
Siang itu di toko bunga Charlotte
"Permisi kak, bisa kah saya memesan sebuket bunga anyelir?," salah satu dari dua pria tampan yang datang, berbicara dengan sopan kepada Ghina.
"Ya, tentu saja," sahut Ghina"kamu mau warna tertentu atau warna-warni saja?," tanya Ghina lagi, mengingat bunga anyelir yang memiliki banyak macam warna.
"Aku ingin mengunjungi makam ayahku," sahut sang pelangan.
"Sebaiknya warna putih saja," ujar Ghina lagi.
"Kaka banyak tau tentang bunga, ya," ujar pelanggan remaja itu melempar senyum kepada Ghina.
"Enggak banyak sih. Kebetulan bunga itu mengingatkanku dengan mendiang Ibuku. Anyelir putih memang yang terbaik jika kita ingin berkunjung ke pemakanam."
Dua pelanggan itu mengangguk tanda mengerti dengan apa yang Ghina katakan. Percakapan mereka terhenti sejenak, Ghina mulai sibuk merangkai bunga dan pelanggan itu terhanyut dengan pesona bunga-bunga cantik di toko itu.
Sesekali dia mencoba mencium aroma bunga-bunga hingga mengukir senyuman diwajahnya.
"Nah, sudah selesai," Ghina memperlihatkan hasil karyanya. Sebuket anyelir putih lengkap dengan pita dan hiasan tambahan lainnya, semuanya serba berwarna putih.
"Wah, cantik sekali. Ayah pasti menyukainya, terimakasih banyak kak," sang pelanggan terlihat sangat puas dengan hasik karya Ghina.
Rekannya juga mengagumi hasil karya Ghina itu"Bagus, bro," ujarnya mengacungkan jempol pada sang sahabat.
"Aku senang kalian mengatakannya bagus," sahut Ghina lagi. Keterampilan merangkai bunga nya masih belum seberapa, mendapat pujian dari pelanggan seperti sekarang ini, tentu saja membuat Ghina sangat senang.
Setelah membayar, pelanggan itu melangkah meninggalkan toko bunga, raut wajahnya nampak sangat bahagia.
"Dia pasti sangat merindukan ayahnya," guman Ghina. Tiba tiba dia jadi terkenang dengan kedua orang tuanya. Sudah sangat lama dia absen berkunjung ke makam mereka.
Serpihan kelopak bunga anyelir putih di meja kerjanya, menggelitik dirinya untuk membawakan bunga itu sebagai hadiah ke makam kedua orang tuanya.
"Jangan melamun!," tegur Nyonya Sook.
"Enggak melamun kok mah," Ghina membersihkan sisa kerjanya di meja.
"Kalau kangen, kenapa nggak berkunjung saja." Perkataan Mamah mertua membuat Ghina menghentikan aktivitasnya.
Rupanya sedari tadi Nyonya Sook memperhatikan gerak-gerik Ghina. Dia tau bibi Mae sangat menyukai bunga anyelir itu, apalagi yang berwarna merah muda. Bentuknya yang seperti kertas memberikan kesan tersendiri bagi penikmat bunga.
"Ghina takut mah." Sebaris kalimat yang keluar dari mulut Ghina dapat si makhlumi Nyonya Sook.
"Tapi bukankah lebih baik jika kamu dapat menakhlukan rasa sakitmu itu, sayang," tatapan hangat Nyonya Sook mampu menenangkan kegundahan Ghina.
Perkataan mamah mertua ada benarnya, sampai kapan dia akan menghindar dari kenyataan, ini sudah sangat lama.
__ADS_1
"hemm, mungkin akhir pekan Ghina akan mengajak Joen ke sana mah. Tapi Bae gimana ya."
"sama mamah saja, atau sama Jung. Urusan Bae mah gampang, anak mu kelewat anteng Ghina. Selama ada teman bermain, dia nggak akan merepotkan. Tentu saja dengan susu dan cemilannya," senyum sang nenek terurai jika mengingat lucuannya sang cucu.
"Iya mah. Apa kecilnya Joen juga seperti itu?," Ghina jadi ingin tahu tentang masa kecil sang suami.
"Joen mah terlalu anteng Ghin. Kamu cukup tahu kan dari kecil dia memang pendiam. Mamah rasa Bae lebih mirip dengan watak Jung deh."
"Hahahha menurut Ghina juga begitu, mah,$ mereka tergelak tawa mengingat Kelakuan Bae yang doyan berantakin barang dan super duper aktif. Dia juga hobi memukul dan mengacak-acak wajah orang. Dengan tangannya yang super gembul, tentu saja tinjuan dan tamparannya lumayan kerasa.
Sedang asik bercengkerama mereka kedatangan dua pelanggan lagi yang mencari bunga bermakna ungkapan cinta.
Kali ini Nyonya Sook yang melayani pelanggan. Si kecil Bae sudah terbangun dari tidur siangnya, tentu saja Ghina harus mengurusnya terlebih dahulu.
"Jelas bunga mawar merah dong," ujar Nyonya Sook.
"Selain bunga mawar, ada Nyonya?," Si pelanggan nampak menahan malu.
"Ah kamu lama deh Kai. Begini Nyonya, teman saya ini naksir cewek, tapi mereka belum kenalan. Sedangkan hatinya sudah berdenyut nggak karuan kalau liat tu cewek, bagus nya di kasih bunga apa ya, Nyonya," remaja berwajah tampan itu menjelaskan panjang lebar.
