
Klontang!!! gunting tanaman itu terjatuh ke ubin. Tubuh Victoria hampir saja limbung, kalau nggak ada tumpukan pupuk organik di belakangnya. Wanita ini sedang berada di gudang pagi ini, berniat mengajak Hanan menghirup udara pagi seraya merapikan tanaman di kebun kecil, yang berada di halaman kediamannya. Berbeda dengan perkebunan yang menanam banyak sayuran, di taman kecil ini Victoria menanam bunga-bunga nan cantik, dengan pohon-pohon berukuran kecil berbentuk bulat dan kota-kota.
"Kai Ubadah!!" teriak Rivan, saat mantan saingannya ini turun dari mobil Zaid.
Yah, nama itu membuat Victoria terhenyak hingga menjatuhkan gunting itu, beruntung nggak melukai kakinya. Meninggalkan benda itu terjatuh, Victoria membawa diri ke ambang pintu gudang. Hahaha, dunia begitu pagi mengajaknya bercanda, memang bocah itu yang berada di depan matanya. Anak dari lelaki yang selama ini dia sembunyikan.
Meski satu mobil, Niki yang bersama mereka pun nggak melihat wajah Hanan dengan jelas, pria tua itu segera di antar ke kamarnya saat sampai di kediaman ini. Hingga kedatangan Rivan dan Zaid, mereka nggak berjumpa dengan Hanan.
"Bawa Tuan kembali ke kamar. Udara terlalu dingin, nggak baik untuknya" titah Victoria via telepon. Sang perawat pun bergegas membawa Hanan masuk kembali, meninggalkan taman di halaman depan, sedang rombongan Zaid berada di depan gudang, sedikit berbelok dari kediaman itu.
Ubadah....Ubadah...Ubadah....
Nama itu terdengar jelas di telinga Hanan.
Dalam tanda tanya lelaki paruh baya ini di buat terkejut, saat Amir, perawatnya membawa nampan berisi obat.
"Amir, aku memang amnesia, tapi aku nggak lupa sudah meminum obat ku pagi ini."
"Ini vitamin tambahan Tuan. Begitu kata Nyonya."
Hanan menerima obat di dalam piring kecil itu, juga segelas air putih.
"Amir, selama ini engkau selalu menjagaku, mengikuti kemanapun aku pergi" sorot mata Hanan menunjukkan kesedihan.
"Aku akan sangat berterimakasih kalau kau memang tulus benjagaku. Namun kalau ada sebuah konspirasi di balik semua ini, aku mohon maafkan aku, sekiranya lelaki tua ini telah menyinggung mu di kehidupan yang telah lalu." Hanan meminum obat itu, ada tiga butir dan Hanan memium semuanya.
"Bawa aku ke tempat tidur."
"Apa Tua merasa lelah?."
"Kita sama-sama tau, setiap kali meminum obat aku akan segera tertidur."
__ADS_1
Ucapan Hanan bagaikan tamparan keras di wajah Amir. Sungguh dia berada di posisi yang serba salah. Dan seperti biasanya, Hanan tertidur lelap usai menelan obat tersebut.
Kesenangan sungguh menyelimuti hati Greta. Sedangkan Udin, pemudah tampan ini merasa di jebak.
"Kita akan berlibur di perkebunan salah satu teman sekolah kita. Orangnya cantik, nggak kalah cantik dari Naria."
Kalau ada cewek yang nilai kecantikannya sebading dengan Nari, tentu dia bukan wanita biasa. Gagal mendapatkan perhatian Nari, setidaknya Udin berharap mendapatkan perhatian dari wanita secantik Nari. Namun, saat sampai di lokasi, dan mengetahui bahwa tempat ini milik keluarga Greta, Udin terdiam.
"Sialan!. kamu menjadikan ku umpan?. Kamu mengajak kami ke sini dengan aku sebagai jaminan?."
Ikbal menggeplak kening Udin"Hilih! bangga sekali anda ini. Ngaca dong!, sudah untung ada cewek yang naksir kamu. Sok jual mahal!."
Meringis, Udin memegangi keningnya"Tapi itu benar kan?, karena Greta menyukaiku jadi kamu menjadikan ku umpan. Ngaku aja deh!. Dengan begitu kita bisa bebas berlibur di sini. Kamu jahat Zaid!!. Ini sama aja dengan kamu menjual ku!."
