
Pagi yang cerah di kediaman Charlotte. Burung-burung saling bersautan, menjadi irama pengawal hari pasangan yang selalu mesra ini, dialah Andrea dan Jung.
"Morning sayang~~~," wajah Manis binti imut Andrea, menatap penuh cinta kepada sang pujaan hati. Demi mendapat sudut pandang yang pas ketika Jung membuka mata, Andrea rela duduk lesehan di samping nakas. Berdesakan dengan tiang lampu tidur, setinggi badannya. Hemm, ada-ada saja kelakuan Nona muda William ini.
"Morning juga sayang. Ngapain ngejogrok di situ?," sahut Jung, membelai rambut Andrea yang nampak masih basah.
"Hei!! kamu sudah mandi? kok nggak mengajak ku?!," seolah nggak rela di tinggalkan mandi duluan, Jung yang semula tersenyum kini menekuk wajah, seperti bocah gagal mendapatkan mainan.
"Sayangku, memangnya kalau kita mandi bareng, kamu kuat nggak? aku buas lho kalau di kamar mandi," owh! obrolan pagi yang sangat menggoda. Senyum terangkat naik di sudut bibir Jung. Permainan sang istri tadi malam, sangat berkesan. Untuk kali ini dengan suka rela Jung mengangkat bendera putih, dia benar-benar di takhlukan oleh Andrea.
"Oke, aku mengaku kalah tadi malam. Tapi pagi ini stamina ku sudah terisi kembali, kamu mau mengulang mandi nggak?," dalam sekali sentakan halus, tubuh Andrea terjatuh dalam dekapan Jung.
"Sayang," lirih Andrea berusaha melarikan diri, namun kecupan mesra mendarat di ceruk leher mulus Andrea, membuat wanita itu kehilangan keseimbangan. Dan dirinya jatuh kembali dalam dekapan sang suami.
"Ayolah, pagi ini terlalu dingin. Aku perlu yang hangat dulu sebelum ritual mandi."
"Tuan muda, ini sudah jam delapan. Kamu yakin mau olah raga di atas ranjang dulu?," ujarnya seraya bangun.
Mendengar waktu sudah menunjukkan angka delapan, Jung menyibak selimut. Tanpa busana, hanya menyisakan boxer dengan motif macan, ckckck Andrea terpaksa memalingkan wajah. Penampilan Jung mengingatkan dirinya pada drama korea yang sempat booming itu.
"Cebong!! kenapa nggak membangunkan ku dari tadi?," seru sang pria, sibuk mencari handuk.
Oho! Andrea berkacak pinggang, mendengar sang suami menyebutnya cebong!.
"Cebong??!," pekik Andrea. Alis yang saling beradu, mengingat kembali sebuah nama yang kerap di gunakan Jung untuk memanggilnya dahulu.
"Itu panggilan jaman jahiliah!! kok nongol lagi?!," selidik Andrea memandangi sang suami dengan tajam. Lengan kemeja peach yang dia kenakan di tarik ke atas sebatas siku, emosinya mulai merangkak naik.
"Ups!!," Jung berjalan pelan ke arah kamar mandi. Sepertinya dia salah bicara, Andrea paling kesal dengan panggilan itu.
"Onta arab!! mau aku serahkan ke panitia pengurus kurban??!," acaman Andrea mempercepat langkah Jung.
Brak!!! pintu kamar mandi di tutup kasar"Sorry sayang. Aku khilaf, mulutku keseleo!," teriaknya dari dalam kamar mandi.
"Mana ada mulut keseleo!!, dasar onta arab!," gerutu Andrea, menendang pintu kamar mandi.
"Maaf, please maafin," mengintip di balik daun pintu, sangat berbahaya jika dirinya membuka pintu lebar-lebar. Kucing betina pasti akan mencakarnya.
Melihat sang suami ketakuta, ada rasa iba di dalam dada. Andrea pun berusaha merekan emosi, setidaknya Jung nggak marah saat dirinya memangil dengan sebutan onta arab, seharusnya itu sepadan kan.
"Oke, aku maafkan dikau wahai suami, tapi urusan kita belum selesai ya," seru nya lagi.
