
...Cinta adalah sebuah janji dalam angin...
...janji abadi yang kita buat tak kan putus dengan mudahnya...
...ketika aku menatap matamu lagi...
...dapatkah kau lihat bahwa kebahagiaan diam diam mengawasimu selama ini??...
...💖💖💖💖...
Kembali pada dua insan yang sebenarnya masih menyimpan rasa pada hati masing-masing. Lama tak berjumpa membuat rasa canggung itu semakin meraja. Sangat berbeda dengan Rivan yang biasanya barbar, malam ini pemuda sang bawel menjadi lebih kalem, lebih pendiam dan terlihat sangat malu-malu ketika berhadapan dengan Niki.
Tak berbeda jauh dengan Rivan, Niki pun yang biasanya terlihat cepot-ceplos mendadak menjadi pendiam, seolah menjaga image-nya di hadapan seorang pria yang sebenarnya telah lama dia tunggu untuk bertemu. Tak Ayal sejatinya sebuah keinginan untuk meminta maaf, telah lama ingin dia sampaikan kepada Rivan. Namun karena adanya jarak dan waktu membuat kata itu pun tak pernah terjadi hingga saat ini.
"Hai," Rivan menyapa dengan gesture yang canggung, seolah baru kali ini bertemu dengan Niki.
"Eh---ha--hai," dan tak berbeda jauh dengan Rivan, Niki pun menyambut sapaan itu dengan canggung pula.
"Kamu----masih saja cantik," kata-kata yang lolos itu membuat sang empu terkejut
"Buset!!, lancang banget ini congor!," gerutu hati Rivan.
Niki melipat kedua tangan di dadanya, memicingkan kedua mata menatap dalam kepada Rivan"Kamu nggak banyak berubah ya, masih aja lebay."
Rivan tersenyum menanggapi perkataan sarkas Niki, dia pun hanya menggaruk leher bagian belakang yang sebenarnya enggak gatal.
"Hehe...gimana kabarnya??"
"Yah beginilah" jawab Niki merputar diri di depan Rivan"Im oke, dan kamu?."
Kedua bahu Rivan mengendik, juga mengangkat kedua tangan seperti apa yang dilakukan Niki tadi"Sama, inilah diriku. Nampak makin tampan bukan," celotehnya diiringi tawa memperlihatkan senyuman termanis, yang sanggup membuat hati Niki bergetar. Senyuman pria yang mempunyai gigi kelinci ini semakin tampan, ketika dia tertawa dan Itulah salah satu pesona seorang Rivan yang mampu menaklukkan hati seorang Niki.
"Oho, lihatlah. Kamu memang masih Rivan yang dahulu. Narsis tingkat dewa. Ngomong-ngomong apa yang membawamu kemari?, kupikir aku nggak pernah mengundangmu ke sini meskipun nomor ponselmu masih kusimpan sampai sekarang."
__ADS_1
Mengetahui Niki masih menyimpan nomor ponselnya, ada sedikit rasa sesal di dalam dada. Setelah mereka memutuskan untuk berpisah dengan baik-baik, atau mungkin lebih tepatnya dipaksa untuk berpisah dengan baik-baik, nggak pernah sekalipun Rivan mencoba untuk menghubungi Niki. Bahkan untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar gadis ini.
"Apa kamu mulai merindukanku?, lamanya waktu memisahkan kita setidaknya kamj mempunyai sedikit rindu padaku bukan?," tanya Niki dengan tersenyum manis, membuat hati Rivan gemas ingin mencubit kedua pipi gadis ini. Namun rasa gemes itu harus Rivan tahan, sebab Niki akan berubah menjadi Kucing Garong, apabila ada seseorang yang dengan berani mengobok-obok wajahnya.
"Hei ayolah, kamu kenapa percaya diri sekali! aku ke sini karena ajakan Angela," ujar Rivan kembali diiringi dengan senyuman.
"Oh jadi Sis jaelangkung yang membawamu kemari, pantas saja kemarin dia meminta izin untuk membawa sahabatnya kemari, ternyata kamu sahabatnya."
"Niki oh Niki apa kamu lupa bahwa hubunganku dengan Angela nggak sebaik itu, di sini yang menjadi sahabatnya adalah Kevin, pria yang pernah menolaknya ketika masih SMP dahulu."
Niki tersenyum manis gadis ini menunduk dengan kaki yang bermain di atas rerumputan, menunjukkan gestur bahwa dia sedang terperangkap dalam kecanggungan.
Setidaknya dugaan Niki salah, yang menyangka bahwa selama ini di belakang dia Angela dan Rivan masih berhubungan baik. Dan tidak dapat dipungkiri hatinya akan merasa tercubit sakit apabila mengetahui hal itu terjadi. Entah mengapa sampai saat ini kedudukan seorang Rivan di hatinya seolah nggak pernah terganti. Meski dirinya telah banyak menjalin hubungan dengan beberapa pria yang notabennya datang dari keluarga yang kaya raya.
