Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Sweet love


__ADS_3

Lelah!!. Tetap saja rasanya lelah meskipun pekerjaan yang melelahkan itu dilakukan dengan orang terkasih. Duduk di kursi luar Cafe bersama Kai, Nari memijat betisnya. Berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, bolak dan balik membawa bingkai-bingkai foto kue olahan Marina, hingga akhirnya pekerjaan itu usai jua.


Tanpa diminta, Kai langsung berjongkok di hadapan Nari, dan memijat betis sang kekasih"Terima kasih sudah membantu dengan sukarela. Sebagai orang biasa, kantongku tentu nggak mampu untuk membayar jasa seorang Nona muda sepertimu." Meski Seraya tertawa, sesungguhnya perkataan itu tulus dari dalam hati Kai.


Di bawah sinar lampu jalan raya, bahkan siluet seorang Kai pun terlihat menarik di mata Nari. Gadis ini spontan mengusap pucuk kepala sang kekasih. Membuat Kai mendongakkan kepala hingga pandangan mereka saling bertemu.


"Tentu saja dompetmu nggak akan mampu untuk membayarku, sebab aku nggak meminta di bayar dengan uang."


Tersenyum sehingga lobang di pipinya terlihat dengan jelas, Kain menopang kedua tangan di pipi"Oke baiklah, jadi cepat katakan harus dengan apa aku membayarmu duhai Nona muda."


Nari sangat gemas dengan tingkah Kai. Tak Ayal pemuda ini seperti seorang guk-guk yang meminta di belai pucuk kepalanya.


"Bayar aku dengan mencintaiku seumur hidupmu" berbisik. Setelah mengatakan itu Nari merasa malu sendiri. Entah mengapa kalau di hadapan Kai sikap bar-barnya seolah menghilang. Berbeda halnya apabila sedang berhadapan dengan dua saudara lelakinya, Joen dan Jung. Dihadapan Kedua lelaki super duper usil itu, mode galaknya akan menyala dengan otomatis.


"Nona Nari yang manis, apa yang kamu minta itu terlalu berharga. Bagaimana kalau aku juga meminta sesuatu darimu, apa kamu bersedia memberikannya padaku?." Membawa diri kembali duduk di samping sang kekasih.


Nari sedikit memutar tubuhnya, menekuk sebelah kakinya hingga mereka berdua kini saling berhadapan"Bilang aja, aku akan memberikan apapun kepadamu."


Memanggil Nari dengan jemarinya hingga gadis itu pun mendekatkan wajahnya kepada Kai.


Kai pun berbisik di telinga Nari"Aku juga meminta cintamu seumur hidup. kalau kamu setuju, maka aku pun akan memberikan hal yang sama."


Dan"Cup" sebuah kecupan mendarat di pipi Nari.


Membeku. Itulah yang sedang terjadi kepada tubuh Nari sekarang. Hubungan mereka terbilang sudah lama, tapi interaksi seperti ini bisa dibilang jarang terjadi. Jika itu pelukan, mereka kerap saling berpelukan. Tapi jika itu ciuman, akh! membayangkan nya saja wajah Nari sudah memanas. Begitu juga dengan Kai. Pemuda ini terkadang masih malu untuk sekedar mendaratkan ciuman di kening dan pipi Nari.

__ADS_1


Pernah suatu hari saat bertandang ke kediaman Charlotte. Nari mengajaknya bersantai di beranda kamarnya. Di bawah sinar rembulan dengan semilir angin nan sejuk. Saat saling berpandangan mereka terbawa perasaan, Kai mulai mendekati wajah Nari mencoba untuk mencicipi bibir ranum sang kekasih. Nari pun sama, dia pun juga ingin mencicipi bibir sang kekasih. Saat jarak diantara mereka tinggal beberapa centi saja, Jung menjatuhkan botol minuman bersoda. Di beranda kamarnya dosen edan itu sedang mengintip si bontot.


Ash!! rasanya malu sekali. Kai langsung membangun jarak di antara mereka. Sementara Nari menatap tajam ke arah Jung yang terlihat cengengesan.


"Maaf, nggak sengaja. Aku minggat deh, kalian silahkan lanjutkan kencannya. Tapi ingat, hanya tipokan, nggak boleh lebih!!" ujar Jung memperingatkan mereka berdua saat itu.


