Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Risau sang kembar


__ADS_3

21:23 Malam sebelumnya di kediaman Abraham.


Kekhawatiran menyelimuti pikiran Daniza, karena sikap Alex dan Aron sangat jelas menolak kepindahan mereka bersama Baba, ibu dari Daniza.


Di satu sisi Daniza sangat rindu ingin tinggal berdekatan dengan wanita hebatnya. Di sisi lain keinginan hidup damai dan penuh keceriaan bersama anak kembarnya.


Berbagai pikiran mulai bergelut dalam pikiran, hingga menimbulkan sikap sendu dan pendiam dari seorang Daniza.


Dia adalah orang tua tunggal yang sangat bertanggung jawab dan tegar pastinya. Di setiap hari dia selalu menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk mereka betiga, meskipun kesibukan menjalankan bisnis cukup membuatnya kerepotan. Sebisa mungkin dia selalu menyediakan masakan sendiri untuk anak-anak nya itu.


Bukan nggak ada pembantu di kediamannya, hanya saja kalau urusan makanan dia lebih mengutamankan hidangan yang olah olehnya sendiri, untuk mengungkapkan rasa perhatinnya kepada Alex dan Aron.


"Harus dengan cara halus," pikirnya malam itu. Melihat betapa frustasi nya Alex yang menyibukan diri dengan terus bermain basket, Daniza mengerti bahwa sang anak sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Juga Aron, pemuda yang biasanya ceria belakangan ini lebih sering menatap langit malam di atap rumahnya ketika malam hari. Terkadang dia hanya sekedar duduk termenung di jendela kamar yang menjadi jalannya menuju atap rumah itu.


Pikiran Aron bukan hanya, bagaimana jadinya ketika dia harus meninggalkan kota ini tanpa kepastian hubungannya bersama Nari. Dia juga harus memulai kehidupan baru di kota yang sangat asing baginya.


Itu memang kota kelahirannya, tapi mereka di sana hanya sampai dirinya dan Alex bersekolah di kelas 4 sekolah dasar.


Jika kembali ke sana dia harus menyesuaikan diri bersama orang-orang baru dan suasana baru pula.


Berbeda dengan Alex yang risau berlebihan, karena pikirannya terlalu fokus kepada Nari. Gadis itu sama sekali tidak menunjukan rasa ketertarikan kepada dirinya.


"Apa aku nggak sedikitpun membuat jantungnya berdegup kencang?," tanyanya pada diri sendiri malam itu.


Aron yang sedang memperhatikannya dari atap rumah merasa harus membicarakan sesuatu bersama nya"Lex, kamu nggak berniat mengatakan sesuatu kepadaku?," ujar Aron yang sekarang sudah berdiri di tepi lapangan basket.


"Enggak!," sahut Alex. Seperti biasanya, Aex selalu bersikap dingin kepada Aron.


"Ini tentang Naria," ucapan Aron menghentikam langlah Alex mengejar bola berwarna orange itu.


"Kita harus meluruskan masalah perasaan kita," tambah Aron lagi.


"Nggak ada yang harus di luruskan, kamu kan tahu banget bahwa aku sangat menginginkan Nari."


"kamu juga tahu kan kalau hati kita menginginkan wanita yang sama," sambar Aron dengan tatapan tajam kepada Alex, yang kemudian masih melanjutkan berolah raga malam.


"Sampai kapan kamu melampiaskan kekesalanmu pada bola itu," ujarnya dengan nada lebih keras, sebab merasa di acuhkan.


BRUK!!, sebuah hantaman mengenai tubuh Aron.


"Ayolah, bola ini nggak bersalah!."


Alex berniat merebut bola itu dari Aron.


"Aku akan mundur!," seru Aron.


Alex terdiam, kini netranya menatap dalam pada netra milik sang saudara.


"Jika kamu bisa mendapatkan jawaban iya dari Nari, aku akan menyerah," lanjut Aron.


"Terus, kamu??."


"Aku sangat menyukainya. Sayangnya Nari nggak merasakan hal yang sama. Aku nggak bisa memaksa dia untuk menyukaiku juga, bukan? Aku sudah berusaha dan hasilnya nggak ada, tak pernah sekalipun ku lihat cinta di matanya, saat beradu pandang denganku."

__ADS_1


Alex tersadar, nasibnya nggak ada bedanya dengan Nari. Dia bahkan rela menjadi anggota perpustakaan demi lebih dekat gadis cantik itu, dia juga rela menelan Strowbery yang sangat nggak di sukainya demi Nari. Tapi...dia pun nggak mendapatkan hasil yang memuaskan.


"Kok kamu diam?," hardik Alex"Gimana kalo besok kamu nembak Nari."


Perkataan Alex malah membuat Aron bingung"Sudah ku putuskan, aku mudur perlahan, bro!," ujar Aron lagi.


"Berjuanglah untuk terakhir kalinya!!," dan kali ini Alex mendukung saudara kembarnya itu.


Aron hanya bisa diam memandangi Alex, seakan paham dengan tatapan itu"Aku sudah berkali-kali di tolak, Ron. Kita memang di takdirkan sama,.selain dengan wajah yang sama,.jalan cinta kita juga serupa."


Ada rasa sedih mendengar ucapan Alex, namun entah kenapa Aron malah tergelak tawa"Ini membuktikan bahwa wajah sama kita ini nggak punya nilai lebih bagi Nari kan," ujarnya tertawa.


"Hahaha, betul juga. Dia terlahir dengan dua saudara laki-laki yang jauh lebih tampan dari kita, jelas saja kita bukan apa-apa di mata dia," kini Alex menambahkan.


