Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Celengan Angsa


__ADS_3

Pintu gerbang kediaman Charlotte kembali sunyi, usai sang Nona muda kembali dari sekolah. Mr.Jae menyapa Naria, dan gadis itu tersenyum membalas sapaannya. Akh! hati orang tua itu tiba-tiba mencelos, di saat dirinya nggak bisa membantu, untuk sekedar mengantarkan dan menjemput sang Nona muda ke sekolah, gadis itu masih bersikap ramah kepadanya seperti biasa.


Merenung, jalan cinta Naria dan Kai mengingatkan dirinya akan kisah cintanya dahulu. Di usia remaja.Mr.Jae pernah menjalin cinta dengan putri keluarga kaya raya, hubungan mereka begitu indah, hari-hari mereka selalu cerah, namun awan hitam itu tiba-tiba datang dan mengguncang ketenangan mereka, sebab sang ayah dari kekasihnya saat itu nggak merestui mereka. Dan itu karena....dirinya orang nggak punya.


TIN TINNNN!! suara teriakan klakson mobil sang Tuan besar, memecah lamunan Mr.Jae, menariknya untuk kembali dari perjalanan singkat berwisata pada masa lalu.


"Mr sakit?."


"Maaf Tuan, saya melamun," jawab pria tua itu. Tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang untuk sang Tuan besar.


"Kalau sakit istirahat saja, Mr," ucap Tuan Charlotte, memperhatikan lamunan Mr.Jae tadi, seperti ada beban yang hinggap di pundaknya.


Tertawa cengengesan"Enggak Tuan. Saya sehat banget kok. Tadi cuman melamun saja."


"Oh...., ya sudah. Nari sudah pulang?."


"Iya Tuan, sudah pulang."


Sepasang alis tebal Tuan Charlotte beradu"Pulang sendiri? naik bus?."


Mengulum bibir, seolah ragu untuk menceritakan apa yang dia lihat tadi.


"Mr.jae....melamun lagi?."


"Ah, enggak Tuan. Anu....tadi Nona Nari pulang di antar Nak Kai."


Mendengar nama Kai, sontak bibir pria tinggi tegap bahkan di usia senja itu terkulum ke dalam. Jadi...pemuda itu masih menjaga putrinya.


"Baiklah. Saya masuk dulu. Mr.Zak, tunggu di sini saja. Saya hanya akan mengambil berkas sebentar."


Titah sang Tuan besar itu di angguki Mr.Zak, tukang kebun yang sekarang naik jabatan menjadi supir pribadi.


Nyonya Sook merangkul lengan sang suami, saat di lihatnya pria itu masuk ke kediaman mereka"Sudah pulang, Pah? hari ini pulang cepat?."


"Enggak, ada berkas yang tertinggal."


Nyonya Sook melirik wajah sang suami, melihat gelagat pria itu yang seperti sedang mencari seseorang, Nyonya Sook pun tersenyum samar.

__ADS_1


"Berkasnya kan bisa di antar pelayan, kenapa harus Papah yang langsung mengambilnya ke rumah. Nggak capek bolak-balik di perjalanan?," sengaja, Nyonya Sook memancing obrolan ini. Dia tau, meski masih marah dan sedang memberikan hukuman kepada si bontot, Charlotte nggak bisa benar-benar menghukum gadis petakilan itu.


"Papah kangen sama Mamah," dan jawaban Charlotte membuat Sook tertawa, dengan anggun menutup mulut saat tertawa.


"Oho, jadi hari ini kadar cintamu kepadaku lebih besar, sayang?."


Mengangguk, dengan wajah tersipu malu"Tentu saja. Setiap hari kadar cintaku selalu bertambah kepadamu, Sayang."


mengangguk dalam senyuman"Oh ya?. Lantas, bagaimana dengan kadar cintamu pada putri kita?."


Seketika wajah ceria Charlotte berubah masam"Ck! gadis petakilan itu? di mana dia sekarang?."


"Di kamarnya, mungkin. Apa Papah tau, dia pulang sambil bersenandung. Mamah nggak yakin dia menyesali perbuatannya kemarin-kemarin. Hem.... bagaimana kalau hukuman dia di ganti yang lain saja. Misalnya nggak boleh nambah koleksi pernak-pernik Idolnya. Atau, papah ganti hukuman yang lain aja."


Melepaskan pelukannya, Tuan Charlotte mundur beberapa langkah. Mengambil duduk pada kursi di ruang keluarga.


