Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Gara-gara Rivan


__ADS_3

...***" Lakukanlah jika itu membuatmu melupakan ku " ***...


...💖💖💖💖...


"Nomer aku sudah di safe kan?. Kalau di omelin terus di usir dari rumah, minggat ke tempat aku aja. Aku punya markas sendiri lho"Rivan sibuk merapikan helai rambut Nari yang tersapu angin sore di dekat kediaman Charllote. Dia juga membetulkan jaket hitam yang Keano pinjamkan untuk menutupi seragam sekolah Nari yang basah karena keasikan main air di pinggir pantai.



"Duh kamu nyumpahin aku, Van? aku deg-degan tau. Jangan sampai di usir kali. Baru sekali juga bolosnya," Nari menggantung helm di stang motor Rivan.


"Selow, Nar. Aku siap di Calling kok," Rivan begitu memperhatikan sang gadis yang mulai mencuri hati nya. Baru setengah hari mereka menghabiskan waktu bersama, Rivan sudah benar-benar menyukai Nari. Awal nya dia cuman ikut-ikutan ngebucinin Nari sih.


"Siniin deh tas aku," pinta Nari. Rivan sampai lupa sama tas Nari, yang masih dia gendongin di punggung kirinya. Dalam hati dia khawatir banget sama kepulangan Nari. Tapi kalau nggak pulang sekarang hukuman Nari pasti bakal lebih berat.


"Inget ya Nar---."


"Iya bawel!!," hardik Nari.


Nari mulai melangkah menjauhi Rivan. Dengan perasaan ketar-ketir dia melangkah dengan mantap.


"Oke!! berani berbuat berani bertanggung jawab!," gadis itu mempercepat langkahnya. Namun sebelum benar-benar berlalu di simpang menuju kediamannya, di sempatkan nya menatap ke belakang .


Mengacungkan jempol, Rivan masih berada di tempat nya tadi.


"Gomawo~~~," Nari mengulas senyum kepada Rivan nan jauh di belakang sana.


Perlahan Nari pun mulai menghilang dari pandangan Rivan.


...✒✒✒✒...


"Non Nari!!," pekik Mr.So ketika Nari kini telah berdiri di depan pintu gerbang.


"Gawat yah Mr?."


"Bukan gawat lagi, Non!!. Tuh ajudan Non Nari udah nungguin," tunjuknya ke depan teras.


Nari menelam saliva mendapat tatapan menghujam jantung dari Joen. Joen duduk goyang-goyang kaki di depan pintu rumah, dengan pose santai namun siap membunuh.


Langkah putus asa Nari membuat Joen tersenyum sinis kepada nya"Kalau bosan hidup tuh bilang kampreet!!!," Joen maju dan memiting kepala Nari di bawah ketiak nya.


"Ampun bang!!, enggak lagi-lagi," tepuk Nari pada lengan Joen dan menjerit meminta ampun.


"Gegara kamu aku di omelin abis-abisan!!. Kata Papah aku yang ngajarin kamu bolos, bolos sekolah aja aku nggak pernah, dasar nenek sihir!!," Joen mempererat pitingannya.


"MAMAH!!," teriak Nari sekuat hati. Mau nggak mau dia mengadu kepada sang Mamah juga.

__ADS_1


Nyonya Sook dan Tuan Charllote berlarian ke luar setelah mendengar jeritan Nari.


"Sudah Joen!!," sentak Tuan Charllote. Kasihan juga melihat Nari berontak di bawah ketiak Joen, wajah si bontot sampai merah seperti kepiting rebus.


"Sini gadis durjana!!," jari telunjuk nya memanggil Nari dengan sangar. Bibir nya bergetar menahan amarah.


Ghina datang di saat Nari menyeret kaki nya yang enggan mendekati sang Papah.


"Waduh....," Ghina hendak maju menghampiri Naria.


"Biarin, Ghin! kalau dia minta tolong jangan di tolongin. Bikin malu aja!," omel Nyonya Sook. Kenakalan Nari kali ini benar-benar menyulut amarah kedua orang tuanya.


...☘☘☘☘...


Keano melempar tubuh ke tempat tidur. Baru kali ini acara bolos sekolah nya begitu menyenangkan, dan bonus nya lagi dia jadi dapetin nomor ponsel gadis idaman. Sebenarnya bukan hanya Keano sih, Bisma sama Rivan juga dapetin nomor Nari.


"Aku kok kesenangan begini sih, gimana nasib tu cewek yah?," pikir nya setelah tersadar dari luapan kebahagiaan nya.


"Kamu bolos lagi, ken?," tanya ibunya.


"Curigaan mulu si Ibu!," sahut Keano membenamkan wajah ke balik bantal.


"Mau jadi apa kamu, Ken??. Masa bolos terus sih. Kalau kamu nggak lulus gimana?," sentak Ibu nya menarik bantal yang menutup kepala Keano.


