Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Tapak Bae


__ADS_3

Siang menjelang sore di kediaman Charllote .


Si kecil Bae sangat lincah berlari kesana dan kemari dengan kaki kecilnya. Balita berusai 27 bulan itu sangat gembul dan menggemaskan, dia juga sangat aktif dan sangat membuat sang mamah kewalahan. Sang kakek sampai harus memasang pintu pagar di depan tangga, demi keamanan cucu semata wayang.


Sruk sruk!!, jemari kecil itu menarik ujung rambut bunda Andrea, yang sedang tidur siang. Nggak ada respon, Bae kembali menarik rambut Andrea.


Sruk sruk!! kembali jemari kecilnya mulai memainkan helai rambut panjang sang Bunda. Namun entah terlalu nyenyak tertidur atau memang enggan meladeni kejahilan si Bae saja, Andrea masih tak merespon sapaan bocah itu.


"Dunda~~~," panggilnya dengan mulut manyun-manyun.


"Ung...dunda!!." sepertinya Andrea benar-benar tidur.


PLAKKK 👋!!!PLAKKK👋 !!!PLAKK!👋. Tapak naga Bae yang pernah di ungkapkan Nari, akhirnya di rasakan Andrea.


Awhhh!!! Andrea menjerit. Dia langsung beringsut dari kasur empuknya dengan kedua tangan memegangi kedua pipi"Bae...., kenapa bunda di pukul!?," lirih suara Andrea menahan perih.


"Mamam yu!."


"Hoel!!," Andrea nggak jari marah saat melihat tatapan genit Bae, hilang sudah rasa perih di kedua pipinya.


"Aigooo, sayang bunda mau mamam apa?." Cubitan gemes mendarat di pipi Bae.


"Mam loti onti Alin," sahutnya.


Mereka hanya berdua saat itu, Jung masih belum pulang dari kampus, sedangkan Ghina dan Nyonya Sook juga masih berada di toko bunga.


Andrea memang meminta agar Bae bersamanya saja ketika Ghina pergi ke toko bunga, bersama sang mertua. Berbeda dengan Ghina, sejak menikah setahun yang lalu dia belum mendapat kepercayaan dari sang maha pencipta. Ya sudahlah, masih ada Bae yang selalu menebar kebahagiaan di kediaman Charllote, bukan?!.


"Heemmm oke, kita akan berangkat. Tapi, Bunda minta maaf ya sudah ninggalin Bae bobo sendiri di kamar. Bunda ketiduran sayang," memeluk erat sembari menggiring Bae kembali ke kamarnya.


"Tentana dunda," twinks si kecil Bae membuat Andrea tertawa geli. Baru berusia dini saja Bae sudah sering mengedipkan mata kepada lawan jenis, juga sering mengundang perhatian lawan jenis. Gimana nanti kalau sudah besar ya?.


Andrea dan Bae terlibat perdebatan kecil perihal outfit yang akan Bae kenakan. Si kecil memaksa hendak menggunakan kaca mata hitamnya, sedangkan Andrea bersikeras melarangnya.


"Bae, buat apa kacamata hitam itu? lagi pula itu kebesaran. Punya Ayah Jung!," hardik Andrea berlagak sedang marah, padahal hanya sedang bernegosiasi secara halus.


Terobsesi dengan ketampanan dan selalu ingin terlihat keren, membuat Bae haus akan mode dan style yang sedang booming"Bae pintam ayah," ujarnya berucap dengan celoteh menggemaskan.


"Oke, tapi ini belum bisa Bae pakai, nanti kalau sudah besar baru bisa," tegas Andrea..


"No~~~," Bae menggelengkan kepala. Dia tetap merengek menginginkan kaca mata itu.


Sang bunda melenguh, dan akhirnya dia menyerah"Ya sudah, terserah Bae saja. Ayo cepat berangkat, bunda sudah lapar," serunya dan di sambut gelak tawa bahagia Bae.


"Momawooo!," ujar Bae senang dengan bahasan yang belum jelas, namun sudah bisa di pahami para penghuni kediaman Charlotte.


