Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Kopi apa yang manis?


__ADS_3

"Hah...!! Alex bisa galau juga?," raut terkejut Nari membuat pipi Dito bersemu. Ini kali pertamanya ngobrol dan berhadapan langsung dengan gadis idaman sahabatnya.


"I__iya Nar, galau nggak jelas gitu. Latihan kami jadi nggak asik. Dia sering marah nggak jelas juga, sensi deh pokoknya seperti perawan datang bulan," sahut Dimas melempar pandangan ke arah lain.


Nari tertawa, merasa lucu mendengar ocehan Dito.


"Tau sih ni cewek emang cantik. Lebih deket lebih cantik breeehh, pantesan Alex nggak mau ngalah meskipun sama saudara kembarnya," batin Dimas berkata-kata.


''Oke deh, demi masa depan club basket sekolah kita. Hari ini Nari akan menjadi pelipur lara untuk Alex, sang mantan idola ku," ujarnya sambil melemaskan jemari-jemari tangan lentiknya"Sekarang Alex nya di mana??."


"Tadi sih masih di lapangan basket."


"Meluncuur!!" Nona ini bersenandung ceria meninggalkan Dimas dengan segala imajinasi indah tentang Nari dalam pikirannya.



...****************...


Andrea masih berada di kediaman Charllote. Sarapan bersama keluarga besar Charlotte, juga bercerita panjang lebar tentang penyembuhannya di negara asal sang papah.


Andrea sangat diterima dan di nantikan dalam keluarga itu. Usai ngopi bareng, Tuan Charlotte dan Tuan Wiliam segera bekerja seperti biasanya.


"Biar Andrea di sini aja ya Wiliam. Adek nya Nari kayanya kangen berat tuh."


"Adek nya Nari??bukannya abang Nari??"Tuan Wiliam mengoreksi perkataan sahabatnya itu.


"Ada sedikit keributan sebelum kedatangan kalian pagi ini," sahut Tuan Charlotte menatap Jung dan Joen.


Terlintas kenakalan kedua Tuan muda ini ketika kecil, Tuan Wiliam paham dan tergelak tawa"Masih nggak berubah, Charlotte??."


Sang sahabat mengangkat bahu dan mencibirkan bibirnya.


"Hahaha, nggak lama lagi kediaman kalian akan semakin kacau," gelak tawa Tuan Wiliam masih terdengar"Kamu tahu banget kan tabiat putriku."


"Yah, aku hanya bisa berdoa semoga bangunan rumahku tidak ambruk Wiliam. Apa kamu tahu, menantu pertamaku juga bisa lepas kendali lho," kali ini Ghina yang mendapat kerlingan dari Tuan Wiliam, hanya bisa tertawa cengengesan di belakang Joen.


Dua sejoli kembali bercerita di kamar Jung.


"Kamu nggak ngajar, sayang?" Andrea memecah lamunan Jung yang menatapnya lekat-lekat dalam pangkuan.

__ADS_1


Andrea menunduk menatap Jung yang masih betah berlama-lama memandangnya.


"Kamu kebanyakan makan permen ya di luar negeri?."


"Eh? aku cuman nanyain jadwal ngajar, kok kamu malah ngomongin permen. Lagian aku nggak suka makan permen!'," ujar Andrea.


"Bohong!," timpal Jung sembari menyelipkan anakan rambut Andrea ke tepi telinganya"Udah jago bohong ya?," kali ini hidung kecil Andrea jadi sasaran empuk cubitan Jung.


"Sembarangan...!!ini tangan juga kenapa centil banget sih," tepisnya pada lengan pria berwajah rupawan itu.


"Nggak suka permen aja kamu semakin manis, gimana kalau keseringan makan permen, bisa diabetes aku, sayang."


BLUSH!!!. Mendadak rona di pipinya bertambah merah, wajahnya terasa hangat"Asem...dapat gombalan receh dari mana kamu??," wajah rupawan yang tersenyum itu di unyel-unyel Andrea sepuasnya.


Jung terkekeh menutupi aset berharganya"Ehem..! Aku mau nanya deh, sayang," Andrea mengajak Jung saling melempar gombalan.


''Oke, mau nanya apa?," lelaki itu bangun dan duduk di tepi ranjangnya. Sedangkan andrea sudah merasa nyaman duduk di atas karpet berbulu samping ranjang Jung.


"Sini," ujar Andrea meminta Jung kembali ke posisi awalnya.


Dengan patuh dosen yang bolos ngajar ini duduk manis di hadapan sang kekasih.


"Enggak tau," jawab Jung nggak pake mikir.


"Susu dancow!"...


"Kenapa susu dancow??"tanya Jung balik.


"Dan-cow hadir mengubah segalanya menjadi indah," berlagak manis Andrea memberikan kedipan mata kepada Jung.


"Bweekkk!!!..garing," tolak Jung menjulurkan lidah, meledek Andrea.


"Aku deh, kopi, kopi apa yang paling manis??."


Andrea mikir"Hmmm, kan tadi katanya aku yang manis, kok bawa-bawa kopi??."


"Bukan kamu dong, sayang. Jawab dong!!."


"Kopi susu!," sahut Andrea.

__ADS_1


"Nonono!!!"


"Terus kopi apaan?."


Jung mendekati wajah Andrea"kopi-nang kamu dengan Bismillah."


"Aaayyyy...culik aku deh bang!!".Andrea meleleh dengan gombalan receh Jung.


"Huppfh!!," bibi An yang kebetulan masuk ke kamar Jung dengan membawa jus Apel, menahan tawa mendengar adu gombal mereka.


"Eh bibi An bisa jadi saksinya nih," tmbah Jung.


"Jangan terlalu gombal Tuan, nanti Non Andrea seperti ikan keluar dari air. Klepek-klepek."


''Ah gombal juga si bibi ih," tatap Andrea dengan tawanya.


"Eh, jangan salah. Bibi juga punya gombalan receh lho," sahutnya sambil duduk bersama dan meletakan nampan di sampingnya.


"Apa coba?," pasangan itu malah fokus kepada bibi An.


Permisi ya Tuan"Wes wes wes ~~~ "bibi An berbisik kepada Jung.


''Micin, micin apa yang rasanya manis??," jar Jung mengatakan bisikan sang koki.


"Mana ada!. Micin mah gurih," jawab Andrea.


"Kata bibi ada kok, sayang," ragu-ragu Jung menatap bibi An dan di balas anggukan yakin dari sang koki.


''Micin apaan?," kepo juga si Andrea ini.


''Wes wes wes~~~," si bibi berbisik lagi di telinga Jung. Saat itu juga bibir Jung bergetar menahan tawa.


Di raihnya jemari Andrea dan menatap lebih dekat kekasihnya"Micin- taimu selamanya, sayang".


"HAHAHA!!," nggak tahan lagi, mereka tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata si bibi bisa bercanda kekinian juga.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2