
...***Aku sengaja mengambil beberapa langkah mundur,...
...Menatapmu dari kejauhan yang terus berjalan tanpa aku....
...Ada sebuah kekosongan di sampingmu saat itu,...
...Dan Setelah melewati jalan kelabu,...
...Akhirnya kau pun melihat ke belakang....
...Masih ada aku, yang tak bisa berpaling dari mu***...
...🍃🍃🍃🍃...
"Hai, long time no see, Kai!," Nari spontan menyapa Kai, menatap pria itu dengan penuh kerinduan.
Kini, di bawah sinar mentari sore tatapan mereka bertemu.
1Detik...
2 Detik...
3 Detik...
Seolah berbicara dari hati kehati, mereka masih terdiam saling pandang.
Jung memberi kode kepada Dion dan Rozak agar meninggalkan mereka berdua saja.
"Pak Jung, pak Rozak," sapa Dion sopan.
"Hm, kalian mau kemana?," tanya Jung. Kini mereka bertiga duduk di kursi taman, sediki berjarak dari dua korban perasaan karena cinta.
"Mau ke kantin, pak," sahut Dion lagi.
"Oke, yuk ke kantin. Aku yang traktir," ajak Jung. Ajakan itu jelas di sambut suka ria oleh Dion dan Rozak. Mereka nggak akan menyia-nyiakan traktiran dari seorang Tuan Muda keluarga Charlotte. Dompetnya pasti tebel banget tuh, pikir Dion dan Rozak.
Kembali ke tengah kampus...
"Aku--- baik kok, Nar. Dan kamu?," kali ini Kai nampak lain di mata Nari. Dia seperti bukan Kai yang dia kenal. Atau... inikah sikap aslinya Kai. Mereka kan baru kenal beberapa waktu juga.
"Aku juga baik-baik saja kok," sahut Nari lagi. Namun kini matanya tertuju pada tangan kanan Kai yang masih terbalut perban.
"Inikah yang di maksud Pak Rozak kejadian na'as??"bisik hatinya.
Gadis itu spontan hendak menyentuh jemari Kai, namun sayangnya dia kalah cepat dengan pergerakan Kai.
"Maaf Nona," pria itu menghindari Naria.
"Non?," ujar Nari dengan nada bertanya. Kai biasanya memanggilnya dengan sebutan Nama saja, kali ini kenapa dia memanggilnya dengan sebutan, Nona??. Sumpah! Nari sangat nggak suka kalau ada orang selain pelayan di rumahnya, yang memanggilnya seperti itu.
"Ya, kamu Nona muda dari Keluarga Charlotte, pemilik kampus besar ini. Jadi wajar bukan kalau di panggil Nona?," ujar Kai lirih. Pemuda ini masih berusaha menyematkan senyuman meski hati terasa pedih. Dia menyukai Nari, namun kesenjangan sosial seolah membentengi tali kasih mereka.
Seketika Naria semakin merasa kesal, ingin rasanya menjitak kening Kai, mungkin saja akan mengembalikan sikapnya seperti sedia kala. Ah, sayangnya Nari nggak bisa melakukan hal itu, berbeda halnya jika Joen atau Jung yang sedang berada di depannya.
"Kata Pak Rozak kamu mengalami kejadian na'as, apa itu penyebab tanganmu di perban seperti ini?," tunjuk Nari pada lengan Kai, tanpa mengindahkan ucapan Kai barusan.
Kai mengangguk,"Tapi aku sudah pulih kok. Kalau nggak ada yang mau di omongin lagi, aku pamit dulu, ya," tanpa menunggu jawaban dari Nari, Kai berlalu melewati Nari.
Kedua tangan Nari mengepal, Kai bersikap seakan nggak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Aku menunggu mu sore itu!," pekiknya pada Kai yang kini sudah berada di belakangnya.
"----Benarkah??, seharusnya kamu nggak usah menungguku," Kai kembali melangkah menjauhi Nari.
Langkah kecil Nari mengejar laju langkah Kai. Dia menghadang tubuh tinggi Kai dengan mata berair, satu kali berkedip maka jatuhlah air matanya.
__ADS_1
"Kamu--- harus bertanggung jawab!!," suara sang nona muda bergetar. Rasa rindu, rasa kesal, bersatu hingga menimbulkan gemuruh sesak di dalam dada. Ck! sungguh Nari sangat lemah saat ini.