"Hahahah!!," gelak tawa si kembar terdengar riuh di telinga Daniza.


"Akhirnya mas, sepertinya para penjagaku berdamai kembali," bisiknya pada diri sendiri. Seakan sedang bebincang dengan mendiang suaminya.


"Semoga saja mereka bersedia dengan ikhlas pindah ke tempat Baba nya, ya mas?," bisiknya lagi


......................


Nari tersungut-sungut memasuki area sekolah. Bibirnya masih terasa perih akibat plester yang berlapis-lapis Joen tempelkan di mulutnya.


"Untung nggak sampe dower, asem memang tu orang!!," gerutunya kesal.


Arin mengekor di belakang Nari tanpa berkata apa-apa. Dia sangat lelah untuk mengomentari prilaku sahabatnya itu.


Seseorang menarik ranse Arin, menariknya dengan isyarat agar tetap diam. Sesampainya di sudut sekolah Arin pun di sandarkan di tembok sekolah.


"Nari ngomelin apa sih?," tanya si penculik amatir tanpa menghiraukan omelan Arin.


"Kan tadi Narinya ada di depan mata, kok malah repot-repot bawa aku ke sini sih!," sentaknya kesal.


"Kamu tuh mending nanya sama Nari langsung! ah gerepotin deh," dengan kesal Arin berlalu dari hadapan Alex yang bengong melihat kemarahan Arin. Gadis itu berjalan sembari menghentak-hentakan kaki, wujud kekesalannya pada sikap Alex.


Seorang gadis yang biasanya ceria dan ramah tiba-tiba ngambekan dan pergi dari hadapannya tanpa permisi. Membaut Alex terdiam menyaksikannya"Cewek-cewek pada kenapa sih? apa mereka datang bulan berjamaah?," gumam Alex .


"Ngape bos kuuu!," egur Arkan yang mendapati si kapten basket bengong melongo menghadap tembok.


"Adakah sesuatu yang menarik di sana duhai paduka," ujar Arkan nyeleneh.


"Ada!! noh semut-semut pada kencan," sahut Alex asal.


"Pantesan bengong, semut aja resmi berkencan, eh si idola di lapangan basket ini statusnya masih gantung."


"Gimana kalau kamu yang aku gantung, mau?," lirik Alex sinis kepada Arkan.


"Bukan bubur, bukan kertas, kabur guys!!!," teriak Arkan melarikan diri dari hadapan Alex.


Kembali, Alex di tinggalkan sendiri menatap tembok sekolah"Oh lord!! mana pesona wajah rupawan yang engkau anugerahkan kepadaku?," ujarnya lirih.


Pemuda itu berjalan dengan langkah terseret.


"Pergi tanpa kepastian??."

__ADS_1


"Pergi setelah pamit baik-baik...??."


"Atau meminta kebesaran hatinya untuk berkencan dengan ku sampai masa sekolah selesai??."


"Akh!! aku kan kemarin udah di tolak!!!." suasana hati Alex tengah di landa angin puyuh, sebab cinta suasana hati yang biasanya aman sentosa itu menjadi porak-poranda. Dan naasnya, ini kali pertama Alex jatuh cinta, namun dirinya gagal untuk mendapatkan gadis sang cinta pertamanya itu.


"Eh!! aku enggak gagal!!," sergah Alex dalam hati.


"Perjuangan terakhirku belum terlaksana..!!".


Oke deh Lex, selamat berjuang deh. Seperti kata pepatah"Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina" tapi apa hubungannya dengan masalah Alex ya??


...💖💖💖💖...


*****Orang yang memberiku cinta. Yang kuinginkan itu adalah kau.


Orang yang kurindukan setiap harinya, itu kau juga.


Bukan karena kau yang membutuhkanku.


Tapi karena aku yang membutuhkanmu.


Itu karena kau. Satu-satunya dalam hidupku.


Orang yang kucari dan kutunggu selama ini.


Aku mencintaimu**


...........


Dengan mata berbinar binar Jung memandang Andrea yang sedang mencoba baju pengantin. Wanita itu terlihat sangat cantik di matanya. Sungguh Jung pengen peluk Andrea, tapi malu ada mbak-mbak yang bantuin Andrea mengenakan pakaian itu. Dia sangat gemas dengan Andrea saat itu.


"Oh Tuhan, cantik sekali wanita yang kau kirim untuk ku ini," gumam Jung.


Seorang mbak yang membantu Andrea tersenyum mendengar ucapan Jung. Meski pelan namun masih terdengar oleh mereka.


"Eh, kedengaran ya mbak?," ujar Jung tersenyum simpul.


Mbak itu tersenyum menanggapi"Nona memang cantik sekali, Tuan," sahutnya.


"Betul kan mbak? mbak juga mengakuinya, bukan?," celoteh Jung ini di jawab anggukan kecil dari mbak-mbak itu.


Wajah bersemu Jung mengundang tawa kedua pegawai itu, di balik tampang rupawannya Jung rupanya seorang yang romantis dan berhati lembut. Dia terlihat sangat menyayangi dan mencintai pasangannya. Seperti itulah tanggapan dari dua mbak-mbak itu.


"Gimana, sayang?," Andrea memperlihatkan penampilannya dengan lebih jelas.


"Sempurna!!," hanya satu kata itu yang Jung ucapkan, satu kata yang merangkum segala perasaannya.


Andrea pun tersenyum Lebar. Ah~~~ Jung sangat bahagia saat itu, sedikit lagi mereka akan bersama selamanya.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2