"Siap baginda ratu!!," tersenyum lucu, Jung menutup pintu kamar mandi dan beberapa saat kemudian mulai terdengar gemericik air dari dalam sana.
"Aku terlanjur terpancing, suara air dia mandi aja kok syahdu banget yah, akh! jangan mesum Andrea!!," gumam Andrea, coba meredakan hasrat yang sempat terpancing tadi.
Andrea melanjutkan aktivitas nya, semua harta benda berharga nya telah tersusun rapi dalam tiga koper big size, dengan corak bunga sakura.
Sedangkan tiga koper berukuran sama lainnya masih terlihat kosong di sudut ranjang. Beberapa pakaian dan berkas-berkas milik Jung sudah dia siapkan. Siap untuk di kemas ke dalam koper. Mereka hari ini akan kembali ke kediaman Wiliam.
"Aku harus bahagia atau sedih? kediaman ini sudah sangat nyaman untuk ku, tapi aku juga rindu rumahku," bergumam, seraya kembali memasukan beberapa make up ke tas poch Chanel berwarna hitam.
"Lantas, bagaimana dengan Bae---," akh! dia memikirkan si kecil. Bae adalah salah satu alasan terberat meninggalkan kediaman Charlotte ini.
__ADS_1
Sambil menunggu Jung mandi, Andrea meninggalkan kamar, bergabung bersama Nyonya Sook dan Ghina di lantai bawah. Perlu beberapa abad menunggu si pangeran tak berkuda itu selesai mandi, ckckck. Belum lagi berpakaian, memakai collone, memakai sunskrim, ck! menunggunya butuh kesabaran ekstra.
"Sudah selesai beres-beresnya sayang!."
"Iya mah," sejurus kemudian atensinya tersita pada hidangan di depan mereka"Itu---."
"Mamah bikin bongeoppang." (Kue khas korea isian kacang merah).
"Kue Ikan!," ujar Andrea. Karena namanya susah di sebut oleh lidah Andrea, maka dia pun menyebutnya kue ikan saja, lebih mudah bukan.
"Boleh minta satu, mah?," tanya nya malu-malu.
"Hilih, pake nanya. Aneh tau, langsung ambil saja," sebuah piring berisi dua ekor ikan di berikan Nyonya Sook pada menantu.
"Makasih mamah cantik."
"Ehem!!, aku juga bantuin mamah ngadon kacang merah nya kali, Ndre. Nggak mau kasih aku pujian juga?," Ghina cemburu sosial deh.
"Hohoho, emak-emak di larang merajuk, nanti wajahnya lekas keriput."
"Enak aja!!," sahut Ghina tertawa.
"Jangan lama-lama ya di sana. Bae nanti nanyain kalian terus," lanjut Ghina.
Bibir manyun Andrea nggak kalah dari bibir monyong si kue Ikan"Boleh nggak Bae aku bawa aja."
"Bikin Ndre!!, tau nggak Joen sampai untah-untah pas ngidam si Bae. Sekali keluar malah pro suami kamu, gimana nggak kesel si Joen!," sahut Nyonya Sook. Ghina malah nyengir-nyengir aja sambil bolak balik si kue ikan.
Bibi An tersipu mendengar obrolan mereka. Mau ngomong juga dia nggak ada solusi biar Andrea cepet bunting.
"Kurang bersabar aja, sama kurang sering mungkin," tambah Sang mamah.
Ghina tergelak tawa mendengar ucapan sang mertua. Mungkin inilah alasan kenapa Nari begitu somplak, ibarat buah jatuh nggak jauh dari pohon nya. Nyonya Sook ini tipe mertua yang kadang-kadang hilang aura kalem dan anggunnya. Seperti sekarang ini, obrolan mereka sangat tidak anggun.
"Mamah pertama kali hamil Jung setelah nikah berapa bulan? atau berapa tahun?," Andrea kepo, mulutnya komat-kamit mengunyah si kue Ikan.
"Papah mah top cer!! sebulan mamah udah dung!. Perut mamah udah otw melendung seperti orang di kibangin."
"Buset!! memang mamah maling pohon jambu pake di kibangin?," Ghina terkekeh geli. Terkadang dia nggak ngerti sama bahasa unik si mamah ini.
