Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Suka dan duka


__ADS_3

Ketika hati telah saling terpaut, saat nggak janjian pun Nari dan Kai seperti berjanji untuk memakai baju dengan warna yang sama. Kai mengenakan kemeja putih, dan Nari juga. Baru juga datang, Jung langsung menarik si bontot untuk duduk di dekat Kai.


"Abang!."


"Apa sih?!."


"Nari malu" bisik si bontot. Sementara orang tua memperhatikan tingkah Nari, dengan senyuman. Akh, masa muda itu memang menyenangkan. Bertemu dengan seseorang yang di sukai pun sudah membuat hati bergelora. Saking salah tingkahnya, Nari mendekati Nenek Letta untuk menyapa dan memperkenalkan diri. Padahal ini bukan pertemuan pertama mereka.


Sontak saja apa yang Nari lakukan memecahkan tawa mereka yang ada di ruangan itu. Para pelayan pun nggak bisa menahan diri, Nona muda yang bar-bar itu seolah menghilang, berganti dengan Nona manis yang lemah lembut. Amir pun ikut tertawa.


"Iya, Nenek sudah tau dirimu. Kita sudah pernah bertemu. Waktu kita membuat kue donat tempo hari."


Hahahahha, tawa Jung dan Joen paling keras terdengar. Pipi chubby itu terlihat sangat merah, akh! seluruh wajahnya terlihat merah seperti kepiting rebus. Sedangkan Kai, pemuda ini menyembunyikan rasa malu dalam diam, menunduk seolah menatap lantai lebih menyenangkan.


"Kai, kamu nggak mau menyapa Nari" Hanan bisa saja. Dia juga ingin menggoda sang putra.


Menggaruk pelipis yang nggak gatal"Tadi siang kami udah ketemu, Ayah."


"Itu kan tadi siang, malam ini beda cerita."


Mendengar sang Papah menggoda Kai, Nari membulatkan mata. Hello!! ini nggak salah?.


"Anu--- anu Om---" terbata-bata, Kai kesulitan menjawab perkataan Tuan Charlotte.


Cleo asik menikmati cemilan, namun kali ini berbeda dengan cemilan yang tadi. Rasanya menonton saja sudah menyenangkan baginya, ikut tertawa saat yang lain tertawa.


"Sudahlah, nggak usah sungkan sama Om" ujar Charlotte pada Kai. Kemudian berpindah pada Hanan"Bagaimana, apa kita langsung mulai saja?."


Seraya memberi kode kepada Amir, hingga perawat ini melangkah mendekati Mr.Zak"Ya, lebih cepat lebih baik" senyum itu begitu hangat. Nari sempat terpana, beginikah senyuman Kai kelak di usia senja??. Waduh!! membayangkan saat di usia senja bersama Kai, pipinya kembali memerah. Bahkan sampai ke daun telinga.


Jung menarik daun telinga Nari"Heh! kamu mikirin apa?."


"Enggak mikirin apa-apa, Abang tuh mikirnya yang macam-macam" menarik rambut yang tersemat di daun telinga, agar daun telinga yang memerah tertutupi.


"Hilil, ngeles terus kayak bajaj" imbuh Joen meledeknya.


"Abang! bisa diam nggak?. Acaranya sudah mau di mulai!."

__ADS_1


"Gimana mau mulai, kamunya masih di sini?."


Berkedip seperti sedang memikirkan sesuatu, Nari menatap Joen dalam"Apa maksud abang?."


Dengan anggukan yang di berikan Charlotte, Amir dan Mr.Zak membuka tirai yang berada di tengah ruangan itu. Ternyata ada pelaminan sederhana di sana, dan tertulis nama Nari dan Kai di belakang pelaminan tersebut.


"Ayah---" jantung pemuda ini berdebar hebat. Rasanya untuk menelan saliva terasa sulit. Hanan tersenyum, dan mempersilahkan Kai untuk duduk di sana.


"Ibu---."


"Iya, tempat mu bukan di meja ini. Duduklah di sana, jemput calon tunangan mu."


Bola mata itu sudah cukup bulat, kini semakin besar karena terkejut dengan apa yang tengah terjadi. Kedua kaki Nari rasanya nggak berpijak di bumi, tangannya mendadak keram.


Saat Kai datang padanya, Nari hanya menatapnya tanpa bicara.


