
Menghempaskan tubuh di atas tempat tidur, demi Neptunus Naria kesal sekali. Dia pikir setelah perginya Jung, manusia usil di kediamannya ini akan berkurang. Namun ternyata sang Mamah nggak ada bedanya, dia pun sama jahil seperti abang pertama itu. Bukan kali ini saja Nyonya Sook menghina dirinya, kemarin-kemarin Sook mengatakan dirinya pendek, hanya karena nggak bisa mengambil keran untuk menyiram tanaman. Hello!!, keran itu tergantung tinggi, bahkan sang Mamah pun meminta Mr.Zak untuk mengambilnya. Itu berarti bukan hanya dirinya yang pendek di sini, bukan?. Ck! sesak di dada semakin menjadi saat teringat hal itu.
Sangat paham dengan stok kesabaran Nari sangatlah sedikit, Kai selalu mengingatkan dirinya, untuk segera mencuci muka ketika marah. Yah, akan lebih bagus kalau di bawa mandi, semoga api amarah di dalam ada akan padam. Mengingat hal itu Nari segera ke kamar mandi.
Rasanya benar, usai berendam di bak mandi, dengan sabun beraroma wangi, emosi Nari mulai mereda. Masih dengan handuk tergelung di atas kepala, gadis ini menerima panggilan telepon. Ternyata itu Kai, sang kekasih hati mengajaknya untuk jalan-jalan.
"Dalam rangka apa? ini kan bukan malam Minggu."
"Aku mendapat bayaran hari ini, setidaknya kita harus merayakannya."
"Hemmm" Nari terdengar ragu untuk berbicara lagi.
"Kenapa?" tanya Kai di ujung telepon"Kamu capek ya? mau istirahat aja?."
"Enggak, hanya saja-----, rasanya akan lebih baik kalau uang itu masuk ke dalam celengan angsa, dari pada kita habiskan untuk bersenang-senang."
Hupffhh!!, Kai menahan diri agar air yang tengah dia minum nggak tersembur.
"Ehem, Naria---kamu serius dengan celengan angsa itu?."
Emosi yang mulai mereda kini melonjak kembali. Nari pikir Kai menanggapi dengan serius tentang niatnya menabung, tapi kenapa sekarang seolah ragu. Rasanya berbicara tanpa bertatap wajah nggak cukup memuaskan. Melepaskan handuk di atas kepala, membiarkan rambut setengah basah itu terlihat berantakan, Nari mengubah mode panggilan.
Di tempat lain Kai memicingkan kedua mata, dia pun menerima panggilan Video dan meletakkan ponselnya di atas meja makan. Ya, sekarang Kai sedang menikmati cemilan baru yang di buat Karlina, stik bawang.
"Ada apa dengan rambutmu Nona?."
"Aku baru selesai mandi. Ah lupakan hal itu, katakan kenapa kamu meragukan niatku mengisi celengan angsa?." Wajahnya sangat dekat dengan layar ponsel, membuat hidung nya terlihat lebih besar.
Kai terkekeh, sudah dapat di tebak sang kekasih sedang marah. Dia pun semakin menggodanya"Nona Naria, kamu lagi marah ya?."
"Ya! aku lagi marah. Dan marahnya sama kamu!. Bagus deh kalau kamu cepat menyadari kemarahan ku."
Kai menahan tawa"Jelas saja aku tau, lubang hidung mu kembang kempis."
__ADS_1
"Kaiiiiii!!!" seru Nari menjauhkan diri dari layar ponsel.
Sementara Karlina yang baru saja masuk ke dapur langsung tertawa, dia sudah mendengar sedari tadi interaksi dua anak muda ini. Bisa-bisanya Kai menyinggung masalah lubang hidung, Karlina yakin Nari pasti malu sekali.
"Ibu" ujar kai. Pemuda ini berniat menyudahi panggilan. Namun Karlina memberi kode untuk melanjutkan obrolannya bersama Nari.
Ada rasa tertarik saat mendengar celoteh Nari. Karlina menarik kursi dan ikut duduk di meja itu, mengambil posisi di dekat Kai.
"Hai Nona Naria."
