Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Ketua OSIS


__ADS_3

...Biarkan aku berlari......


...Biarkan aku berlari untukmu....


...Bahkan jika ada bekas luka di kakiku,...


...Aku akan tersenyum meski hanya melihat wajahmu ......


...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡BTS :Run**....


...🍂🍂🍂🍂...


Kelas IPA.


"Gimana, Din. Sudah ngomong sama Nari?," Kevin yang sedang menghapus papan tulis, mendapati wajah datar Udin dengan langkah gontai memasuki kelas.


Sang teman sekelas itu menggelengkan kepala, lemas.


"Lho, kok diam?, lagi mode off ya?," canda Kevin.


"Susah Vin, saingan ku Zaid," sahut Udin lesu. Masih segar di ingatannya, gimana romantisnya Zaid memberikan sekuntum mawar merah kepada Nari, seraya berjongkok seperti pemeran utama pria di drama-drama romansa. Keromantisan Zaid di sorak soraikan para siswa yang lain, memberikan dukungan pada pemuda kaya raya itu.


"Eleh! dasar mental kerupuk kamu, Din. Segitu doang kamu sudah menyerah?," tanya Kevin lagi.


Udin menganguk,"Sepertinya iya deh. Aku nggak setajir dia bro, Lagian kalau kami jadian juga bakal aneh. Coba kamu bayangin nama UDIN LOVE NARI tertulis di selembar kertas, aku jadi malu sendiri. Gimana kalau anak-anak lain liat Vin!!. Aku jadi pengen protes sama orang tuaku, kenapa aku di kasih nama Udin? nggak keren banget!."


Senyum licik terukir naik di wajah Kevin"Oh gitu, ya sudah aku aja yang maju."


Udin membulatkan kedua matanya menatap Kevin. Nggak nyangka sahabat terdekatnya semenjak bersekolah di SMA ini, ternyata diam-diam menunggunya menyerah di tikungan cinta"Wah nungguin aku lengah kamu Vin?," hardik Udin kesal.


"Bukannya kamu bilang sudah menyerah, aku antri secara teratur kok, bro!," jawab Kevin santai.


"Ngaca atuh Vin!!, cakepan aku dari kamu. Kamu yakin mau saingan sama Zaid?," tantang Udin dengan nafas menderu, beneran nggak nyangka dia bakal di tikung sahabat sejati.

__ADS_1


"Yee, oke deh bilang aja cakepan kamu. Tapi banyak yang bilang aku manis, Din. Yang sudah menyerah mundur teratur aja, ya." Kevin mengedip licik pada Udin, dalam ketidak berdayaan, Udin hanya melenguh kesal kepadanya.


Nama sih boleh kerenan Kevin, tapi kalau urusan wajah cakepan Udin sedikit sih. Secara dia punya alis tebal dengan bibir seksi, dia juga di anugerahi sang pencipta dengan hidung mancung dan mata elang berbulu lebat. Badannya juga oke tuh.


Kalau Kevin seperti yang dia bilang tadi, dia nggak kalah cakep sih dari Udin, dia juga tinggi seperti Udin, secara mereka berdua memang pemain basket di SMA ini. Kevin punya rambut hitam lebat yang agak gondrong, nggak jarang dia jadi mangsa empuk pak Harto si guru BP. Matanya sedikit sipit sebab dia memang berdarah cina gitu. Secara keseluruhan dua cowok ini masuk dalam kategori ganteng banget. Sayangnya bukan hanya mereka berdua yang ganteng di sekolah itu, ini sekolah sudah seperti sekolahan para Idol di korea sono, yang isi nya para cowok-cowok cakep bin ganteng berbadan oke. Pokoknya kalau nyari roti sobek paling gampang di sini, tungguin aja kalau lagi jadwal kelas berenang.


Ada Fay, anak wali kelas 12 IPS yang tinggi putih.


Ada juga si Ikbal, meskipun cuman anak bibi kantin tapi pesonanya nggak kalah menyilaukan dengan mereka-mereka yang berduit. Terlebih ni cowok doyan pake collone, alhasil kalau lewat bakal menyisakan aroma wangi yang manjain indra penciuman.


Ada hendro, anak kelas 10 yang boyfriend material banget. Meskipun terbilang baru di dunia persilatan, namun sekali kedip kakak-kakak kelas yang jablay bakal meleleh melihat ke tampanannya. Nah ini lho bucin barunya Nari.


Dan nggak ketinggalan si Zaid, ketua Osis yang memang naksir Nari sedari jaman Masih ada Alex di sekolah itu. Diam-diam dia mengagumi Nari yang selalu melarikan diri dari kejaran Alex, dan ketika mereka berdua menjadi staf perpustakaan pun, Zaid juga mendaftarkan diri. Dalam diam dia memandangi Nari yang sedang menyusun buku-buku di perpustakaan. Terus nggak jarang dalam diam dia membantu Nari dalam bekerja. Initinya ni anak banyak bertindak dari pada ngebacotnya.


