
Saat dua pasangan itu sedang bersenang-senang. Lain halnya dengan Keano, Bisma dan Kevin. Tiga sahabat ini sedang duduk termangu di depan kolam ikan.
"Ck!!. Lama amat sih Kean!!. Mana ikannya??!" gerutu Bisma, cowok dengan tingkah Kesabaran di bawah rata-rata.
"Lah, mana aku tahu. Memangnya aku raja ikan." Sahut Keano ketus. Bukan hanya Bisma di sini yang menginginkan ikan, dia pun sama. Mentang-mentang dia yang ngajakin mancing di sini, jadi dia yang terus didesak Bisma karena sang ikan lambat memakan umpan.
"Ah elah!!. Aku capek mancing. Mending jalan-jalan sendiri aja" melempar pancing itu ke sembarang arah. Meski mendapat lirikan tajam dari sang pemilik kolam ikan, Bisma cuek saja, toh dia bayar kok.
"Sudah mancingnya Nak?" tanya sang pemilik kolam ikan.
"Saya sih udah nggak tahu dengan mereka berdua. Masa sih Pak dari tadi kami mancing nggak dapat ikan satu pun" Bisma mulai menyuarakan kekesalan hatinya.
"Berarti kalian semua belum beruntung" Begitu jawaban yang diberikan oleh sang pemilik kolam ikan.
Memicingkan kedua mata, menatap ke arah sang pemilik kolam ikan"Bapak yakin kolam itu ada ikannya?" Bisma mulai bertanya-tanya.
Seketika senyum terbit di wajah sang pemilik kolam ikan. Pria yang sudah memiliki rambut putih itu mengambil pelet. Dan menaburkannya ke dalam kolam ikan yang tadi dipancing oleh Bisma.
Dalam hitungan detik ikan-ikan yang berada di dalam kolam itu mengambil makanan mereka. Begitu riuh bunyi air di dalam kolam. Moncong-moncong ikan bermunculan memenuhi permukaan air.
"Buset!! banyak banget ikannya!" Keano takjub. Baru kali ini melihat ikan dalam jumlah banyak. Begitu pula dengan Bisma yang semula meragukan penghuni dalam kolam ikan, kini terkejut dengan mulut menganga. Berbeda dengan dua rekannya, Kevin justru menggerutu.
"Jangan di kasih makan pak!!. Nanti ikannya kenyang!!."
Lagi, pemilik kolam tertawa"Bapak cuman mau membuktikan bahwa kolam ini nggak kosong. Sama teman kamu yang satu ini" ujarnya mengarah pada Bisma.
Cengengesan, Bisma mendapatkan lirikan tajam dari Kevin"Dasar!!. Mikirnya nggak baik melulu."
"Habisnya dari tadi ikannya nggak mau makan umpan kita."
"Namanya mancing ya harus sabar. Kalau nggak mau nunggu lama mending beli aja ikannya langsung." Ucapan Kevin di acungi jempol oleh bapak pemilik kolam ikan.
Meninggalkan tiga sekawan yang gagal mendapatkan ikan. Kita beralih pada dua sejoli, yang masih betah dalam perahu. Perlahan Udin mengemudikan perahu itu, menyusuri perkampungan dengan Greta membidik pemandangan indah.
"Lihat!!, cantik ya pemandangannya!" berseru seraya menunjukkan hasil dari tangkapan kamera.
"Kamu mau aku foto? di perahu ini?".
Tawaran Udin di angguki Greta"Sama kamu juga."
Melepaskan dayung yang melekat di tepian perahu, setelah sebelumnya menepikan perahu tersebut. Kali ini Udin yang memegang kamera, dengan Greta menopang wajah di pundaknya. Beberapa gaya mereka tampilkan saat berselca. Dan gaya terakhir, Udin menarik hidung Greta sedangkan gadis tertawa berusaha menghindari tangan nakal Udin.
Ada pasangan usia senja menyaksikan interaksi mereka"Dasar anak muda, manis sekali tingkah mereka. Aku jadi rindu masa kita berpacaran dulu."
Dialah Charlotte dan Sook. Pasangan usia senja ini merasa iri dengan pasangan muda. Tempat ini juga pernah mereka sambangi, saat masih berpacaran. Jalanan setapak di sana kerap menjadi saksi, mereka bergandengan tangan menikmati semilir angin nan lembut menyapa diri.
"Kalau rindu lakukan lagi" tukas Charlotte. Sook menatap sang suami.
__ADS_1
"Kita ulangi apa yang dulu sering kita lakukan di sini."
"Kamu masih ingat cara mendayung?."
"Tentu" sahut Charlotte tersenyum lebar.
