
...~Ada bintang dan seluruh galaksi di dalam matamu....
...Yang bersinar didalam hatiku di sepanjang hidupku....
...Menjagamu adalah rahasia satu-satunya,...
...Dan aku tak kan pernah menyerah tentang itu....
...Itulah sebabnya......
...Aku masih sangat menyukaimu,...
...Seperti bunga yang menunggu musim semi~ Rivan....
...β£β£β£β£...
Sebuah badai tengah terjadi di kediaman Charllote. Tapi ini bukan badai penderitaan lho, Nari sang Nona muda tengah menikmati badai cinta, yang sempat memuat hatinya yang gersang kini ceria lagi.
"Asli gilanya ni anak," Ghina ngomong sendiri melihat Nari menaiki tangga sambil nyengir kuda.
"Aku denger lho kakak ipar!," celetuknya setelah berada pada anak tangga paling atas. Kini dia bersanding bersama Ghina yang hendak menyiapkan cemilan buat Joen dan Bae.
"Akh!!, aku mencium aroma-aroma nggak beres. Kamu kesambet setan perawan lagi, Nar?" suatu keganjilan jika Nari memanggil Ghina kaka ipar. Mengingat mereka seumuran, Nari kerap menolak jika Joen bersikeras memintanya memanggil sang Istri dengan sebutan kakak.
Nari nggak menggubris ucapan Ghina, ketara banget kalo hatinya tengah berbahagia saat ini.
"Ya elah ubur-ubur khayangan, happy banget abis ketemu Rivan," ujar Ghina merasa di kacangin.
"Hmm" Nari menggeleng cepat. Bertingkah sok imut di depan Ghina.
Ghina bergidik dengan alis berkerut"Idih kamu kenapa sih Nar!! aneh tau."
"Di apain Rivan kamu??, wah bahaya juga tu kadal, sampai salah tingkal seperti begini ni anak," ujar Ghina lagi. Melihat tingkah aneh Nari membuat Ghina penasaran. Sepertinya terkena santet deh si Nari. Jadi klepek-klepek gitu dia nya, padahal sebelumnya dia biasa biasa aja tuh kalo habis di apelin Rivan.
"Bukan Rivan tamunya, Ghin___" Nari malu-malu. Dia berbisik pelan di telinga Ghina.
"Kalau bukan Rivan siapa lagi, Nar?? kamu jangan banyak-banyak PHP-in cowok. Nggak takut karma kamu!," Ghina nyeri kalau urusan hati. Ghina kenal semua para bucin Nari, dan setau Ghina mereka semua bukan anak orang biasa. Bisa berabe kalau berurusan sama anak para sultan, bisa di babat habis si Narinya.
__ADS_1
"Hehehe, kepo ni ye. Sudah akh, aku mau siap-siap. Orangnya masih nungguin di bawah tuh, jangan ngintip ya bu, aku sumpahin bintilan lho!," Nari ngacir ke kamar dengan aura bahagianya. Ghina nggak perduli dengan kutukan Nari, dia melupakan cemilan buat sang suami dan si kecil Bae. Demi ketenangan jiwa, dia bergegas ke ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang bisa bikin Nari cengengesan seperti begini.
"Eh Bi, siapa tamu nya?," menyetop Bibi An yang baru selesai mengantar kue ke tamu tersebut.
Bibi An mengetuk-ngetuk keningnya"Bibi lupa Neng, tapi dianya dulu meemang sering di ajakin Non Nari ke sini."
Ghina semakin penasaran, dia mempercepat langkahnya ke ruang tamu. Di sana dia mendapati Kai tengah duduk sendiri.
Seketika hati Ghina terasa kesal, setelah bikin Nari gagal move on, eh ni anak nongol lagi sok nawarin kebahagiaan buat Nari. Di kira Nari bola basket, di hempas ke bumi terus di kejar-kejar lagi.
"Eh!! ada babang Khairil, ngapain nongol lagi bang, aku panggilin suami aku yah. Sudah lama nggak ketemu kan, pasti kangen dong!," ujarnya dengan kedua tangan terlipat ke dada. Jiwa emak-emak preman Ghina mendadak muncul. Sudah lama dia menyimpan rasa kesal terhadap Kai. Baginya Kai itu rajanya pecundang.
Kai nggak enak hati dengan sindiran Ghina. Apalagi tawaran Ghina untuk bertemu dengan Joen, masih jelas di ingatannya ketika Joen dan Ghina memergoki dia meninggalkan Nari menangis di depan taman labirin. Seandainya waktu itu bisa terulang kembali. Kai sangat menyesalkan kebodohannya waktu itu.
"Maaf kak---."
"Lho kok minta maaf, aku nggak ngomong macem-macem kan?, Iya kan Kai?," Ghina kini duduk berhadapan dengan Kai.
"Saya janji nggak akan ninggalin Nari lagi kak."
"Nggak usah janji, terlalu manis buat di kenang tapi pahit kenyataannya. Lihat ekspresi bahagia Nari malah bikin hati aku sakit," oceh Ghina bernada kesal.
"Telat Kai!!."
"Iya tau kak, tapi mereka belum menikah kan!," tandas Kai berani.
Dan Ghina juga langsung menyambar"Itu sama aja kamu ngerebut jodoh orang, Kai!!."
