Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Semakin terungkap


__ADS_3

...Hendaklah kamu bertindak jujur dalam setiap perkara....


...Janganlah berbohong karena seburuk-buruk cela bagimu adalah kebohongan....


...Tidaklah seseorang itu berbohong melainkan disebabkan oleh kerendahan moralnya,...


...Ataupun kebiasaan buruknya, maupun kekurangberadabannya....


...****************...


Perasaan bimbang tengah menghantui pikiran Amir. Malam itu pemuda ini sungguh tak bisa tidur, bahkan sekedar memejamkan mata sejenak. Permintaan Tuan besarnya, pria tua lumpuh yang selama ini di jaga dan di rawatnya, bahkan ada rasa sayang terselip pada Tuan besar itu dalam relung hatinya, memohon penuh harap kepadanya.


"Bawa aku pergi dari sini" terbayang dengan jelas, saat Hanan menangkupkan kedua tangan di hadapannya.


"Tuan, hentikan. Di kamar ini ada CCTV!" Amir segera meraih jemari Hanan, memelankan suara.


Sejurus kemudian pemuda ini memeluk Hanan erat, seraya berbisik"Aku akan memikirkannya. Tuan bersabarlah dulu."


Hanan membalas pelukan Amir. Adegan ini bukanlah adegan aneh, sebab kedekatan Amir dan Hanan memang sebaik itu. Victoria mengambil duduk di depan layar lebar, pada kamar rahasia di kediamannya. Victoria sempat menyaksikan mereka berpelukan melalui layar lebar, namun baginya itu bukanlah apa-apa. Mungkin Hanan hanya mengucapkan terimakasih usai mendapat pijatan di telapak kakinya.


Tok tok tok!!. Suara ketukan pintu menarik Amir dari kilasan waktu sore tadi.


"Kamu sudah mau tidur?" Boby, pengawal pria Victoria datang dengan sebotol anggur.


"Aku lelah, kalau mau ngajakin minum lain waktu saja."


"Amir, kamu kenapa sih?. Ini anggur mahal, kamu nggak tergiur mencicipinya?."


"Besok subuh kita harus segera pulang, kamu yakin akan segar bugar besok pagi?. Ingat, kamu harus menyetir, mengantarkan Nona Greta ke sekolah."


Ucapan Amir membuat Boby mengerucutkan bibir"Hupffhh!!, ya sudah. Ngopi aja yuk, sambil ngerokok."


"Aku beneran lelah Boby, kerjaan kamu kan cuman mengawasi, sedang kerjaan ku melayani Tuan. Mengangkatnya ke sana dan kemari."


"Mengawasi gundul mu!."


Amir melirik Boby"Iya sih, kalau ada yang jahil kamu harus segera bertindak. Berkelahi misalnya. Tapi kan hal itu sangat jarang terjadi."


"Ck!" terdengar Boby berdecih"Kamu mau tau pekerjaan ku yang sebenarnya?."


"Mengawal, itu kan pekerjaan kamu."


Boby celingukan ke kiri dan ke kanan"Sudah lama aku mengawasi seseorang. Dan kemarin, orang tersebut ada dalam rombongan teman-teman Nona Greta."


Amir memberi kode agar Boby menurunkan nada bicara"Kamu cari mati??, kenapa cerita sama aku?."


"Aku nggak kuat!!, ini bukan pekerjaan yang aku mau."


Setau Amir, nggak ada kamera pengintai di kamar itu, namun mengenal betul sosok Nyonya, bisa saja kan hal itu terjadi.


"Kalau nggak kuat bilang saja sama Nyonya" menarik Boby masuk, dan mengunci kamar."


"Sulit, Nyonya pasti akan marah padaku."


Amir menggigit bibir. Victoria adalah bos yang baik bagi mereka. Hanya saja terkadang tugas yang dia berikan bertentangan dengan kebaikan. Baik Amir, juga Boby, nggak jarak mereka bingung harus menuruti perintah itu atau menolaknya.


"Hanya mengawasi bukan?."


Boby mengangguk.


"Nggak di suruh menyakiti mereka, bukan?."


Lagi, Boby mengangguk."


"Ya sudah, lanjutkan saja. Toh kamu nggak di suruh membunuh."


"Tapi bekerja seperti ini sungguh melelahkan. Aku mengendap-endap mengawasi mereka, dengan jantung berdebar karena takut ketahuan. Aku seperti pencuri."

__ADS_1


"Ck!!. Dasar kamu pengawal amatir. Selama nggak menyakiti orang lain, lakukan saja. Sudahlah, jangan merisaukan hal yang nggak penting."


