Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Jumpai kamu


__ADS_3

...**Kau melihatku......


...Mendengarkanku......


...Tersenyum padamu.....


...Bahkan engkau pun makan bersamaku......


...Namun tiba-tiba kau berbalik dari hadapanku.....


...Dan diam membisu....***...


...💔💔💔...


Data pribadi mahasiswa Universitas Charllote.



Nama: Khairil ubadah.


Tinggi :1,8 .


Alamat:Kota A .


Jurusan:Arsitektur.


Data tambahan:Siswa Beasiswa Klan A plus.


......................


"Hoel!!," hanya itu, sepatah kata yang keluar dari mulut Jung.


Jadi, inilah pemuda yang membuat hati Naria gonjang-ganjing. Makan nggam enak, tidur nggak nyenyak, bahkan untuk sekedar bernapas pun sesak.


Ujung matanya melirik penuh tany kepada Nari, yang tengah fokus pada layar laptop nya. Dia benar-benar menunjukan ketertarikannya kepada siswa itu.


"Biasa aja nyeng, ngeliatinnya!," tangannya menepuk pelan wajah sang adik. Menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Aigooo, IQ nya tinggi juga. Nggak salah kamu naksir ni cowok?."


"Biasanya cowok pintar maunya sama cewek pintar juga," imbuh Jung.


Kedua mata Nari menyipit, menatap tajam ke arah sang abang"Apa maksud abang? abang meragukan otak Nari?."


Bau-bau arwah nenek sihir akan muncul, Jung nggak mau mendapat serangan dari nenek sihir ini karena tersinggung akan ucapannya"Yaaaa~~~ nggak gitu kok. Dia pintar, kamu juga cukup pintar sih. Meskipun sering membajak otak Ghina buat ngerjain tugas sekolah."


"Abang!!," hardik Nari.


"Ck! setidaknya aku mengakui kamu pintar!! kamu hanya malas, jadinya otak pintar ini nggak kepake," seenaknya, Jung mengguncangkan kepala Nari.


"Yak!! dosen gila!!," jerit Naria menepis tangan Jung.


"Hilih! segitu doang udah berkaca-kaca biji matamu. Ya sudah, maaf kalo kekencangan goncang kepalanya!," Jung pun mengacungkan dia jempol tepat di hadapan Nari"Cowok idaman kamu juara! brilian!!."


Budak cinta yang sedang di mabuk cinta, meski sempat tersulut emosi karena ulah sang abang, kini Naria tersenyum malu-malu"Hehehe, abang juga mengakui keunggulan Kai ini kan."

__ADS_1


"Bagus gundulmu!," seru Jung mengambil duduk di kursinya.


"Kenapa lagi sih, bang?!."


"Ya, kasian aja," sahut Jung dengan tampang sedih yang di buat-buat. Namun Nari menanggapi salah, ejekan Jung ini di sangka rasa iba oleh Nari.


Wajah Nari yang sempat berbinar-binar menatap data pribadi Kai ,kini berubah menjadi sendu. Baru sekarang dia merasakan perhatian yang Jung berikan kepadanya.


"Nari nggak pa-pa kok bang. Abang jangan ikutan sedih. Yang penting kan sekarang abang udah tau orangnya yang mana."


"Nari cuman pengen penjelasannya aja kok. Kenapa PHP in Nari. Itu u aja kok," benar sjaa, Nari menyangka Jung merasa kasihan dengan kegundahan yang melanda hatinya.


"Hupffh!!," suara Jung menahan tawa. Lengannya menjulur ke atas kepala Nari, memutar kepala sang adik hingga membuatnya menjerit kesal"Jadi, kamu pikir yang aku kasihani itu diri kamu?," senyum mengejek pun mengembang di wajahnya.


"Hoel!! so??"tatap Nari mulai kesal.


"Aku jelas kasihan sama Kai. Dosa apa yang telah dia lakukan di kehidupan lampau, sampai harus mendapat hukuman yang berat di kehidupan sekarang. Di kejar cewek jadi-jadian seperti kamu."


Nari semakin tersinggung dengan kata-kata Jung. Dan dari yang dapat dia pahami sekarang, si edan ini jelas sedang menghinanya.


"Bayangin deh Nar, kalau sampai si Kai ini jadian sama kamu??wuahahahha 🤣🤣🤣 dia bakal menderita setiap hari. Menghadapi kamu yang cerewet, menghadapi emosi mu yang turun naik kek dudukan kuda, menghadapi kamu yang bisa berubah jadi nenek sihir jika sedang marah. Waduh!! kasihan sekali dia."


"Pemarah".


"Maen jotos".


"Labil".


"Cabe-cabe an".


"Teruuuss---," jeda sejenak sembari memikirkan aib lain sang adik.


PLETOK!!!. Bogem mentah mendarat di tengkuk Jung. Kulitnya yang putih pucat seakan berdarah di dalam, seketika merah padam.


"NAR!!!!," teriak Jung penuh amarah. Mulutnya terbuka lebar dengan lengan menahan sakit akibat pukulan Nari.


"Lihat! sama aku aja kamu berani mukul. Gimana sama orang lain!!."


" Abang mau bantuin nggak?!," sergah Nari mengepalkan kedua tangan. Mentalnya selalu saja di uji jika berurusan dengan salah satu saudaranya.


