akhirnya sampai kepada Kai.


Dan..."Kwkwkwkkwk!!!," Kai berbahak-bahak sampai kedua matanya berair.


"Emang gila ni cewek!," pekiknya dalam tawa.


๐Ÿ‘ฏโ€โ™€๏ธ:"Dah kan!!itu fotoku barusan. Kalau sampai tu foto tersebar kemana-mana, berarti kamu biang keroknya. Aku gantung kamu!."


Kai semakin terpingkal-pingkal. Kelakuan Nari sangat dia luar dugaannya.


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ....


Hari berikutnya di kediaman Charlotte.


Sudah tiga hari suasana nampak ramai di halaman rumah, bahkan taman bunga Nyonya Sook kembali menampakan pesonanya. Besok acara pernikahan Jung dan Andrea akan segera di laksanakan, di sini...di taman bunga ini.


Sedari tadi malam, Nari sudah mewanti-wanti Kai agar datang ke kediamannya. Jelas saja Kai menolak. Hello!! kita beda kasta, Kai nggak akan mau berbaur dengan mereka para holkay. Apalagi pemuda satu ini sangat mudah rendah diri, bisa-bisa semangatnya merosot kebumi.


๐Ÿ‘ฏโ€โ™€๏ธ:"Nanti siang kita omongin, aku jemput kamu di kampus ya."


๐Ÿ‘ฏโ€โ™‚๏ธ:"Bai, Nona," balas Kai.


Sementara orang-orang nampak sibuk dengan tugas masing-masing, si dosen edan justru diam tanpa suara di kamar Nari"Demi apa coba, aku harus bertahan di kamar ini untuk waktu yang cukup lama," keluh Jung yang sedang bersandar menghadap balkon. Dia sengaja bersandar lebih rendah di tepi ranjang Nari, agar ketika seseorang membuka pintu, dia nggak tertangkap basah sedang bersembunyi di situ.


Di lain tempat"kemana si Jung itu?," Nyonya Sook mencari keberadaan Jung. Sang Nyonya bahkan mengerahkan beberapa pelayan untuk mencari nya.


Kira-kira, apa yang membuat Jung bersembunyi dari Nyonya Sook??


To be continued...


~~โ™กโ™กHappy reding.jangan lupa like ,vote dan komen ya teman ^,^


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2