
Pukul 7 malam di ruas jalan raya. Rivan memacu kuda besi yang setia menemaninya beberapa tahun terakhir dengan kecepatan tinggi. Dia begitu ingin lekas sampai di tempat tujuan.
Beberapa kali dia menyalip truk berangkutan berat, namun hal itu tak membuat jantungnya berdebar kencang.
Di belahan bumi yang lain Zaid si anak sultan tengah sibuk bermain game online di ruang kerjanya. Ruang kerja???yah bisa di bilang begitu sih, meskipun waktu yang dia habiskan di sana lebih banyak untuk bermain game ketimbang bekerja.
"Hen...abis ini udahan dulu ya. Capek nih, aku belom makan pula" Ujarnya berbicara dengan Hendro di ujung sana.
"Siap Pak bos"Sahut Hendro santai.
Selepas memenangkan pertandingan online itu Zaid melepas headphone dan bersiap mematikan laptopnya.
"Krieeeettt" Pintu di ruangannya terbuka. Sosok Rivan dengan seabrek bawaannya menatap penuh harap padanya. Udah kaya anak kucing di jalanan dalam kardus bertuliskan'TOLONG PUNGUT AKU' "
"Buset!!!"Zaid terkejut"Rivan apa arwahnya Rivan??"
"Arwah nya"Sahut Rivan cuek melenggang menuju sofa dan menghempaskan tubuh di sana.
"Oh..pantesan lebih nggak berakhlak dari biasanya"Tukas Zaid membuka kulkas mini dan mengambil sekaleng Frenta. Dia meletakan kaleng minuman itu di hadapan Rivan. Nggak usah di bilangin, dari wajah kusut kek benang layangan bocil udah jelas terpatri kalo Rivan sedang di rundung masalah.
"Glek glek glek"Kaya nggak pernah minum aja, Rivan menghabiskan Frenta tersebut hanya dalam 3 tegukan.
Kedua mata Zaid membulat dan berkedip kedip"Aus Broo???"Pertanyaannya di angguki Rivan.
"Laper nggak??"
Lagi...Rivan mengangguk dengan bibir mengerucut sedih.
"Makan yok, aku tau kamu lagi ada masalah. Nanti aja kita bahas, cacing di perutku udah pada demo ini"
"Tapi...kamu yang bayarin ya"Binar mata Rivan benar benar menyedihkan.
"Hah!" Nafas Zaid terdengar kasar.
"Berterimakasih lah pada Nari sang pemersatu kita. Berkat dia kita yang awalnya kaga temenan sekarang jadi sedikit nyambung"Selepas berujar Zaid mengambil ransel di meja kerjanya dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Hm...emang pembawa kebaikan dia mah. Sayang pertunangan kami tlah resmi di batalkan"
Terkejut dengan kedua alis menukik naik, Zaid berbalik"Kok bisa??"Kedua tangannya mendarat di pundak cowok yang tak berdaya itu.
"Tercyduk bro"
"Yay...assssaaaaa!!!, akhirnya Nari lepas juga dari kamu"Kurang ajar bener kan si Zaid. Dia bersorak gembira mengetahui kabar perpisahan Nari dan Rivan itu.
"Jangan senang dulu, kamu nggak bertanya tanya tentang kedatanganku ke sini membawa seabrek barang"Tunjuknya pada koper dan segala macam barang yang bisa dia bawa dari rumah tadi.
Zaid mengerlingkan mata, otaknya di ajak berpikir di tengah perut yang berdendang kelaparan.
Dengan bahu mengendik Rivan menunjuk koper dan seperangkat alat minggatnya dengan bibir monyong.
Zaid menoleh bawaan Rivan..."Kamu...minggat??"
Sebuah senyuman mengiringi anggukan Rivan.
"Terus kenapa ke sini??"
__ADS_1
"Kamu kan nak sultan" Tukasnya.
"So??"Wajah songong Zaid pamerkan di hadapan Rivan. Tanda tanda Zaid tlah membaca jalan pikiran Rivan yang berniat numpang hidup bersamanya.
"Bruk!!"Rivan jongkok di hadapan Zaid.
"Please pungut aku Zaid!!!"
"Apaan sih Van!!!, bangun deh. Wah nggak asik nih maen sembah sembah aja. Aku bukan berhala ye, jan gini lah. Nggak asik akh!!" Rasa panik menguasai diri Zaid. Dia emang terlahir di keluarga kaya raya tapi bukan berarti dia suka di elu elu kan dan di sanjung sanjung. Apalagi ampe bertekuk lutut kaya yang Rivan lakuin sekarang.
"Zaid!!"Mata berbinar Rivan udah kaya anak kucing minta di pungut. Bener bener ni Rivan, tau banget kalo Zaid anaknya nggak tegaan.
"Bangun dulu lah Van, dih nggak asik nih"Keluhnya menghindari Rivan.
"Cerita deh kenapa kamu ampe minggat??"Ujarnya seraya duduk di kursi kerjanya. Wah tampang pemimpinnya semakin keluar ketika dia duduk di singgasananya. Ketampanannya membuat Rivan sedikit iri, udah cakep, baek hati, pinter pula, tajir melintir, akh...Zaid emang manusia paling beruntung sejagad raya.
"Aku kepergok jalan ama Niki, Nari juga kepergok kencan ama Kai"Ucapnya membuka percul-col an.
