
Entah angin apa yang membawa langkah seorang pemuda tinggi ini sampai ke kediaman seorang wanita. Seorang wanita yang dulu sempat mendapatkan penolakan darinya, dan tentu saja Ini tentang sebuah rasa yang disebut cinta.
Tadi, saat dirinya masih berada di rumah dia begitu semangat, ingin segera sampai ke kediaman sang gadis. Namun sekarang hal itu justru berbanding terbalik, semangat yang semula menggebu kini seketika menghilang.
"Aden Udin, ada apa ya ke sini?" tanya seorang pelayan yang sudah mengenalnya. Menghabiskan waktu seharian di rumah perkebunan, tentu membuat para pelayan mengenali teman-teman Nona mudanya.
Udin sempat terkejut, dia merasa seperti orang yang sedang kepergok mencuri sesuatu"Anu--- saya kebetulan ada keperluan di dekat sini. Jadi, sekalian aja mampir" Sungguh pandai si Udin, dia dapat memberikan jawaban yang cukup memuaskan.
Kemarin saat berada di perkebunan, tentu para pelayan dari keluarga Victoria ini memperhatikan tingkah laku sang Nona muda. Greta sangat kentara mendekati Udin, dan semoga saja kedatangan Udin kali ini dapat menghibur hati sang Nona muda yang sedang lara.
"Silakan duduk dulu Den, saya panggilkan Nona Greta, ya" ujar sang pelayan.
"Iya" mau nggak mau, akhirnya Udin mengambil duduk di ruang keluarga itu.
Uring-uringan di kamar, hanya itu yang bisa dilakukan Greta saat ini. Selain Nari and the geng, juga bucin and the geng, dirinya sudah nggak punya teman lain. Sedangkan kesalahan sang Mamah sangatlah fatal, terhadap keluarga kekasih Nari. Haruskah dirinya datang kepada Nari untuk mengusir rasa sepi ini? owh! rasa malunya sudah berkarat. Lantas bagaimana dengan datang kepada para bucin??. Oh tentu saja tidak. Datang kepada mereka dengan berkeluh kesah, hanya akan membuat dirimu menjadi bahan ejekan saja. Begitulah pikir Greta tentang mereka.
Tok!! tok!! tok!! suara pintu di ketuk.
"Masuk" sahut Greta malas. Gadis ini memainkan remote televisi, menekannya berkali-kali seolah sedang mencari channel di televisi itu, padahal dirinya hanya sedang bosan.
"Nona, ada Den Udin di ruang tamu."
Waw!! sungguh kabar yang sangat menggembirakan. Greta langsung meloncat dari tempat tidur. Dengan perasaan yang sangat gembira, sebelum menemui Udin gadis ini menyempatkan diri untuk mematut diri di depan cermin. Setelah penampilannya di cukup baik, Greta pun melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
"Udin" ucapnya dengan jantung berdetak hebat.
Sebenarnya hati Udin juga berdebar sih. Dirinya sempat merutupi diri, mengapa begitu berani memutuskan untuk datang ke sini. Sekarang saat telah sampai di kediaman ini, dan bertemu dengan Greta, dirinya malah terdiam.
Melangkah lebih dekat kepada Udin"Hei katakan apa yang membawamu ke sin, apa kamu merindukanku?" sang pelayan mengambil langkah mundur saat mendengar perkataan Greta. Sangat terlihat keceriaan pada raut wajah sang Nona muda, dirinya ingin memberikan ruang pada dua anak manusia ini.
Namun"Maaf Nona mau di bikinkan minuman apa ya?" ujar sang pelayan.
Menatap ke arah Udin yang langsung membuang pandangan, saat kepergok sedang memandangi dirinya"Kamu mau minuman apa, Udin?." Greta merasakan wajahnya mulai menghangat. Memergoki Udin sedang menatap dirinya, sungguh membuat relung hatinya dipenuhi dengan kembang api. Penuh warna-warni dengan irama riuh.
__ADS_1
"Apa aja" sahut Udin singkat.
"Oren jus aja Bi" ujar Greta akhirnya"Jangan lupa cemilannya" imbuhnya sebelum sang pelan benar-benar pergi.
Mengangguk patuh"Baik Nona, mohon tunggu sebentar."
