
Ketika manusia memiliki rencana yang telah matang, telah di atur sedemikian apik, namun sang kuasa tetaplah sang pemegang kendali penuh. Victoria berontak, menyambar kemudi ketika orang suruhan Charlotte berusaha membawa Hanan, di perjalanan mereka subuh itu. Sempat beradu kekerasan, mobil yang melaju serampangan mengalami kecelakaan.
Teriakan sirine memecah kesunyian pagi itu di jalan trans luar kota. Nggak banyak yang mengalami luka parah, hanya Hanan dan Amir, sedangkan yang lain hanyalah luka ringan.
Saat Hanan memerlukan banyak darah, di saat itulah semesta kembali menggelitik jantung Victoria. Bagaimana tidak, kesediaaan Greta sebagai anak untuk mendonorkan darah pada sang Papah, sangat mustahil dia lakukan.
"Kenapa golongan darahnya berbeda?!" di situlah Charlotte bertindak, mengacaukan suasana hati Victoria yang memang telah kacau.
"Greta cenderung mengikuti gen yang ku miliki, nggak heran kalau golongan darahnya sama denganku."
Charlotte terkekeh, hal itu memang bisa terjadi. Namun, kalau Kai bisa mendonorkan darah kepada Hanan, kamu bisa apa?."
Greta yang menyaksikan perbincangan panas ini meremat kemeja yang dia kenakan, kemeja yang penuh dengan darah. Tapi itu bukan darahnya, saat kejadian Greta memeluk erat sang Papah untuk melindunginya. Sungguh kesialan nggak pernah salah memilih, bagaimana pun kamu bersembunyi, kesepakatan itu tetap akan terjadi.
Luka di kening telah di tutup, hanya luka kecil. Namun mengetahui ada kejanggalan dalam hubungan darah dirinya dan sang Papah, hati kecil Greta terasa koyak.
"Mamah---" lirih Greta.
"Enggak Nak!. Kamu jangan termakan omongan Charlotte."
Sook menarik tubuh Greta, agar menjauh dari Victoria"Aku yakin kamu nggak segila Mamah mu. Mengakui suami orang sebagai milikmu itu adalah dosa besar, Nyonya Victoria!!" manik indah Sook kini beralih pada Victoria, dengan tatapan tajam.
"Dia memang suamiku!!" hardiknya. Dirinya seolah tuli dan buta. Kenyataan telah di depan matan namun masih bersikeras menolak segalanya.
Kai telah di bawa menuju ruangan, untuk di ambil darah. Kecocokan dirinya dan Hanan sangat tak terbantah. Barulah tubuh Victoria luruh ke lantai, hal yang sangat dia takutkan terjadi.
"Inikah yang kamu bilang cinta?."
"Cinta itu nggak harus memaksa untuk bersama, Victoria!" tukas Charlotte mengambil jongkok, menatap manik teman kuliahnya dahulu yang mulai mengembun.
"Kamu seorang berotak brilian, kenapa menjadi sangat dungu saat berhadapan dengan cinta??!."
"Bahkan otak jenius itu kau turunkan kepada Greta, jangan sampai kelicikan yang tersemat di dalam otakmu juga di turunkan padanya. Dia gadis polos, nggak seharusnya kamu menipu buah hatimu sendiri!!."
Victoria menggeleng, namun nggak lagi bersuara. Kenyataan mengadilinya dengan kejam, begitulah pikirnya saat ini. Di hadapan Greta kebusukannya terungkap, di hadapan gadis yang sangat menyayangi sang Papah, yang notabenenya bukanlah Papah kandungannya.
Greta mencoba melepaskan diri dari Sook, dadanya terasa sesak, ingin berteriak sekuat tenaga. Gadis itu berlari keluar dari ruangan itu, kemana saja asalkan bukan di sana.
__ADS_1
Bruk!!, di lorong dirinya menabrak seorang wanita yang berlari kecil.
"Maaf tante" ujarnya.
Raut wajah yang sangat kacau, membuat sang wanita yang dia tabrak meraih lengan Greta"Kamu mau kemana?."
"Aku----" Greta terbata.
"Kamu bisa membagi kesedihan denganku."
Bagaimana bisa?!. Sedangkan dirinya selama ini telah merenggut kebahagiaan wanita ini, tanpa di sadarinya.