Fay menarik ransel di punggung Udin"Banyak ngoceh. Buruan bangun tendanya!. Greta nggak akan memakan kamu kok, paling cuman menempel doang selama kamu di sini."
Berontak, Udin kesal karena Zaid hanya tertawa, alih-alih menjelaskan kebenarannya.
"Terimakasih sudah mengajaknya ke sini?" bisiknya dengan wajah merona, kepada Zaid.
Zaid kembali tertawa. Membuat orang lain senang ternyata sangat menyenangkan. Meski melihat Nari dan Kai selalu bersama, setidaknya rasa perih di hatinya sudah nggak sesakit dahulu. Kenyataan ini harus dia terima, sekarang asalkan Nari bahagia maka dia pun akan bahagia.
Sementara Rivan, membantu Udin dan Fay membangun tenda di tepi kolam ikan, yang terletak di ujung perkebunan. Niki dan Febby mencoba menyalakan pembakaran, udara di sini sangat sejuk, mereka butuh sesuatu yang hangat.
Srak!!. Arin bersama pelayan wanita di kediaman ini datang membawa sekeranjang ubi jalar.
"Terimakasih" ujar Arin sebelum pelayan itu pergi.
"Sudah seharusnya saya membantu kalian, Nona. Kalau ada yang di perlukan lagi katakan saja. Semua pelayan di sini selalu siap membantu Nona dan teman-teman." Ujarnya, setelahnya berlalu pergi karena semua sudah di rasa cukup bagi para anak muda ini.
"Aku nggak sempat sarapan, bakar ubi ini kayanya enak deh." Arin berjalan mendekati Febby dan Niki.
__ADS_1
"Pelayan sedang menyiapkan sarapan untuk kita."
"Itu nggak perlu" sambar Febby"Kami datang mau berkemah, bukan bertamu." Betul juga apa yang di katakan Febby. Seharusnya mereka menikmati aktivitas berkemah selayaknya berkemah, alih-alih menikmati pelayanan dari sang empu perkebunan.
"Oh begitu kah. Hemmmm kalian---" Greta sediki ragu untuk berbicara. Karena di sekolah mereka bukanlah kawan baik, justru cenderung berselisih, kebersamaan kali ini terasa canggung baginya. Ah! tentu bagi Nari dan kawan-kawan juga.
"Kami? kenapa kami?" Febby bertanya dengan kedua alis bertaut naik, siap menerkam kalau Greta bersikap menyebalkan lagi. Meski di kandang Greta, Febby nggak takut kalau akhirnya mereka akan beradu cakaran.
"Enggak apa-apa sih. Aku minta maaf, di sekolah selalu jahat sama kalian."
berkedip-kedip seperti bola lampu soak, seperti itu lah kedua mata Febby sekarang. Fay menahan tawa melihat wajah terkejut Febby.
"Oh, jadi kamu meminta maaf?."
Greta mengangguk, jemarinya saling bercengkraman. Sikap gadis ini mengundang rasa penasaran Nari dan dia pun mendekat.
"Ada apa?. Maaf kalau kedatangan kami tiba-tiba. Zaid nggak bilang bahwa tujuan kami adalah perkebunan milik keluargamu."
Sontak menatap Nari"Ah Nari, aku nggak mempermasalahkan hal itu. Aku hanya ingin minta maaf. Hubungan kita...kamu tau kan gimana hubungan kita di sekolah."
"Oooh, ku pikir masalah besar. Nggak ada yang harus di maafkan. Kita hanya salah paham saja. Mumpung ada Udin di sini, kamu harus bisa menaklukkan hatinya. Semangat ya!" Nari memberi semangat.
Febby dan Arin bertepuk tangan, begitu juga dengan yang lainnya. Tempat itu seketika riuh, sedangkan Udin menahan rasa kesal setengah mati. Bahkan Nari pun memberikan dukungan kepada Greta. Sebenarnya dia di anggap teman apa bukan? kenapa rasanya seperti di jadikan tumbal saja!!.
To be continued...
...Udin Sejagad Halu 😅...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗.
__ADS_1
Salam anak Borneo.