Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Terungkap


__ADS_3

Tatapan nanar menyambut kedatangan Kai. Zaid mengantarkan pemuda ini hingga ke depan pintu, namun enggak mampir sekalian. Sempat menjadi saingan cinta, Zaid yang akhirnya merelakan Nari mulai menerima Kai ke dalam daftar pertemanannya. Dan, karena Kai telah menjadi salah satu dari mereka, dirinya mengantarkan Kai seperti seorang kekasih mengantarkan wanita idalamnya usai bepergian dengannya.


"Karena Kai telah pulang dengan selamat, saya bisa pulang dengan tenang tante."


Karlina mengucapakan terimakasih, di iringi senyuman hangat. Zaid mengakui kecantikan Ibunda sahabatnya ini, di usia sekarang pun kecantikan itu masih terlihat, bagaimana dengan sosoknya di waktu muda. Meski lebih mirip kepada Hanan, raut wajah sang Ibunda sedikit terlihat di wajah Kai, dan wajar saja Kai memiliki wajah setampan itu.


Seperginya Zaid, Kai ingin menceritakan apa yang di lihatnya kepada Karlian, namun lebih dulu Karlina yang membuka cerita. Mengajak sang putra ke meja makan, dan mulai bercerita di sana. Meja makan ini memang menjadi tempat dengan banyak kegunaan. Akan menjadi meja makan di saat makan, akan menjadi meja belajar di saat Cleo dan dirinya mengerjakan tugas, sembari menemani Karlina membuat kue di dapur. Dan sekarang menjadi tempat untuk mereka bertukar cerita.


Apa yang di perlihatkan Charlotte dan Sook kini juga di perlihatkan Karlina kepada Kai. Sontak kedua mata pria ini membulat, lelaki di dalam foto adalah Papah Greta, dengan kursi roda yang tadi dia duduki. Kai sangat ingat akan hal itu.


"Ini----."


"Itu Ayah." Sambar Karlina.


Sungguh, semesta seolah bercanda dengannya. Baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu, namun dengan status yang berbeda.


"Ini Papah teman baru Kai, Bu."


Karlina mengerutkan kening. Seolah mengerti dengan tatap penuh tanya sang Ibunda, lantas Kai pun bercerita.


Mendengar nama Nyonya Victoria, Karlina menahan napas, ingin segera memotong cerita Kai dan mengatakan bahwa wanita itu bukanlah wanita baik. Namun, caranya menyambut dan memberikan pelayanan terbaik untuk putra dan teman-temanya, Karlina nggak mau merusak pandangan baik Kai terhadapnya Victoria. Terlebih, Greta putri dari Victoria kini telah menjadi teman putranya.


Sungguh, meski menyakitkan kebohongan itu nggak seharusnya di tutupi. Mengingat nasihat Sook, agar mengatakan kebenarannya kepada Kai, membuat Karlina dilema. Apalah gesitnya sorang Boby, pengawal yang nggak punya pengalaman di bidang pengintaian. Lain halnya dengan orang-orang suruhan Charlotte, dengan mudah mereka bergerak di belakang Boby. Hal ini di ungkapkan oleh Sook, juga Charlotte kepada Karlina. Demi keamanan sang putra, Karlina meyakinkan diri untuk menyerahkan semuanya pada Charlotte dan Sook, dan mengatakan kebenaran ini pada Kai.

__ADS_1


Air mata itu jatuh, luruh membasahi pipi pemuda ini. Andai dia tau itu benar Ayahnya, Kai akan berlari untuk menghampiri, memeluknya dengan sangat erat.


"Jadi, Ayah hilang ingatan?."


"Begitu yang di katakan Tuan Charlotte."


Lagi, kening Kai di buat berkerut"Sebentar Ibu, dari tadi Ibu bercerita tentang kedua orang tua Nari. Memangnya apa hubungan mereka dengan kita? mereka sampai mencari keberadaan Ayah."


"Mereka sahabat Ayahmu, Nak."


Oh, dunia yang besar ini bagaikan daun kelor untuk dirinya dan Nari. Bahkan bertahun-tahun lalu, orang tua mereka merupakan sahabat. Kalau begini akankah cinta mereka di restui?. Memikirkan hal itu ada keresahan lain muncul dalam benaknya. Kondisi mereka sudah sangat berbeda, bukan lagi orang dengan kekayaan yang melimpah. Meski orang tua mereka bersahabat, apakah mereka rela kalau Nari hidup bersamanya?, orang yang nggak punya apa-apa?. Celengan angsa itu, Kai tersenyum kecil saat mengingatnya.


