
Rasa kesal di hati Bisma semakin menjadi, saat dia sedang berjalan-jalan sendirian di perkampungan itu sang hujan datang membasahi bumi. Melihat ke sekitar untuk mencari tempat berteduh. Beruntung ada sebuah pohon besar yang sangat rimbun, nggak jauh dari tempatnya. Berkejaran dalam hujan, Bisma mempercepat langkah menuju pohon tersebut. Rupanya, bukan hanya Bisma yang berlari ke sana, ada seorang gadis cantik, sedang membawa kue dalam keranjang juga ingin berteduh di sana.
Tersenyum, hal itulah yang pertama gadis itu lalukan, saat pandangan mereka bertemu. Sungguh, jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar adanya. Dalam satu tarikan senyum gadis itu Bisma telah jatuh cinta.
Menilik dari penampilan gadis itu, terlihat sederhana. Sangat berbeda dengan penampilan Bisma, yang sangat menggambarkan mode pakaian anak kota.
Meski sederhana penampilan gadis itu terlihat cantik dan anggun di matanya.
Sempat kehujanan, pundak Bisma terlihat sedikit basah. Spontan gadis itu menepis air yang jatuh di pundak Bisma.
"Ah, terimakasih" ujarnya. Dan sang gadis mengangguk menanggapi ucapannya.
"Apa yang kamu bawa?."
Menatap lurus kedepan, gadis itu nggak menjawab.
Memberanikan diri, Bisma menyentuh pundaknya dengan ujung jari"Hei, apa yang kamu bawa?."
Setelah melihat Bisma, barulah gadis itu membuka keranjangnya. Ada roti hangat di dalamnya. Aroma gandum dan aroma manis menyeruak saat keranjang itu di buka. Dalam hujan gerimis, perut Bisma seketika merasa lapas. Maka dia pun berteriak, menyuarakan dendang seperti bunyi ayam berkokok. Merasa malu Bisma langsung memegang perut.
Tersenyum menatap Bisma lekat, gadis itu memberikan satu Roti kepadanya.
Menyodorkan tangannya lebih dekat, gadis itu menawarkannya kepada Bisma untuk yang kedua kalinya.
Cuaca mulai dingin, rasanya menikmati roti hangat nikmat juga. Mengambil duduk pada potongan batang di bawah pohon itu, dua anak manusia ini menikmati roti hangat sambil menatap hujan.
"Enak" ujar Bisma mengacungkan jempol.
Gadis itu kembali tertawa. Melihat roti di tangan Bisma sudah habis, dia memberikan sepotong lagi, namun Bisma menolak.
Menggelengkan kepala, gadis ini memaksa. Sejujurnya Bisma masih menginginkan roti itu, rasanya enak. Memang nggak selembut roti di kedai Arin, tapi ada rasa tersendiri pada roti itu.
"Berapa harganya?."
Tak lepas memandang wajah Bisma, gadis itu menggelengkan kepala.
"Gratis?."
Kali ini dia mengangguk.
Sampai di sini Bisma menyadari bahwa sedari tadi sang gadis tak pernah berbicara. Gadis itu menundukkan kepala saat Bisma kembali menikmati roti dari keranjangnya. Ingin menjawab dugaan di dalam hatinya Bisma pun bertanya.
"Siapa nama kamu?" melontarkan tanya saat gadis itu nggak menatapnya.
"Hei, siapa namamu?." Tetap saja gadis itu tak menjawab pertanyaan Bisma.
Kembali menyentuh pundak sang gadis dengan ujung jarinya, hingga sang gadis pun berbalik kembali menatapnya"Siapa namamu?" ujarnya mengulangi tanya.
__ADS_1
Mengeluarkan ponsel dari dalam tas, pada gantungan ponselnya tertulis sebuah nama"Azalia."
"Azalia" Bisma menyebut nama itu.
Sang gadis tersenyum dengan anggukan.
"Maaf, apa kamu nggak bisa bicara?" menangkupkan kedua tangan, Bisma takut menyinggung perasaan gadis itu.
Alih-alih merasa tersinggung, gadis itu mengangguk namun dengan senyuman.
"Sejak lahir?."
Lagi, dia mengangguk.
Bisma teringat, kalau seseorang yang nggak bisa bicara maka indra pendengarannya juga tumpul. Dia baru menyadari hal itulah yang membuat Azalia nggak menanggapi pertanyaan tadi, karena nggak melihat pergerakan bibirnya saat bicara.
