Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Penolong Niki


__ADS_3

Panggilan menggoda para lelaki mabuk, membuat Niki ketakutan setengah mati. Gadis itu berlari ke belakang, menuju arah mobilnya berada. Jarak yang sudah cukup jauh membuatnya harus berlari lebih lama. Rasa takut menggetarkan tubuh gadis itu, sembari mengirimkan pesan kembali kepada Rivan, ash! kemana pemuda bodoh itu!!.


Berlari Niki melakukan panggilan telepon pada nomor sang kekasih dan sungguh, mengapa sangat sial nasibnya hari ini. Berniat menghabiskan waktu di malam minggu bersama Rivan, dirinya justru terjebak di jalanan nan temaram, sepi, hingga di kejar orang-orang kehilangan akal sehat.


"Manis!!, jangan berlari. Nanti kamu capek. Lebih baik bergabung bersama kami saja" ada lima lelaki dewasa dengan penampilan sangat berantakan. Niki melepaskan sendal dengan hak tinggi sedang itu, memilih bertelanjang kaki pasti akan menambah laju larinya. Namun, bruk!!. Gadis ini terjatuh, ponsel terlempar ke jalanan beraspal, layarnya pecah dan dalam keadaan mati. Ya Tuhan!!!, ingin rasanya Niki mengubur diri ke dasar bumi.


Bayangan di perlakukan nggak baik membuatnya semakin ketakutan. Ada sebuah mobil yang melintasi area itu namun hanya berlalu.


"Ya Tuhan! sangat jelas aku terjatuh di sini tapi orang di dalam mobil itu nggak menghentikan mobilnya!" mulai menangis, Niki mencoba bangkit. Sementara lima pria itu semakin mendekat, terseok-seok seperti sekelompok zombie berbau busuk, dengan botol minuman beralkohol di tangan.


Ckit!!!, seorang lelaki dewasa berpakaian perawat, turun dari dalam mobil dan gegas mengangkat tubuhnya. Niki yang tersungkur hanya bisa pasrah, berharap lelaki ini orang baik yang mau menolongnya.


Klontang!, ponsel itu terlempar di pangkuannya di iringi suara pintu mobil di tutup. Sejurus kemudian mobil itu melaju meninggalkan tempat itu. Saat melintasi mobilnya, Niki berniat meminta di turunkan. Namun saat itu juga suara hatinya menolak. Mobilnya dalam keadaan mogok, sementara para orang mabuk itu berada tak jauh dari lokasi mobilnya. Mereka pasti akan mendapatkan dirinya juga.


"Maaf Nona, terpaksa aku melempar ponsel mu" ujar lelaki itu.


"Nggak pa-pa, justru aku sangat berterima kasih telah membantu ku."


Seorang wanita cantik berada di sampingnya, sementara seorang pria paruh baya berada di samping wanita itu. Sedangkan dirinya kini berada di sisi ujung, mereka bertiga berada di kursi belakang. Lelaki berpakaian perawat tadi berada di kursi depan dengan pak supir di sampingnya.


"Maaf Nyonya, kehadiran ku membuat anda terhimpit."


"Nggak pa-pa. Asal kamu selamat dari kejaran orang-orang tadi."


Ingin rasanya Niki memeluk wanita itu, rasa nyeri di lengan menghentikannya. Meringis, dengan kedua mata memerah"Terimakasih sudah menyelamatkan saya."


"Sama-sama. Kamu mau kemana?" tanya Nyonya itu. Niki pun menceritakan niat hati bertandang ke kota sang kekasih. Hingga mogok nya mobil yang di kendarainya, hingga insiden di kejar orang-orang mabuk itu. Nyonya itu menarik napas lega, setidaknya kedatangan mereka nggak terlambat. Melihat Niki dirinya jadi teringat pada sang putri, yang juga sedang berkendara bersama pelayan nya belakangan.


"Hubungi Greta, katakan untuk lebih hati-hati saat berkendara. Hindari orang-orang yang di curigai berniat jahat." Titahnya pada sang perawat Hanan. Ya, Nyonya yang menolong Niki adalah wanita yang mengaku sebagai istri Hanan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah perkebunan, yang berada di kota lainnya.


Niki memandang putus asa ponselnya, dirinya nggak bisa menghubungi siapa pun saat ini, bahkan nomor ponsel kedua orang tuanya pun nggak bisa di ingatnya. Juga nomor ponsel Rivan, pikirannya sangat kacau saat ini.


"Mau ku antar sampai ke kediamanmu" tanya Victoria.

__ADS_1


Apa jadinya kalau kedua orang tua Niki mengetahui hal ini?. Bisa jadi rasa takut kejadian ini terulang, menjadi penghalang untuknya berpergian jauh. Kedua orang tuanya pasti nggak akan memberikan izin lagi untuknya bertandang ke kota Rivan, dan Niki nggak mau hal itu terjadi.


Melihat Niki hanya diam, Victoria mengajaknya untuk ikut dengannya saja"Kami ingin berlibur sejenak di perkebunan ku. Apa kamu mau ikut? kamu bisa menjadi teman putri ku nanti."


"Aku tau, nggak ada yang tulus berteman dengannya. Untuk kali ini saja mau nggak kamu menjadi temannya?."


Untuk membalas budi, Niki mengangguk.