Setelah kepergian sang pelayan, Greta mendudukkan diri berhadapan dengan Udin. Sekali lagi dia ingin beradu pandang, dan lagi-lagi Udin membuang pandangan.
"Katakan, apa yang membawamu kemari?."
"Hemmm, aku cuman ingin tau bagaimana kabarmu."
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" sahut Greta dengan merentangkan tangan. Memperlihatkan dirinya yang memang nampak baik-baik saja itu. Nggak ada cacat atau terluka sedikitpun.
"Maksudku keadaan di sini?" Udin menunjuk letak hatinya. Membuat wanita di hadapannya itu merasa pilu, setidaknya disaat seperti ini ada seseorang yang menanyakan keadaan hati kecilnya.
"Sakit, aku kesepian." jawabnya tanpa ingin menyembunyikan kenyataan itu.
"Kalau sakit kenapa nggak mencari cara untuk menghibur diri?."
Terdengar Udin membuang nafas kasar, kemudian berucap"Kemarin aku sudah bilang bahwa aku akan menjagamu. Kenapa kamu nggak bilang kalau sedang kesepian."
Sedikit senyuman terukir di bibir Greta, hal ini membuat Udin sedikit bernafas lega"Memangnya kamu mau kalau aku ajak jalan?."
"Hemmm" terlihat Sedang berpikir"Tentu saja aku mau, kita kan sekarang sudah berteman."
Senyuman itu kini berubah menjadi tawa lebar seorang Greta"Benarkah??!. Kamu nggak akan menolak kalau aku mengajakmu jalan?."
"Iya" Udin menjawab cepat.
"Aku siap-siap dulu ya."
"Heh?."
__ADS_1
"Sekarang aku mengajakmu untuk jalan-jalan, dan kamu mau kan?" gadis ini urung untuk melangkah pergi, dan ingin lebih memastikan jawaban dari Udin.
Udin tertawa dan ini hal yang sangat jarang terjadi. Bukan berarti Udin seorang cowok yang dingin terhadap wanita, hanya saja kali ini dia tertawa karena tingkat Greta. Dan sinyalnya, hanya karena senyuman itu jantung sang gadis semakin berdebar cepat. Rona merah di wajahnya semakin bertambah, seperti kelebihan memakai blush on.
Oh kali ini Udin menemukan sisi menggemaskan seorang Greta"Iya, cepatlah bersiap. aku nggak mau menunggu lama." Semakin tertawa dan Greta sangat menyukai hal itu.
Perginya Greta berganti dengan datangnya pelayan"Lho, kemana Non Greta, Den?."
"Sedang siap-siap, mungkin kami akan jalan bersama."
"Terima kasih ya Den. Setidaknya kehadiran Aden mengembalikan senyuman di wajahnya."
Udin mengangguk dan tersenyum ramah, kemudian sang pelayan pun pergi undur diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk yang kesekian kalinya kedua orang tua Nari kembali bertandang ke kediaman Hanan. Selain membawa kabar tentang Victoria yang mengalami gangguan jiwa, Tuan Charlotte mengajak Hanan dan Karlina untuk membicarakan hubungan putra-putri mereka.
Sebelum itu, Hanan mengutarakan keinginannya untuk membawa kereta bersamanya. Dan dijawab oleh Charlotte bahwa telah ada Yohan bersamanya. Yohan sempat beberapa kali bertemu dengan Hanan, dan baginya Yohan cukup dapat dipercaya. Adik dari Victoria itu terlihat cukup baik di mata Hanan, alih-alih kedua orang tua Victoria dan Yohan sendiri.
"Syukurlah kalau ada Yohan bersamanya, setidaknya dia nggak akan kesepian di tempat yang besar itu." Sorot mata itu menggambarkan kekhawatiran, sejatinya Greta gadis yang baik, yang selalu menyayanginya. Tanpa di sadari ada ikatan batin di antara mereka berdua, meski tanpa adanya hubungan darah.
"Victoria masih seperti itu, gila karena ulahnya sendiri" jawab Sook, saat Karlina menanyakannya kabar wanita itu.
"Baiklah, sudahi membahas mereka. Sekarang, bagaimana dengan hubungan anak-anak kita" tanya Charlotte.
Hanan menatapnya lekat, seolah bertanya"Ini tentang Naria dan Kai."
Hanan tertawa, kemudian Charlotte pun tertawa.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.