"Kerja aja deh di bengkel Papah, ngabisin uang aja nyekolahin kamu."


"Ayolah, Keano!!. Jadi anak yang penurut dong, Ibu bosan berkilah dari Ayah kamu terus. Memangnya kamu mau di ambil Ayah? tinggal sama Ayah?."


"Bu!! enggak harus ke orang tua itu juga kali!?," Keano paling males kalau berurusan sama Ayah nya. Lelaki pendusta yang meninggalkan mereka demi wanita lain. Dan untung saja Tuhan bersikap adil kepada mereka. Wanita yang baru saja di nikahi sang Ayah telah meninggal ketika hendak melahirkan anak mereka.


"Orang tua apa? dia Ayah kamu!!."


"Cih, jangan sebut dia Ayah Keano yah Bu!,! ketus nya penuh amarah .


"KEANO!!," bentak Sarita.


"Akh!! mulai deh dramanya," Keano pergi dari kamar meninggalkan Sarita yang sangat geram, dengan tingkah membangkang Keano.


Yah, Keano sangat membenci sang Ayah. Meskipun mereka selalu di limpahi uang oleh sang Ayah, namun rasa benci terlanjur menjalar dan berkembang di hati kecil Keano.


Sang Ayah ketahuan selingkuh setelah seorang wanita yang terlihat lebih muda dari sang Ibu, datang ke kediaman mereka dengan perut yang sudah membesar.


"Ini anak kita mas, darah daging kamu!."


Kata-kata wanita sialan itu terus terngiang di telinga Keano, setiap kali sang Ibu menyebut Ayah di depan nya.

__ADS_1


"Demi istri muda, orang tua itu tega meninggalkan Ibu. Juga aku!," gumam nya di teras depan.


Setelah istri muda nya meninggal, sang Ayah berniat kembali ke rumah. Namun Keano bersikeras menolak kehadirannya. Dia bahkan memaksa kedua orang tua nya berpisah saja .


"Ken, maaf ibu ngebentak kamu. Biar bagaimanapun dia Ayah kamu, nak," Sarita yang mulai dapat menetralkan amarah menghampiri Keano dan berbicara dari hati ke hati.


"Ya, dan alasan itu yang membuat Ibu nggak mau bercerai dari Ayah," sahut nya ketus.


"Ayah sudah menyesali perbuatan nya, nak. Buktinya Ayah bersedia tinggal terpisah dari kita."


"****!!, bilang aja Ibu sangat sayang sama dia. Pergi aja ke kediaman orang tua itu. Keano bisa kok tinggal di sini sendiri."


Pertengkaran yang di awali kasus bolos sekolah, kini berujung pada kebencian Keano pada sang Ayah. Sarita membiarkan Keano yang terlanjut marah padanya dan meninggalkan nya lagi, untuk berdiam diri di kamar. Begitulah Keano, dia akan mengunci diri di kamar kalau sedang ngambek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Siapa yang ngajakin kamu bolos? atau kamu yang ngajakin itu orang bolos?," sidang si bontot telah di mulai.


"Ini lagi.....jaket siapa nih? nggak mungkin jaket kamu kan. Kamu pergi sama cowok, Nar??, siapa namanya?, siapa orang tua nya? tinggal di mana dia?," rentetan pertanyaan bertubi-tubi Tuan Charllote membuat otak Nari berhenti berpikir. Dia tercengang seperti orang bego, mengintip wajah gusar sang Papah yang terus mengoceh di hadapan nya.


BRAK!! "NGOMONG NARIA!!!," bentah Tuan Charllote seraya menggebrak meja.


"Mah...,harabuji----," cicit Bae.


"Kita main ke kamar aja ya, sayang. Kakek lagi nasehatin ounty Nari," Ghina mengajak Bae ke balkon kamar, agar nggak mendengar amukan sang kakek.


"Nari sama temen, Pah----," jawab nya terbata-bata.


"Panggil dia ke sini. Sekarang!!!," sentak Tuan Charllote.


"Pah----, Nari yang ngajakin dia bolos."


"Buat apa? supaya apa? biar keren? biar di bilang anak gaul?," Tuan Challote mengusap wajah nya kasar. Sebandel dan senakal dua anak lelakinya, mereka nggak segesrek Nari. Lagipula Nari kan cewek, argh!!! memikirkan hal itu Tuan Charlotte semakin gemas, nakal banget si bontot ini.


"Cepetan panggil dia ke sini, SEKARANG!!."


Ujung mata Nari mulai terlihat basah, dia nggak menyangka kemarahan sang Papah akan sebesar ini.


"Pa---papah mau apain dia?," tanya nya dalam kalut.


"PAPAH PAKSA BUAT NIKAHIN KAMU!!."


To be continue...


~~♡♡ happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komen ya teman ^,^

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2