
Kembali ke Villa dengan wajah sumringah senang, sangat berbeda dengan wajahnya saat meninggalkan Villa. Riak bahagia di wajah Bisma tentu mengundang tanya, Zaid yang penasaran lebih dulu melontarkan tanya kepadanya.
"Bisma, kamu nggak kesambet setan kan?. Habis jalan-jalan sendiri di pedesaan kamu pulang dalam keadaan senyum-senyum seperti ini."
"Tahu nih" ujar Ikbal.
"Lama loh kami nyariin kamu, mana ketemunya di depan pohon besar pula!" imbuh Fay.
"Kamu nggak abis diculik wewe gombel kan?." Si Keano bertanya bawa-bawa alam sebelah. Mereka yang ada di sana seketika merasakan buku kuduk meremang.
Memutar bola mata ke atas, Bisma kemudian berkata"Guys, gimana kalau gadis yang kalian sukai bisu?."
Zaid, Ikbal, Fay, Keano saling berpandangan. Sedangkan Kevin duduk di pojokan namun masih mendengarkan obrolan mereka.
"Memangnya kenapa dengan cewek bisu?. Kalau kamu merasa cocok dan nyaman sama dia, nggak ada salahnya kan?." Kevin menanggapi.
"Kalau itu Angela, apa kamu bisa nerima?."
"Bisa" ujarnya yakin. Sedangkan Fay menggeleng, sangsi akan jawaban Kevin atas tanya yang dia lontarkan.
"Bro, cinta itu nggak harus sempurna. Semua berawal dari dalam sini" menekan letak hati, Kevin bersikap layaknya lelaki sejati.
Udin baru datang dari arah halaman"Ngomong apa sih, pake bawa-bawa hati."
"Nah, tanya sama yang baru jadian aja" saran Ikbal"Kalau aku sih, mikir-mikir dulu. Bukan bermaksud merendahkan. Aku takut nggak bisa memahami dirinya, jadinya bukannya bahagia, dia malah jadi sedih karena aku nggak peka."
Mengambil duduk di pagar Villa"Ini tentang apa sih?" Udin sungguh penasaran.
Membenarkan duduknya, Bisma pun bercerita tentang Azalia pada mereka. Mumpung para cewek belum bergabung, Bisma meminta pendapat murni merasa sebagai lelaki.
"Gadis bisu dan tuli. Sulit ya" gumam Udin meletakan jemari di bawah dagu.
"Tapi ini tergantung kamu sih. Yang menjalani kan kamu, kami hanya bisa memberikan saran."
"Jadi, bagaimana pendapat kalian masing-masing."
"Kalau itu Arin, karena kami di jodohkan aku nggak bisa menolak." Ujar Fay.
__ADS_1
"Kalau itu Greta, karena aku sudah cinta mati sama dia, hal itu bukanlah apa-apa buat aku" Udin tanpa malu mengakui cintanya di depan teman-teman.
"Dasar bucin!" hardik Kai yang baru muncul.
"Kalian ngapain sih? katanya mau barbeque-an. Aku sama Udin udah bangun tenda tuh."
"Kamu juga, di minta manggilin mereka malah ikutan nongkrong di sini." Udin terkekeh, dia lupa akan titah Kai padanya.
Daripada menanggapi aja kan Kai, mereka semua yang terlanjur penasaran dengan Azalia juga meminta pendapat dari orang yang lebih tua dari mereka itu.
Sama seperti apa yang Udin kataka. Kai juga beranggapan bahwa semua itu tergantung dari Bisma sendiri. Sebab dalam hubungan ini dirinya yang menjalani, bukan orang lain.
"Tapi ceweknya gimana?. Biasanya orang seperti dia memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi. Mereka sulit di dekati karena sadar akan perbedaan mereka."
Bisma belum bilang kalau Azalia menolak memberikan nomor ponsel padanya. Demi mendapat saran terbaik, dia pun mengungkapkan hal itu. Juga tentang kisah Azalia yang pernah di kecewakan di masa lalu.
"Yakinkan dulu dirimu. Jangan hanya karena cinta pandangan pertama, kamu terlalu bersemangat ingin memilikinya. Setelah menyadari bahwa itu bukanlah rasa cinta, kamu hanya akan menyakiti perasaannya."
"Kakeknya memiliki kedai di dekat pohon besar tadi. Aku berniat mengajak kalian ke sana malam ini."
"Hemm, jalan-jalan lagi ya?" gumam Ikbal.
