Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Kesendirian


__ADS_3

Nggak bosan-bosan Letta memandangi Hanan. Meski sudah beberapa hari bersama, rasa rindu itu terus membuncah. Usia separuh baya itu tetap menjadikan Hanan bagaikan seorang bocah di mata Letta, apalagi setelah waktu dan jarak yang memisahkan mereka, sungguh rasa syukur tak pernah lelah dia ucapkan.


Di beranda kediaman sederhana itu, Amir begitu telaten memijat telapak kaki Hanan. Ya, pemuda ini memutuskan mengikuti kemana saja Tuannya pergi, meski Tuan yang sebenarnya adalah Victoria. Charlotte memberikan jaminan untuk hidupnya dan keluarganya di kampung, itu pun atas permintaan Hanan.


"Dialah orang terpercaya ku selama tinggal bersama Victoria" ujar Hanan saat melontarkan permintaan itu. Sebagai seorang sahabat, tentu Charlotte akan mengabulkan permintaan Hanan.


"Bagaimana? apa kamu sudah mampu berjalan dengan baik?."


Hanan menatap Letta"Sedikit lagi Ibu, setidaknya aku nggak tertatih lagi."


Usapan lembut di pucuk kepala Hanan, hal indah yang sangat dia rindukan. Amir terharu, baru kali ini melihat senyum tulus di wajah Hanan. Sejatinya wajah sang majikan sangat jauh berbeda, sejak kembali ke dalam keluarga sebenarnya.


"Ibu, ada yang ingin aku bicarakan."


"Dengan ku?."


"Dengan kalian semua."


"Karlina dan Kai juga?."


"Cleo juga." Imbuh Hanan.


"Ayo masuk ke dalam, kita bicara di ruang makan" ajak Letta.


Tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama, ada sedikit ikatan batin yang tercipta di antara dirinya dan Greta. Karena Victoria telah menjadi penghuni rumah sakit jiwa, Hanan merisaukan keadaan gadis itu.


"Bagaimana bisa dia seusia dengan ku tapi sudah duduk di bangku SMA?, pakai orang dalam ya?." Cleo langsung mengomentari hal yang terasa janggal di benaknya.


"Bukan pakai orang dalam, lebih tepatnya memakai otak" sambar Kai.


"Ya, dia gadis jenius. Saat duduk di bangku SMP dia mampu melalui beberapa tes hingga lulus lebih cepat." Sahut Hanan.


"Oh, memangnya bisa begitu?, aku baru tau" ucap Cleo. Kerasnya kehidupan menjadikan sosok Cleo ingin dewasa lebih cepat. Ingin lulus sekolah lebih cepat agar bisa langsung mencari pekerjaan, untuk membantu perekonomian keluarganya. Setiap hari menyaksikan sang Ibunda berteman kompor dan berbagai peralatan memasak, sungguh harinya merasa kasihan.


Hanan pun mengungkapkan keinginan hati untuk membawa Greta bersamanya. Namun"Mas, apa dia bisa hidup sederhana bersama kita?" pertanyaan Karlina menciptakan pertanyaan yang sama di benak lelaki paruh baya ini. Akh! dia melupakan hal itu.


Kehidupan yang selalu bergelimang harta, selalu di layani dan juga tempat tinggal yang nyaman. Mampukah Greta meninggalkan semua kenyamanan itu demi hidup bersamanya?.


Saat Hanan memikirkan putri baik hati itu, orang yang sedang mengusik hati dan pikirannya sedang termenung. Kediaman yang mewah, nggak menjadikan penghuninya hidup bahagia. Kesepian, sebuah rasa yang selalu membuatnya menitikan air mata akhir-akhir ini. Sungguh dirinya sangat merindukan sang Papah, namun kesalahan sang Mamah, juga kenyataan yang telah terungkap, membuatnya menahan segala rasa sakit ini sendirian.

__ADS_1


"Papah, aku merindukanmu." Terdengar lirih, dirinya benar-benar di tinggalkan saat ini.


"Nona, apa Nona mau menjenguk Nyonya?. Kadangkala dirinya seperti orang sadar, dan menanyakan keadaan Nona." Boby berbicara hati-hati, kenyataan bahwa sang Nyonya besar mengalami ganggun jiwa membuatnya takut menyinggung perasaan Greta, saat membicarakan keadaan sang Mamah.


"Aku belum merasa mampu bertemu dengan nya" sahutnya.


"Tapi, apa dia baik-baik saja?."