Mengetik sesuatu di ponselnya, kemudian memperlihatkan kepada Bisma"Siapa nama kamu?."
Meletakan tangan di dada"Aku Bisma."
Kedua alis Azalia terangkat naik. Seirama dengan jempolnya yang juga terangkat naik.
"Oh maksud kamu namaku bagus?."
Gadis itu memutar jari di wajahnya, kemudian mengacungkan jempol.
Bisma mengerutkan alis, nggak mengerti maksud bahasa isyarat itu.
Lagi, Azalia mengetik di ponselnya"Nama kamu bagus, cocok dengan wajah tampan mu."
Menurut wajah dengan telapak tangan, Bisma tersipu malu. Senyum lebar Bisma membuat Azalia juga tertawa. Akh! cantik sekali gadis ini saat tertawa. Meski memiliki kekurangan, Bisma tetap merasa tertarik padanya.
Kembali mengobrol melalui ketikan di ponsel, di ketahui bahwa Azalia adalah penduduk perkampungan indah ini. Tempat yang indah dengan penghuni berparas indah. Semula menyesali kedatangannya kemari, namun setelah bertemu dengan Azalia, Bisma merasa senang.
Hujan mulai reda saat seseorang datang menghampiri Azalia. Seorang kakek tua dengan rambut yang mulai memutih.
"Di sini kamu rupanya. Alat bantu dengar ketinggalan." Seraya memasangkan alat itu di telinga Azalia.
"Ha?" Azalia bersuara namun seperti tertahan di dalam.
Dengan bahasa isyarat, Azalia menanyakan kedatangan sang Kakek.
"Kakek mengantar alat bantu dengar mu."
"Oooo" ujarnya.
"Kamu siapa?" sang Kakak mengalihkan perhatian kepada Bisma.
__ADS_1
Seraya mengulurkan tangan"Saya Bisma. Kami menginap di Villa dokter Wenhan."
"Oh, dokter muda baik hati itu."
Bisma mengangguk.
"Aku Kakek Barack, pemilik roti di kedai kecil ujung jalan" menunjuk jalan setapak yang berbelok ke kiri.
"Oh, nanti aku akan mengajak teman-teman mampir ke sana."
"Terimakasih. Kedatangan kalian sebuah kehormatan bagi kami" ujar sang Kakek.
Bersama Kakek Barack, Azalia hendak berlalu pergi. Rasanya ada sesuatu yang kurang, Bisma memberanikan diri mengejar langkah Kakek dan cucu itu"Maaf kalau saya lancang, boleh minta nomor ponsel Azalia Kek?."
Sorot mata sang Kakek menatap Azalia. Sepasang mata indah itu berkedip-kedip, dengan mulut mengantuk rapat.
"Apa alat bantunya rusak?. Dia seperti nggak merespon suaramu."
Lekas Azalia menggeleng. Dia bicara bahasa isyarat pada sang Kakek, yang artinya dia nggak mau bertukar nomor ponsel dengan Bisma.
"Maaf, bukan berarti dia nggak mau berteman dengan mu. Dia pernah di kecewakan seorang pemuda. Sejak itu dia nggak mau berharap dan memberikan harapan kepada lawan jenis.
Azalia kembali menggerakkan tangan, kepada Bisma dia bicara bahasa isyarat. Bisma menatap Kakek Barack, nggak mengerti akan apa yang Azalia katakan.
"Dia takut jatuh cinta padamu. Sebab kamu terlalu tampan." Sang Kakek tertawa, dan Azalia juga tetawa.
Bisma kembali merasa malu. Aish!! keadaan ini terbalik, harusnya cowok yang menggoda cewek.
"Apa nama kedak Kakek?."
"Kedai roti hangat" sahut Barack.
"Kalau nggak ada halangan, nanti malam aku akan datang bersama teman-teman" Barack mengangguk seraya tersenyum.
Bisma beralih kepada Azalia"Aku ingin berteman dengan mu. Ku harap nanti malam kamu mau memberikan nomor ponselmu padaku."
Azalia hanya tersenyum.
"Bisma, ayo kembali ke Villa" teriak Fay dan Ikbal.
Bisma melambai tangan kepada mereka.
"Kakek, aku kembali ke Villa dulu. Azalia, tunggu aku nanti malam ya."
Kepergian Bisma di iringi senyuman Azalia. Gadis itu melambaikan tangan kepada Bisma, sebagai salam perpisahan mereka.
To be continued..
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.