Sementara itu di rumah perkebunan. Hanan melipat kecil selembar kertas yang di berikan seseorang kepadanya. Sungguh pandai orang itu mencari kesempatan, memberikan benda itu saat mobil yang membawa mereka mengisi bahan bakar. Victoria saat itu sedang ke kamar kecil, entah firasat apa yang membuat Hanan membuka sedikit daun jendela, hingga benda itu sampai padanya, secepat kilat.


Hanan sangat tau dengan namanya, namun statusnya adalah suami dari Victoria. Saat melihat wajah Karlina di dalam gambar itu, hatinya mencelos, rindu itu sangat tau kepada siapa dia berlabuh"Wajahnya, bahkan kerap singgah dalam mimpiku. Ternyata kamu adalah istriku yang sebenarnya." Bergumam lirih.


Juga perihal obat yang di berikan Victoria, pernah suatu hari sebuah obat berwarna merah terlupa di berikan padanya. Karena Hanan terlewat mengkonsumsi obat berukuran kecil itu, Victoria memarahi habis-habisan pelayan wanitanya. Rasa curiga membuat Hanan penasaran, obat apa itu. Katanya itu obat yang sangat ampuh, bisa memberikannya kesembuhan. Nyatanya, sudah sangat lama kursi roda itu menjadi temannya untuk bepergian.


Hanan sengaja melewati obat itu, meletakan di bawah lidahnya dan berlagak meminumnya. Sebelum tertidur, Hanan mengeluarkannya dari mulut dan menyelipkannya di bawah bantal. Saat terbangun dia akan mengantongi obat itu, kemudian meminta di antar ke kamar kecil. Kinerja CCTV bukanlah kendala baginya, sebab dirinya cukup pandai berkelit dari benda itu, letaknya pun sudah sangat di ketahui Hanan. Ajaib, sungguh ajaib, semenjak nggak mengkonsumsi obat tersebut, meski tertatih Hanan mulai bisa berjalan. Kamar kecil kerap menjadi saksi dirinya melatih diri. Amir sempat bertanya mengapa menolak di bantu lagi saat masuk ke bilik itu, canggihnya tempat pembuangan yang di rancang khusus untuk orang lumpuh, sungguh sangat membantu baginya untuk beralasan.


"Jemput Ayah, Bu" Kai merengek seperti anak kecil. Letta yang sedari tadi berada di kamarnya, menghampiri menantu dan cucunya itu.


"Kai, Charlotte sudah punya rencana. Nampaknya Victoria bukan wanita sembarangan, terbukti dia bisa menyembunyikan Ayahmu selama ini.

__ADS_1


"Nenek, kita punya bukti kuat bahwa Ayah adalah Ayah Kai, bukan Papah Greta."


"Sabar, Nak. Ibu tau bagaimana rindu di dadamu. Tuan Charlotte mengatur rencana halus untuk menjemput Ayah, kamu tenang saja."


"Ibu yakin?."


"Tentu."


"Kenapa?."


"Sebab Charlotte adalah sahabat Ayah" jawab Karlina.


"Kenapa Ibu begitu yakin padanya?. Sedangkan kasta kita sekarang telah jauh berbeda."


Nenek Letta mengambil duduk, bersama mereka di meja makan itu"Dengan tangan inilah hidangan kegemaran Charlotte di masak, dahulu saat dia masih remaja. Meski anak orang kaya, sifat rendah hatinya sungguh luar biasa. Demi mendukung usaha Ayahmu, dia menolak gaun pengantin dari rancangan desainer terbaik waktu itu, dan mempercayakan gaun itu pada Ayahmu. Apa kamu tau, karena gaun yang di pakai istrinya di saat menikah itu, bisnis Ayahmu mengalami peningkatan. Orang-orang mengagumi karya Ayahmu, dan semua itu karena Charlotte."


Sebaik itukah Papah Nari? lantas, mengapa memberikan hukuman pada Nari karena memilih menjalin hubungan dengan nya? pemuda miskin ini?.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2