Di tengah obrolan ringan mantan pasangan itu, ada tiga cewek yang menatap kagum pada Rivan. Cewek berpenampilan manis nampak gemas melihat Rivan"Kalian harus ingat ya, lelaki dengan nomor korsase dua belas itu adalah milikku, awas saja apabila kalian sampai memberikan vote padanya."
"Hei kau curang?!. Giliran menemukan lelaki yang tampan kamu ingin mengambilnya sendiri. Kamu tahu kan aku sudah lama menjomblo, lihatlah bibirku sudah lama enggak dibasahin!," ujar seorang perempuan dengan rambut sebahu, yang ternyata juga jatuh hati pada pandangan pertama setelah melihat Rivan.
"Bibir???. Memangnya kenapa dengan bibirmu?," tanya seorang perempuan berkacamata yang ternyata tidak mengerti, dengan obrolan berimajinasi liar dua sahabatnya.
"Apa Kamu buta? kamu nggak lihat dia sekarang sedang dekat dengan Niki!!."
"Justru karena itu kalian seharusnya enggak memberikan vote kepadanya! agar akhirnya cowok yang sedang diincar Niki ini jatuh kepadaku. Mini oh Mini, kenapa sih kalau ngomong kamu selalu nggak pernah nyambung."
Mini hanya pasrah dengan memanyunkan bibir, mendengar ocehan sang sahabat tentang dirinya yang memang agak lemot.
"Buruan sebarin ke cewek-cewek buat unvote nomor dua belas," tambahnya.
Mini sang gadis cupu itu manut dengan perintah kedua sahabatnya. Bak pelayan setia, dia berjalan di antara kerumunan para tamu sambil menyebar berita agar nggak memberikan vote kepada Rivan.
Di sudut lain Fay dan Hendro nampak bahagia bergabung dengan cewek-cewek manis. Angela di buat pusing dengan tingkah mereka bedua, dengan jelas mereka memamerkan nomor di korsase, agar para cewek-cewek dapat dengan mudah memilih mereka.
"Hahaha Ini adalah surga cewek Fay," ujar Hendro tersenyum kepada Fay.
__ADS_1
"Naria~~~, maafkan aku yang mulai tergila-gila dengan para gadis di sini. Mereka sangat manis-manis, mereka sangat cantik, untuk kali ini saja biarkan aku bersenang-senang dengan mereka ya," ujar Fay Seraya menarik gemas pipi chubby Naria.
"Nikmati aja, Fay," alih-alih bersedih sang pemuja dirinya kini berubah haluan pada wanita lain, Nari justru bertepuk tangan gembira menyaksikan kebahagiaan dua sahabatnya ini.
"Gila!!, menjijikan!! kalian nggak malu sama Nari?? di sekolah kalian selalu memujanya, dan di sini ketika banyak wanita cantik kalian dengan terang-terangan berubah haluan darinya," ketus Zaid seraya membuang pandangan. Demi apa ya!! goyangan Hendro dan Fay sungguh aneh.
"Hello bapak ketua OSIS, sadar diri dong!!. Nari sudah punya tunangan, jalan untuk bersanding dengannya di pelaminan sudah tertutup rapat. Ayolah!! kita nikmati saja pesta ini," celetuk Hendro.
"Bangunlah dari mimpi panjangmu itu, Naria bukan jodoh kita. Lihatlah di sini begitu banyak bunga bermekaran, seharusnya kamu menikmati aroma manis bunga-bunga ini," imbuhnya.
"Jangan sia-siakan perjalan panjang kita dong," Fay ikut menimpali.
Tetap saja merasa tidak cocok dengan Hendro dan Fay, Zaid akhirnya menarik diri dari dua orang aneh itu"Oh Tuhan!!! aku sungguh menyesal terjebak dengan geng gila ini," pekik Zaid tertahan.
Sontak apa yang dikatakan Zaid membuat Joen dan Jung tertawa ngakak, mereka berdua pun mendekati Zaid dan berkata"Duhai anak muda, salah satu cara untuk menikmati hidup ini adalah dengan menerima kenyataan," ujar Joen.
"Abang!!!, sudah lapang dada banget ini, lapangnya ngalahin lapangan sepak bola dunia," sahutnya pada Joen.
Trttrt!!! saat itu ponsel Naria bergetar, menampilkan nama sang penelpon, yang ternyata adalah Kai.
"Angkat gih, terus terang aja" ujar Jung yang sempat melirik ke layar ponsel Naria.
"Ngomongnya gimana, bang??," Naria tampak panik, seperti sedang kepergok jalan dengan cowok lain.
"Bilang aja lagi nganterin Rivan ketemuan sama pacarnya," sahut Joen.
"Kalau gitu kan aneh oppa!. Memangnya nggak ada saran yang lain?."
"Mau saran yang seperti apa? dengan pasangan itu harus selalu saling terbuka, harus selalu jujur katakan saja yang sebenarnya," Jung meyakinkan Naria.
To be continue...
Happy reading jangan lupa like comment dan favorit...
__ADS_1
Salam anak Borneo.