
Meninggalkan Nona muda yang sedang melang-lang buana bersama para pria. Setidaknya wanita paruh baya itu masih bisa bernapas lega, ada dua pengawal yang akan menjaga sang putri. Nyonya Sook sangat yakin, kinerja dua pengawal ini jauh lebih akurat ketimbang pengawal bayangan yang selama ini selalu menjaga putrinya dari kejauhan.
"Mah, Papah yakin nggak mau mengenal Kai?."
Kedua alis Charlotte di buat beradu naik, pertanyaan ini membuatnya menggigit bibir. Sebenarnya, bukan hanya sang istri yang menyelidiki silsilah keluarga Kai, dirinya pun sama. Namun....
"Dia bukan Putra Hanan," ucapnya usai menarik napas kemudian membuangnya. Seolah membuang jauh perasaan sesak yang selama ini terpendam di dalam dada.
"Papah yakin?," selidik Sook.
"Tentu.... Ibunya bernama Karlina, bukan Marina!."
"Karlina....dan Marina, sungguh nama yang mirip."
"Mirip bukan berarti sama, Mah!," terdengar tegas. Pria ini mengambil langkah mundur, meninggalkan sang istri di ruang keluarga.
"Papah mau kemana?, Mamah di tinggalkan sendiri!?," seru Sook.
Alih-alih menjawab, Charlotte melambaikan tangan tanpa menjawab, juga menoleh ke belakang. Kakinya melangkah menuju lantai atas, menaiki anak tangga dengan pikiran yang berkecamuk.
Di tempat lain.
Di saat malah hari, Karlina Ibunda Kai sedang sibuk di dapur. Meski harus melanjutkan hidup dengan serba pas-pasan, wanita lembut ini selalu mengucap syukur pada sang maha pencipta.
Setidaknya dia masih memiliki Kai, putra terbaik dan sangat bertanggung jawab atas kehidupan mereka.
"Besok mau buat kue apa, Karlina?," suara itu terdengar bergetar. Bukan karena sedih, usia tua membuat suara yang dahulu merdu kini berubah bergetar.
"Kue seperti biasa kok. Ibu, ngapain ke sini? udara di sini panas."
"Ibu kesepian di ruang keluarga. Cleo juga sudah tidur," mengambil duduk di sebuah kursi kayu. Wanita tua bernama Letta ini ternyata kesepian. Ya, di rumah sederhana ini hanya ada mereka ber-empat.
"Kai juga belum pulang. Selain kamu siapa lagi temanku berbicara."
"Kenapa enggak tidur aja, ini sudah larut malam,"Karlina mengusap lembut punggung tangan Letta. Seiring berjalannya waktu, tangan itu telah keriput. Sementara masih segar dalam ingatan Karlina, tangan inilah yang dahulu menyatukan tangannya dan tangan sang suami saat menikah, mengucap janji suci setia bersama.
"Karlina, terimakasih bersedia menemani hari tuaku."
Ucapan Letta sontak di potong Karlina dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Ibu, seharusnya kami yang berterimakasih kepada Ibu. Sejak kepergian Mas Hanan, kami kehilangan tempat untuk bernaung. Kalau bukan karena Ibu, aku nggak tau bagaimana kehidupan kami saat ini."
Mengusap pipi sang menantu, Letta juga merapikan helai rambut yang nampak terurai di tepian wajah Karlina.
"Sudah kewajibanku, sayang. Putraku telah membuat hancur keluarga kecilnya sendiri. Sudah seharusnya aku merengkuh kalian, sebab dengan bersama kita akan saling menguatkan."
Karlina kembali menggelengkan kepala"Enggak bu. Itu sudah garis hidup kami. Berhentilah menyalahkan mas Hanan, sampai sekarang kita bahkan nggak menemukan jasadnya."
"Mungkin sudah musnah di dasar samudera," sahut Letta.
"Ibu....," lirih Karlina.
Letta perlahan membawa diri untuk duduk di lantai, sama seperti Karlina. Dengan cekatan Karlina mengambil bantal duduk untuk Letta.
"Karlina, di usia sekarang pun kamu masih cantik. Kenapa nggak cari pengganti Hanan saja." Ucapan Letta membuat Karlian membulatkan kedua bola mata.
"Ibu nggak sayang lagi sama Karlina?."
