Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Go publik


__ADS_3

Sarita menitikan air mata, setelah menceritakan perselingkuhan suaminya dengan seorang wanita muda. Wanita itu datang dalam keadaan mengandung, hati wanita mana yang takkan menangis saat menyaksikan kenyataan itu.


Dialah Sera sahabat dekat Sarita sejak SMA. Kepada Sera dia kerap mencurahkan keluh kesah di dalam dada. Bukan melalui telepon ataupun pesan, rasanya lebih lega saat menceritakan hal itu secara langsung. Kerap menghabiskan waktu bersama saat menunggu anak mereka sekolah, saat itulah mereka saling bertukar cerita.


"Sepertinya aku akan pergi saja, aku menyerah, Sera" ujar Sarita.


"Menyerah bagaimana?. Aku nggak keberatan untuk menemanimu menjumpai wanita itu. Aku juga nggak keberatan untuk menjambak rambutnya. Ya, setidaknya membuat kepalanya sedikit botak" Sarita tersenyum samar mendengar ocehan sang sahabat.


"Jangan kotori tanganmu untuk menyentuh hal yang nggak baik" sahutnya.


"Suamiku mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku, tapi dia juga nggak bisa meninggalkan wanita itu. Karena dia telah mengandung, dalam waktu dekat suamiku akan menikahinya. Aku nggak bisa tinggal satu kota dengan mereka, demi kewarasan jiwaku maka aku akan membawa Keano untuk pergi dari kota ini." Tertunduk lesu Sarita berkali-kali menghela napas.


Sera sangat tahu betapa besar beban yang tengah menghimpit hati sang sahabat. Karena Sarita menolak bantuan yang diajukannya, hanya usapan lembut di punggung yang dapat dia berikan saat ini.


"Jadi, kamu yang akan mengalah?" pertanyaan itu diangguki oleh Sarita.


Dan kini giliran Sarita yang menghela napas"Kamu akan membawa Keano ke mana?."


"Aku akan membawanya kembali ke kota kita."


Terlihat mengedarkan pandangannya, sejujurnya Sarita juga merindukan kota kelahirannya itu"Karena kamu akan pindah ke sana, aku rasanya juga ingin ikut" ucap Sera.


"Suamimu pria yang baik, kamu nggak harus kembali ke kotamu hanya untuk tinggal satu kota denganku" mengusap punggung lengan Sera.


"Lantas bagaimana dengan anak-anak kita?. Kamu tahu kan mereka sudah terlalu akrab, bahkan saat sakit pun putriku kerap menyebut nama putramu."


"Dan putraku juga kerap ingin melindungi putrimu kalau ada teman yang menggangu" sahut Sarita. Nggak ada maksud untuk memisahkan dua bocah itu. Tapi keadaan memaksa mereka untuk berpisah.


Kejadian itu terjadi saat mereka baru duduk di kelas dua sekolah dasar. Sudah bertahun-tahun bahkan anak Keano dan Betty pun sudah nggak ingat lagi akan teman masa kecil mereka. Kini seiring berjalannya waktu mereka kembali bertemu. Sesekali Betty teringat akan bocah lelaki itu. Sangat enggak disangka bahwa bocah lelaki yang dulu selalu ingin melindunginya adalah Keano, cowok yang terbilang usil di sekolah.


"Ini tante Sera. Gimana kabar kamu?."

__ADS_1


"Baik tante" sahut Keano singkat.


Sorot mata cowok ini terfokus kepada Betty. Tanpa kacamata, tanpa kepang dua, ternyata Betty cantik juga. Merasa diperhatikan Betty pun membalas tatapan Keano. Pemuda itu mendadak malu, karena bertatap mata dengannya.


"Tante nggak menduga kalian satu sekolah. Tante dan Ibu mu sudah lama nggak saling berhubungan. Sebab ponsel tante sempat hilang dan banyak nomor teman-teman tante yang hilang juga."


Begitu senang karena menjumpai putra sang sahabat, Sera pun menceritakan bagaimana dekatnya Keano dan Betty saat dulu.


