Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Keresahan


__ADS_3

Meski terus mendapat omelan dari Tuan Charllote dan desakan dari sang Mamah. Nari kekeh nggak mau buka mulut dengan siapa dia bolos sekolah. Enggak tega rasanya kalau dia harus menyeret Rivan ke dalam masalah yang tengah menimpanya. Juga Keano dan Bisma, mereka nggak salah apa-apa dalam hal ini. Mereka hanya kebetulan bolos di waktu dan tempat yang sama dengannya.


"Besok kamu ke sekolah Nari!, mereka pasti bakal di hukum barengan. Kamu cari tau anak siapa yang berani melencengkan jalan ke sekolah Nari kita," tandas Tuan Charllote sembari menyeruput teh almond.


"So, Joen nggak usah kekantor, Pah?," Joen sibuk dengan laptopnya.


"Heeem," Tuan Charllote menganguk.


"Papah mau ngajak si kamvret Jung ke pertemuan besok...."


"Serius, Pah!???," belum selesai perkataan sang Papah, Joen menyambar perkataan Tuan Charllote. Mendengar Jung bakal di ikut sertakan dalam pertemuan penting besok. Dia menyacak rambutnya kasar dengan ekspresi kegelisahan.


"Nggak yakin deh, Pah. Joen aja deh, si Nari biar abang yang ngurusin," pinta Joen. Dia nggak rela kalau kerja kerasnya mendapatkan klien mancanegara harus kandas, gegara tingkah aneh Jung kelak. Mengingat betapa songongnya Jung memamerkan profesi dosen sastranya, si klien pasti bakal di buat pusing dengan kata-kata puitis sang dosen edan.


"Papah jamin dia nggak bakal banyak ngomong kok Joen. Papah mengajak Jung cuman untuk menyampaikan presentasi, selebihnya hanya untuk pajangan doang," jelas Tuan Charllote. Lirikan penuh tanya Joen menggelitik humor Papahnya.


"Hahhha ayolah Joen!!. Cepat atau lambat Jung juga akan bergabung dalam perusahaan kita," ujarnya terkekeh. Joen meringis mengetahui Jung akan bergabung ke dalam perusahaan. Bukan ada niat untuk menguasai perusahaan sendiri, tapi....Jung sangat nggak tertarik dengan pekerjaan kantoran. Dia tercipta sebagai makhluk rebahan, yang pandai berimajinasi hingga terciptalah puisi-puisi indah yang menyentuh kalbu. Dia memang kerap menemani Charlotte ke berbagai acara, namun seperti perkataan Charlotte tadi, Jung akan setuju jika dirinya hanyalah berfungsi sebagai pajangan. Sedangkan urusan di kantor, Jung selalu menolak untuk bergabung.


"Jangan paksa otak suci ku ini memikirkan angka-angka memusingkan di kantor," itulah ucapan Jung kalau di tawari masuk ke dalam perusahaan.


"Ya sudah, suka-suka Papah deh. Asal nggak satu devisi aja sama Joen," helaan napasnya terdengar berat, nampak ketidak relaan didalamnya. Sudah cukup di buat pusing oleh Jung di rumah, Joen nggak mau harus membereskan kekacauan yang mungkin akan di timbulkan Jung di kantor kelak.


Setelah sepakat bahwa Jung yang akan menemani sang papah dalam rapat besok pagi, maka Joen bergegas mempersiapkan bakal materi yang akan Jung jelaskan kepada klien. Ah setidaknya, Jung jago dalam menguraikan visi dan misi perusahaan mereka, seperti sedang menjelaskan sebait dua bait puisi di kelas sastranya.


...☘☘☘☘...


Di sebuah kamar bernuansa ungu.


Nari melempar ponselnya ke sofa, dia jengah setelah gurah telinga gratis hampir satu jam dari sang Papah.

__ADS_1


Tring!!!.


Giliran si kevin, abang iklan sampo Pintinie yang pengen tau keadaan si Nona muda.


Beberapa waktu setelahnya, Bisma juga menghubungi Nari, menanyakan keadaan Nari"Mereka khawatir apa sekedar ingin tau sih sama keadaan aku?," ujarnya tanpa membalas pesan mereka.


Tring!!!


"Akh!!!. Siapa lagi sih??," pekiknya membuka ponsel dengan terpaksa.


Rivan di pelaku kejahatan nongol juga. Namun Nari masih nggak berniat menjawab rasa penasaran mereka. Di tengah keingin sendirian Nari, tiba-tiba ponselnya kembali mendapatkan notifikasi.


"Para cowok janjian buat nanyain keadaan aku, atau gimana sih??," gerutunya kesal. Sebab satu persatu pemuda yang mendekatinya mengirim pesan, sekedar bertanya bagaimana kabarnya.