"Bukan seperti itu. Hanya saja, ku pikir kamu akan hidup lebih layak kalau menikah lagi. Kamu masih cantik, tubuhmu masih terjaga, kamu masih menarik di mata lelaki, Karlina."
Karlina lagi-lagi menggeleng"Sudahlah bu!. Niat untuk menikah sudah hilang, sudah pergi bersama Mas Hanan. Jadi Ibu sudahi menyarankan pernikahan padaku. Oke?!."
"Memangnya Ibu sudi menerimaku membawa lelaki lain ke sini?."
"Hei!!! kalau dia lelaki baik aku pasti akan menerimanya," sahut Letta. Entah serius atau bercanda, sebab di iringi dengan tawa.
"Enggak! aku nggak akan menikah lagi."
Letta masih tertawa"Baiklah, oh ya cucuku kenapa belum pulang?, apa dia lembur lagi?."
"Kai sudah pulang dari tadi Nenek ku yang cantik."
Suara pemuda itu membuat dua wanita itu menoleh ke belakang, serempak.
Rupanya Kai sudah datang sejak beberapa waktu yang lalu. Tepatnya saat sang Nenek menyarankan sang Ibunda untuk menikah lagi. Kai selalu berdebar saat saran itu di lontarkan sang Nenek, dia takut sang Ibu bosan dengan saran itu hingga akhirnya setuju untuk menikah lagi. Bukan apa-apa, selain Ibunya, ada pedagang lain yang juga menitipkan kue di ruko tempat mereka menitipkan kue. Pedagang lelaki itu menyukai Karlina, dan secara terang-terangan mencurahkan perhatian pada sang Ibu.
Pak Toha namanya. Dia pria yang sangat baik, bujangan tua. Tapi....baik bukan berarti harus di terima sebagai pengganti sang Ayah. Meski kepergiannya masih menyisakan tanya sebab jasadnya nggak pernah di temukan, sang Ayah juga meninggalkan beban dan derita kepada mereka. Namun Kai tetap menyayangi sang Ayah, begitu pula dengan Cleo. Mengetahui betapa besar rasa cinta sang Ibu terhadap Ayahnya, Kai sangat bersyukur akan hal itu. Demi keluarganya dia rela kuliah sambil bekerja.
"Heh! sudah datang bukannya bantui Ibu adon kue. Malah diem di situ," ujar Karlian.
__ADS_1
Kai melangkah maju, tersenyum memeluk sang Ibu"Kai sengaja kok, biar Ibu ngomel. Soalnya kalau ngomel Ibu jadi makin cantik."
"Hilih!!," sahut Letta.
"Kalau gitu Nenek sering-sering ngomel aja. Biar jadi cantik," lanjut Letta.
Kai terkekeh, begitu juga dengan Karlina.
Seraya mengurai pelukan"Kalau Nenek malah nggak boleh ngomel. Soalnya cantiknya sudah kelewatan. Kalau Nenek makin cantik, makin manis, Kai jadi diabetes. Nenek nggak kasihan sama Kai?."
Ingin rasanya Karlina menarik telinga Kai, sebab sang putra ini handal sekali merayu dirinya dan sang Ibu mertua. Namun belum sampai jemari Karlina di telinga Kai, Letta sudah lebih dahulu menarik telinga pemuda ini.
"Oho!! kamu semakin jago gombal. Siapa yang ngajarin?? sudah berapa perempuan yang jadi korban kamu dengan mulut manis seperti ini?."
"Aw!! aw!! ampun Nek. Cuman satu perempuan. Cuman satuuuu," seru Kai mencoba lepas dari serangan Letta.
Saru perempuan?? Letta? atau Karlina?. Atau...ada wanita lain di hati Kai?.
Karlina yang sempat tahu tentang Naria, menelan saliva.
"Kai----."
Kai cengengesan, ucapan menggantung Karlina membuat merah wajahnya. Juga tatapan Karlian, seolah meminta kepastian tentang siapa perempuan itu.
"Iya, bu. Kai baikan sama Naria."
"Kai!!! dia bukan gadis sembarangan!."
"Naria siapa?," tanya Letta.
"Putri bungsu Charlotte, bu."
Letta terdiam mendengar nama itu. Bukan karena takut. Hanya saja, rasanya sudah sangat lama nama itu menghilang dari kehidupannya.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗.
Salam anak Borneo.
__ADS_1