Karlina, ya....wanita yang di tabrak Greta adalah Karlina. Karena kejadian ini mereka semua bertemu di rumah sakit. Seolah nggaka ada lagi rahasia di antara mereka, hingga mencoba memasang topeng keceriaan pun rasanya percuma. Karlina tau bagaimana sayangnya Greta terhadap Hanan, lelaki tua yang di yakininya sebagai sang Papah.
Adik kelas Naria ini nggak sanggup lagi menahan air mata. Menjadi pintar hingga mampu meloncati dua kelas itu suatu kebanggaan baginya, namun kini kebanggaan itu sirna, sebab motivasi untuk belajar adalah sang Papah. Yang ternyata bukan Papah nya.
"Hick!! hick!!, dia bukan Papah aku. Kalau dia bukan Papah aku, lalu aku anak siapa?!." terisak, Greta pun berakhir dalam pelukan Karlina.
Sementara itu di tempat lain.
Udin merenung di sudut kelas. Dirinya yang biasanya ceria kini terlihat muram. Kabar kecelakaan yang di alami Greta mengusik sang hati. Entahlah, kenapa dirinya seterpuruk ini mengetahui gadis itu mengalami kecelakaan. Padahal, dirinya sangat yakin nggak menyukai Greta sedikit pun.
"Kamu haus? ayo makan es krim."
"Hati-hati dong!. sudahlah, biar aku yang menyelesaikan masakan ini" Greta mengambil alih sutil dari tangan Udin, saat dirinya mengaduh karena minyak yang meloncati nya.
Begitu perhatian Greta kepadanya, mungkin karena itulah dia gelisah"Ya!! aku hanya kasihan, aku memikirkannya karena dia sangat baik padaku." Gumam Udin.
"Bukan. Itu karena cinta" Naria hadir di samping Udin.
"Eh Nari, kok kemari?."
"Kamu yang kok di sini!?. Ngejogrok sendirian di sudut kelas begini. Rupanya sedang memikirkan Greta."
"Akh! enggak!. Sudahlah jangan bahas gadis itu. Kamu ngapain ke kelas ini?."
"Pinjam bolpoin dong. Punya ku ketinggalan di rumah, tadi malam ngendorse alat sekolah, eh punya ku malah ketinggalan."
__ADS_1
"Wuih yang sudah jadi artis Instragram." Seloronya seraya berjalan ke bangku miliknya, dan mengambil bolpoin dari dalamnya.
"Hus!! jangan meledek ku!" Nari menyambar bolpoin di tangan Udin. Seraya melangkah keluar kelas"Udin, nanti sore aku mau menjenguk Greta, aku jemput kamu sebelum berangkat ke rumah sakit ya."
Udin spontan mengangguk. Eh!! kenapa dia mengangguk??. Kevin yang sedari tadi memperhatikan mereka tertawa kecil"Dasar sok jual mahal. Giliran di ajakin jenguk langsungnya setuju."
Udin memberengut, Kevin kalau menyindir suka langsung ke hati deh. Mendapati wajah cemberut Udin, Kevin semakin terkekeh-kekeh.
"Udah deh jangan ngetawin aku. Ini Pak Komar kok belum datang juga?."
"Entahlah."
"Susulin gih ke ruangan guru."
"Idih ogah!." Sahut Kevin.
"Kita ke sekolah kan buat belajar!" tukas Udin hendak keluar, mungkin hendak ke ruangan guru.
"Woi Udin mau manggil Pak Komar tuh. Buruan tahan!!" teriak Kevin.
Para teman-teman yang se-frekuensi dengan Kevin sontak menahan Udin. Ada yang langsung menutup pintu kelas.
"Hahaha, biarin aja lah Din, kita nikamati aja waktu menunggu ini." Ujar Kevin lagi.
"Tau nih, nggak usah jadi pahlawan deh. Kalau nggak mau kami gebukin" ujar salah satu teman sekelasnya.
"Tau nih!!" sontak kelas pun mulai riuh.
"Udin nggak asik nih, udah bagus ngejogrok di tembok tadi" ujar suara teman sekelas yang lain.
Udin terpojok, sedangkan Kevin terus tertawa.
Sejurus kemudian Udin kembali ke tempat duduknya, dan Kevin langsung menginterupsi para teman-teman sekelasnya"Guys, jangan terlalu berisik, entar ketahuan nggak ada guru di kelas kita." Ucapan Kevin membuat kegaduhan mereda. Alih-alih memanggil guru, hampir semua siswa di kelas itu patuh akan perintah Kevin. Meningkatkan waktu tanpa kehadiran sang guru. Ckckckkc!.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗.
__ADS_1
Salam anak Borneo.