Tak ingin menunggu lama, Charlotte dan Sook pun menaiki perahu. Di lanjutkan dengan berjalan bergandengan tangan, juga memancing. Tentu kesabaran mereka lebih besar ketimbang Bisma. Namun seperti tahu memilih, ikan-ikan di dapatkan dalam waktu lebih cepat.
...****************...
Setiap manusia punya cara sendiri untuk menghibur diri. Berbeda dengan sang keponakan yang bersenang-senang dengan sahabat, Yohan yang tebilang nggak punya teman ini memilih menjumpai Victoria.
Meski Kakak perempuan ini sinis padanya, Yohan tetap mendekatkan diri kepadanya.
Membawakan buah kesukaan Victoria, Yohan duduk bersama di taman rumah sakit jiwa. Seiring berjalannya waktu, kesehatan mental Victoria perlahan membaik. Setidaknya dia sudah nggak menangis histeris, juga mengamuk menyakiti diri.
"Bagaimana kamar Mama?." Sebuah tanya yang mengejutkan Yohan. Mungkin, dapat di hitung dengan jemari Victoria menanyakan orang tuanya. Rasa sakit hati membekukan hati, meski rindu Victoria nggak sudi mengakuinya. Di perlukan berbeda, sunggu menyisakan sesak di dada. Meksi bergelimang harta, tak sama rasanya dengan hidup berlimpah kasih sayang orang tua.
"Mama baik."
"Syukurlah." Ujarnya kemudian diam kembali.
Sebisa mungkin Yohan mengajaknya berbicara. Teringat dengan buah tangan yang dia bawa, Yohan mengeluarkan buah melon itu. Bulat berwarna hijau, Victoria langsung tersenyum melihat buah itu.
"Manis nggak?."
"Aku mau memakannya seperti memakan semangka" tukas Victoria saat Yohan hendak memotong kotak-kotak.
"Langsung menggigitnya?."
Tanya itu di jawab dengan anggukan.
"Itu nggak anggun."
"Aku lelah bersikap anggun."
"Mulutmu akan belepotan----."
"Biarin. Aku mau memakannya langsung!!" nada bicaranya mulai meninggi. Yohan nggak mau menggangu ketenangan dalam diri sang Kakak.
"Baiklah, jangan marah. Nanti muncul kerutan di wajah Kakak."
"Itu alami, sebab aku memang sudah tua."
Aktivitas memotong melon sempat berjeda, namun Yohan kembali melanjutkannya.
"Begitukah?. Ku kira Kakak sangat takut jadi tua."
__ADS_1
Victoria hanya diam. Setelah melon selesai di potong dia langsung menikmati seperti keinginannya.
"Pelan-pelan saja. Aku nggak akan meminta."
Tak menghiraukan, Victoria terus sibuk memakan buah kesukaan itu.
"Greta, apa kabar?."
Seraya mengusap tepian bibir sang Kakak dengan tisu, Yohan menjawab"Dia sedang berlibur dengan keluarga Bang Hanan."
Ash!!. Yohan keceplosan!!. Nggak seharusnya dia menyebut nama itu.
Meletakkan buah yang belum habis di makan. Victoria mengusap wajah. Pandangannya kosong, menunduk seperti sedang menghitung rerumputan.
"Kakak....." panggil Yohan.
"Kak Victoria!" panggil Yohan lagi.
"Aku lelah. Aku ingin istirahat."
Harus ekstra sabar, dan Yohan sedang berada di tahap itu. Menghadapi pesakitan mental seperti Victoria jangan sampai membuat dirinya juga ikut gila. Memegangi pundak sang Kakak, kemudian hendak menuntunnya kembali ke kamar.
"Buah melon ku. Kenapa kamu tinggalkan di sana?." Rupanya Victoria masih menginginkan buah tersebut.
"Nanti aku belikan lagi. Itu hanya tinggal sedikit yang belum kakak habiskan saja."
"Aku mau menghabiskan sambil berjalan."
"Nggak baik makan sambil berjalan."
"Yohan kamu cerewet!!!."
Oke!. Yohan berbalik mengambil sepotong melon itu kemudian memberikannya kepada Victoria.
"Aku bisa jalan sendiri" menepis tangan Yohan saat hendak menuntunnya.
Baiklah, Yohan hanya mengekor langkah sang Kakak dari belakang. Setelah sampai di tempatnya beristirahat, Victoria berkata"Besok bawakan aku melon lagi."
"Besok??. kakak mau aku ke sini lagi besok?." Bertanya dengan binar bahagia.
"Aku nggak punya teman, kamu juga nggak punya teman. Sudahlah, kamu pulang saja."
Pemuda itu tertawa hingga memperlihatkan barisan gigi putihnya. Yohan senang, Victoria akhirnya mau bicara banyak padanya. Dia bahkan meminta Yohan untuk datang lagi besok.
To be continued.
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.