Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Air mata Nona


__ADS_3

Ratu di kediaman Charllote merasa keputusan suaminya berlebihan.


"Berani kabur sama cowok, memang kamu ulat bulu? gatel? ganjen??, minta di garukin?."


"Papah-----, Nari nggak kaya gitu!!," anakan sungai mulai mengalir di ujung mata.


"Lah itu, kabur sama cowok. Kemana aja kalian? datang dalam keadaan basah begini? dan ini??," Tuan Charllote menjinjit jaket Keano yang masih Nari kenakan .


"Basah basahan sama cowok!!. Kamu kelewat bandel Nari, kamu itu perempuan!!!. Gimana kalau tertangkap kamera wartawan??," emosi Tuan Charllote benar-benar telah sampai ke ubun-ubun. Nari hanya mampu menjawab sepatah dua patah omelan sang Papah, selebihnya Tuan Charllote terus melancarkan ceramah nya kepada Nari.


"Hubungi anak itu, jangan sampai Papah yang turun tangan mencarinya!," ancamnya.


"Nari nggak akan di kawinin kan, Pah?. Bolosnya baru sekali doang---," cicit Naria. Air mata terus merembes dari sepasang mata indah itu, berkaca-kaca menyiratkan penyesalan.


"Dari sekali menjadi dua kali, dan seterunya!," sambar pria paruh baya itu di tengah luapan amarah.


"Hick hick!!! masa Nari nikah muda, Pah!. Sekolah aja belum kelar?! huwwaaaa~~~~!!!," tangisnya semakin menjadi. Kedua tangannya mencoba menghentikan hujan air mata dengan menepis nya, namun hatinya begitu pilu. Entah takut di kawinin atau terlalu kesal dengan omelan bertubi-tubi sang Papah.


Melihat tangis Nari semakin deras, hati kecil Tuan Charllote pun melemah. Kasihan sih tapi dia harus bertindak tegas kepadanya. Biar bagaimanapun bolos sekolah adalah kejahatan bagi seorang pelajar .


"Sudah dong, Pah. Ingusnya sudah banyak itu," bisik Joen. Ngeliat tampang menyedihkan si bontot, Joen jadi nggak tega juga. Apalagi dia dalam keadaan basah, gimana kalau masuk angin hingga dia demam.


"Ampun Pah, jangan kawinin Nari!!," jemarinya menggenggam erat tangan orang yang begitu betah mengomel, sedari setengah jam yang lalu.


"Kamu harus bertanggung jawab," tepis Tuan Charllote. Raut kesedihan Nari melukai hati nya, tapi kejadian ini harus menjadi pelajaran untuk putrinya.


"Nari nggak akan bolos lagi, Pah!!," berjongkok di depan sang Papah, Joen nggak tega banget liat baby cebong merengek segitunya.


"Pah, rok sekolahnya sudah mau kering. Sudah dong, kasihan banget, Pah!," mendesak sang Papah agar memaafkan Nari, tangannya mengguncang lengan sang Papah.


"Mamah~~~," anak gadisnya benar-benar berantakan sekarang.


Wanita yang mendapat tatap penuh harap dari Nari dengan binar air mata. Mendekati suami nya, berbisik di samping sang suami"Serius pengen di kawinin, Pah?. Masih bocah, ingusnya aja masih meler, tuh."


"Syut!!! diem!. Papah pengen tau aja siapa yang meracuni pikiran putri kita," berkedip sekilas.

__ADS_1


Mendapat signal itu, Nyonya Sook pun merasa lega. Oke deh, kalau begitu biarin ini bocah di omelin habis-habisan. Toh dia nggak akan benar-benar di kawinin.


"Otak Mamah kusut banget ini, Nar!. Mau ngebela kamu entar kamunya besar kepala. Maaf aja nih ya, terserah Papah deh mau di kawinin sama siapa juga. Selama dia lelaki Mamah ikhlas!," dengan memijit pelipisnya, Nyonya Sook berlagak seperti sedang berpikir keras. Padahal ini asli akal-akalan Charlotte biar ini anak kapok bolos sekolah.


"HICK HICK ...NGGAK MAU KAWIIIINNNNNN , BANG JOEN TOLONGINNN. ABANG JUNGGGGGG!, TOLONG NARI," teriak Nari sekuat hati nya memanggil dua cecunguk yang kadang dia perlukan di saat seperti ini.


Joen menampol jidat nya menyaksikan jeritan dan tangisan Nari di depan matanya"Akh!!! kalau ada bang Jung, kamu bakal dia bawa kabur kali Nar, kalau hukumannya di kawinin seperti ini. Kamu bawel sih!!," gumamnya menghempaskan tubuh ke sofa. Dia pengen bantuin tapi pasti bakal di tabok si Papah. Jalan satu-satunya cuman bisa nemenin Nari di sini, setidaknya dia bisa menyeka air mata dan ngelap ingus ni bocah.


