
Ucapan adalah doa. Dan kini ucapan Manda menjadi doa yang telah di kabulkan sang maha pencipta. Bermula dengan hidung yang terasa mampet, Fay berusaha bangun dari tidurnya, menyabet handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Ouwh!. Merasakan dingin di pagi hari sudah biasa, tapi kenapa pagi ini terasa sangat dingin. Kali ini Fay memilih mandi menggunakan air hangat, sebuah hal yang sangat jarang dia lakukan.
"Hatcu!!" terdengar pemuda ini bersin saat menuruni tangga.
"Bi, ada obat flu nggak?."
Pelayan yang hendak berpapasan dengannya mengangguk"Ada Den. Bibi ambilin dulu ya."
"Bawa ke meja makan ya Bi."
"Iya Den."
Saat hendak duduk, kepalanya terasa sangat berat. Fay nyaris tumbang kalau nggak ada Prana yang menyambut tubuhnya.
"Lho, panas sekali badan kamu."
"Kepala Fay pusing Pah" ujarnya, menarik cairan dari dalam hidung, karena flu melanda.
Berniat membawanya ke dokter, namun Fay menolak. Akhirnya Manda menelpon dokter yang biasa menangani keluarga mereka.
"Kualat kan, makanya jangan suka ngeledek orang tua."
"Mamah yang ngumpahin Fay."
"Nggak ada tuh."
"Kemarin malam Mamah ngomongin sakit kan. Dan sekarang Fay jadi sakit" menarik selimut karena tubuhnya mulai menggigil.
"Mamah cuman ingetin kamu."
"Omongan itu kan bisa jadi doa. Apalagi kalau Mamah yang ngomong."
Manda memegangi kening Fay"Yah maaf deh. Kamu juga sih bandel, tinggal nerima Arin aja susah banget."
"Arin pun nggak mau sama Fay. Gimana Fay mau nerima dia."
"Kalau ternyata Arin mau sama kamu, gimana?." Tanya Manda penuh harap, berharap ini awal yang baik bagi putranya.
Membalikan badan menatap tembok"Ini sudah pagi Mah, jangan mimpi."
__ADS_1
Ucapan sang putra membuat Manda cemberut.
"Fay tinggal tidur ya" ujarnya.
"Iya, Mamah mau menelpon seseorang dulu. Biar dia bisa jagain kamu."
Fay berbalik lagi menatap Manda"Siapa?. Jangan bilang Mamah bakal nyuruh Arin ke sini."
"Hemmm, boleh juga" meletakan jemari di bawah dagu, sikap Manda terlihat seperti Fay. Mereka Ibu dan anak wajar saja kalau tingkah mereka kerap terlihat sama.
"Boleh apanya?."
"Seperti yang kamu bilang, ucapan adalah doa." Tersenyum nakal, Manda berlalu dari hadapan Fay.
"Mamah!!. Fay nggak perlu Arin!!" berteriak, namun sayang nggak ada yang peduli dengan teriakan itu.
Di sekolah...
Nari selalu memandangi jemarinya, sebab ada cincin tanda cinta Kai di sana. Febby dan Arin mulai bosan menyaksikan gerakan monoton sang Nona muda. Berkali-kali memandangi kemudian menurunkan tangannya, hanya untuk menatap cincin itu.
Greta menjadi anggota baru dalam perkumpulan para Nona ini. Sebuah pemandangan yang membuat hati mantan sahabatnya memanas. Gertakan Nari membuat mereka nggak bisa mengerjai Greta. Begitu juga dengan ancaman Udin, pemuda ini mengancam akan menyebarkan rekaman mereka saat sedang menghisap rokok di belakang sekolah.
Sementara Rivan, berkat para bucin penolong Nari, tali kasih yang sempat putus kini tersambung kembali. Bahkan ikatan cinta itu semakin kokoh, dengan rasa saling pengertian yang semakin bertambah. Jarak tak lagi menjadi penghalang di antara mereka, justru hal itu membuat getaran cinta semakin bergelora. Inilah yang di sebut jarang bertemu akan menambah kerinduan.
