Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Sisi lain Rivan


__ADS_3

Rivan di kejutkan dengan kedatangan para bucin dan Nar,i lengkap dengan bodyguardnya. Mengingat waktu yang semakin mepet, para bucin mendesak Rivan untuk buru-buru ikut bersama mereka ke sebuah acara.


"Gila ya!! kalian mau ngawinin kami?," selidik Nari. Dia nggak berbeda dengan Rivan, demi mempersingkat waktu dirinya dan Rivan sekarang duduk manis di dalam mobil Papah Rivan, dengan Jung sebagai sopirnya. Hendro dan Fay yang ngikut nangkring di dalam mobil itu saling pandang. Oh ternyata mereka belum menjelaskan maksud dan tujuan mereka dengan jelas kepada Nari juga Rivan.


"Oppa! mau-mau aja jadi kang supir, pasti ini rencana kamu kan" tuduh Nari.


"Aku tendang dari dalam mobil, terus aku tinggalin di poros luar kota ini mau?? mulut kok ngomong se-enak jidat," sahut Jung santai namun membuat Hendro kembali bergidik.


"Bang----."


"Diem bocah!," Jung menghentikan kata-kata Hendro yang akan membela Nari lagi.


"Gara-gara ke-polosan kamu menghadapi Nari, Joen tadi hampir aja nabrak kucing. Aku kasih tau ya kalian harus hati-hati sama wajah imut ni anak."


"Ya elah bang, nyambar mulu kek bensin"


"Makanya ceritain sejelas-jelasnya sama pasangan edan ini. Aku korban lho di sini, malah di tuduh sebagai biang kerok" ujar Jung menyahut perkataan Fay.


And Bla bla~~~Akhirnya Fay dan Hendro bercerita panjang lebar tentang maksud dan tujuan mereka.


"Kok diem!" Nari mendapati wajah datar Rivan setelah mereka selesai bercerita.


"Hehehhe," Rivan tertawa canggung"Kamu beneran ogah nikah sama aku??"


"Iya!, aku sudah baikan sama Kai" jawab Nari tegas.


"Nar---."


"Bocah!," sentak Jung. Kedua matanya menatap tajam lewat kaca depan ke arah Hendro.


"Jangan paksain deh, Nari sudah gila sama Kai. Lagian nih Van, aku juga nggak setuju kamu sama Nari. Somplak begini dia masih punya hati kok, dan hatinya sudah di kasih semua sama Kai."


"Mati dong bang kalau Nari nggak ada hati" sahut Fay sinis. Nnggak berbeda dengan Hendro, mendapati Jung mendukung hubungan Nari dan Kai jelas membuat hatinya pedih. Tapi dari pada Nari sama Rivan, mending sama Kai aja deh.

__ADS_1


"Sebenarnya----."


"Aku tau kok, Van," Nari memotong kata-kata Rivan"Kamu sama seperti aku, hati kita sudah ada yang memiliki, kan?."


Rivan menggaruk tengkuknya"Hehehe diam-diam kamu dukun ya, Nar?."


"Cih, aneh deh liat kamu kalem kek begini, Van" Fay memalingkan wajah ke luar jendela. Hendro terlihat melengus kesal dan juga memalingkan wajah ke luar jendela.


"Ngomong-ngomong bang Jung memang mau jagain Nari kan" lirik Nari pada Jung. Teringat kata-kata Jung tadi tentang hatinya, nampaknya Jung paham betul dengan perasaannya.


Si abang ngeles kek bajay"Dih pengen muntah!!" sahut Jung memanyunkan bibirnya pada Nari.


Kelakuannya di tanggapi Nari dengan senyuman. Dia tau sejulid apapun Jung tetaplah abang tersayangnya.


Di mobil lain Zaid dan Kevin bersama Joen sedang menerka-nerka adegan Rivan yang akan bertemu dengan Niki.


"Kira-kira mereka bakal terpana apa langsung pelukan ya??"


"Main peluk aja, otak kamu ngeres nih" Kevin menoyor kepala Zaid. Dengan ringan dan gemulai tangan yang telah menoyor kepala sang ketua osis bersandar di pundak Zaid.


"Iya tau itu kepala, di gunain buat mikir yang baik-baik, bukan yang mesum-mesum," jari telunjuk Kevin nangkring di pelipis Zaid.


Krak!! Zaid menggenggam erat jari telunjuk Kevin.


"Aw aw aw ...sorry!! sorryyyyy" jeritan Kevin terdengar syahdu dari dalam mobil Joen.


"Berisik akh!! paling juga langsing cipika-cipiki" Joen ikutan berkomentar.


"Aduh bang, dewasa banget langsung maen *******. Kita-kita masih bau kencur kali bang," tandak Kevin lagi sambil meringis.


"Eleh!!sok kalem kamu, kalau aku setujuin kamu pacaran sama Nari gimana?? dengan syarat nggak boleh kamu tipokin tu bocah sampai umur 30 tahun?," ujar Joen sambil melirik Kevin sekilas.


" Ahahahha nggak sampe umur 30 tahun juga dong bang, ini bibir perlu asupan juga kali."

__ADS_1


"Nah itu!! Memang muna kamu Vin, pake noyor kepala aku pula," lirik Zaid sembari bersiap membalas toyoran Kevin padanya barusan.


"Sudah bro!! nih jari aku sudah kamu kritingin," dia berusaha menghentikan serangan Zaid lagi.


"Cih..!!," ujar Zaid berdecih kesal.


"Memang muna sih" sambung Joen.


"Yah masuk perangkap deh, nih toyor aja dah," dengan ikhlas Kevin menyerahkan kepalanya kepada Zaid. Melihat tingkah bocah mereka Joen berkekeh geli. Wajah rupawan mereka nggak sebanding dengan tingkah nyeleneh mereka.


Joen memacu mobil menyusul Jung yang semakin melaju cepat. Nggak berapa lama mereka berhenti di sebuah persimpangan, nampak seorang gadis sedang menunggu mereka di dalam sebuah mobil.


"Lho...kok sendirian??," kevin sontak langsung keluar mendapati orang yang sedang menunggu mereka di gelapnya malam. Meskipun dalam mobil, itu cukup berbahaya bagi seorang gadis sendirian di poros luar kota seperti sekarang ini.


"Ih...baru nugguin bentar doang kok," Angela membuka pintu depan dan berbincang dengan Kevin di luar mobil.


"Ehem!!" Sentak Jung.


"Aku bareng kamu aja ya, kalau tau kamu sendirian mending aku sama kamu aja dari tadi," Kevin nggak menggubris sindirian Jung.


"Pede bener dah, sama aku aja neng Angela. Bahaya deket-deket sama Kevin, ni anak belum di vaksin."


Sepasang mata tajam menatap Zaid lekat lekat.


"buruan deh, sudah hampir jam 7 nih" tambah Jung melirik jam tangan yang dia kenakan.


"Iya deh, kamu ikut aku ya" Angela segera memasuki mobilnya. Sebelumnya dia melambaikan tangan pada Rivan yang terlihat kalem malam ini. Dia yang biasanya bar-bar tetiba banyak diam.


Ada apa dengan Rivan??.


To be continued...


~~Happy reading. jangan lupa like Vote dan Komen guys.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2