...☘☘☘☘...


Jung sang abang yang namanya di teriakin Nari barusan, sudah mengetahui kabar kenakalan terbaru sang nenek sihir. Setelah lewat tengah hari Nari belum juga pulang, Nyonya Sook segera menghubungi Jung dan menceritakan tentang tingkah si bontot yang mulai kelewat batas.


"Sayang, jengukin Nari yuk."


"Eh, belum juga sehari. Sudah kangen sama Nenek sihir?," goda Andrea yang kini sudah cantik dan rapi. Nampak ujung-ujung rambut nya masih basah karena habis keramas.


"Justru itu. Kata Mamah hari ini dia bolos sekolah. Baru juga sehari aku ninggalin rumah sudah bertingkah tu bocah," jelas Jung.


"Aku tanya Ghina deh ya, semoga masih ada sisa kehidupan Nari di sana," canda Andrea mengulas senyum nakal.


"Hahaha, Jahat kamu ih. Jelek begitu adek atu-atunya."


"Dia mah selingan doang. Ibarat gula dalam kopi, melengkapi tapi nggak usah di anggep," Jung terkekeh sembari membolak balik buku puisi yang sedang dia baca.


"Astagadragon!!. Aku laporin Joen nih, sayang."


"Monggo laporin, dia aja sudah biasa bilang aku edan. Lupa kamu kalau kita di kasih julukan the edan couple sama di kunyuk Joen," ucapnya di sela seruputan ice kopi, yang mulai di gemarinya.


"Sama aja sih, kalian nggak bisa akur pasti nya," ponsel Andrea terus menghubungi nomor Ghina, namun sang empu nggak ada tanda-tanda bakal menerima panggilan Andrea.


"Lah...., kok nggak di angkat?, apa Nari sudah ko'it?."


"Yang!!, jangan dong. Nggak asik kalau si Nenek lampir tiada," Jung meraih ponsel di nakas dan menekan nomor Joen.


"Buset dah!!. Para manusia durjana pada kemana sih??," Jung kembali menghubungi nomor Nari yang sedari tadi berkali-kali dia hubungin. Siapa tau aja udah aktif nomor si ulet keket.

__ADS_1


"Oh Lord!!!. Ini sudah sore masa si keket masih di omelin Papah?!," roman kekhawatiran mulai menggerogoti batin Jung. Nggak biasanya para penghuni kediamannya mengabaikan panggilan seperti ini.


...✒✒✒✒...


Hari perlahan malam ...


Hendro bolak-balik di balkon kamarnya. Dengan tatapan lekat pada sang gawai.


"Aduh Nar!!!, kok belum aktif juga sih?!."


Perasaan nano-nano bikin Hendro semakin tenggelam dalam penyesalan"Akh, sesak napas kalau ingat keterlambatanku," tinjunya ke udara menarik perhatian sang Mamah.


"Tu anak, kambuh lagi ngambekan gegara naksir cewek."


"Oi anak bujang Mamah. Belum jinak juga cewek idamannya?," seru sang Mamah dari taman bawah.


Hendro menjawab dengan gelengan kepala, khawatir sama anak orang bikin tenaganya terkuras nggak jelas. Tetiba pengen gigit bibir mulu, mata kedip-kedip seperti bola lampu soak, mukanya di usap kasar sampai mukul-mukulin pagar balkon, nggak jelas banget. Lama-lama bisa ambruk rumahnya di amukin Hendro, saking kepikiran sama Nari.


"Hei!! jangan ngamuk dong," tegur sang Mamah lagi."


"Mamah berbisik ih, lagian ngapain malam-malam di taman? kencan sama nyamuk?."


"Cari angin, sinis amat."


"Di dalem kan ada Ac. Mamah mau angin jenis apa? angin surga? belum rilis di dunia fana ini Mamah, adanya di akhir----."


"Hendro!! kamu nyumpahin Mamah?," hardik sang Mamah.


"Ampun, Mah," Hendro buru-buru masuk ke dalam kamar. Pemuda ini kembali resah memikirkan Naria.


"Please dong Nar, aktifin ponsel kamu. Hati aku nyesek banget ini!!," sekarang giliran ponsel nggak berdosa yang dia omelin.


"Pergi jalan-jalan deh, dek!. Kamu makin aneh tau, otak kamu perlu piknik," tunjuk sang kakak dari muara pintu kamarnya.


To be continue....

__ADS_1


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komen ya guys ^,^


Salam anak Borneo.


__ADS_2