
Hari yang cerah dengan senyuman indah mentari pagi. Semilir angin nan lembut dengan aroma rerumputan, menjadikan suasana pagi ini terasa menenangkan. Ck!! bohong!!. Meski langit begitu cerah, nyatanya sebongkah hati tengah berduka, dialah hati seorang Niki.
Kabar di hukumnya kembali sang kekasih, membuatnya di rundung duka. Gemas dengan tingkah unlimited nakalnya sang murid, Pak Ibrahim kembali memberikan sepucuk surat cinta kepada Papah Rivan.
Menuduh sang putra hanya asik pacaran, tanpa berniat untuk sekolah dengan baik, maka jadwal keluar rumah bocah nakal itu di kurangi. Janji temu dengan Niki menjadi kacau, karena hukuman itu. Motor gede berwarna merah itu di ganti dengan motor matik. Mengingat tubuh besar tinggi menjulang seorang Rivan, lututnya kerap mengenai badan motor bagian depan. Menekuk kaki terlalu rendah membuat duduknya nggak nyaman. Ash!!, Rivan mulai kesal akan hukuman itu.
Perintah untuk lebih giat berlatih basket, sampai di indahkan Rivan. Padahal olahraga yang satu itu cukup di gemarinya. Ikbal yang juga ada dalam tim tersebut mulai mencari-cari keberadaan sang rekan.
"Nggak!. Aku lagi ngambek sama sekolahan ini. Masa aku di hukum terus!!. Biarin dah aku nggak usah ikut tanding basket. Biar kalah sekalian!!." Melipat kedua tangan di dada. Seperti orang yang hendak kabur dari sekolah, Rivan dengan santainya duduk di atas tembok.
"Jangan kayak bocah deh. Lagian di hukum juga karena kamunya nakal. Si Rika masih di ledek teman-teman lho, pasal dalaman birunya yang kamu teriaki di ujung lorong." Ya, kabar itu juga telah sampai ke telinga Ikbal, seperti artis papan atas, tingkah laku Rivan kerap mengundang rasa penasaran mereka.
"Oke aku salah. Tapi ini bukan murni kesalahan aku. Si Rika mulutnya nggak ada filter, kalau ngomong sesuka jidat. Di jahilnya balik langsung mewek. Huh! dasar wanita, maunya di bela terus!."
Ikbal mendengar ocehan itu seraya menenangkan diri, kalau kebawa emosi bisa ikutan gila kayak Rivan dia.
Hendro yang kebetulan melintas di celah belakang sekolah langsung berseru"Heh!! mau bolos lagi ya!. Awas aja kalau bawa Nari lagi" teringat kejadian di masa lalu, saat Nari bolos sekolah untuk pertama kalinya. Sungguh sebuah penyesalan yang mendalam bagi Hendro, sebab gagal menggagalkan aksi gila sang wanita idola.
Ikbal sontak menoleh ke arah Hendro. Selain Rivan, dia juga kebagian tugas buat menangkap bocah satu itu. Demi Neptunus, bocah ini nggak mau gabung dengan Tim basket sekolah. Dengan tinggi badan 1'8, juga perawakan tegap, tentu dirinya menjadi incaran para Tim basket.
"Sini kamu!."
Terpaksa memasuki celah di belakang sekolah, Hendro menghampiri Rivan dan Ikbal"Kenapa?."
__ADS_1
"Di cariin Pak Komar."
Menyandarkan diri pada tembok, yang kerap menjadi saksi bolosnya pada penghuni sekolah itu, seraya memasukan kedua tangan ke saku"Aku udah bilang berkali-kali, aku nggak niat gabung basket lagi. Capek! keringatan! panas-panasan!. Akh!! nggak enak."
"Aku lihat pas lagi main kamu sangat menikmatinya" Ikbal dan Hendro, telihat memiliki tinggi yang sama, padahal bocah itu lebih tinggi 3cm dari Ikbal.
"Itu karena ada Nari di bangku penonton. Sekarang dia udah nggak pernah nonton lagi, buat apa aku gerah-gerahan di lapangan."