"Heh cebong!. Jangan pingsan!" bisik Joen yang berada di samping kiri. Sedangkan Jung di samping kanan.


"Tau nih! di jemput Kai tuh." Jung menggoyang lengan Nari.


Heh!! Joen dan Jung sontak menunduk, mengintip lobang hidung si bontot. Pyuh!! syukurlah, si bontot nggak mimisan. Lagi-lagi tingkah Nari membuat para orang tua tertawa, akh! enggak deh. Nyonya Sook dan Tuan Charlotte menahan malu. Sebab anak gadis mereka nggak anggun sama sekali.


Nenek Letta sangat menyukai Nari, di matanya Nari adalah gadis yang apa adanya.


"Naria, tangan cucuku bisa pegal kalau terlalu lama menunggu sambutan tanganmu."


kai tersenyum canggung, malam ini mereka benar-benar di kerjain.


"Gendong aja deh bang!" Cleo pun angkat bicara.


"Bocah!" hardik Kai.


Setelah melalui drama malu-malu cebong, akhirnya Nari dan Kai telah duduk di pelaminan indah itu. Meski sederhana, namun semakin manis saat mereka berdua ada di sana.


Karlina menyerahkan sebuah kotak kepada Kai"Sematkan cincin ini di jari manisnya." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, kebahagiaan itu datang berbondong-bondong usai badai yang mereka lalui. Sempat kehilangan Hanan, kini justru anggota keluarga mereka akan bertambah. Terlebih Nona muda itu begitu rendah hati, Karlina sungguh merasa sangat bersyukur ada seorang gadis yang tulus mencintai putranya.


Suara tepuk tangan terdengar riuh, dari dalam kediaman sederhana itu. Usai Nari dan Kai saling menyematkan cincin sebagai tanda cinta, para orang tua merasakan lega di dalam dada.

__ADS_1


"Nah, kalau begitu kalian baru boleh bergabung di meja ini. Kita makan bersama" Hanan mempersilahkan mereka duduk bersama lagi. Ledekan dan ejekan, tentu masih keluar dari mulut Joen dan Jung. Andrea sampai mencubit pinggang si dosen. Alih-alih menghentikan aksinya, Jung beralih menggoda Andrea.


"Kamu iri ya, sebab kita nggak ada acara bertunangan seperti ini."


"Nggak juga. Kalau bertunangan kan lama, buang-buang waktu. Kalau langsung nikah kan enak, langsung sah."


Celoteh Andrea mengundang senyum smirk di wajah Jung"Hemm" ujarnya mengangguk.


"Iya juga sih. Bagaimana kalau malam ini kita melakukan ritual sah itu sepanjang malam?" berbisik sangat pelan dan dekat di daun telinga Andrea. Deru napasnya membuat bulu kuduk Andrea meremang.


"Nggak malu kalau kedengaran yang lain?" balasnya berbisik juga.


"Kita sah kok, kenapa harus malu."


Andrea membuang muka, beruntunglah kamu Jung sebab sekarang berada di tempat ramai. Kalau hanya berduaan, Andrea dengan senang hati langsung memulai ritual sah sepanjang malam itu.


Ghina mengejar Bae yang berlari hendak keluar. Saat di depan pintu dia di kejutkan akan kedatangan seseorang.


Merasa itu adalah tamu dari keluarga ini, Ghina mempersilahkan untuk masuk. Bersama sang Paman, Greta masuk ke kediaman itu dan berjalan ke ruang tengah.


Cleo menyuapi sang Ayah dengan cemilan. Akh! sebuah pemandangan yang menyanyat hati bagi Greta"Papah----" lirihnya. Sorot matanya menyiratkan rindu yang dalam. Rindu yang tak pernah ada tepinya pada sang Papah.


Gadis itu terlihat cantik di mata semua orang. Begitupun dengan Yohan sang Paman, juga terlihat tampan. Joen sontak menarik Ghina dan Bae, agar menjauh darinya.


Berdiri perlahan, Amir berjaga di dekat Hanan, takut sang Tuan besar tumbang.


"Putriku."


Ya!! mendengar kata itu meluruhkan air mata Greta. Rasanya segala beban di dada menghilang dalam sekejap, apakah ini berarti sang Papah masih menganggapnya anak?.


Tak ayal, Greta langsung masuk ke dalam pelukan Hanan. Nggak peduli dengan tatapan mereka di sana, dirinya hanya ingin bertemu dengan sang Papah.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2