"Nariaaaa, kamu baik-baik aja? atau sudah.....," Naria melengos. Apa-apaan Ikbal ini?! pesan menggantung itu seolah mendoakan keburukan padanya.


Setelah mengirim pesan balasan pada Rivan, Nari mematikan ponselnya dan masuk ke kamar mandi. Matanya masih sembab sebab menguras ektra air matanya tadi sore. Nggak kebayang besok bakal gimana penampilannya pas masuk sekolah. Eh kok malah mikirin penampilan!"Pikirin hukuman yang sudah menanti besok pagi, Nariaaaa!!," batinnya mengingatkan.


...🎶🎶🎶🎶...


Jung mengurungkan niat bertandang ke kediaman Charlotte untuk menjenguk keadaan Nari, yang katanya habis-habisan di omelin sang Papah. Setelah berkali-kali menghubungi anggota keluarganya, akhirnya Nyonya Sook memberinya kabar tentang kehebohan sore ini.


"Sudahlah sayang, Nari nggak kenapa-kenapa kan sekarang. Se-enggaknya dia nggak di tabok atau di pites sama Papah, kan?," Andrea menghibur apa nyumpahin Nari sih?? Jung meringis ngebayangin si bontot di tabok sama di pites sang Papah.


Dia menggeleng cepat dengan badan bergidik ngeri"Amit-amit jabang zombie deh, jangan sampai si nenek sihir lecet sedikitpun. Kasihan, entar nggak laku dia," ucap Jung lirih. Sangat terasa kesedihan di dalam setiap kata-katanya. Bagaimanapun, dia kan cewek satu-satunya di keluarga Charllote. Ada sih keluarga cewek yang seumuran Nari, anaknya tante Mirae di korea sana. Meskipun Yoona, sepupunya yang feminin dan baik dari segi hati, kelakuan, sampai tutur kata, tetap Nari si nenek lampir terkasih dan tersayang.


"Besok kita samperin Nari, jangan sedih lagi dong. Kita jalan ke pasar malam aja yuk," ajak Andrea. Wajah Jung benar-benar kusut seperti benang layangan. Kemarin-kemarin pas tinggal bareng mereka berantem mulu, sekarang aja pas sudah di pisahin sama Papah, mereka malah saling memerlukan seperti sekarang ini.


"Nggak deh, sayang. Kita bobo aja deh. Besok jadwal aku sibuk banget, jam delapan pagi aku harus nemenin Papah ketemu Klien, gantiin si Joen."

__ADS_1


"Joen nya kemana?."


"Nari ngotot nggak mau ngasih tau partner bolosnya. Jadilah Joen sebagai agen rahasia Papah, beraksi ke sekolahan Nari buat nyari tau siapa si kamvret yang ngajakin Nari bolos," tandas Jung panjang lebar.


Jemari lentik Andrea mengelus lembut helai rambut Jung, yang kini membaringkan diri di pangkuannya"Aku pikir orang pertama yang kamu kangenin tuh Mamah Sook, nggak tau nya si ulet keket," candanya menebar senyum.


Jung terkekeh dengan ocehan sang istri. Bener juga sih, dia sama Nari kan Tom and Jerry nya keluarga Charllote, dengan Joen sebagai Spike nya. Di kala bersama mereka bakal berantem, tapi pas berjauhan mereka saling merindukan.


"Nah gitu dong, dari tadi sore medit sama senyuman, aku kan jadi kurang energi, sayang!," Andrea menyusuri pahatan sang pencipta pada wajah sang suami.


Jung menarik wajah Andrea lebih dekat dan mengesap bibirnya sekilas"Sudah puas mandangin suami gantengmu ini?, nggak ada niat buat bikin aku hangat nih?, dari tadi aku kedinginan tau, sayang!. Ac di kamar kita terlalu dingin."


"Oh, tentang suhu Ac di kamar ini....aku sengaja kok," Andrea terkekeh, hingga menyerngitkan hidung.


Jung memiringkan kepala, meminta penjelasan dari sang istri.


"Kalau kamu kedinginan, aku kan bisa angetin kamu."


"Heh! pikirannya nakal!!," Jung menarik Andrea lebih dekat menciumnya dengan lembut.


"Jangan menyerah ya, kali ini aku bisa bikin kamu sesak napas."


Andrea tersenyum tipis dengan kata-kata di sela ciuman yang mulai memanas. Beberapa detik kemudian, piyama yang Jung kenakan telah teronggok di samping tempat tidur. Kemudian piyama yang di kenakan Andrea pun menyusul berterbangan ke lantai.


To be continue...


~~♡♡ Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dam komen ya plend ^,^


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2