Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Artis Instragram


__ADS_3

Banjir orderan itulah yang sedang terjadi. Menyediakan banyak kue-kue olahan Marina saat pembukaan Cafe tersebut, rasa dan kualitas yang terjamin tentu dapat mengundang banyak orderan. Selain sang putra yang mendadak naik daun, sang Ibu juga seperti ulat hijau yang sedang berarak di atas daun hijau. Harga yang tak begitu mahal dengan kwalitas terbaik, baik dari kalangan ekonomi ke bawah, apalagi dari kalangan ekonomi atas, kue-kue Marina menjadi primadona.


Dalam waktu singkat wajah Marina telah menghiasi Tabloid Yummy. Yummy adalah Tabloid yang memuat informasi berbagai jenis kue dan hidangan lainnya, seputar makanan, dan minuman kekinian yang sedang viral. Melihat wajah sang istri di sana, kedua mata Hanan berkaca-kaca.


Saat pemotretan untuk Tabloid itu tentu Hanan juga ikut mendampingi sang istri. Sudah lama rasanya tak melihat Marina dihias begitu rupa. Kecantikan yang dimilikinya semakin terpancar. Berkali-kali Hanan berdecak kagum, memandangi sang istri saat sedang ditangani sang perias.


Tingkah lelaki paruh baya ini tentu mengundang perhatian para kru dari Tabloid tersebut. Apalagi saat Hanan memuji terang-terangan kecantikan sang istri, mereka yang ada di sana tak bisa menahan tawa, menyaksikan interaksi mereka. Hanan yang terang-terangan memuji istrinya, dan Marina yang selalu tersipu malu.


Keseharian Marina mulai disibukkan dengan kegiatan di Cafe. Begitu pula dengan Hanan yang kembali membuat pakaian. Memiliki dua sahabat, Charlotte dan William. Mereka sengaja memesan beberapa potong pakaian. Memakainya di saat rapat dan pertemuan penting lainnya, seraya mempromosikan pakaian tersebut. Sudah lama tak mengendalikan mesin jahit tersebut, tak membuat Hanan canggung saat menggunakannya. Di atas bangunan Cafe tersebut, dia menghabiskan hari-harinya untuk membuat pakaian, yang di pesan Charlotte dan William. Belum selesai membuat semua pesanan pakaian dua sahabatnya, Hanan telah mendapatkan orderan baru dari rekan bisnis mereka berdua. Sungguh rasa syukur itu tak pernah henti Hanan ucapkan.


"Dahulukan saja pesanan mereka, pesananku bisa kamu kerjakan di saat luang saja"


ujar Charlotte.


"Charlotte betul, dahulukan saja pesanan mereka. Masalah pesanan kami kamu bisa mengerjakannya dengan santai." William menimpali. Siang itu tiga sahabat ini menghabiskan waktu makan siang bersama. Sejujurnya bukan hanya mereka bertiga, masih ada dua sahabat lagi yang berada di luar kota. Karena mereka bertiga yang berada di kota yang sama, jadi mereka bertigalah yang kerap berkumpul. Apalagi sejak resmi nya Kai dan Nari bertunangan, Charlotte rasanya selalu ingin menemui Hanan.


Aha!! teringat dengan Kai. Pemuda itu juga sedang digandrungi Netizen saat ini. Statusnya yang mulai terungkap di hadapan publik. Bersekolah di tempat yang bagus dengan beasiswa, menandakan bahwa dia adalah seorang pria dengan otak yang cemerlang. Tampan, rupawan, berotak cerdas, dan seorang putra pengusaha, tentu daya tarik seorang Kai semakin bertambah.


Bukan lagi sekedar menjadi teman Nari untuk ngendorse, Kai mendapatkan tawaran endorse untuk dirinya sendiri.


Nari girang bukan kepalang, setidaknya sang kekasih mendapatkan pekerjaan dengan bayaran yang lebih banyak, ketimbang bayaran menjadi pengantar paket.


"Jadi, kamu berhenti menjadi tukang paket?" di teras kediaman Kai. Nari menghabiskan waktu sore itu.


Mengangguk seraya bergumam"Heem."


"Meskipun nggak menjadi pengantar paket, bisnis tante Marina semakin pesat. Kamu harus selalu membantu di Cafe. Iya kan" ujar Nari lagi.