"Namanya juga kedai, berarti tempat orang berjualan makanan dan minuman" sarkas Keano.
"Aku capek kalau harus masak lagi" memberi kode bahwa dia bersedia pergi ke kedai itu.
"Kalian gimana?."
"Kamu yang bayarin ya?" sumber uang meminta traktiran pada rakyat biasa, ini nggak salah?.
"Zaid, uang kamu nggak akan habis sampai tujuh keturunan. Sekarang nggak punya malu minta di traktir sama aku?. Uang aja masih minta sama orang tua."
"Ya udah kalau gitu ke aku nggak akan ikut" Zaid terkekeh seraya berkata seperti itu.
Niat untuk mengerjain Bisma muncul secara alami pada diri mereka masing-masing. Mereka semua kompak mengikuti jejak Zaid, yang menolak pergi ke kedai itu kalau nggak ditraktir oleh Bisma.
"Wah kalian gak adil. Tapi demi rasa penasaranku terhadap Azalia, aku bersedia mentraktir kalian semua malam ini." Ujar Bisma akhirnya, sesekali boleh dong kasih traktir kepada mereka, daripada dia penasaran terhadap gadis itu.
__ADS_1
Kabar itu sampai kepada para cewek-cewek di tenda. Mendengar bahwa Bisma ingin menemui seorang gadis, tentu mereka sangat antusias. Jujur saja mereka merasa kasihan melihat Bisma, yang terus meronta karena nggak mempunyai pasangan. Lain halnya dengan Ikbal, meskipun nggak mempunyai kekasih dia nggak terlalu memusingkan masalah itu. Baginya masa muda itu cukup dinikmati bersama teman-teman, nggak harus memiliki pasangan.
Setelah meminta izin pada orang tua, akhirnya segerombolan anak muda itu kembali menyusuri jalan setapak di perkampungan yang indah itu, menuju kedai milik Kakek Barack. Ternyata suasana malam di perkampungan itu juga sangat indah.
Pepohonan dan bunga-bunga dihiasi dengan lampu berwarna-warni. Air mancur di dekat pohon besar itu juga menyala di malam hari, lengkap dengan lampu yang menghiasi tepiannya.
Berkali-kali para cewek berseru, senang menyaksikan keindahan di malam itu.
"Kalian seharusnya memberikan hadiah kepadaku. Karena gara-gara aku mengajak kalian turun ke perkampungan ini, cewek kalian pada kesenangan tuh" tukas Bisma mendengar decak kagum Arin, Nari, Greta dan Febby.
Saat hendak berbelok ke kedai tersebut, ada sebuah lampu yang enggak menyala. Febby pun ingin menyentuh lampu yang mati itu. Namun Zaid segera menarik lengan gadis ini"Hati-hati kalau sama listrik, kamu nggak takut mati kesetrum."
"Zaid!!. Kamu nyumpahin aku mati kesetrum?" Seru Febby dengan suara yang meninggi.
"Bukan begitu!. Aku hanya memperingatkan. Kamu lagi datang bulan ya? aku perhatikan dari kemarin kamu sensi banget."
Cieee ~~. Mereka sontak meledek Zaid yang ternyata, memperhatikan tingkah laku Febby sejak beberapa hari yang lalu.
Sempat meletakan tangan di pinggang Febby, Zaid langsung membangun jarak diantara mereka karena ledekan itu"Dia kan salah satu teman kita, jadi nggak salah kan kalau aku memperhatikan dia. Lagi pula dia kan biasanya pecicilan, biasanya cerewet, biasanya nggak bisa diam. Tiba-tiba jadi uring-uringan kan tentu menimbulkan tanda tanya!." ujar Zaid beralasan.
Arin mencibir, sedangkan Febby membuang muka.
"Sut, di perhatiin tuh sama Zaid" Greta senang menggoda orang yang sedang malu-malu seperti ini.
"Dia kan ketua OSIS, jadi wajar dong kalau dia memperhatikan kita."
"Memangnya apa hubungan ketua OSIS dengan memperhatikan kita?" Fay bersuara.
"Akh!! sudahlah. Itu kan kedai nya?. Ayo cepat kita ke sana, aku sudah lapar" Zaid mencoba mengganti topik obrolan mereka.
"Iya nih, aku juga lapar" sahut Febby.
"Waahhh, aku jadi deg-degan mau ketemu Azalia" giliran Bisma yang bersuara.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.