Dan Udin, kini berakhir bersama Greta. Sedangkan para bucin yang lain setidaknya masih bisa di sebut berteman baik, walaupun ada tutur kata yang nggak mengenal filter.
"Segitu cintanya sama abang ketemu gede aku." Greta mencomot salad di dalam rantang milik Arin. Ups! rantang milik calon mertua Arin lebih tepatnya.
"Hilih, aku tau kok abang ketemu gede kamu itu sempat menjadi target mu."
Ucapan Nari membuat Greta tersenyum masam. Betul sih, makanya dia nggak bisa berkelit"Habisnya cakep sih."
"Wuuu dasar kucing betina" seru Arin menarik rantang di hadapan Greta.
"Emang kamu bukan kucing betina?!."
"Dia mah kucing garong" Febby mengambil salad itu dari hadapan Arin. Membuat Arin cemberut. Bekal di tilep, di kata kucing garong juga, gimana nggak cemberut ini cewek.
"Ck! salad doang pake di rebutin. Kalian pesan deh apa yang di mau. Hari ini aku yang bayar." Aura Nona muda seketika menyilaukan mata tiga Nona muda lainnya. Meninggalkan salad itu, Greta, Febby dan Arin langsung mendatangi stan makanan. Memesan makanan dan minuman yang mereka mau. Nari hanya geleng-geleng kepala, mereka seperti nggak pernah jajan saja.
Sedang asik berbincang sembari menyantap hidangan, ponsel Arin berdering. Ternyata sang Ibu, mengabarkan tentang sakitnya Fay.
__ADS_1
"Terus??" ujarnya bertanya, dengan hati ketar-ketir.
"Ya kamu jengukin dia dong."
Akh!! kata-kata yang sangat di hindari Arin. Dan kini sang Ibu lembah lebut itu memintanya untuk menjenguk Fay. Mau menolak, tapi takut bikin Ibunya kecewa. Mau nggak mau Arin menyetujui hal itu. Nggak mau datang sendiri, Arin berniat mengajak Nari dan yang lainnya menjenguk Fay.
Nari dan yang lainnya setuju untuk menjenguk Fay, bersama Arin. Namun....
"Kata Ibu aku harus bawain sup hangat buat dia."
"Beli di restoran langganan aku aja. Sup nya enak" Febby memberi ide.
"Nggak boleh beli."
"Terus?, kamu harus masak sendiri?."
Ucapan Greta di angguki Arin.
Owh, ini bencana. Sebab nggak ada yang bisa memasak di antara para Nona muda ini. Lantas bagaimana dengan sup hangat itu?.
"Minta ajarin sama Ayah kamu aja." Lagi, Febby memberikan saran.
"Ck, si Fay pake sakit segala. Ngerepotin aja tuh anak. Lagian, Mamahnya lho jago masak, kok harus aku yang bikinin dia sup itu." Arin menggerutu. Kalau bikin adonan roti, dia bisa. Sebab kesehariannya banyak di habiskan di kedai, membantu Ayah dan Ibunya membuat roti. Sedangkan untuk hidangan di dapur, sang Ayah yang memegang kendali penuh masalah itu. Dirinya dan Ibunya sering menjadi penikmat saja, dengan Ayah sang koki. Hanggini bukannya nggak bisa memasak, tapi Carlos lebih suka dirinya yang meracik hidangan hangat untuk keluarganya.
"Jadi gimana?" tanya Nari, sebab Arin masih terlihat bingung perihal sup itu.
"Saran Febby boleh juga. Aku tanya Ayah deh, biar pulang sekolah aku langsung belanja bahan sup itu."
"Kalian temenin belanja ya" pintanya bertepatan dengan suara bel berbunyi. Pertanda jam istirahat telah berakhir.
"Jajanin cemilan ya" Greta berucap.
"Gampang" sahut Arin menerbitkan senyum di wajah Greta.
Ada kesenangan tersendiri saat Greta mendapat traktiran dari Nari dan Arin. Selama ini selalu dirinya yang harus membayar belanjaan orang lain, dan saat bersama geng Nari hal itu justru berbanding terbalik.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1