
Srak!!!, kembali potret keluarga Kai sampai di hadapan seseorang. Dalam setiap gambar yang sampai kepadanya, raut wajah mereka terlihat bahagia, seolah nggak ada beban yang singgah dalam kehidupan mereka. Meski sesekali terlihat raut wajah Karlina yang kelelahan, wanita itu kembali tertangkap kamera saat sedang tersenyum, entah itu saat menyapa kenalan di jalan atau sedang bercengkerama dengan putranya, Cleo si bungsu yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Kalau Kai kebagian jatah mengambil keranjang kue Karlina usai di titipkan di warung-warung kecil, Cleo kebagian menemani sang Ibu mengantarkan dagangan itu di pagi hari, sebelum berangkat ke sekolah Ibu dan anak ini singgah dahulu di beberapa warung langganan Karlina untuk menitipkan kue.
"Dia memang wanita tangguh, selama ini dia mampu bertahan. Tetap awasi mereka" titahnya pada sang penguntit.
"Siap Nyonya!."
"Marina, kamu cukup kuat untuk hidup tanpa suami" bergumam, mencari pembenaran atas tindakannya selama ini.
Setelah orang suruh itu pergi, wanita yang di panggil Nyonya itu melangkah menuju ruangan lagi. Di sana terlihat seorang pria paruh baya, duduk di atas kursi rodanya sedang menatap ke luar jendela, dialah Hanan Ubadah.
"Mas, apa yang kau lamunkan?."
"Ah kamu, aku hanya sedang menyusuri ingatanku. Kenapa sulit sekali, apa karena aku sudah terlalu tua?."
Usapan lembut wanita ini coba menenangkan hati sang pria tua"Usia senja nggak bisa kita hindari mas. Aku akan berusah membantu mu hingga ingatan mu kembali."
"Aku sudah lupa berapa kali kamu menjanjikan hal itu, nyatanya sampai sekarang aku masih belum tau betul siapa diriku."
"Kamu suamiku, Mas!."
"Bahkan foto pernikahan kita pun kamu nggak punya!."
"Mas...., harus berapa kali ku katakan, semua foto pernikahan kita telah musnah, terbakar bersama mobil yang kamu kendaraan di hari naas itu!."
"Untuk apa aku membawa semua foto pernikahan kita hari itu?." Pertanyaan Hanan lagi-lagi nggak terjawab. Wanita ini hanya diam dengan manik yang siap menumpahkan genangan air mata.
"Di mana orang tuaku?."
"Mereka sudah nggak ada, Mas" jawabnya tertunduk"Mereka sudah meninggal sebelum kita menikah." Sebuah kebohongan besar, bahkan Hanan yang kehilangan ingatan pun dapat merasakan kebohongan itu.
Hanan, pria tua ini melepas pandang ke langit biru. Wanita yang sedang bersamanya ini baik, bahkan sangat baik. Namun, entah mengapa hantinya menolak mengakui dia sebagai istrinya. Juga, seorang putri yang di katakannya sebagai putri mereka, Hanan nggak yakin bahwa bocah yang masih duduk di bangku SMA itu adalah putrinya.
__ADS_1
"Maaf, aku lelah. Bisakah kamu meninggalkan aku sendiri?."
Wanita itu melirik jam di dinding"Iya, memang sudah waktunya Mas beristirahat. Sebelum itu Mas minum obat dulu ya." Hanan mengangguk, sejurus kemudian sang perawat pria membantunya naik ke atas tempat tidur.
...****************...
Senandung kecil seorang Nona muda, membuat kedua sahabatnya mengerutkan kening. Sejak pagi hingga siang ini, Naria terlihat sangat bahagia. Senyum manis selalu terukir di wajahnya, membuat geng cewek yang benci padanya menjadi kesal.
"Nar, cerita dong. Kenapa kamu bahagia sekali hari ini?."
Nari cengengesan. Bukan hanya sekali ini, sudah berkali-kali Febby dan Arin menanyakan sebab senyuman itu, dan berkali-kali pula Nari tertawa malu, tersipu seraya menggembungkan pipi, sikap nya sungguh aneh.
"Naria!! kamu aneh tau!. Hardik Arin.