"Hemmm" Boby bingung hendak mengatakan yang sebenarnya. Victoria kadang menangis, kadang melamun, kadang menjerit histeris. Dirinya tak ayal seperti orang gila. Beruntung usahanya ada yang mengendalikan, sehingga keuangan keluarga ini tetap kokoh. Dan sejak itu kediaman Greta kedatangan sang Paman, pria pendiam yang bahkan bicara dengannya pun hampir nggak pernah.


"Aku Yohan, adik Mamah mu. Aku akan mengambil alih semua pekerjaan Mamah mu, aku juga akan tinggal di sini bersamamu.


"Aku Greta."


"Ya, aku tau" sahut Yohan menatap Greta lekat. Ini memang pertemuan pertama mereka, namun Yohan sangat mengenal Greta.


"Mulai sekarang aku yang akan menjadi walimu. Aku orang yang sibuk bekerja, namun kalau itu sangat di perlukan aku bisa membantumu, seperti menghadiri acara kelulusan di sekolahmu."


"Masalah uang, kamu akan menerimanya seperti biasa. Seperti yang ku katakan tadi, aku akan mengurusmu di sela-sela kesibukanku."


"Mamah?."


Greta meremat jemarinya, kemudian bertanya"Apa Kakek dan Nenek akan tinggal di sini juga?, bersamaku?."


"Enggak."


"Kenapa?."


"Mungkin kamu bisa bertanya pada Mamahmu, nanti kalau dia sudah sembuh." Jawaban Yohan sangat enggak memuaskan. Mengetahui dirinya bukanlah anak Hanan, Greta menyimpulkan sendiri, mungkin karena kehadiran dirinyalah Kakek dan Neneknya nggak pernah menyambangi kediaman mereka. Selama ini pun, mereka hanya pernah bertemu beberapa kali saja.


Terkesan dingin, seperti itulah seorang Yohan. Tinggal bersamanya sama saja dengan enggak memiliki teman.


"Halo guys, hari ini kita ada kopi terbaik nih. Sedap di nikmati hangat, mantap di nikmati dingin. Apapun kuenya, kopinya kopi jempol!."


Senyum menawan seorang Jung, berubah datar setelah kamera di matikan.


"Mamah! ini nggak seperti perjanjian awal."


Nyonya Sook yang sejak tadi menyaksikan dua bocah ini sedang ngendorse, mengerutkan kening"Maksud kamu?."

__ADS_1


"Bukannya Jung jadi Manager ini anak, kok sekarang jadi teman kerjanya?." Nggak lupa sentilan di kening Nari, sangat sayang untuk di lewatkan.


"Apa salahnya sih bantuin adek?."


"Jung udah bantuin di belakang layar."


"Tapi banyak yang nyariin kamu!" nada bicara sang Mamah mulai naik, Jung merasakan detak jantungnya mulai kencang.


"Tau nih, bantuin nyengir doang kok" Nari mendelik, namun sejurus kemudian tersenyum. Senang rasanya bisa merepotkan abang yang satu ini.


"Ck!."


"Apa itu? kamu menolak keputusan Mamah?" berkacak pinggang, Nyonya Sook memang paling bisa menciutkan nyali putra dan putrinya.


Menggeleng cepat"Enggak kok. Tapi semua ini nggak gratis ya!."


Sang Mamah memelotot"Sama adek sendiri kok minta bayaran?!."


"Joen di bayar. Masa aku enggak?. Nggak adil banget sih!."


"Heh!!!, Joen nggak di bayar juga!."


Jung memutar bola mata jengah"Duhai Mamah, Joen minta di bayarin setengah dari harga ponsel yang dia mau. Sedangkan Jung dapat apa?."


"Oh itu. Itu bukan uang dari ngendorse. Itu uang dari Papah. Kan selama ini Nari nggak di kasih jajan, jadi uang jajannya di kasih ke Joen."


"Nah, kalau gitu Jung juga mau."Tanpa rasa malu tangannya mengulur pada sang Mamah.


"Mau Mamah kepret???!. Kamu yang paling tua tapi masih ngiri sama adik-adik kamu. Udah kerja juga, udah banyak duit juga. Kamu kok perhitungan banget jadi orang?. Ini minta bayar, itu minta bayar. Coba kamu bayar sama Mamah karena udah nge-lahirin kamu!. Bisa nggak?." Omelan panjang lebar seperti kereta api. Dada Nyonya Sook terlihat turun dan naik usai berceloteh.


Akh! sudahlah!. Jung mengambil langkah mundur. Percuma melawan ras terkuat di muka bumi ini, dirinya mengangkat kedua tangan ke atas.


"Oke!! Jung kalah." Senyum kemenangan terbit di wajah Nyonya Sook dan Nari.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2