Akh, ingin rasanya Kai memeluknya. Menenangkan nya dan menghapus air mata yang telah jatuh di kedua pipinya.
"Nona Nari, apa yang kamu tangisi dari aku. Seorang lelaki miskin yang bersekolah di sini karena sebuah keberuntungan terbesar dalam hidup ku. Setidaknya otak ku masih bisa ku manfaatkan demi mengejar cita-citaku."
"Aku bukan pria kaya raya yang mampu memberikan mu hadiah mewah, yang ku punya hanya kasih sayang. Aku rasa nggak akan pantas kalau hanya itu yang bisa ku berikan untukmu."
"Jadi, kamu memandang kekayaan!??, itu alasan kamu melangkah mundur setelah mengulurkan tangan kepadaku?," tatap Nari nanar.
"Jangan berharap banyak dariku Nona, Nari. Kita seperti langit dan bumi, dunia akan berhenti berputar jika kita bersama!."
"Nggak!!, itu cuman pemikiran aneh mu," isak Nari menahan tangis, toh nyatanya genangan air mata telah luruh di kedua pipi sedari tadi.
Beberapa netizen mulai memperhatikan mereka"Mentang-mentang berwajah tampan dan berotak pintar, murid beasiswa itu bertingkah!."
"Hei, gadis itu terlalu menawan untuknya. Ayolah, sadarkan dia!."
"Lho!!itu Nari. Si bungsu dari Charlotte bersaudara!. Waaahh kamu memang harus berwajah rupawan jika ingin menempel pada wanita kaya raya!!!.
Bermacam gunjingan yang keluar dari mulut nyinyir para netizen maha benar. Se-enaknya menilai hanya dari melihat sekilas sebuah perkara.
"Nona Nari, demi kebaikan kamu sampai di sini saja pertemuan kita. Sebaliknya, jika Tuhan mempertemukan kita lagi, anggap saja kamu nggak kenal aku."
Kata-kata itu tepat menghujam jantung Nari. Dia menepis air mata, kedua mata berbinarnya menatap Kai dalam-dalam"Bisakah kamu kembali menjadi Kai yang baru ku kenal dulu?."
Kai nyaris menyerah, nggak bisa di pungkiri dia sangat menginginkan wanita di hadapannya ini"Nona---."
"Berhenti memanggilku Nona!!, aku hanya memperbolehkan pelayanku memanggilku dengan sebutan itu!," ujarnya kesal.
"Ya!!, aku memang setara dengan pelayanmu. Oleh karena itulah kita nggak akan bisa bersama," sentak Kai meninggikan nada bicaranya.
"Benarkah?!," hardik Nari. Sepasang mata bulat nan indah itu semakin tajam menatap Kai.
"Jika kamu setara dengan pelayan untuk ku, berarti kamu bersedia menerima perintahku kan!," ujarnya dengan mulut bergetar.
"Maaf Nona, bukan itu maksudku."
Kai lekas menggelengkan kepala"Nona, bukan seperti itu, sepertinya terjadi salah paham di antara kita."
"Enggak!! aku mengerti! aku bahkan sangat mengerti dengan maksud mu. Baiklah, jika kamu nggak mau di bayar dengan uang," Nari melangkah mendekati Kai"Kamu...mulai sekarang kamu adalah pelayan ku! aku akan membayarmu dengan jaminan keamanan beasiswamu di kampus ini. Kalau kamu berani menolak semua perintahku, aku nggak segan-segan untuk meminta papah mencabut beasiswa mu!!!."
Sadar akan posisinya, Kai akhirnya mengangguk pelan"Baiklah, Nona. Aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi kalau itu menyangkut impianku untuk terus kuliah di tempat ini. Sekarang katakan, apa yang Nona inginkan."
"CINTAI AKU SELAMANYA!."
Kai sangat terkejut, dia cukup mengerti sejak semula bahwa ada benih cinta di antara mereka, tapi Kai nggak menyangka bahwa Nari akan senekat ini.
"Nona, aku nggak----."
"Aku nggak menerima penolakan!," dengan geram dia memotong perkataan Kai.
"Jika kamu bersikeras menolak ku, ingat! aku akan meminta papah mencabut beasiswamu, juga Dion!!."
Kai benar-benar terpojok. Bagaimana bisa Dion ikut terseret dalam hal ini"Jangan bawa-bawa Dion, dia nggak ada hubungannya dengan masalah ini."