"Haduh!!!, terus Nari gimana??"Bukannya fokus mendengar awal penderitaan Rivan, Zaid malah mikirin Nari yang jelas jelas sudah jatuh hati kepada Kai.
Rivan pun bercerita panjang lebar tetang derita yang menimpa dirinya dan Nari. Fix Zaid sangat khawatir dengan keadaan Nari.
"Jan mikirin Nari dulu, aku yang jelas jelas di depan mata kamu yang duluan di tulungin" Binar mata Rivan begitu menyilaukan. jelas aura seorang rubah sedang aktif dalam dirinya. Jika harus menjadi babu seorang Zaid, it's okay lah!!, dari pada dia harus balik memohon maaf kepada kedua orang tuanya. Beh tinggi amat gengsinya si Rivan.
"Ya udah kerja di bengkel ya, tinggalnya di sini aja. Sekalian jagain ni bengkel"Titah Zaid. Emang nggak salah Rivan memilih bos, Zaid sang ketos yang baik hati dan lemah lembut ini langsung menerimanya setelah tahu dengan jelas masalah yang tengah di alaminya.
"Masalah makan aku tangguh deh"Tambahnya. Wuahhh Zaid benar benar bersinar di mata Rivan. Mendadak ada sepasang sayap putih keluar dari punggungnya. Akh Rivan lebay!
"Gaji??" Hoel!!dasar Rivan nggak tau diri. Udah tinggal dan makan gratis sempat sempatnya nanyain gaji.
"Iya di gaji kok. Yok makan dulu. Cacing dalam perut kamu berisik tau!"
Rivan mengangguk patuh pada ucapan Zaid. Dua cowok itu akhirnya keluar dari bengkel dan segera mencari makan di luar sana.
...πΊπΊπΊπΊ...
Pagi hari di kediaman Charllote.
Senandung burung pipit nan merdu berbanding terbalik dengan suasana hati Nari. Masih terngiang di telinganya bagaimana tegasnya sang Papah mengucapkan "Nggak ada uang jajan"
"Akh...minta sama Mamah juga nggak boleh"Keluhnya duduk di pingir ranjang sembari memijat kening.
"Berharap ini hanyalah mimpi, tapi ini nyata π"Tangisnya akhirnya. Yah Nari yang serba berkecukupan dalam segi uang, bahkan berlebih. Mulai hari ini dia akan sangat kekurangan uang.
"Tok tok tok!!"
Dengan isak tangis Nari membuka pintu.
"Jan nangis!Jelek tau!" Joen kini berada di muara pintu. Tangisan Nari terdengar sampai ke kamarnya.
"Nari π____miskin bang πππ" Tangisan Nari berlanjut. Air mata terus membasahi pipi mulusnya.
"Kaga ada tabungan??"
"Nggak"Nari menggeleng.
__ADS_1
"Terus uang yang kemaren kemaren di kasih Mamah udah kamu abisin??"
"Iya lah Kak!" Sahutnya terisak.
"Ckckckck boros amat nenek sihir. Di pake buat nyogok cowok cowok biar suka sama kamu ya?"Terka Joen asal.
"Jangan mulai deh bang, lagi sedih gini Nari masih bisa tabok jidat bang Joen lho"Ancamnya dengan suara lemah namun menakutkan.
"Hehe..."Joen nyengir.
"Udah dong nangisnya, dih ampe ingusan gitu"
Nari menarik nafas lewat hidung coba mengurangi air dari hidungnya."Srottttt!!"
"Bweeekkk!! jorok nih!!"Ledek Joen lagi.
"π jahatnya!!"Cicit Nari balik menangis lagi.
"Yank!!"Sentak Ghina.
"Udah dong ngeledeknya. Seneng amat Nari dapat hukuman"
"Kwkwkwkwk jarang jarang dia sedih kayak begini Yank"Tukas Joen lagi menunjuk wajah menyedihkan Nari.
Nari berbalik kepada Ghina.
"Kakak iparπ aku miskiiiiiiinnnn"Ucapnya memeluk Ghina.
Ghina mengelus punggung Nari coba menenangkan.
"Cih..lagi sedih aja baru dah inget kalau dia kakak ipar kamu, biasanya panggil nama doang. Dasar rubah betina!"Cibir Joen berlalu menuruni tangga.
"Dasar goblin!!"Balas Nari.
"Sudah sudah!!, kamu harus kalem Nar. Biar Papah lemah dan berhenti kasih kamu hukuman" Nasehat Ghina.
"Sruk!!" Nari menyeka ingus di hidungnya dengan lengan.
"Ya elah...gitu amat ngelap ingus nya"Batin Ghina.
"Biasa aja liatinnya. Belum pernah liat cewek cantik meneteskan air mata ya??"Tanya Nari berlagak manis.
"Meneteskan ingus yang ada mah!"Celoteh Ghina.
Nari cemberut. Dia kembali ke kamar dengan bibir manyun pada Ghina.
"Bini ama Laki sama aja. Julid kelas kakap!!"Ujarnya langsung menutup pintu.
Ghina tersenyum, bahkan tergelak tawa. Dasar Nari...sikapnya berubah rubah kayak bunglon.
To be continued...
~~β‘β‘ Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen.
Salam anak Borneo.
__ADS_1