"Amir, wajah pemuda itu sangat mirip dengan Tuan."


"Ck!. Itu urusan Nyonya, kita nggak perlu ikut campur. Cukup lakukan saja tugas mu."


Boby melenguh, dia berharap Amir memeriksa solusi untuk keluar dari tugas melelahkan itu. Dirinya akan memilih tugas berkelahi, rasanya lebih bebas, dari pada tugas mengendap-endap.


Mengambil rokok milik Boby di atas meja"Pergilah. Jangan minum alkohol, lebih baik kamu tidur. Kita harus segar dan bugar besok hari."


Terseok-seok, Boby melangkah keluar dari kamar Amir. Di lorong dia bertemu dengan Greta.


"Nona" ujarnya menyapa"Anda mau kemana?."


"Ah, pengawal Boby, tolong carikan teropong dan bawakan ke beranda ujung. Aku mau lihat bintang."


"Baik Nona."


Tangkai jantung Greta hampir saja lepas, dirinya nyaris terciduk sedang menguping obrolan dua anak buah sang Mamah. Saat Boby memutar knal pintu Greta hanya bisa berlari kecil ke tengah lorong, mau nggak mau dirinya harus berjalan kembali ke arah kamar Amir. Beruntung jalan itu bisa mengantarkan dirinya ke beranda, maka alasan itulah yang terlintas untuk berkelit dari kecurigaan Boby.


Hampir semua obrolan mereka di ketahui Greta. Ya! wajah Kai memang sempat mengusik saat pertama melihatnya. Obrolan Amir dan Boby menimbulkan kembali tanda tanya dalam benaknya. Hingga teringatlah tindakan Victoria saat bergegas membawa Hanan, pergi dari balkon saat sedang menonton Fay dan Zaid bermain. Victoria seperti takut keberadaan Hanan di ketahui teman-teman Greta, dan gadis ini baru menyadarinya malam ini.


Ruang keluarga di kediaman Charlotte mendadak ramai. Saat Nari kedatangan sepatu-sepatu untuk di endorse, minuman kopi, dan beberapa tas dari brand ternama di kota ini.


Sebuah tangkapan besar, Nyonya Sook memang merindukan masa-masa kehadiran sang putra pertama di kediaman ini. Kesempatan ini sudah lama dia tunggu, yaitu membawa kembali Jung dan Andrea untuk tinggal di kediaman mereka. William merasa sedih, sebab sudah terbiasa hidup berdampingan dengan Jung, begitupula dengan para pelayan di kediaman William. Demi kebaikan bersama, Jung dan Andrea akan lebih sering menginap di sana, dan perjanjian ini telah di setujui oleh Tuan William.


"Abang!!!!!" teriakan Nari adalah awal dari kegaduhan itu.


Masih sibuk menata bawaan mereka, Jung dan Andrea nggak menghiraukan panggilan Nari.


"Abang!!!!" panggil Nari lagi.


Bibi An datang tergopoh-gopoh ke ruang keluarga"Ada apa Non? mungkin bibi bisa bantu."


Nari menelisik penampilan Bibi An, sang koki mengenakan baju daster yang cantik. Tentu saja, Nyonya Sook gemar membelikan baju daster untuk para pelayan wanitanya, dengan motif yang manis dan cantik.


Bersedekap, Nari melangkah lebih dekat"Bibi mau bantuin Nari?."


"Tapi Nari masih bingung, caranya gimana."


Bukan hanya kening sang Nona, bibi An pun terlihat menyerngitkan keningnya"Nona mau ngapain? dengan barang sebanyak ini."


"Ngendorse, bibi tau caranya ngendorse?."


"Apa itu Non?."


"Jualan, di Instagram."


"Instagram? akun media sosial itu?" tanya Bibi An yang langsung di angguki Nari.


"Oh, sekarang pihak Instagram buka pasar?, di mana Non?. Semua barang ini mau di bawa ke sana?. Bibi panggil Mr.Zack ya buat bantuin angkut barang-barang ini ke mobil."


Nari mengusap wajah, menggaruk alisnya yang nggak gatal sama sekali. Bibi An memang polos, sepolos wajahnya yang selalu tertawa itu.


"Jualan lewat ponsel bibi" tukas Nari.


Bibi An menggaruk kepala"Maaf Non, bibi nggak ngerti, bibi panggillin Tuan Jung apa Tuan Jeon aja ya."


"Bang Jung aja, kata Papah dia yang jadi manager Nari."