Lagi-lagi mengangguk seraya bergumam"Heem."


Dua kali seolah bicara sendiri. Nari mengintip ponsel Kai, benda yang sedari tadi menyita perhatiannya. Sebuah cincin nan indah, ternyata Kai sedang melihat-lihat benda itu di toko online.


"Cincin?."

__ADS_1


"Untukmu" Kai langsung mengungkapkan hal itu. Dia tau Nari pasti akan bertanya untuk siapa.


"Tapi aku sudah punya ini" ujarnya memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manis.


"Yang ini untuk jari yang lain."


"No!. aku hanya mau memakai satu cincin ini saat ini. Dan cincin kedua saat kita menikah nanti."


Menatap Nari hangat. Di saat kebanyakan gadis muda gemar gonta-ganti perhiasan, gadis di hadapannya ini nggak berniat melakukan hal itu.


"Ini cukup mahal. Lebih baik simpan uangnya."


"Untuk menambah berat celengan angsa kita?."


Mengingat benda itu, Nari tertawa. Niatnya sungguh kuat, tapi benda itu sudah melahirkan. Demi mengambil isi di dalamnya, Nari menyanyat perut sang angsa. Dia memindahkan uang itu pada tempat yang lebih aman. Mengingat uang jajan sudah kembali, Nari akan lebih giat menabung, tentu di Bank saja.


"Bagaimana kalau unik membangun rumah kita kelak. Biaya pernikahan kita pasti akan di tanggung para orang tua."


Obrolan ini semakin panjang. Mereka berkhayal untuk membangun rumah rancangan Kai. Ingin memilki halaman yang luas, dan ada kolam renangnya.


"Jangan lupakan lapangan basket" tambah Kai.


"Oh ya!. Untuk menambah tinggi badan sepertinya aku harus lebih sering bermain basket."


Menarik hidung Nari"Itu nggak perlu. Kamu sudah pas dengan tinggi seperti ini."


Mengerutkan kening"Memangnya kenapa?."


Menarik Nari hingga masuk ke dalam pelukan"Kamu sangat nyaman di peluk. Kalau tingginya bertambah, aku takut nggak hangat lagi saat memelukmu."


Menepuk punggung Kai, dengan wajah terbenam di dada Kai"Gombal!!!. Kamu pandai sekali bermanis lidah!!." Pekik Nari.


Kai mengeratkan pelukan"Aku begini hanya kepadamu."

__ADS_1


"Kamu yakin?." Menatap wajah Kai, mendongak.


"Ibu dan Nenek juga sering aku gombalin. Tapi untuk kamu gombalannya beda."


Gegas mencubit perut Kai"Dasar buaya cap badak!!."


Kai terkekeh. Berusaha menghindari serangan jemari kecil Nari.


Belum jadi artis. Dua insan ini sudah di ikuti para pemburu berita. Sedari tadi interaksi manis mereka tertangkap kamera. Tanpa mereka sadari, berita tentang hubungan mereka hampir tersebar di laman berita.


Bukan hanya menjaga Hanan, Amir juga menjaga kediaman itu. Nggak lagi berseragam perawat, Amir terlihat berbeda dari biasanya.


"Kalian sudah dapat izin?."


Kehadiran Amir mengejutkan para wartawan.


Wajah mereka seketika panik"Mereka sudah jadi publik figur, nggak ada salahnya kalau kami memburu berita mereka." Salah seorang dari mereka angkat bicara.


Langsung mengambil kamera di tangan wartawan. Rekan bodyguard yang menjaga Nari dari jauh segera menghampiri. Dua orang bertubuh tinggi tegap itu meminta segera menghapus foto-foto yang mereka ambil. Sempat menolak, para bodyguard itu akan melaporkan tindakan nggak nyaman mereka pada Tuan Charlotte.


Berurusan dengan Charlotte, sungguh mereka hindari. Apalagi tentang putri bungsunya. Demi keamanan pekerjaan mereka, para wartawan itu menghapus semua gambar, dan video yang mereka miliki.


Tanpa membuang waktu, mereka pergi meninggalkan kediaman Kai tanpa hasil.


"Terimakasih" Amir mengucapkan kepada dua bodyguard itu.


"Ini sudah semestinya. Nggak perlu berterima kasih." Sahut salah satu dari mereka.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2