
Merosotnya ekonomi sang sahabat usai salah dalam melangkah, membuat Charlotte dan William nggak bisa diam saja. Teringat begitu banyak jasa seorang Hanan di masa lalu, dua sahabat Hanan itu berniat membantu.
Memandangi gaun hasil rancangan Hanan dahulu, saat mereka menikah. Sook pun setuju untuk memberikan reward kepada Hanan. Lain Charlotte dan Sook, lain pula William. Pria paruh baya yang satu ini kerap berhutang kepintaran Hanan dalam mengerjakan tugas kampus.
Di siang hari yang terik, Charlotte beserta istri singgah ke Cafe milik anak rekan bisnis Nyonya Sook. Menatap pantai dengan desir ombak nan syahdu, dua orang tua ini seperti sedang berpacaran saja.
Memesan hidangan ringan dan jus, beginilah para orang tua saat sedang nongkrong di Cafe. Nggak berapa lama William datang, mereka memang sudah membuat janji.
Kehadiran William di sambut senyum manis seorang pemuda. Gibran, salah satu pemilik Cafe tepi pantai itu langsung menghampirinya"Selamat siang Om. Gimana kabarnya?."
Menyambut uluran tangan Gibran"Baik. Seperti yang kamu lihat." William membuka lengan usai berjabat tangan. Memperlihatkan tubuhnya yang sehat dan bugar.
"Kamu?, bagaimana kabarnya?. Karir mu semakin bagus ku perhatikan."
Gibran tersenyum"Saya juga baik. Om bisa aja. Gibran merasa semakin beruntung setelah menikah Om. Kanaya membawa banyak keberuntungan dalam hidup saya."
William terkekeh. Tempo hari mereka bertemu di halte bus. Sama-sama menunggu bus setelah sama-sama jua nggak membawa mobil. William yang hendak pulang ke kediamannya terpaksa naik bus karena mobil yang mogok. Rindu dengan sensai menaiki angkutan umum, pria paruh baya ini sengaja memilih bus alih-alih minta di jemput Tono atau Jujun. Sementara Gibran harus naik bus karena mobilnya sedang di pinjam sang Kakak galak. Di halte itulah mereka bertemu dan akhirnya saling bertukar cerita. Begitu mencintai pasangan hidupnya, kisah William menjadi dorongan dan semangat yang kuat bagi Gibran untuk menikahi Kanaya, yang saat itu sedang mengalami gangguan pada indra pengecap.
Tuan Charlotte dan keluarga, bukan Gibran nggak tau tentang mereka. Sedari tadi dirinya hendak menyapa namun rasanya canggung, sebab belum pernah bertegur sapa. Perbincangan sejenak dengan William menjadi awal perkenalan Gibran dengan Tuan Charlotte. Mengetahui Gibran adalah seorang model, Charlotte berniat mengajaknya bekerja sama, tapi mungkin di lain waktu.
Usai mengantarkan pesanan William, Gibran undur diri. Dan perbincangan mereka pun di mulai kembali.
"Hanan nggak akan mau menerima uang." Ya, ucapan Sook sangat benar. Lelaki rendah hati itu pasti akan menolak, saat mereka memberikan uang padanya.
William dan Charlotte memutar otak, mencari cara untuk membantu Hanan tanpa harus memberikan uang.
Saat sedang memikirkan cara terbaik untuk menolong Hanan, pemilik Cafe yang lain terlihat memasuki area tersebut. Meski banyak pelanggan, pria itu langsung terfokus pada Sook.
Bersama putra dalam gendongan, dia berjalan menghampiri Sook"Tante, selamat siang. Om" mengangguk kecil, mengapa Sook, Charlotte dan William juga.
"Selamat siang Agam. Hei, siapa si tampan ini?" bocah lelaki dalam gendongan Agam menarik perhatian Sook.
Menurunkan sang putra, Agam meminta sang putra memperkenalkan diri"Halo, saya Arjuna. Kelas nol kecil."
Para orang tua tersenyum gemas melihat tingkah Arjuna, meski baru sekolah taman kanak-kanak, cara bicaranya seperti orang dewasa.
Menyentuh gemas pipi Arjuna"Nama yang bagus. Kakek jadi teringat dengan cucu Kakek" ujar Charlotte.
__ADS_1
"Oh, bisa jadi teman Juna" ujar sang bocah.
"Ya, tentu saja. Lain kali Kakek akan mengajaknya ke sini."
Mengacungkan jempol pada Charlotte"Oke. Terimakasih Kakek."
Sungguh bocah yang sangat menarik. Mereka tersenyum melihat tingkah Arjuna ini.
Usai berbicara sejenak, Agam dan Arjuna pamit undur diri. Membiarkan pelanggan mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka. Saat melihat Agam, terbesit ide di dalam pikiran William.