"Nari jodoh saya kak!!, kemarin saya memang salah. Tapi kali ini saya nggak akan menolak takdir lagi kak!," Kai meyakinkan Ghina dengan cintanya. Sorot matanya menatap Ghina mantap, Ghina bahkan dapat merasakan ketulusan Kai.
"Hupffhh!!," Ghina menghela nafas berat"Selamat berjuang aja deh. Rivan bukan cowok abal-abal ya, Kai. Dia dan Papahnya punya hubungan yang erat sama keluarga ini, kalau Nari kenapa-kenapa karena menolak perjodohan mereka, maka kamu harus berani bertanggung jawab."
Kai akhirnya dapat bernapas lega, begitu juga Nari, rupanya sesaat yang lalu dia sudah selesai bersiap diri. Dia pun sempat mendengar obrolan Ghina dan kai.
"Kebahagiaan yang tertunda, semoga jalan kami nggak berliku banget ya Tuhan," gumamnya sebelum bergabung bersama mereka. Di ruang tamu itu mereka lanjut mengobrol ringan sebelum akhirnya Nari dan Kai pamit diri.
"Mah, kok di ijinin," selidik Ghina melihat sang mertua anteng-anteng aja Kai ngajakin Nari jalan.
__ADS_1
"Sepertinya Kai baik kok, lagian mereka sudah lama nggak ketemu. Mereka temenan aja kan?," balik menatap selidik ke arah Ghina.
Si Ghina malah merasa terciduk sekarang"Eh..iya Mah, mereka temenan doang kok."
Nyonya Sook tersenyum singkat. Sejauh ini identitas Kai masih sepenuhnya dia kantongi. Jika memang benar Kai putra seseorang yang mereka kenal di masa lalu, maka...., akh!! gitu deh!!
...ππππ...
Sore perlahan berganti malam, Nari dan Kai menyusuri jalanan kota denga sepeda motor matic milik Kai. Semilir angin membelai wajah Nari yang terlihat semakin tembem ketika mengenakan helm. Kai melirik Nari dari kaca spion, dia nampak baik-baik saja di ajakin naik motor.
"Nar, pulang nanti minum Nantangin ya, takut kamunya masuk angin. Sorry, sudah lama nggak ketemu sekalianya ngajak jalan malah angin-anginan," tutur Kai merasa nggak enak hati dengan kondisinya.
"Seperti emak-emak aja dikit-dikit minum Nantangin!, fisik aku kuat lho Kai. Nyatanya selama ini aku bertahan dalam derita kan, dan lihat nih aku baik-baik aja kan," sahut Nari sembari menyindir Kai. Sebenarnya nggak semudah ini sih dia maafin Kai, tapi besar rasa cinta dan rindunya mampu mengalahkan ego dalam dada.
Kai menggigit bibirnya"Selama ini aku juga sakit kali Nar, tapi kamu tau sendiri kan kondisi aku. Kamu kan biasa naik mobil, kalau sama aku ya begini. Kalau hujan bakal basah, kalau panas bakal gerah. Yang pasti rambut kamu bakal berantakan kena kibasan angin seperti ini."
"Ngoceh aja!! baru sekarang ketemu pelayan cerewet depan majikan," sentak Nari.
Kai tersenyum tipis"Kamu----, kita--sekarang baikan ya Nar," ujarnya tergagap.
"Enak aja!! aku tunangan orang lho, hati-hati aja di laporin Rivan bawa jalan calon istrinya. Aku sebagai korban nggak akan belain kamu ya, apalah daya aku hanyalah wanita lemah, berwajah cantik jelita bukan kesalahan aku kan," celoteh Nari sok kecantikan.
Wajah tanpa dosa Nari membuat Kai semakin gemes dengannya. Nggak nyangka pemandangan di kaca spion ini mampu membuat hati Kai berbunga-bunga"Rivan tuh yang ke-enakan!!, kamu kan memang punya aku. Aku cuman pergi sebentar kok, eh malah di pepet."
"Setahun, sebentar dari Hongkokng?? untung akunya nggak lumutan!," lanjur Nari berceloteh.
Kai menarik jemari Nari, agar lebih erat merangkul pinggangnya"Tapi aku balik kan, Nar!."
"Au ah, gelap!!" canda Nari membuang muka. Wajahnya merah merona, dan Nari nggak mau wajah tersipu malu itu di lihat Kai. Sebab sedari tadi mereka memang pandang-pandangan melalui kaca spion.
Meski memalingkan wajah, Kai masih saja memandangi Nari. Hal itu hampir membuat Kai lupa dengan tujuannya, untung saja diaΒ spontan membelokan motornya ke pinggiran kota.
Spot terfavorite di kota itu adalah pinggiran kota yang sering menggelar even hiburan, menyediakan spot hiburan untuk pasangan pasangan muda. Perahu-perahu hias nampak menarik dengan hiasan lampion warna-warni. Nari begitu takjub dengan tempat itu. Entah mimpi apa dia semalam, Tuhan mempertemukannya dengan Kai dan mengantarkan mereka ke tempat penuh warna ceria. Mereka begitu terhanyut menikmati kebersamaan, Nari sampai melupakan ponsel di dalam tasnya yang terus bergetar mendapat panggilan dan pesan dari para sahabatnya.
To be continued...
~~β‘β‘ Happy reding. jangan lupa like, vote, fav dan komen ya guys πππ
__ADS_1
Salam anak Borneo.
Tepian sungai arut, Pangkalanbun 16j Februari 2023.Kalimantan tengah.