Dasar Jung, pake di ingatkan pula!. Meski telah benar-benar ditinggalkan berdua saja dengan Nari, Nyali pemuda itu sudah terlanjur menciut, setelah kepergok hampir mencium sang kekasih.


Kembali pada malam ini di depan Cafe MAHA.


Ciuman sekilas yang mendarat di pipi Nari membuat Gadis itu membeku. Gemas dengan tingkah Nari, Kai langsung memeluk sang kekasih dengan erat.


"Hei!!, aku baru menciummu tapi kamu sudah membeku seperti ini. Gimana kamu bisa menerima cintaku seumur hidup, aku nggak yakin jantung kamu akan aman setiap hari. Sebab untuk bersamamu dan mencintaimu seumur hidup kita harus menikah, dan setelah menikah aku nggak akan pernah ragu untuk mencium dan memelukmu. Bahkan mencumbu mu setiap saat."


"Kai, kamu kok jadi centil."


Kembali menghadap lurus ke jalanan, Kai berkata"Hemmm, selama ini aku selalu menahan diri biar nggak kelewatan menyentuhmu. Kamu gadis cantik, gadis baik hati, aku nggak mau mencintaimu beriringan dengan nafsu. Sekarang kita sudah bertunangan, semua anggota keluarga mendukung hubungan kita. Rasanya sudah nggak ada lagi penghalang di antara kita, jadi nggak ada salah kan kalau aku ingin lebih memilikimu." Dia juga percaya diri mengatakan hal itu, tapi nggak berani mengatakannya sambil beradu pandang.


Senang bukan kepalang, ternyata selama ini Kai menahan diri menjaga dirinya. Sungguh Nari sangat di hargai kali ini. Mencium pipi Kai singkat, begitulah cara Nari mengungkapkan perasaannya saat ini.


Gejolak cinta di dalam dada seketika meronta-ronta, Nggak menghiraukan orang yang berlalu-lalang di depan mereka, Kai langsung menarik tengkuk sang kekasih.


Tanpa ragu pemuda itu mencicipi candunya. Nari sempat gelagapan, karena jarang sekali mereka berciuman. Sentuhan itu sangat lembut, hingga perlahan Nari pun terbawa arus cinta.


Owh, sungguh pemandangan yang membuat para jomblo meronta-meronta. Beruntung Udin yang nggak sengaja menyaksikan hal itu sudah punya Greta. Ngomong-ngomong, berbeda dengan Nari dan Kai. Udin dan Greta sudah sering berciuman. Melihat mereka sempat ragu, Greta dan Udin jadi gemas sendiri.

__ADS_1


"Nah!!! gitu kek dari tadi!" ujar Udin gemas.


"Sayang, pelankan suaramu!. Nanti kita ketahuan mengintip mereka" ujar Greta memukul pelan lengan Udin, memperingatkan sang kekasih.


"Aku gemas Sayang. Hubungan mereka jauh lebih dahulu daripada kita tapi mereka masih saja malu-malu."


Greta menarik hidung Udin"Itu karena Kai pemalu. Nggak kayak kamu pemalunya pura-pura aja. Giliran udah jadian maunya nyosor melulu."


Menarik wajah Greta hingga ujung hidung mereka bertemu"Oh ya? cuman aku yang doyan nyosor?."


"Cup" Greta mencium sekilas bibir Udin"Salah sendiri suka deketin aku. Aku sih ngaku aja, aku memang doyan nyosor." Ujarnya berterus terang.


Udin tertawa, membawa gadis cantik itu ke dalam pelukan.


"Terimakasih sudah mau mencintaiku. Maaf sebelumnya aku sempat menolakmu. Kalau aku tau cinta ini begitu dalam kepadamu, aku yang akan lebih dulu mengejar mu."


Ucapan itu terasa menggetarkan hati. Greta terharu tapi nggak mau menangis. Dia hanya bisa membenamkan wajah di dada Udin, meredam rasa yang membiru agar nggak ada air mata di saat ini.


"Terimakasih juga, akhirnya kamu membalas cintaku" setelah rasa haru itu sirna, Greta mendongak, memandang Udin dengan penuh cinta.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2