
...โก Jika tak berjumpa denganmu,...
...Sebuah luka tak kan bersarang di hatiku....
...Namun, aku masih saja mencintaimu....
...Jika tak berjumpa denganmu,...
...Dimana pun aku berada tak kan pernah sebuah sesal berani menyapaku....
...Tapi sayangnya segalanya telah terlambat,...
...Apapun itu aku tak bisa menjadi diriku lagi....
...Semua ini karena Rindu......
...Rindu yang membuat mataku selalu ingin menangis ketika hujan turun...
...Apa kau juga terperangkap dalam ruang rindu seperti diriku?โก Nari...
...๐๐๐๐...
"Jahat!!," tepian mata Nari mulai terlihat basah.
Jung mendekatinya, meletakan tangannya di atas kepala Nari"Ini kepala apa batu sih, ngaku aja kalau kangen."
Tangan hangat Jung di tepis Nari kasar"Sok tau! ngapain nunjukin chat sama tu anak. Mau pamer??, apa hebatnya berbalas chat sama si pengecut kaya dia!!," Nari kesal sekaligus iri dengan Jung. Selain hampir setiap hari bisa ketemu dengan Kai, dia juga nampak akrab berbalas chat dengan Kai.
"Naria---."
Tangan Nari menyanggah kata-kata Jung. Sampai detik ini dia masih menolak perasaannya yang nggak berubah sedikitpun terhadap Kai.
"Ya sudah," bahunya mengendik.
"Aku balik deh. Kasihan bini di rumah telat ketemu suami cakepnya gegara si cebong sawah," Jung kembali se-lengean seperti biasa. Sangat jarang dia menunjukan sikap hangat dan perhatian pada Nari. Hal itu akan terjadi jika dia merasa masalah para saudaranya dalam keadaan darurat saja. Seperti kali ini, kebodohan Nari yang pasrah mendapat hukuman nggak masuk akal, hingga mengharuskannya menikah dengan lelaki yang nggak dia cintai sedikitpun.
Bagi Jung bukan jaman lagi jodoh-jodohan, apalagi gegara bolos sekolah. Si Papah pinter banget ngasih hukuman si bontot. Jung nggak yakin ini semata kebetulan atau memang ada dasar perjodohan tersembunyi yang sang Papah rencanakan bersama sahabatnya itu.
"Berapa lama kamu bertahan memakai topeng kenaifan itu? kalau aku sih jangankan pake topeng, pake masker aja sudah sesak napas apalagi pake topeng, topeng kebodohan pula!."
__ADS_1
Brak!!!!, pintu di tutup kasar. Jung melangkah keluar kamar dan meninggalkan Nari yang terlarut dalam pikiran kacau itu.
Nari memegangi letak jantungnya. Saat itu dia bergumam pada sang hati yang kadang resah entah kenapa. Setiap kali Kai lewat dalam pikirannya, maka sang hati akan berdetak dengan cepat. Kadang membuatnya panas dingin, tak jarang pula membuatnya lemas tak berdaya.
"Oh hati, berhentilah bersikap aneh seperti ini. Dia nggak menginginkanmu, pintumu sudah pernah ku buka lebar untuknya," tangannya yang lain menangkup wajah sedih itu. Air mata itu lolos mengalir di kedua matanya.
"Hick...ya elah Nar!! kok malah nangis sih!!". Kesalnya pada diri sendiri.
Kedua tangannya kini mencoba menghapus air mata yang semakin deras membentuk sungai kesedihan"Hick hick...aku kangen---."
"Tapi nggak boleh!! ayolah hati, bersikap baik dong. Aku lelah kalau kamu cemen kaya gini."
Rintik gerimis di luar perlahan menjadi hujan yang membasahi jendela kamar Nari. Seiring berjalannya waktu sang hujan semakin bertambah deras, membuat suara gemericik yang menutupi isak tangis Nari menahan rindu pada sang pemilik hati.
"Si nenek sihir, kalau nangis dunia juga ikutan nangis deh. Semoga nangisnya nggak lama. Bisa banjir nih kalau tangisan tu anak nggak berhenti."
Ghina tersenyum tipis mendengar gumaman Joen, selepas mengintip ke dalam kamar Nari. Dia mengerti dengan suasana hati Joen yang juga ikut sedih, nggak berbeda dengan Jung. Sejahil dan sejahilnya mereka berdua terhadap Nari, dia tetaplah si bontot kesayangan mereka.
"Yang, samperin deh. Tenangin Narinya" saran Ghina. Joen menatap wajah teduh sang istri, ada gurat khawatir juga di sana, namun senyumnya mampu menepis kegelisahan dalam hati Joen.
"Aku nggak hebat dalam menghibur Yang, bisa-bisa makin lebat hujannya. Jangankan berhentiin si cebong nangis, naksir kamu aja aku malah bersikap galak sama kamunya," mengatakan hal itu membuat wajah Joen terasa panas dan bersemu merah.
"Baru nyadar kalau kamunya galak?," sindir Ghina.