Rivan mengusap wajahnya, gemas dengan tingkah Hendro"Kamu nggak buta kan?. Nari udah ada yang punya, kamu tau kan?."
"Iya tau kok. Tapi mencintai bukan harus selalu memiliki. Ini tentang rasa di sini" menepuk dada, Hendro sok romantis. Dan Ikbal memelototkan kedua mata, baru menyadari betapa gila cinta Hendro terhadap Nari.
"Hati-hati Hend. Aku nggak mau punya teman Pebinor." Ujarnya juga ikut bersandar di tembok. Melihat posisi pas itu, Rivan menyuguhkan sekotak rokok di hadapan mereka.
Lantas bagaimana dengan Ikbal?. Cowok yang satu ini bukan nggak pernah ngerokok, hanya saja kalau di area sekolah dia sangat menjauhi kegiatan unfaedah itu. secara nih, Ibunya hanya seorang koki di sekolah elit ini. Bisa masuk ke sekolah ini lantaran memiliki otak cemerlang dan prilakunya yang baik. Meski nggak miskin-miskin amat, kalau harus membayar full biaya sekolah di sini Ibu sama Ayah nya bisa mati berdiri.
"Nggak!. Aku nggak mau jadi penghuni lapangan di siang bolong seperti kamu. Nggak asik juga ngitungin paving di tepi lapangan."
Menarik kembali bungkus rokoknya, Rivan dengan cuek menghisap benda bernikotin itu. Menghembuskan asapnya pada Hendro, manusia paling anti asap rokok.
Sontak bocah itu terbatuk. Ini nggak bisa di biarkan, dia pun gegas meninggalkan tempat itu. Tapi, teringat dengan pebinor. Membuat Hendro mengentikan langkahnya, kemudian berbalik dan berkata"Pebinor itu apa?."
"Perebut betina orang!!" jawab Rivan dan Ikbal bersamaan.
__ADS_1
"Betina. Nari itu manusia, bukan hewan!. Ckckc mulut kalian nggak ada akhlak ih." Dan sempat-sempatnya Hendro mengatakan hal itu, sebelum benar-benar ngacir karena Ikbal terus memaksanya untuk balik bergabung dengan Tim basket.
Sedangkan Rivan, karena masih merajuk dia juga menolak ajakan Ikbal untuk ke lapangan basket. Baginya nongkrong di warung ujung gang sekolah lebih menyenangkan. Sambil makan tahu tek-tek sama es teh kayaknya enak tuh.
"Hup!"
Rivan sukses meloncati tembok belakang. Kepala Ikbal menyembul di atas tembok"Aku laporin Pak Ibrahim."
"Bodo amat!."
Langkah menjauh Rivan membuat Ikbal kesal. Dasar otak batu!!. Nggak bisa di bujuk sedikitpun!.
Wajah kusut Ikbal menarik perhatian Rika. Kalau Hendro nggak mau sama dia, sama Ikbal pun nggak pa-pa. Secara Ikbal kan cowok keren juga, meski dompetnya nggak setebal dompet Hendro.
Baru juga menyapa, Ikbal langsung berlari kecil menjauh"Sorry Rik, aku di tungguin temen-temen di lapangan."
Wajah kesal Rika membuat Greta tersenyum. Dari kejauhan gadis ini memperhatikan gerak-gerik Rika, mantan sahabatnya. Sejak berhenti berteman dengannya, para mantan sahabatnya itu mulai merasakan dompet yang menjerit. Terbiasa berbelanja tanpa melihat harga, mereka sedikit terkejut saat hendak membaya. Nggak sudi untuk meminta maaf pada Greta, mereka merasa lebih baik mencari cowok untuk di kuras dompetnya.
Mereka cantik-cantik sih, tapi bad attitude. Cowok baik-baik tentu nggak akan mau dengan cewek seperti itu. Apalagi mereka sudah di kenal hobby belanja. Demi kewarasan hati dan dompet, para cowok kompak menjaga jarak dari mereka.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.