"De~~~~," sahut Andrea hanya dapat tertawa melihat tingkal lucu nya.


Tak perlu waktu lama Bunda dan Anak itu melenggang menuruni tangga.


"Bi, kalau Nari pulang bilangin kami ke kedai Arin ya," Andrea berucap pada Bibi An sekalian untuk pamit.


"Iya Non, siap," jawab bibi An mengacungkan jempol.

__ADS_1


Senandung keceriaan terdengar dari mulut Bae, dengan celotehnya yang terdengar sangat lucu. Bocah itu sedang berada di fase keingin tahu-an atas segala hal. Selalu meminta penjelasan tentang hal yang baru baginya.


"Apa Bae senang?," tanya Andrea.


"He-em!," sahutnya sambil mengangguk.


"Mau kemana kita?."


"Loti onti Alin!!," serunya senang dengan tangan mengepal di udara, seperti hendak terbang.


Sebelum ke kedai Arin tentu saja mereka terlebih dahulu ke toko bunga yang berseberangan dengan kedai Arin.Ghina begitu senang mendapati sang putra telah hadir di hadapannya.


"Ganteng nya mamah sudah mandi?."


Bae menarik leher sang Mamah"Bewum," malu-malu membisikan kondisinya yang baru bangun tidur, hanya berganti baju dan langsung melesat ke sini.


"Omooo, aroma apa ini!!," pekik Nyonya Sook menggoda Bae.


"Hemoni!!!," hardiknya kesal.


"Hahhhha, Nenek bergurau sayang. Sini peluk nenek."


"No~~~!!," sahut Bae jual mahal.


"C'mon dunda kita mamam," tunjuknya ke arah kedai Arin.


"Oke sayang, sorry ya mah kami mau kencan dulu," Andrea menggendong Bae menyebrangi jalan dan menurunkannya ketika hendak memasuki Kedai.


"Yah, sepertinya Gen di dalam tubuhnya telah di telan habis oleh Gen Jung, sang Paman narsis," celetuk Nyonya Sook.


"Tapi judes seperti papah nya dapat kok, Mah," sahut Ghina lagi.


Mereka tertawa bersama. Dari kecil sekali Bae memang cenderung kepada Jung. Dia lebih sering bersama Jung ketimbang sama Joen yang memang selalu sibuk ngantor.


Berbeda dengan Jung sang dosen yang notabenenya akan stay di rumah ketika jam mengajarnya telah usai. Di tambah dengan Andrea yang juga sangat cocok dengan Bae, alhasil Ghina sebagai mamah kandungnya merasa jadi selingkuhan Bae saja, sedangkan Andrea sebagai kekasih sejatinya.


Namun terlepas dari itu, mereka semua saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain dalam mengasuh Bae.


...🐧🐧🐧...


Gerimis melanda ketika jam pelajaran di sekolah Nari telah berakhir. Arin yang sedari tadi di tunggui sang ayah sudah pulang duluan, setelah Nari memintanya untuk pulang saja.


"Hati-hati, babe!," lambaian tangan Arin meninggalkan Nari yang masih menunggu jemputan di halte depan sekolah.


"Babe!!," aku duluan yaaa!!," pekik Febby berteriak di jendela mobil.


"Yoooo, hati-hati," balas Nari mengacungkan jempol.


Akhirnya Febby pun pulang duluan setelah hampir 10 menit bertahan memaksa ingin mengantar Nari pulang.


"Mr.Joe sudah on the way, Febby," kali kedua Nari mengucapkan kata-kata itu.


Rintik hujan bertahan cukup lama hingga membuat genangan di jalan aspal yang sedikit cekung ke dalam. Jemari lentik Nari menjulur ke depan mencoba merasakan tetesan air hujan yang menyapa bumi.

__ADS_1


"Aku antar ya," seorang cowok berwajah imut menegur Nari.


"Nggak usah, yang jemput sudah di jalan," sahut Nari. Nggak lupa dia melempar senyum manis kepada cowok yang baru beberapa hari yang lalu, berkenalan secara resmi dengannya.