Wow!! sapaan seorang wanita. Nari bergegas fokus kembali pada layar ponsel. Terlihat wanita sebaya Mamahnya, sedang duduk bersebelahan dengan Kai. Hemm...wajah mereka sedikit mirip. Sedangkan Karlina, dia pun memikirkan hal yang sama, melihat Nari mengingatkan dirinya pada Charlotte. Kalau Jung dan Joen lebih mirip Sook, maka si bontot ini lebih mirip dengan sang Papah, sayangnya Nari mewarisi tinggi badan sang Mamah yang nggak seberapa itu. Coba kalau Naria yang cantik dengan tinggi seperti Joen dan Jung, dia pasti nggak akan di panggil cebong sawah oleh kedua abang durjana itu.
Hai" ucap Nari pelan. Dirinya masih menebak-nebak tentang siapa wanita di samping Kai.
"Bagaimana kabar kamu? perkenalkan aku Ibunda Kai."
Menarik napas namun tertahan di dada. Rasanya mau kabur saja!. Dia berhadapan dengan calon mertua dengan penampilan luar biasa. Yah! luar biasa jeleknya!, tanpa make up dengan rambut acak-acakan.
"Tante..., Nari baik" ujarnya mencoba merapikan rambut, dengan jemari. Melihat Nari salah tingkah, Kai terkekeh geli.
Kai mengangkat kedua alis"Oh ini? ini stik bawah buatan Ibu.
"Oh, kelihatannya enak" tertawa cengengesan.
"Emang enak" sahut Kai bangga. Karlian menepuk lengan Kai.
"Jangan terlalu memuji, ini kali pertama Ibu membuatnya. Pasti belum pas rasanya!."
"Enggak, ini enak Ibu!."
"Jangan percaya Nona" ujar Karlina berbicara pada Nari.
"Kalau udah nyoba kamu pasti bilang enak. Masalah rasa aku nggak akan bohong!" Kai begitu memuji olahan sang Ibu, membuat Nari menjadi penasaran.
__ADS_1
"Ya, rasanya akan terbukti kalau sudah mencicipi."
"Kamu mau?" tawaran Kai langsung di angguki Nari.
Karlina tersipu malu, bagaimana bisa olahan yang baginya belum sempurna itu hendak di cicipi sang Nona muda. Namun seperti biasa, Nari bukanlah seorang gadis yang suka mencela makanan. Dia yakin semua olahan Karlina pasti nikmat, dan hal itu di benarkan oleh Kai.
Gagal mendapatkan cumi-cumi, sebagai gantinya Nari akan mendapatkan stik bawang. Tanpa ragu gadis ini bersedia di ajak berkunjung ke kediaman Kai. Bukan rahasia lagi bahwa dirinya dan Kai masih menjalin hubungan, dan anehnya bagi Nari Papah dan Mamah nggak melarangnya untuk keluar malam ini.
"Kalau pulang di atas jam sembilan, Papah gantung itu anak di pohon cabe!."
Sebuah ancaman yang membuat Joen mencibir"Hilih! yang ada pohon cabenya bakal tumbang."
"Joen...." tegur sang Mamah. Nggak mau mendapatkan ceramah, Joen pun diam. Namun...
"Asal jangan suruh Joen jadi pengawal dia lagi aja!. Rasanya mau muntah bergaul sama cabe-cabean, nggak asik." Ujarnya takut di suruh mengikuti Naria kencan.
"Nggak asik dari mana?, waktu di acara ulang tahun Niki kan abang dapat banyak bunga dari cewek-cewek."
Oho! celoteh Nari mengundang nyala api di mata Ghina. Joen bilang dia hanya bersama Jung, nggak ada hal menarik lainnya. Lantas, bagaimana dengan bunga-bunga yang banyak tadi?, kenapa dia nggak cerita?.
"Cebong sawah! mulutnya nggak ada filter" bisik Joen di telinga Nari. Tingkah mereka membuat Ghina semakin geram, menandakan perkataan Nari itu benar.
Suhu di ruangan mulai terasa hangat, padahal AC nya nyala. Ups! ternyata Ghina sedang menatap horor pada Joen. Usai menerima izin kepada Nari, Charlotte mengajak Sook untuk ke ruangan kerjanya, meninggalkan para anak muda di ruang keluarga.
"Yang----" cicit Joen.
Sebelum perang terjadi, Nari gegas undur diri. Lagipula sudah ada pesan dari Kai bahwa dirinya sedang menunggu di depan gerbang.
"Permisi, abang sama kakak, adik manis mau kencan dulu." Setengah berlari, Nari melarikan diri.
"Nenek lampir!!! awak kamu ya!!" teriak Joen.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗
Salam anak Borneo.