"Owh, jadi kalau jualan lewat ponsel harus punya manager? widih si enon sudah jadi artis."


Nari terkekeh"Belum, nanti kalau pembelinya banyak Nari mau kok di bilang artis."


Pletok!! segulung tisu toilet mendarat dengan indah di atas kepala Nari.


"Kya!!!!" jerit Nari, memegangi kepala seraya menoleh ke atas. Seringai tawa Joen sungguh menyebalkan. Ghina yang melihat adegan itu jadi teringat kisah kelam dirinya di masa lalu, saat di bully sang anak majikan ini.

__ADS_1


"Abang! kok gitu?. Entar kalau ubun-ubun Nari bocor gimana???".


"Hilih! sudah tua juga, beda cerita kalau kamu basih bayi, ubun-ubun nya harus di jaga."


"Joen!!" hardik Tuan Charlotte. Sementara Nyonya Sook melipat kedua tangan di dada, dengan tatapan setajam belati.


"Papah" lirih Joen. Kenapa di saat keusilan itu terjadi, Papah dan Mamahnya datang dari bepergian??. Kalau sudah tertangkap basah begini, Joen jadi nggak bisa ngeles.


"Anu...tangan Joen licin, Pah."


"Oh ya?, sini Mamah bantu lap. Biar nggak licin tangannya harus di kasih balsem cap kaki lima, terus di elap memakai serbet yang di panaskan."


Ucapan Nyonya Sook membuat bulu kuduk Joen meremang.


"Maaf!!" menangkupkan kedua tangan"Joen ngaku salah!!" terpekik mengharap belas kasih sang Mamah. Sementara Tuan Charlotte menggelengkan kepala. Kemudian atensinya tersita pada barang-barang di dekat Nari.


"Turun kamu!" sentak Nyonya Sook pada Joen.


"Dari mana ini?."


"Barang yang harus Nari endorse, Pah." Sahut Nari masih mengusap pucuk kepala.


Charlotte mengangguk seraya mengusap pucuk kepala si bontot jua"Untung nggak bejol."


"Kan nggak keras Pah" Joen mendekat, mencoba mengambil hati sang Papah.


"Coba aja sampai benjol, Papah geplak kepala kamu pake ini" kepalan tangan itu di arahkan ke wajah Joen. Alamak!! Joen spontan mundur satu langkah.


"Ampun Pah, maaf ya nenek sihir. Belum khatam ya ilmu Kanuragan si nenek sihir? kena begituan doang pake menjerit."


"Joen!" Nyonya Sook menarik cuping telinga sang putra. Lagi, Joen mengaduh.


"Ya sudah, bantu adik kamu kerja."


"Kan ada abang." Mengusap telinga yang merona.


"Abangnya baru pulang, kok langsung di suruh kerja!" hardik sang Mamah.


Jung tersenyum simpul, mengintip di atas tangga. Rasanya senang sekali mendapatkan pembelaan dari Mamah yang comel ini.


"Lah, gimana caranya?."


"Kamu pake tasnya, terus berlenggak-lenggok seperti model." Ujar Jung dari atas.


"Heh, turun!. Bantuin!."


Mengangkat dua jarinya membentuk huruf V"Suer, aku capeeekkk banget. Nyetir dari rumah sama sampai ke rumah sini, rasanya berat banget."


"Elah, kayak rumah Om William di Pluto aja!. Jangan banyak alasan, ayo bantuin!."


"Aku capek!."


"Papah!" Joen mengharap bantuan dari sang Papah.


"Berisik, kamu aja yang bantuin kali ini!. Papah tau kamu kan mengincar ponsel baru."


Joen terdiam"Kok---."


"Obrolan cacing dalam perut kamu aja Papah tau. Apalagi cuman obrolan kamu sama putri bar-bar ini" menarik hidung Nari. Membuat sang putri berjinjit-jinjit, si Papah tinggi menjulang, sedang dirinya mini binti bonsai.


Ingin protes namun keputusan Charlotte sudah bulat. Maka, ngendorse pertama Naria di temani Joen, mereka berpura-pura akur di depan kamera. Arrgggg!! rasanya nggak enak banget. Sedangkan Jung duduk manis di anak tangga, menyaksikan drama dua saudara yang berpura-pura akur itu.


"Hahaha, geli melihat kalian jalan sambil pegangan tangan. Kayak monyet sama orang utan." Sempat-sempatnya Jung berceletuk.


"Melepaskan tangan yang bergandengan "ABANG!!!!" teriak Joen dan Nari bersamaan.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗.


Salam anak Borneo.


__ADS_2