Sembari menutupi kepala dengan kedua tangan, cowok itu turun dari mobil dan duduk di kursi halte .


"Kamu ngapain?," tanya Nari.


"Nemenin kamu," sahutnya dengan melipat kedua tangan di dada. Tubuh tegapnya bersandar di kursi halte.


"Anak-anak yang lain juga ada," Nari menunjuk kerumunan siswa-siswi yang juga berteduh bersama mereka. Bisikan mereka jelas membicarakan Nari yang selalu di kelilingin para pujangga, namun terlalu berharga bagi Nari jika harus menanggapi gunjingan unfaedah mereka.


Cowok imut itu juga cuek nggak peduli dengan bisik-bisik orang sirik, dia tetap anteng duduk dan melempar senyum manis kepada Nari.


"Kamu tuh di ciptain sang pencipta sama senyum ekstra ya?," sungut Nari sambil ikut duduk di sampingnya.


"Maksudnya?," tanya cowok itu memasang wajah penuh tanya.


"Semenjak kenal kamu aku selalu lihat kamu senyum-senyum melulu. Sesekali nangis dong," ledek Nari meliriknya dari atas sampai ke bawah.


"Hehehe, aku memang selalu tersenyum. Tapi semenjak kenal kamu sindrom smile ku semakin parah tahu. Apa lagi kalau kamu liatin seperti itu," tersenyum lebar memperlihatkan gigi putih nan rapi.


"Dasar anak kemarin, manis banget mulutnya!," sentak Nari menepuk lengan Hendro.


Yah cowok imut itu adalah Hendro. Anak kelas sepuluh yang godain Nari melalui pesan gelembung hijau tanpa malu-malu. Orangnya selalu To the point dalam mengungkapkan perasaan kepada Nari. Intinya ini cowok siap bersaing dengan para kakak-kakak kelas lain dalam memenangkan hati Nona manis dari keluarga Charllote.


"Kamu pernah makan bareng Ikbal ya?," sudah lihat pake di tanyain, dungu juga si Hendro ini.


Nari mengangguk"Iya, beberapa hari yang lalu. Ternyata ikbal jago masak lho, aku baru ngerasain masakan dia," jempol Nari teracung sepasang, menggambarkan kepuasannya pada masakan Ikbal.


Hendro menatap langit yang masih di selimuti hujan dan berkata tiba-tiba"Naria, kita pacaran yuk," di luar dari tema pembicaraan mereka, si adik kelas ini tanpa ragu mengungkapkan perasaanya kepada Nari.


"Kamu ngerti tentang cinta?."


"Ngerti dong, sekarang aku lagi ungkapin perasaan cinta," sahutnya. Rintik hujan semakin deras, membuat percikan air menerpa seragam putih abu-abu Nari.


Hendro langsung melepas jaket dan memasangkan ke tubuh kecil Nari. Momen ini membuat para netizen di sekitar mereka semakin berbisik membicarakan mereka. Meskipun lebih muda dua tahun dari cewek yang di sukainya, namun tubuh Hendro jauh lebih tinggi dan tegap ketimbang Nari. Maklum saja, Naria kan memang mini-mini gitu. Hendro menarik Nari ke sudut dinding halte berhadapan dengannya, dan melindungi Nari dari percikan Air hujan.


"Naria, cepat besar dong! jaket aku hampir menelan tubuh mini kamu," celotehnya. Wajahnya imut itu sangat dekat dengan Nari. Jika Nari mendongakan kepala mereka pasti akan langsung beradu pandang, Nari akan terpaku dalam tatapan lembut si Hendro ini .


Tiitttt!! suara klakson mobil, Mr.Jae datang.


Nari yang sedikit merona menepuk kedua pipinya"Jemputanku!!, aku pulang ya," ujarnya gegas berlari ke arah mobil.


"Hati-hati Nari," seru Hendro menyugar rambut, menambah kadar ketampanan bocah ini di mata Nari.


"Dasar bocah, kamu bahkan nggak mau memanggilku dengan sebutan kakak. Jadi kamu berniat menjadi pacarku?," gumam hati Nari.


To be continued..


~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ^,^ .


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2