
Ruang tamu keluarga Charllote mendadak ramai. Ketidak sengajaan membuat kedua orang tua Rivan datang bertamu ke kediaman Charllote.
...❣❣❣❣...
Kembali pada masa ketika Joen masih memantau prilaku si bontot di sekolahan. Bukan hanya orang tua Nari saja yang mendapat laporan tentang bolos sekolah yang di lakukan para pendaki tembok belakang sekolah. Bisma dan Keano ternyata bolos sekolah melalui tembok belakang seperti Nari dan Rivan juga.
"Karungin aja ni anak, Pak!! sumbangkan ke panti asuhan aja sana," omelan Pak Heru, papahnya Rivan membuat Joen bergidik ngeri. Ternyata yang galak kalau lagi ngomelin anak bukan cuman Papahnya doang.
"Ya ampun Rivan---jadi kamu bawa kabur duit Mamah buat ongkos bolos sekolah??."
" Sudah Mah!, berhentiin aja dia sekolah. Biar dia langsung kerja aja di perusahaan kita. Kalau nggak bisa mengatasi kerjaan di perusahaan kamu bakal Papah depak ke divisi Ob, jadi babu!!," omelan Heru membungkam mulut Rivan. Nggak seperti biasanya yang santai dan cuek dengan omongan orang, ternyata setiap kata yang di ucapkan sang Papah mampu membuat Rivan diam tak bergeming.
"Anu Pak Heru----," Pak Harto selaku kepala sekolah jadi bingung mau ngomong apa, saking kagetnya dengan kemarahan Heru. Rivan memang bandel kelas kakap di sekolahan ini, tapi Pak Harto kasihan juga liat si preman sekarang duduk terdiam di depan orang tuanya, dan menerima semua kata-kata menyakitkan dari sang Papah.
"Mereka sudah di jemur kok tadi, Pak," lanjut sang kepala sekolah. Sangat berhati-hati dalam berbicara, takut salah ngomong bisa di sembelih dana bulanan yang masuk ke kas sekolahan.
"Berarti kalian bolos barengan nih?," Andreson, Papahnya Keano juga angkat bicara. Namun Papah Keano nggak galak seperti Papahnya Rivan. Dia terkesan hangat dan santai, mencoba bertemu pandang dengan sang putra namun Keano enggan menanggapi.
"Iya Pak, menurut penuturan Bisma mereka bolos bareng ke pantai," jelas Pak Budiman yang ikut mendampingi sidang empat cecunguk hari ini. Ini kali pertama masalah bolos sekolah menjadi masalah paling urgens sepanjang sejarah SMA ini. Sebab mereka yang bolos adalah anak para donatur tetap di sekolah ini.
"Mau jadi apa kamu Kean?, sekarang masanya kamu sekolah. Nanti ada masanya kalau mau main-main di luaran sana. Fokus sekolah dulu dong nak," nasihat sang Papah.
Keano diam tak bergeming. Sama seperti Rivan, dia diam menatap ubin kantor kepala sekolah. Nggak ada sepatah katapun lolos dari mulutnya, bukan karena takut pada sang Papah seperti Rivan. Keano lebih kepada muak dengan gaya sang Papah yang sok menjadi Papah terbaik, di hadapan para guru dan wali murid yang hadir di ruangan itu.
"Hukum aja lagi, Pak," Kini giliran Bisma yang mendapat tatapan sedingin es dari sang Mamah. Wanita karir sang pemimpin sebuah hotel ternama di kota itu melirik Bisma dengan tajam.
"Lihat Mamah Bisma!!." nadanya pelan, tapi penuh penekanan.
Pelan-pelan Bisma beradu pandang dengan sang Mamah"Maaf Mah, Bisma Khilaf."
"Khilaf kok tiap minggu!!." Bentaknya akhirnya.
"Botakin aja Pak Ibrahim. Tolong kasih saya gunting!,"
"Anu bu---guntingnya nggak ada," elak Pak Harto. Si kepala sekolah benar-benar dalam posisi yang nggak enak banget sekarang ini.
"Pisau atau semacamnya deh, yang penting botak ni anak!!."
__ADS_1
Bisma memegangi kepala berharganya"No Mami!!, please!!," pekiknya.
"Akh!! Kalian bikin kecewa orang tua tau nggak!! bentar lagi lulus ngapai masih bolos sekolah!!___Bla bla bla..." Omelan demi omelan dari para orang tua bergantian berceramah di hadapan mereka bertiga.
Tiga puluh menit telah berlalu. Joen akhirnya dapat menghela nafas lega. Secara enggak langsung dia jadi ikut menanggung ceramah gratis yang di berikan suka rela oleh para wali murid. Kini tiba saatnya dia menyampaikan pesan sang Papah.
"Gimana kabarnya, nak Joen?," sebelum Joen bertindak, Heru menyapa Joen terlebih dahulu.
Dia langsung menyalami Heru dan mamahnya Rivan dengan sopan. Dan seperti kebiasaan, dia selalu membungkukan badan untuk memberi hormat kepada yang lebih tua. Etika negaranya tertanam sangat dalam pada dirinya.