"Aku nggak yakin kamu sedekat Itu" Betty menyela kisah masa lalu sang Mamah.


"Saat Keano pindah kota, kamu sampai demam. Kamu bahkan mengigaukan namanya."


sebelah alis Keano terangkat naik, hoel!! segitu berpengaruh kah dirinya bagi gadis ini?.


Melihat wajah Keano, Betty jadi kesal. Dia beranggapan Keano berbangga diri akan hal itu.


"Heh!. Ada apa dengan muka songong itu?. Aku nggak percaya kisah Mamah aku. Kalaupun itu benar, itu hanya segelintir kisah di masa lalu. Aku sendiri bahkan nggak ingat pernah mengigaukan namamu!."


Begitu panjang seperti kereta api, Keano hanya manyun menanggapi celoteh Betty.


"Nih, kasihan juga bengong sendiri nggak ada yang di cemilin" beberapa camilan di bawakan Betty ke hadapan Keano.


"Minumnya es jeruk aja" dengan percaya diri, Keano meminta hal itu.


"Idih, air putih aja!."


"Pelit amat Bet!!."


"Bodo amat. Kamu kan datang buat ganti rantang Mamah aku. Bukan mau mampir lama!. Si Mamah pake reunian pula sama Ibu kamu. Ah elah!!, kok kita jadi ngobrol sih!." Betty berkicau tanpa henti seperti burung beo. Sedangkan Keano langsung menikmati camilan yang di bawa Betty.


"Biarin aja deh. Lagi pula di rumah nggak ada kerjaan juga akunya. Bosan main game melulu."

__ADS_1


"Kamu nggak bosan, aku yang bosan. Nggak di sekolah nggak di rumah, ketemunya kamu lagi kamu lagi!."


"Sinis amat sih Bet. Ngomong-ngomong kalau gini kami cantik deh. Kita foto bareng yuk."


Mundur dari hadapan Keano"Buat apaan!?.",


"Pamer di Instagram." Cengir Keano.


"Idih!!. Ogah. Dasar buaya giliran aku cantik langsung minta foto. Kemarin-kemarin kemana aja?. Apa gara-gara aku pake kacamata bingkai tebal sama kepang dua kamu ogah foto sama aku?."


Nggak menolak, Keano mengangguk"Iya. Emang gitu."


Ash!!. Betty kesal setengah mati. Dia mendorong cemilan-cemilan itu dengan paksa ke mulut Keano"Habisin nih, jangan ngoceh lagi!."


Keano hampir tersedak. Menepuk dada meminta minum, Betty gegas meminta pelayan membawakan air minum. Butuh beberapa menit barulah minuman itu datang. Keano pun sudah kepalang sakit tenggorokan.


"Sadis amat sih Bet. Kamu harusnya senang, di hari minggu ini ada yang nemenin. Meskipun cuman makan camilan."


Betty melirik tajam Keano"Heran deh, kok aku dulu suka temenan sama kamu. Kamunya nyebelin begini."


Keano terkekeh, sejujurnya dia juga nggak menduga ada kenangan di masa lalu bersama Betty.


Siang menjelang dan perlahan berganti sore. Pusat kota semakin ramai karena akan di adakan pembukaan Cafe dan Butik milik keluarga Ubadah.


Tak tanggung-tanggung, yang melakukan promosi adalah William dan Charlotte. Mereka mengundang rekan kerja masing-masing untuk menghadiri pembukaan Cafe dan Butik tersebut. Para wartawan berdatangan, meliput acara tersebut. Puas menyoroti setiap sudut Cafe dan Butik, juga apa saja yang mereka jual di sana, kini perhatian para wartawan tersita pada si bontot. Nari selalu berdekatan dengan Kai.


"Dia tunangan putri saya. Juga putra pemilik Cafe dan Butik ini" Nyonya Sook menjawab pertanyaan para pemburu berita.


Dilla yang sedang menonton acara infotainment tersebut terkejut, ternyata Kai memang bukan dari kalangan biasa. Apalagi saat mengenakan pakaian rapi seperti di dalam televisi itu, sungguh menambah kadar ketampanan yang di milikinya.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2