Tak lama setelah sampai di rumah perkebunan, sang putri yang di ceritakan oleh Victoria pun sampai. Saat itulah mereka bertemu, Niki dan Greta. Meski di kenal judes dan usil di sekolah, Greta sebenarnya gadis yang baik. Dirinya hanya ingin menunjukkan kekuasan di sekolah, sebagai pemimpin yang berwibawa di mata teman geng nya.


"Aku Niki, aku Greta" dua gadis ini berjabat tangan. Kisah sial Niki malam itu pun di ketahui Greta, dengan tulus gadis ini membalut luka sang teman baru. Mereka bertukar cerita, dan ternyata mereka seumuran, benar dugaan Victoria. Masing-masing mengungkapkan di mana mereka bersekolah, Niki terkejut saat mengetahui bahwa Greta satu sekolah dengan Rivan, kekasihnya.


Lantas"Aku kekasih Rivan" ujar Niki. Dua bola mata Greta memelotot, bukankah Rivan sempat bertunangan dengan Nari?.


"Itu hanya kesalah pahaman. Nari mempunyai kekasih yang baik. Meski banyak cowok yang menyukainya, Nari nggak pernah tertarik kepada mereka."


"Tapi mereka sering makan bareng, istirahat bareng, para pemujanya sangat memanjakannya Nona muda itu." Ucap Greta sedikit kesal. Mengingat Udin yang menolaknya, ck! ternyata cowok itu selalu bersikap baik di hadapan Naria, tentu karena menyukainya bukan!.


"Mereka hanya berteman. Nari juga seorang Nona muda yang baik, sama seperti mu." Niki tersenyum, membuat Greta juga tersenyum meski sedikit di paksa.


"Aku punya nomornya" Greta menyerahkan ponselnya, dan Niki segera menghubungi Rivan.


Pantas saja perumahan terbengkalai itu sepi, penghuninya sibuk mengejar Niki. Dan saat di jumpai, mereka di temukan mabuk berat di pinggir jalan, nggak jauh dari lokasi mobil Niki.


Dunia seolah berhenti berputar, Rivan terjatuh ke tanah"Zaid...Niki gimana?." Ujarnya dengan suara bergetar.


"Kami mengenal mereka semua, dan mereka semua ada di sana" ujar abang-abang ojek.


Kalau bukan mereka, lantas siapa yang membawa Niki?. Mengacak rambutnya, Rivan terlihat sangat frustasi.


Dering ponsel dengan nama sang pemanggilan di layarnya, membuat Rivan mengerutkan kening"Ngapain si judes menelepon?."


"Angkat aja, siapa tau penting. Kalau bawel kan tinggal tutup aja teleponnya." Ucapan Zaid benar juga. Bersamaan dengan pamitnya abang-abang ojek, setelah mengucapkan terimakasih, Rivan menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Rivan~~~" lirih Niki di ujung telepon.


"Niki!!!, sayang kamu di mana?" Rivan melihat ke layar ponsel, kemudian menyalakan loud speaker.


"Kenapa kamu menelepon pake nomor ratu judes?."


"Heh!! aku udah nolongin pacar kamu. Bilang terimakasih apa susahnya sih!" hardik Greta.


Sungguh lega, setidaknya Niki aman sekarang. Malam itu juga Rivan dan Zaid menyambangi rumah perkebunan milik keluarga Greta. Berbekal share lock yang di bagikan dari ponsel Greta, Rivan akhirnya dapat bertemu Niki.


Victoria senang bukan kepalang, dua bocah lelaki ini nampak sangat mengenal putrinya, meski terkesan saling hina tapi Victoria dapat melihat, Rivan dan Zaid anak-anak yang baik. Juga Niki, dia terlihat tulus menjalin pertemanan dengan putrinya. Yah...semoga saja.


"Ada banyak kamar di sini, kalian menginap saja di sini. Mandilah, sementara bibi menyiapkan makan malam kita." Sungguh seorang wanita yang baik, lemah dan lembut. Nggak seperti anaknya yang judes, suka mencari masalah terlebih kepada Nari.


"Aku pulang aja tante" ujar Zaid hendak undur diri.


"Lho, kenapa?."


Zaid teringat dengan janjinya kepada Fay. Sahabat yang galau gagal mendapatkan informasi tentang sang calon istri. Dia pun mengajak Fay berkemah di hari minggu besok. Tentu dengan teman-teman yang lain. Yang pasti jangan lupakan Ikbal sang koki, kalau ada dia kan urusan perut terjamin.


Ter-ingin mendapat teman untuk sang putri, Victoria meminta Zaid mengajak mereka ke perkebunan miliknya saja. Di sana ada peternakan ayam, kalau mau hidangan daging ayam tinggal tangkap saja. Kalau mau hidangan ikan, ada kolam kecil di ujung perkebunan, kata penjaga kebun ikan di kolam itu banyak. Sungguh penawaran yang menggiurkan.


"Emang boleh ya, Gret?."


"Boleh dong. Iya kan sayang" sahut Victoria alih-alih Greta sendiri.


"Boleh" sahut sang putri akhirnya. Berharap Zaid mengajak Udin juga.


"Oke deh, kalau begitu aku pamit pulang dulu tante, besok aku akan bawa pasukan ke sini. Rivan biar di sini aja, dia jago menangkap nyamuk lho tan" candaan Zaid membuat Victoria tertawa.


Usai berpamitan, Zaid pun meninggalkan perkebunan itu. Victoria menuju kamar yang telah di tempati Hanan beristirahat.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗.


Salam anak Borneo.


__ADS_2