"Cafe yang sangat menarik. Mereka menyajikan kue modern dan tradisional. Bagaimana kalau kita membuka kedai untuk Marina. Bukankah dia sangat jago membuat kue?."
"Terinspirasi dari Cafe ini untuk membuka kedai, rasanya nggak salah bukan?."Sook dan Charlotte spontan mengangguk di waktu bersamaan.
"Sebentar lagi ulang tahun Hanan, bagaiman kalau kita memberikan kejutan itu di hari ulang tahunnya?."
Charlotte dan Hanan mengangguk, setuju dengan saran dari Sook.
Di tempat lain. Plester karakter Monica si gigi tonggos sudah berganti dengan plester karakter Doraemon. Dasar cinta! memandangi plester yang di pasang sang kekasih saja sudah membuat Nari tersenyum malu. Senyum itu semakin merekah saat ingatan tentang keseruan mereka ngendorse bareng. Kehadiran Kai mendapat respon bagus dari para Netizen. Bukan bermaksud apa-apa, Nari berniat membuat Kai di kenal banyak orang, sebab dirinya melihat potensi yang bagus dalam diri kekasihnya itu.
Sendal imut untuk pasangan kekasih, itulah barang pertama yang mereka endorse bersama. Ternyata dugaan Nari benar, terjadi lonjakan pemesanan pada sendal lucu itu. Dan kebanyakan yang di pesan berpasangan untuk cewek dan cowok.
"Lihat, sendal kemarin banyak yang memakainya sekarang" mengirimkan screenshot pada akun Instagram nya, Nari memperlihatkan banyak Netizen men-tag dirinya dengan gambar atau video saat memakai sendal itu.
Kai tersenyum, setidaknya niat untuk membuat Nari senang berbuah manis.
"Syukurlah kalau banyak yang suka. Aku khawatir banget penjualan sendal itu malah menurun, karena ada aku." Begitu bunyi pesan dari Kai.
"Hai, berhentilah merendah. Kamu kekasihku, dan apa yang menjadi milikku selalu bersinar di mata orang lain. Kamu harus sadar akan hal itu." Tanpa malu Nari membanggakan diri di depan Kai.
Mengetik pesan balasan dengan tawa"Iya deh. Aku memang harus bersinar kalau mau bersanding dengan bintang yang cantik."
Apa kamu tau, gara-gara pesan itu Nari tengkurap membenamkan wajah di bantal dengan kaki menghentak di atas ranjang. Suara hentakan kakinya memancing perhatian Joen. Dan seperti biasa, Abang yang satu ini akan mengintip si bontot.
"Ada apa Den?" tanya Bibi An yang sedang mengepel lantai. Hal ini Bibi An lakukan setelah Bae pesta kue keringnya. Meremukan kue kering itu dan mencurahkan serpihan kue di lantai. Dengan judul"Memberi makan para semut yang lucu". Seolah tanpa dosa, Bae tertawa setelah Ghina terkejut melihat kelakuannya.
"Nenek lampir lagi kesenangan" sahut Jeon. Kemudian kembali mengintip Nari.
__ADS_1
"Ya bagus dong Den."
"Bagus apaan?. Nggak adil kalau hanya dia yang senang. Saya juga harus senang dong Bi."
Bibi An merasakan getaran peperangan akan terjadi. Dia pun mempercepat pekerjaan membersihkan lantai tersebut.
Joen berjalan menuju benda berwarna putih dengan dua tanduk. Mencabut kabel Wifi di kediaman mereka seraya tersenyum.
Bibi An menggelengkan kepala. Nggak yang muda, nggak yang tua, nggak asik Kayaknya kalau nggak julid.
Nggak sampai di situ saja, dengan sengaja Jeon masuk ke kamar Nari. Dan sang adik pun menanyakan perihal hilangnya jaringan internet. Seraya mengambil kunci di belakang pintu, Jeon berucap"Sengaja Abang cabut."
Brak!!. Di iringi suara gaduh mengunci pintu dengan tergesa. Nari langsung meloncat ke depan pintu, namun Jeon lebih cepat mengunci pintu dari luar.
"Abang!!!. Colokin lagi Wifinya!!. Nari nggak sempat isi paket data." Teriak Nari dari dalam sana.
Bersandar di muara pintu. Joen seolah tuli.
Buk! buk! buk!"Abang!!. Bukain pintunya!!."
"Den..." Bibi An coba menghentikan kejahilan Joen.
Meletakan jari telunjuk di depan bibir, Jeon meminta sang Bibi untuk diam.
"Abang!!!" teriak Nari semakin nyaring.
"Den, nanti Tuan marah lho."
"Papah sama Mamah lagi keluar. Kesempatan bikin nenek sihir menjerit" ujarnya begitu senang.
Bibi An hanya bisa menggelengkan kepala atas tingkah anak majikannya ini.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak.
__ADS_1