"Maksud Mamah, papah kembalikan semua fasilitas milik Nari? uang jajan, transportasi sekolah?."


Mengangguk dengan senyuman menawan, dia tau Charlotte sangat menggumi senyum nya itu"Febby menjemputnya tadi pagi. Dan siang ini dia pulang di antar tukang ojek."


"Bukan ngintip, mamah cuman stay di depan layar CCTV rumah kita aja. Nari pasti mengamuk kalau dia lihat Mamah memantau pergerakannya."


"Kata Mr.Jae, Kai yang mengantar Nari pulang. Bukan kang ojek."


Wajah Nyonya Sook sumringah"Oh ya?? Mamah cuman fokus sama motor bututnya, jadi Mamah kita itu kang ojek, soalnya mukanya ketutupan helm. Oh, jadi Nari nggak keberatan naik motor butut sama pacarnya si Kai itu?."


"Ya gitu, kata Mr.Jae sih begitu," ada rasa cemburu, membayangkan Nari tersenyum di boncengi Kai. Ck! sebesar apa sih cinta Nari pada pemuda itu? sampai rela naik motor butut dan rela bertengkar dengannya.


Sebagai Ayah, sebagai cinta pertama sang anak perempuan, hati Tuan Charllote merasa tersaingi atas kehadiran Kai ini. Jika menuruti aturannya maka hidup Nari akan terjamin, serba berkecukupan seperti biasanya. Tapi Nari malah memilih bersama Kai, pria miskin yang bahkan motor pun terlihat seperti rongsokan.


Waktu terus berlalu, terlalu lama hanyut dalam pikiran rasanya nggak baik, Charlotte harus segera kembali ke kantor.


"Aku masih menyelidiki pemuda itu," gumamnya.


Sook tersenyum, sebenarnya dia telah menyelidiki sosok Kai ini lebih dulu. Mungkin, Charlotte akan terkejut jika mendapatkan semua informasi tentang Kai, tentang keluarganya, terlebih tentang mendiang Ayahnya.


............

__ADS_1


Di kamar, Nari teringat dengan celengan angsa miliknya. Dia ingat betul pernah membeli celengan itu tapi di mana letaknya?. Rasa penasaran membuat Nari mencari celengan, hingga kamarnya berubah menjadi sangat berantakan.


"Bibi!!!!," suara teriakan Nari, menggelegar, membuat para pelayan wanita berdatangan ke lantai atas.


Teriakan itu berhasil mengumpulkan lima pelayan wanita di kediamannya.


"Kamar Nari berantakan, tolong beresin ya. Terus....," Nari memperlihatkan foto sebuah celengan di ponselnya.


"Aku sedang menacari celengan ini. Sambil beres-beres kamar, kalian cari celengan ini ya. Aku yakin ada di kamar ini kok."


"Naik Nona," sahut mereka serempak.


"Bibi An, tolong bawakan Nari minuman kaleng dingin ya. Sama cemilan. Nari tunggu di balkon kamar ya."


Bibi An segera melaksanakan perintah sang Nona muda. Gegas wanita tua itu mengayun langkah menuju dapur di lantai bawah.


Nyonya Sook yang sedang cuti ke toko bunga, melontarkan pertanyaan pada bibi An. Teriakan Nari juga terdengar di telinganya.


"Ada apa, Bi? Nari bikin masalah?."


"Enggak Nyonya, Nona hanya minta tolong bereskan kamarnya saja. Saya di minta membawakan minuman dan cemilan."


"Terus sama minta cariin celengan, Nyah," lanjut Bibi An.


"Celengan?," ucap Nyonya Sook dengan nada bertanya.


"Iya, Nyonya. Celengan berbentuk angsa. Katanya pasti ada di dalam kamarnya. Mungkin karena mencari celengan itu kamar Nona jadi berantakan," sahut bibi An.


Nyonya Sook jadi memikirkan celengan itu. Untuk apa Nari mencari celengan?. Melihat sang Nyonya terhanyut dalam pikiran, bibi An pamit undur diri ke dapur, yang kemudian di angguki Nyonya Sook.


"Celengan?, Nari mau menabung?, jatah jajan kan nggak di kasih? memangnya dia mau menabung pake uang dari mana?." Pikiran itu mulai mengusik Nyonya Sook. Kelakuan Nari memang sulit di tebak, akh! celengan itu benar-benar menjadi tanda tanya!!!.


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2