
Kalau di awal, itu namanya pembukaan. Dan kalau di akhir cerita memang penyesalan namanya. Kini, Jung menyesali perbuatannya, berniat menjahili Nari, justru menyeretnya ke dalam tugas menyebalkan.
...#Flashback on#...
"Kyaaaaa!!!!, pedas sekali!!!" pekik Nari saat mencicipi seblak yang di pesankan Abang pertamanya. Memang sih, dari aroma pun sudah ketahuan betapa pedasnya hidangan itu. Dan bodohnya Nari masih berniat mencicipinya. Nggak mampu!, Nari pun menyerah. Ghina yang gila pedas tergiur untuk menikmatinya, hingga akhirnya seblak pedas gila berakhir di perut Ghina.
"Waduh!!!, perutku sakit!" jelas saja!, meski penyuka pedas, takaran cabai dalam seblak itu gila-gilaan. Ghina akhirnya bolak-balik ke kamar mandi.
Mengetahui hal itu, Joen menjadi kesal pada Jung. Rencana untuk mendapatkan izin untuk Nari semakin besar, sebab akan menjadikan Jung sebagai jongos di bontot.
"Akan aman kalau ada yang mengontrol tingkah lakunya, Mah."
Nyonya Sook melirik Joen"Maksud kamu?."
"Kasih izin aja si Nari. Mamah kan di kenal sebagai istri pengusaha kaya. Anak-anak Mamah kan juga lumayan terkenal. Kalau Nari menjadi Selebgram karena usahanya sendiri, Mamah sama Papah harusnya bangga dong. Nggak semua bocah seusianya dapat tawaran ngendorse Mah."
"Entar di kirain orang Mamah sama Papah nggak mampu ngasih dia makan, sampai harus kerja sendiri."
"Hiih, hidup kalau selalu dengerin apa kata orang, nggak pernah bener Mah. Selalu aja ada salahnya di mata orang-orang yang cuman bisa berkomentar. Apalagi kalau yang berkomentar hatinya busuk, mau sebaik apa pun kita akan tetap salah di matanya."
"Tumben pintar" celetuk Charlotte. Si Papah, dari tadi diam aja, sekalinya angkat bicara langsung kena di hati.
"Ya udah kasih izin aja si Nari. Tapi kamu yang karus jagain dia. Seperti yang kamu bilang, harus ada orang dewasa yang mengontrol tingkah laku gadis bar-bar itu. Kamu jadi manager dia aja."
"Joen sibuk di kantor Pah."
Sook melempar kulit buah apel di hadapannya, ke wajah Joen"Ngomong doang, tapi nggak mau turun tangan."
"Ya elah Mah, hati-hati dong sama wajah Joen. Aset negara ini!."
"Jangan ngawur, jangan ngeles, kamu yang harus jagain Nari kerja. Masalah kerjaan kamu kan bisa di atur."
"Papah, apa Papah melupakan seseorang?."
Kedua orang tua itu mengerutkan kening.
"Kita punya Abang, dosen edan yang cuman sibuk di kampus doang." Barisan gigi putih Joen terpampang nyata.
...#Flashback off#...
Jung melakukan panggilan video kepada Joen. Nggak mau datang secara langsung ke kediaman mereka, Jung memilih mengomeli adik nakal ini melalui panggilan video saja.
__ADS_1
Alih-alih Joen, si kecil Bae yang menerima panggilan itu. Bocah ini sangat antusias melihat foto sang Ayah di layar ponsel sang Papah.
"Ba!!!!!" seru Bae. Mengejutkan Jung di kediaman keluarga William. Bocah ini meletakan ponsel di lantai, dengan dirinya menunduk sangat dekat pada layar ponsel.
"Owww!! halo Bae, selamat pagi" amarah itu seketika mereda, wajah lucu Bae sangat sayang untuk di lewatkan. Memandang pipi gembul itu memancing rasa rindu semakin menjadi, padahal baru beberapa hari mereka nggak bertemu langsung.
"Pagi Ayah" sahutnya. Mulut bocah ini terlihat belepotan. Jung jadi khawatir, apa yang dia makan? apakah itu aman?. Mengingat Bae yang terlampau aktif, pasti bocah ini lepas dari pengawasan kedua orang tuanya.
"Bae mam apa?."
"Kue" ujar Bae, mengangkat ponsel milik Joen. Berjalan sembari memperlihatkan keadaan kamar mereka, yang terlihat berantakan. Jung melihat kotak kue balita yang teronggok di belakang pintu, dengan isian yang bertebaran di mana-mana.
"Sayang, Bae buka sendiri ya kue nya?".
Wajah Bae Kembali terlihat di depan layar, dirinya mengambil duduk kembali dan meletakkan ponsel itu di lantai"Hiiiiii" memperlihatkan barisan gigi yang dia miliki.
"Hemmm, Bae buka memakai gigi?."
"De~~~ Ayah" ujarnya lagi.
"Astaga, lain lagi jangan begitu ya. Ayah takut kamu memakan kemasan kue itu."