"Owww, jadi kamu mencintai secara diam-diam ya? memang masa-masa seperti kalian ini sangat menyenangkan ya. Saya juga punya anak gadis seumuran kalian. Sering bingung di deketin cowok kembar"Nyonya Sook mempertimbangkan bunga apa yang cocok untuk sang pengagum dalam diam ini, sembari mengobrol bersama dua remaja itu.
"Pasti cantik banget, sampe di rebutin dua cowok," sahut remaja yang tadi nampak malu-malu.
"Yah kalau cantik sih standar, semua cewek kan cantik. Padahal anaknya nyablak lho, bar-bar, cerewet. Berantem terus sama abang-abangnya. Entahlah, apa yang di lihat si kembar pada dirinya."
"Boleh deh Nyonya."
"Ah, itu tuh anak gadis saya yang bawel."
Nampak Nari yang baru keluar dari mobil, berjalan loncat sana loncat kemari dengan riang gembira, seperti kodok yang gembira karena turun hujan.
"Naria, jinak sedikit dong," tegur sang mamah.
"Hihihi, Nari seneng banget mah. Akhirnya Nari dapat jadwal libur dari perpustakaan. Jadi setiap hari rabu Nari bisa makan roti langsung dari kedai Arin," ya! di dalam pikiran Nari hanya ada makanan dan makana, beruntung meski banyak makan dirinya nggak gembul seperti Bae.
Kebahagiaan Nari sampai kepada dua remaja yang terpaku menatapnya. Mereka pun tersenyum simpul menatap kecantikan Nari, pipi yang terlihat empuk jika di tekan, sepasang bola mata nan bulat, senyum yang sangat menawan.
"Bantuin mamah dulu," Nyonya Sook menyerahkan dua pelanggan itu kepada Nari.
"Mamah mau kemana?."
"Ada kerjaan di belakang."
Setelah kepergian Nyonya Sook, jadinya Nari yang melanjutkan pekerjaan sang mamah.
__ADS_1
"Bunga nya yang ini?," tanya Nari, suaranya memecahkan lamunan remaja yang malu-malu itu.
"Eh, iya sih. Tapi kalau boleh minta saran, kamu sukanya bunga yang mana?," wajahnya terlihat sedikit merona.
''Aku sih sukanya mawar, bunga yang paling menawan menurut aku,"Jawab Nari dengan wajah berbinar.
"O, kalau begitu ganti mawar merah aja deh, setangkai mawar merah," pintanya.
Nari menganggkat wajah, pandangan mereka pun bertemu"Eh, kamu nggak asing deh. Sepertinya kita pernah ketemu, tapi di mana ya?."
"Kamu juga, nggak asing bagi aku," wajah remaja bernama Kai terlihat sumringah.
Kedua mata Nari mengerling kesana-kemari, menambahkan gemas dalam hati Kai saat menatap Naria. Sedangkan Nari masih menekan memorinya untuk mengingat-ingat lelaki di hadapannya.
Tujuan Kai membeli bunga hari ini untuk mengungkap rasa sukanya kepada seorang gadis, dan gadis tersebut adalah Nari. Dunia yang besar ini terkadang terasa sangat sempit memang.
"Akh!! aku yakin sering melihatmu, tapi dimana ya?. Yah, begini deh nasib yang punya otak pas-pasan,'' celetuk Nari.
Kai tak ingin membuang kesempatan, tangannya menjulung kepada Nari"Kenalin, aku khairil, biasa di panggil Kai."
Dengan senyum ramahnya Nari menyambut tangan Kai untuk berjabat tangan''Aku Naria, anak bungsu pemilik toko bunga ini."
"Oh Tuhan, tolong hentikan waktu ini sebentar saja. Sering melihatnya membuatku tertarik kepadanya, namun bertemu langsung seperti ini membuat hatiku semakin menginginkan lebih," pekik hati Kai.
Dion, sang sahabat yang nggak peka pun ikutan memperkenalkan diri"Aku Dion," ujarnya juga mengulurkan tangan pada Nari.
Tentu saja senyum Nona Nari kembali merekah"Naria," ucapnya.
"Akh, pantas saja Kai yang pemalu terusik, begitu ingin mengungkap perasaannya. Aura gadis ini memang bukan kaleng-kaleng," batin Dion juga ikut menjerit.
Mereka pun terlibat obrolan ringan, dari situ terungkaplah bahwa pria pemalu bernama Kai itu seorang mahasiswa tahun pertama di universiras Charlotte.
"Oh, jadi kamu adik perempuan pak Jung?."
Nari mengangguk, Kai dan Dion di buat terperangah.
"Pantas saja kai, ini bibit unggul," tanpa sadar Dion berujar di hadapan Nari.
"Hahahha, bibit apaan??," senyum itu kembali mengukir kesan mendalam di hati Kai.
"Pak Jung sangat di gilai para gadis di kampus, wajahnya yang rupawan mengalihkan dunia para wanita."
"Heh!, harus ku katakan pada kalian, jangan melihat sebuah buku dari sampulnya saja." Si Nona muda memberi kode peringatan keras. Pesona abang tertuanya memang mematikan, tapi jangan mudah terpesona. Mereka nggak tau sih watak asli sang dosen seperti apa.
To be continued..
__ADS_1
~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen^,^
Salam anak Borneo.