Nari mengajak Arin dan Febby untuk lebih mendekat, kemudian berbisik"Tadi malam aku bertemu dengan calon mertua."
"Wahhhh!!" seru Arin dan Febby bersama.
Ucapan Febby di angguki Nari"Bukan hanya orang tuanya, Neneknya juga baik. Baiiikkkk banget!."
"Cieee yang sudah ketemu calon mertua. Ngapain aja kamu di sana?."
"Bikin kue."
Hoel!!, jawaban Nari kembali mengejutkan dua sahabatnya.
"Kamu....bikin kue?."
Anggukan kepala Nari terasa sangsi bagi Arin dan Febby. Andai Nyonya Sook mengetahui hal ini, dia pasti senang sekali. Sebab, Nari sangat anti dengan kegiatan memasak, apalagi membuat kue. Kalau adu jotos sama dua abangnya, Nari doyan banget. Salah satu impian Nyonya Sook adalah memiliki putri yang anggun, lemah dan lembut, sangat feminim. Namun sayangnya semua itu sangat jauh dari karakter seorang Nari. Karena sempat bertunangan dengan Rivan, bocah itu jadi nggak canggung bertandang ke kediaman Charlotte. Dan saat di sana, dia sempat mengajari Nari menaiki motor gedenya, sontak teriakan Nyonya Sook menggema di kediaman itu. Sudah cukup Nari yang bar-bar, jangan sampai itu cewek jadi doyan naik motor gede gegara sudah jago menaikinya.
Kembali ke sekolah Naria.
"Bikin kue apa kalian?."
__ADS_1
"Kue donat" sahut Nari, rasanya senang sekali dua sahabatnya begitu penasaran akan kisah kebersamaan nya bersama Karlina dan Letta. sedangkan Kai hanya menjadi penonton saat itu. Kai nggak menyangka kehadiran Nari sangat di terima oleh Nenek dan Ibundanya, mengingat awalnya sang Ibunda melarangnya untuk menjalin hubungan dengan Nari.
"Kamu yang bikin adonan?" Febby bertanya sangat antusias.
"Ya enggak dong. Aku bantuin kasih toping aja."
Hupffhh!!, terdengar helaan napas Febby, kemudian di iringi tawa kecil Arin.
"Kok kalian begitu? memangnya kenapa kalau aku cuman kasih toping nya?."
"Ya... bagus sih. Soalnya kalau kamu yang bikin adonannya, bisa-bisa bisnis keluarga Kai berantakan."
"Para pelanggannya bakal kabur karena resep donat nggak enak kamu" Arin menimpali ucapan Febby.
Nari melengos, tapi ada benarnya juga perkataan mereka. Dia pun akhirnya ikut tertawa. Saat Naria dan dua sahabatnya bersenda gurau di sudut sekolah, para pembencinya semakin penasaran, hal apa yang membuat Nari begitu bahagia.
"Coba deh kamu intip Instragram nya, aku penasaran sama cowok nya."
"Si abang ojek?."
"Ck! kata anak-anak meskipun abang ojek, cowoknya cakep banget. Kalau aku bisa takhlukan itu cowok kan lumayan, bisa bikin Nari sakit hati."
Mendengar ucapan sang kertua geng, para jongos pun segera mengintip laman Instagram milik Nari. Beberapa kali menggulir, mereka menemukan gambar Naria bersama Kai. Dari situlah mereka menemukan akun Instagram milik Kai. Mereka akui, Kai memang sangat tampan. Meski berpenampilan sederhana, cowok ini memiliki aura yang nggak biasa. Senyuman dengan lesung di pipi, sang ketua geng mulai terpesona kepada Kai.
"Boleh juga" ujarnya bergumam. Hatinya berdebar, jempolnya terus menggulir layar ponsel, berselancar di beranda akun media sosial Kai.
Sejak hari itu, sang gadis pembenci Nari bertekad untuk merebut Kai darinya. Kalau cowok yang dia sukai menolaknya karena Nari, mengapa dia nggak bisa mencuri perhatian cowok yang di sukai Nari? hal itu sungguh menjadi tantangan yang sangat menarik baginya. Lagipula, sedikit berjuang demi cowok setampan Kai, nggak ada salahnya bukan?.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗
Salam anak Borneo.
__ADS_1