"Oke!! aku bantuin," Jung balik menyergah Nari."Cih!! pokoknya aku anggap ini hutang ya Neng!!!."


"Bantuin pake otak, jangan pake mulut. Adik sendiri di kata-katain. Itu mulut mau di staples!!," suara lantang Nari membuat seseorang yang sedari tadi diam di pojokan terkejut.


"Bujubuset!!," Rozak terperangah. Dia melihat pertunjukan yang sangat menarik hari ini, si ganteng dan si cantik, ternyata tabiat mereka sangat di luar dugaan.


Mata Nari menangkap pergerakan Rozak di meja belakang Jung. Dia pun berbalik menatap Rozak"Hehehe..., hai," sapanya canggung seraya melambaikan tangan.


"Hai," Nari pun ikutan canggung. Dia lepas kendali di hadapan dosen lain"Waduh! kalau papah tau bisa berabe nih," bisik hati Nari.


"Maaf pak, bpak dosen jurusan apa ya?," Nari menanyakan itu setelah melihat miniatur bangunan di meja kerja Rozak.


"Arsitek," jawab Rozak tenang. Kini dia sudah dapat menguasai diri dari keterkejutannya menyaksikan kejadian nggak biasa.


"Jadi bapak tahu dong dengan Kai?," Nari kembali menjadi bunglon. Setelah memukul dan marah-marah kepada Jung, kini dia bersikap sangat manis dan lemah lembut kepada Rozak.

__ADS_1


"Wuaaahh!! hati-hati kamu Zak!!salah langkah melayang kepalamu!," sebagai teman, Jung memberikan peringatan kepada Rozak agar tak tertipu dengan trik murahan sang adik.


Namun senyum manis mbak Nari berhasil memikat hati si Rozak, dosen berusia 38 tahun yang masih jomblo. Seorang gadis cantik berusia 18 tahun menebar senyum dengan kata-kata manis kepadanya, hati mana yang nggak meleleh.


"Ehem!!tau sih. Tapi....dia udah beberapa hari nggak masuk kuliah. Katanya sih ada kejadian na'as."


"Na'as? na'as gimana pak Rozak?," dari suaranya dapat di ketahui bahwa Nari sangat khawatir akan keadaan Kai.


Nari membulatkan kedua matanya menatap Rozak lebih dekat. Dia juga menatap Jung, seakan benar-benar meminta pertolongan.


"Hadeh, aku lagi deh," lenguh Jung kesal. Tengkuknya saja masih terasa pegal sekarang dia malah harus mencari informasi tentang Kai lagi.


"Gimana kalo kita ngobrol di taman aja, lebih santai. Aku sempat shok lho melihat cara kalian mengungkapkan rasa cinta antar saudara," sindir Rozak.


Raut wajah Nari berubah lagi. Kali ini sedikit bersemu, dia baru menyadari kelakuan absurd nya barusan kepada Jung.


"Makanya Zak. Ingat kata pepatah don't see the book by its cover ini nih contohnya".


"Cih, sama sih pak Rozak. Saya dengar cewek-cewek di sini pada klepek-klepek dengan pesona bang Jung. Mereka nggak tahu aja, asli nya makhluk sebiji ini," ujar Nari lagi.


"Kwkwkwkwk kalian memang saudara," ujar Rozak di sela-sela tawa renyahnya.


Nari menatap Jung dengan bibir manyun. Sedangkan Jung melipat kedua tangan di dada dan menatap Nari dengan kedua alis yang beradu naik turun.


Atas saran dan keinginan pak Rozak akhirnya mereka ke taman kampus juga. Berjalan beriringan dengan si cantik dan si ganteng membuat rasa percaya diri Rozak melambung naik.


Apalagi bisik-bisik para netizen yang terdengar sangat jelas di telinga mereka, membuat Rozak berusaha menyamakan langkah bersama Nari.


"Eh somplak!! jangan mepet-mepet," hardik Jung.


"Mepet-mepet gimana sih, biasa aja keles!!".


Nari hanya tersenyum melihat tingkah pak Rozak. Ternyata bukan hanya kakak nya yang edan di sini.Rozak bin abdul ini ternyata lumayan edan juga.


...****************...


"Sorry ya bro, aku jadi ngerepotin kamu."


Dion melempar senyum kepada Kai yang sedang berjalan di sampingnya."Its ok bro. Kalau bukan aku siapa lagi yang akan menolongmu. Lagian kita cuma berdua ini kan," ucapnya lagi.


Yah mereka memang hanya berdua di antara mahasiswa berduit yang kuliah di Universitas besar ini, dengan ekonomi menengah kebawah pastinya. Mereka selalu bantu membantu baik dalam masalah pribadi maupun masalah pelajaran di kampus.


"Eh terus tugas dari pak Rozak gimana nih??kamu udah ada bayangan mau bikin apartemen kaya gimana??".


"Aku masih belum mikirin masalah itu Di. Si Nari, meskipun aku selalu cuekin dia, dia masih sering nelponi aku. Gimana dong??."


Saat itu semesta kembali menguji mereka yang tengah resah karena cinta. Nari, gadis yang sangat di impikan Kai sekarang berdiri kaku di hadapannya. Sinar mentari sore menjadi bingkai pertemuan mereka kembali.


"Hai, long time no see...Kai."


To be continued.


~~♡♡Happy reading.jangan lupa like,vote dan komen ^,^


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2