"Baik Om, baru tau kalo temen bolos adek sama anaknya Om Heru," sahutnya.
"Aw!! ampun Mah!!". pekik Bisma.
"Awas kalo bolos lagi!! beneran botak kamu Bis!!," gerutu Jessie geram.
Pengusaha wanita ini mengedarkan pandangan kepada mereka yang ada di situ, khususnya kepada para wali murid"Guys, aku duluan ya.." Jessie lewat dengan menjewer telinga Bisma.
"Salam sama Mamahnya ya Joen, Jeng Sina, aku duluan ya," ujarnya sembari berlalu.
Sina hanya tertawa dan membalas lambaian tangan Jessie yang perlahan menjauh dari mereka.
"Ada apaan Joen, Papah kamu marah gegara Rivan ngajakin Nari kabur??."
Joen menggeleng kepada Heru dan Sina"Nggak tau juga sih Om. Pokoknya nanti malam kami tunggu ya," ujarnya lagi.
Sepakatlah nanti malam kedua orang tua Rivan bakal bertandang ke kediaman Charllote.
"Lihat deh bang Joen ngomong banyak tuh sama Bonyoknya Rivan, gimana dong Fay." Zaid sama Fay ngintipin para wali murid yang satu persatu meninggalkan ruangan kepala sekolah. Sementara mereka para pendaki tembok sekolah berjalan menaiki tangga untuk kembali ke kelas masing-masing.
"Nar!! masa kawin sih Nar??! potek dong hati aku!!," rengek Fay menyambar Nari yang berjalan hendak ke kelasnya.
Rivan langsung menghalau Fay dan nemepis tangannya yang hendak memegang lengan Nari"Heitss!! calon istri aku nih. Jangan pegang-pegang. Sudah ada yang punya!," Rivan songong banget di hadapan Zaid sama Fay.
"Apaan sih, Van!! norak ih!!," Nari meninggalkan mereka di depan kelas dan bergabung bareng Febby dan Arin.
Arin menyodorkan tisyu kepada Nari, jemari Febby sibuk memijat pundak Nari. Mereka care banget sama si bontot.
__ADS_1
...❣❣❣❣...
Pertemuan kedua keluarga membuat kediaman Charllote nampak sangat ramai dan meriah. Jung dan Andrea juga kembali ke rumah, namun kali ini mereka nggak menginap di sana. Mereka sekedar ingin bertemu dengan calon suami Nari yang katanya super duper bandel.
Charllote membawa Heru ke ruang kerjanya. Di sana Charllote menceritakan rencana pertunangan palsu antara Nari dan Rivan.
"Aku sih oke-oke aja, siapa tau Nari bisa jinakin Rivan. Entah si Sina ngidam apa kemaren pas bunting, tu anak bandelnya nggak ketolongan, seperti roda gila," celetuk Heru setelah mendengar dan memahami maksud Pertunangan palsu dari Charllote.
"Tapi Char, gimana kalau mereka beneran saling suka??, otomatis mereka bakal sering bareng kan, sering kencan tuh pastinya." Tambah Heru.
"Ya kawin beneran, ribet amat!."
"Nggak takut?? Rivan rada-rada sinting lho," tandas Heru. Dia nggak mau jual kucing dalam karung. Charllote sahabat terbaik dan rekan kerja yang baik pula, dia nggak mau hubungan baik yang terbina puluhan tahun, hancur karena hubungan receh para anak-anak mereka.
"Si Nari juga gila kali Her, santai aja," sahut Charllote nyengir.
Heru terkekeh dengan balasan Charllote. Setelah mereka mematangkan rencana, akhirnya mereka keluar dari ruang kerja Charllote dan mengumumkan pertunangan Rivan dan Nari. Selepas lulus sekolah mereka bakal resmi di nikahkan.
PRANG!! jus jeruk dalam genggaman Nari terjatuh ke lantai.
Jung bergegas menjauhkan Nari dari serpihan kaca"Makanya punya otak jangan di tinggalin sama orang lain," ujarnya melirik ke dalam mata Nari.
Entah Nari paham atau enggak dengan ucapan Jung, yang pasti sekarang Nari terkejut banget.
"Aku pusing banget, bang!," ujar Nari lirih membenamkan wajah dalam kedua tangannya.
Nyonya Sook yang memang sudah tau dengan kelakar sang suami berlagak setuju dengan rencana mereka
"Pah.. serius nih?? kok nggak ngomong sama Mamah dulu, Rivan biar bandel begitu juga anak Mamah kan," bisik Sina pada Heru.
"Untuk saat ini Mamah oke-oke aja dulu,entar di rumah Papah jelasin."
"Menikahi Nari?, serius?. tapi aku kok nggak bahagia?, seperti ada yang terlupakan," Rivan bergumam dalam hati dan memandang ke arah Nari, gadis itu masih menekuk wajah. Dia pasti sangat terkejut.
To be continued...
~~♡♡Happy reading. jangan lupa like, vote, fav, dan komen ya guys 😉😉😉
__ADS_1
Salam anak Borneo.
Tepian sungai arut. Pangkalanbun, 12 Februari 2023. Kalimantan tengah