"No, no" ujar Bae menggoyang jari telunjuk, tingkahnya membuat Jung terkekeh.
"Papah bobo."
"Di mana?, boleh kasih ponselnya ke Papah?."
"No~~~~" bisikan Bae sungguh menggelitik perut Jung.
"Kenapa~~~" Jung balas berbisik.
Saat itu terdengar suara pintu. Wajah Bae terkejut, bocah ini membawa ponsel Joen berlari, ke sudut tempat tidur. Dia bersembunyi. Kenapa Bae bersembunyi??.
"Oh Tuhan!!!!!" pekik Ghina.
"Joen!!!!, kenapa kamar kita seperti kapal pecah!!" teriakan Ghina membangunkan Joen. Sedangkan Bae melambaikan tangan kearah Jung.
"Babay Ayah, muach!, usai melayangkan ciuman, panggilan terputus.
"Hahahah" Jung tergelak tawa. Sepertinya dia nggak perlu mengomel pada Joen, sebab Ghina pasti akan mengomeli nya habis-habisan. Kamar mereka sangat berantakan, selain kue milik Bae yang memenuhi ruangan itu, pakaian milik bocah itu juga melengkapi sempurnanya pemandangan indah pagi ini. Jung juga melihat botol minuman Bae tergeletak di lantai, dengan isian yang tumpah ke lantai pula.
__ADS_1
Ya, begitulah Bae. Bocah menggemaskan namun tingkahnya bisa membuat tekanan darah melonjak naik. Sebelum turun ke bawah, Ghina sudah mewanti-wanti Joen agar menjaga Bae. Agar saat Bae terbangun Joen harus segera mengawasinya, agar kekacauan itu nggak terjadi. Namun sayang, merasa ini hari libur, Joen Kembali mengarungi dunia mimpi meski Bae sudah terbangun.
Meninggalkan kediaman Charlotte, Andrea di kediaman Wiliam merasa aneh dengan tingkah sang suami. Berniat mengajak Jung sekedar berlari pagi, sang suami tergelak tawa dengan ponsel di tangan.
"Sayang, ngetawain apa?."
"Si Bae, bikin kapal pecah."
"Hah? Bae bertingkah lagi?, sepagi ini?."
"Hahaha, setidaknya Bae sudah membalaskan dendamku pada Papah nya."
Andrea sudah mengetahui tugas untuk Jung yang di berikan langsung oleh Papah mertua, dia jadi ikut tertawa. Hal ini seperti sudah menjadi kebiasaan, di saat salah satu dari mereka menderita, pasti ada salah satu dari mereka yang bahagia. Sebab mereka semua sama nakalnya, sama usilnya. Sudah paham betul akan hal itu, terkadang Andrea pun jadi ikut-ikutan bertingkah seperti mereka, usil dan jahil.
Hari mulai siang saat Hanan terbangun. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Waktunya makan siang, dan usai makan siang dirinya akan kembali di berikan obat. Yang katanya akan menyembuhkan dirinya, nyatanya sampai sekarang dirinya selalu lemas tak berdaya.
Suara gaduh terdengar dari kebun belakang. Untuk mengusir rasa bosan, Hanan meminta kepada Amir untuk membawanya ke balkon, sembari menunggu makan siangnya tiba.
Saat hendak berbicara kepada Victoria melalui earphone yang selalu terpasang di telinganya, Hanan berkata"Amir, aku hanya ingin ke balkon, perlukah hal itu kamu laporkan juga kepada Victoria?."
Amir lagi-lagi di buat bingung. Victoria selalu meminta laporan kemana saja Hanan bergerak, meski di kediaman mereka sekalipun.
"Amir, ayo."
"Baik Tuan" ujarnya akhirnya. Amir membawa Hanan ke balkon yang mengelilingi kediaman itu, hingga Hanan meminta berhenti tepat di atas para bocah itu bermain.
Zaid dan Fay sedang bermain badminton, dengan para teman-teman di sekitar mereka. Ada yang sedang menikmati cemilan, ada yang sedang menunggu giliran. Ada pula yang sedang mendekati sang pujaan hati, dialah Greta.
Beberapa saat Hanan memperhatikan interaksi mereka, hatinya sedikit terhibur melihat tingkah Fay, merengek seperti anak kecil karena di kalahkan Zaid.
"Satu kali lagi. Satu kali lagiiii~~~" merengek karena sangat yakin akan bisa mencetak skor, kalau permainan di ulang kembali.
Greta berniat menyuapi Udin es krim, namun Udin memalingkan wajah. Saat hendak mengejar pandangan cowok ini, Greta melihat sang Papah di atas sana. Sontak dia pun berteriak"Papah!!" seraya melambaikan tangan.
Kai yang sedang duduk di bawah pohon rindang, mengikuti arah lambaian tangan Greta, hingga.....
"Ayah-----" lirih nya spontan dengan wajah tak percaya.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗
__ADS_1
Salam anak Borneo.