"Eh memang di kibangin, Ghina. Dalam waktu sebulan mamah udah untah-untah. Mau makan mual melulu, terus perut mamah perlahan membesar, bunting deh mamah."
"Kira-kira dong mah!! hamil begitu, mamah bukan meong, bilangnya bunting, di kibangin pula."
"Kan kamu yang nanyain kapan bunting Ndre. Wah nggak fokus menantu mamah satu ini," lirik nya yang di balas tawa Andrea.
"Kuenya enak?," tiba-tiba bertanya tentang rasa si kue ikan.
"Hu-um," jawab Andrea dengan suapan terakhirnya.
"Lain kali kita bikin sama-sama ya."
"Siap mamah!!," seru Ghina dan Andrea bersamaan.
__ADS_1
...❣❣❣...
Jung terdiam kaku dengan handuk putih melingkar si pinggang nya. Bagian atas dia biarkan terekspose nyata, toh di kamar sendiri kan.
"Baru nyadar, hari ini aku di usir," lenguh nya putus asa. Ck! ini gara-gara ribut dengan nenek lampir, dirinya jadi dapat hukuman.
"Sayang~~~," seperti anak kucing meminta jatah makan, Jung celingukan melirik ke balkon sambil memanggil nama Andrea.
"Sayang Andreaaaa!!," seru nya lebih keras.
"Tuh, suami kamu teriak, buruan di jinakin," tegur Nyonya Sook. Kini semua kue-kue berbentuk Ikan sudah selesai di masak. Bae menghabiskan dua ekor sama seperti sang Bunda.
"Ayok nak ikut Bunda," mengajak Bae naik ke atas.
"Dendong," pinta Bae dengan tangan mencak-mencak .
"Bunda nggak kuat gendong Bae sambil naik tangga, Bae kan sudah besar," tambahnya.
"Sudah cakep," tanya Bae dengan kedua tangan di pipi.
"Iya, cakep banget sayang," seru Ghina.
"Mamah womawooo," Bae mengedipkan mata kepada Ghina, dengan bahasa yang belum begitu pas.
"Jelek!!," seperti biasa, Nyonya Sook paling suka menggoda Bae.
"Nenek jelek," balas Bae. Berharap Bae marah, sayangnya sang cucu bukan tipe bocah yang mudah di ganggu.
"Hohoho, balikin Kue ikan Nenek!!," goda Nyonya Sook.
"uwekk!!," Bae seperti mau memuntahkan kue ikan yang udah habis dia telan.
Riuh tertawalah mereka. Kehadiran Bae menambahkan keceriaan di dalam keluarga ini.
Andrea pun menuntun Bae berjalan ke kamar atas, membawanya untuk berjumpa dengan ayah Jung.
"Mereka pasti akan saling merindukan," lirih Ghina menatap punggung Andrea, yang berjalan sambil menggandeng tangan Bae.
"Kamu tenang aja, mamah nggak akan tinggal diam, sayang," kedip nya nakal pada Ghina.
Ghina sangat mengerti dengan kedipan itu"Hihihi mamah memang legend," puji Ghina. Pasti Nyonya Sook sudah mempunyai rencana untuk membawa Jung dan Andrea kembali ke kediaman ini, lihat saja nanti.
"Bi Ambilin kotak bento yang besar dong," pinta Nyonya Sook.Kue Ikan nya lumayan banyak, selain untuk cemilan di rumah, Nyonya Sook berniat membekali Jung dan Andrea dengan kue bikinan nya itu. Jung juga sudah lama banget nggak ngerasain makanan ala kampung halaman sang mamah. Apalagi sudah bertahun-tahun sang mamah nggak pulang kampung.
Nyonya Sook bukan nggak punya saudara lagi di korea, dia masih memiliki dua orang adik perempuan yang masih tinggal di sana, dengan mendiami rumah warisan dari kedua orang tua mereka.
Namun karena sudah betah dan cocok dengan iklim dan suasana di Indonesia, Nyonya Sook nggak berniat berkunjung ke kampung halamannya lagi. Tapi dua saudara nya itu sering menghubunginya via telepon dan juga video call, sekedar melepas rindu.
To be continued...
~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan Komen ya teman ^,^
Salam anak Borneo.
__ADS_1