"Kamu lupa, dia bersamamu datang ke toko bunga milik mamahmu, itulah awal pertemuan ku dengan mu."
Kai kembali terdiam, dia nggak menyangka masa depannya berada di tangan gadis ini.
Tangan Nari mengepal dan bergetar, kini nggak ada lagi air mata di kedua pipinya. Emosi gadis itu sudah mencapai ubun-ubun. Benar kata Jung, Nari pemarah dan cerewet. Dia bahkan berani membawa kekuasaan Papahnya demi menakhlukan hati seorang pria.
"Jadi, aku harus bagaimana?," tanya Kai. Sungguh, dia nggak bisa begitu saja merelakan beasiswanya demi menjauhi Nari, dan juga menambah derita Dion, sedangkan mereka sama-sama dari kalangan rakyat jelata.
"Anggat telponku!!."
Kai mengangguk.
__ADS_1
"Balas pesan-pesanku!!."
Kai mengangguk.
"Jangan menolak perintahku!!."
Yah, apa lagi yang bisa Kai lakukan selain mengangguk.
"Sekarang kita jadian!!."
Kali ini Kai tak mengangguk, seolah menolak perkataan Nari.
"Lho??, kamu menolak?!," hardik Nari. Kesedihannya beberapa hari ini telah memangkas habis semua rasa malunya. Pada akhirnya Nari bersikap seperti Nari yang biasanya.
"Ini melanggar hak kebebasan manusia," cicit Kai membela diri.
"Nggak!!bukannya kamu merasa setara pelayan pelayan ku?."
"Suka-suka aku, bukan?!."
"Bukankah kamu kuliah di universitas ini?, universitas yang di bangun kakek buyutku?!.""
"Iya sih, tapi---."
"Menurut ajaran jaman dahulu seorang pelayan tidak memiliki hak untuk menolak bahkan membela diri di hadapan majikannya?," ujar Nari lagi.
"Kamu sudah aku patenkan sebagai pelayan sekaligus kekasihku!," ujarnya ngotot.
"WOI!!WOI!!WOIII!!," sergah Jung yang datang tiba-tiba.
"Baru juga di tinggalin sebentar, kamu sudah menindas lelaki. Cobalah menjadi cewek kalem, jangan bar-bar seperti ini."
"Udah Kai, kamu ke kantin sana. Makan siang sama Dion. Nari biar aku yang ngurusin."
"Terimaksih pak Jung," hormat dan rasa terimakasih yang terdalam Kai haturkan kepada Jung, dia bagaikan malaikat pelindungnya saat ini.
"Abang! kenala di lepasin??," pekik Nari.
"Sinting," Jung menoyor kening Nari.
"Cowok mana yang bakal jatuh hati sama cewek gila kaya kamu?."
"Udah aku takhlukin kak!, tinggal selangkah lagi dia akan jadi pacar Nari."
"BUSEEETTT!. Ngebet amat Nar!!."
"Pepatah mengatakan cinta itu seperti menggenggam burung pipit, genggamlah dengan longgar agar dia bisa bernafas. Kalau di genggam terlalu erat maka dia kan berontak, pergi atau nggak mati."
"Bodo amat!!!.asal nggak pergi aja dari aku aja. Biar matipun nggak pa-pa, yang penting jadinya sama aku. Toh matinya di tangan aku kan!!."
Jung nggak bisa menghadapi Nari lagi. Sepertinya.Kai akan sangat.kewalahan menghadapi Nari kedepannya nanti.
"Kamu lebih gila dari yang aku kira," kini dua bersaudara itu berjalan beriringan di lorong kampus, mereka kembali ke ruangan Dosen untuk mengambil tas Nari.
"Gimana Nar?," Rozak yang sudah semakin akrab dengan Nari menanyakan kabar permasalahannya .
"Mantap ki sanak, terimaksih sudah mengajak Nari ke taman kampus," ujarnya sambil melempar senyum kepada Rozak.
"Trus Kai gimana?, udah berhasil di jinakin?."
"Jinak nggak jinak, mayatnya pun dia karungin Zak!!," seloroh Jung.
Rozak kembali terkaget-kaget. Nari melempar senyum sinis yang mematikan kepada Rozak, ini baru benar-benar Nari si Nenek sihir.
...💖💖💖💖...
To be continue....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
Salam anak Borneo.