Tapi itu dulu. Sekarang di kelas 12 ini dia maju menampakan diri di hadapan Naria, dan dengan terang-terangan mengungkapkan rasa sukanya kepadanya. Bahkan sepak terjangnya buat naklukin Nari sudah hampir menyamai Majnun yang tergila-gila cintanya Laila nih, katanya sih seperti itu.


"Cantik banget bunganya," sambut Nari manis. Jemarinya mengambil bunga yang Zaid serahkan sambil bertekuk letut di hadapannya.


"Bangun, Zaid. Entar lututnya lecet lho," jemari lentinya yang lain menarik lengan Zaid untuk berdiri.


"Cewek mana sih yang nggak suka bunga, apalagi bunga Bank," sahut Nari asal. Bener-bener somplak si Nari ini.


"Ehhh, memang kamu mau di beliin apa?," Tanya Zaid lagi. Seperti yang Udin katakan, Zaid bukan anak orang sebrangan. Di usia mudanya ini dia, sudah punya bisnis sendiri di bidang otomotif. Meskipun bukan sepenuhnya dia yang mengurus, namun masalah dana dia yang pegang kendali.


"Nggak lucu, aku basa-basi doang kok sama bunga bank nya," Nari menciumi aroma bunga mawar itu sambil berjalan di samping Zaid melewati lapangan basket. Andai Zaid bisa cosplay jadi tu bunga, senang sekali di cium melulu sama Nari.


"Kalau kamu mau apa-apa bilang aja, aku siap 24 jam melayani kamu."


"Baru tahu kalau kamu tuh setara pak Polisi."


Sahutan Nari mengundang tanya di benak Zaid"Kok pak Polisi?," loloslah pertanyaan itu dari mulut Zaid.


"Katanya siap melayani 24 Jam."

__ADS_1


"Hahaha, dasar anak bahasa. Bisa aja ngatur kata-kata. Oke juga tuh di bilang pak Polisi," Zaid senyam-senyum memandangi Naria.


"Main oke aja, jelasin alasannya dong!," Rengek Nari. Nah yang begini nih bikin hati Zaid ketar-ketir. Kalau lagi merengek Wajah Nari jadi makin manis bin imut, hati Zaid jadi kedap kedip seperti lampu neon soak.


"Ehem!, biar aku bisa penjarain hati kamu di hati aku dong, Nar," jawabnya malu-malu.


"Uwww!! gombal!. Jangan begitu Zaid, nanti aku salah tingkah depan kamu. Gini-gini aku juga punya hati," seringan bulu Nari mencolek dagu Zaid, tanpa rasa bersalah.


"Nah itu main colek aja, memangnya aku sabun colek?," balas Zaid lagi. Ah! wajahnya pasti merona, sebab dia merasa panas di kedua pipinya.


"Hahaha, maaf deh. Btw makasih bunganya. Aku nggak tahu nih harus balas pake apa pemberian kamu ini," Nari begitu suka menciumi aroma wangi dari bunga mawar itu.


"Balas dengan kencan boleh juga," harap Zaid dengan tersenyum.


"Nanti deh kalau ada waktu luang, ya?," sungguh Nari sangat pandai memainkan mata, membuat Zaid selalu tergoda dan tertawa.


"Terimakasih manis," membelai pucuk kepala Nari. Hal itu sudah biasa dia lakukan dan Nari pun oke-oke aja, asalkan nggak nyosor.


"Ya elah!! pake di belai pula!," kesal seseorang di seberang lapangan.


"Makanya ungkapin, bro!. Keburu di pepet orang. Zaid aja berani bersaing," timpal Bisma pada sahabatnya, Keano.


"Nariaaaaa~~~~," panggil dua sahabatnya sambil melambaikan tangan. Mereka memanggil Nari agar ikut bersama mereka.


"Sekali lagi terimakasih ya bunganya. Semangat terus main basketnya," Nari memberi dukungan pada Zaid.


"Yoi manis," sahut Zaid membalas lambaian tangan Nari. Interaksi mereka layaknya sepasang kekasih, namun nyatanya Zaid harus sadar diri. Bukan hanya kepadanya Nari bersikap manis, baik dan ramah. Nona manis dari keluarga Charllote ini baik kepada semua orang, hingga membuat semua lelaki bertekuk lutut mengharap cintanya.



...~Zaid~...


To be continued....

__ADS_1


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ya teman ^,^ .


Salam anak Borneo.


__ADS_2