"Onty!!, tulun yuk," suaranya samar di iringin gemericik hujan. Tangannya memukul-mukul pintu kamar Nari, untung saja hal yang dia lakukan membuat Nari menyadari kehadirannya.
"Wae??"ย kamar serba ungu pun terbuka. Gadis bermata indah itu jongkok menyamakan tingginya dengan Bae.
"Helmoni panggil, ada om om sama Helmoni". ujarnya. Ketika berbicara dia nampak menggemaskan, nggak jarang dia berbicara menirukan logat dan gaya orang dewasa.
"Memang Helmoni ngomong apa??" canda Nari. Dia sengaja meminta Bae menirukan gaya sang Nenek ketika menyuruhnya memanggil dirinya.
Bae meletakan kedua tangannya di bawah dagu, seolah tangannya adalah kelopak bunga yang sedang mekar"Bae sayang, bilang onty ada temennya" ujarnya seraya mengedipkan mata.
Tingkah Bae membuat Joen yang sedari tadi memperhatikannya tersenyum bangga"Tuh siapa dulu dong Papahnya," pamernya pada Ghina.
Bibir bawah Ghina maju dengan kedua alis turun mengejek Joen"Nih Mamahnya yang cantik, kalau nggak Mamahnya yang ngajarin, dia nggak bakal cepat tanggap seperti sekarang."
"Iya-in aja deh, bisa berabe kalau bikin Nyonya marah," celetuk Joen menyunggingkan tawa pada sang Nyonya yang dia maksud.
Nari hendak mengajak Bae menemui tamu yang di katakannya, namun Joen memanggil Bae untuk bermain bersamanya. Mendengar akan main bareng sang Papah, Bae pun menolak ajakan Nari.
"Kalau balik bawain cemilan ya," ujar Joen pada Nari yang hendak menuruni tangga.
"Ambil sendri kenapa sih?, demen banget ngebabuin orang!."
__ADS_1
Beh!! untung si Nari lagi galau, Joen pengen banget nabok tu anak. Tapi takut otaknya makin geser, akhirnya dia mengalah untuk kali ini, dengan manyun dia melewati Nari di anak tangga"Jelek!!."
"Ngatain diri sendiri!!," balas Nari.
Mereka berpisah di bawah tangga, Nari ke depan sedangkan Joen ke belakang.
"Oi! senyum, matanya bengkak kayak orang gagal oplas," seru Joen.
"Bawel!," Nari ngaca di cermin ruangan tengah sebelum bertemu sang tamu di teras. Setelah yakin dengan penampilannya dia melangkah dengan mantap menemui sang tamu. Dalam pikirannya palingan juga si Rivan. Akhri-akhir ini kan cowok yang rutin bertamu untuknya cuman si biang kerok itu.
"Sudah lama nggak ada kabar, gimana kabar kamu?," terdengar suara Nyonya Sook sedang menemani tamu Nari tersebut.
"Baik kok, Nyonya," sahut sang tamu.
"Masih aja manggil saya Nyonya, santai dong. Kamu kan temennya Nari, panggil saya tante sama seperti yang lain," pintanya.
"Silahkan di minum, kuenya juga silahkan di makan," tambahnya mempersilahkan sang tamu menikmati suguhannya.
"Apa pantas saya memanggil anda seperti itu," dia nampak ragu menanyakan hal itu.
kedua alis Nyonya Sook naik membuat keningnya mengkerut"Lho, memangnya kenapa?."
"Saya..." sang tamu nampak salah tingkah. Mungkin sebaiknya tadi dia nggak menanyakan hal seperti itu.
Nyonya Sook mengingat ingat pribadi sang tamu yang sangat pemalu ini"Oh!, Nari pernah cerita kok. Bagi kami semua orang itu sama. Nggak ada tingkatan kasta, jadi berhenti ya memanggil saya Nyonya!."
"Kalau boleh tau, siapa nama lengkap kamu?," Nyonya Sook sudah tau, bertanya hanya ingin lebih memastikan.
"Kai Ubadah, tante," sahutnya sedikit ragu, memanggil Nyonya rumah ini dengan sebutan tante.
Terlihat sudut bibir Nyonya Sook terangkat naik, kemudian dia mengangguk.
"Ah satu lagi, saya ingin bertanya, apakah kamu putra Han--- ."
Belum selesai ucapan Nyonya Sook, Naria kini hadir di antara mereka. Membuat Nyonya Sook urung untuk bertanya. .
Seperti biasa, Nari nampak mempesona di matanya. Mungkin ini yang di kata orang sedang bermimpi di siang bolong. Orang yang setahun belakangan menoreh luka di hati Nari nampak akrab bersama Mamah nya. gadis itu mengucek kedua matanya"Akh!! apa efek menangis tadi?, aku jadi berhalusinansi," gumamnya. Namun dia salah, semua ini adalah kenyataan. Ragu-ragu dia menyapa sang tamu dengan langkah maju perlahan.
"Ka-----kai."
To be continued...
~~โกโกHappy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen ya guys ๐๐
Salam anak Borneo.
__ADS_1