
Kedatangan Jung di sambut suka cita oleh Tuan Charllote, dia pun di utus untuk mengawal Nari bersama para bucin ke acara ulang tahun Niki.
"Jung sih oke-oke aja, Pah. Asalkan ini anak jangan songong aja sama abang tercakepnya ini," sok jual mahal, padahal dia rela kok kalau harus jadi bodyguard si bontot kali ini.
"Jangan banyak cing-cong, buat apa lagi kedatangan kamu ke sini kalau nggak jadi bodyguard adik kamu!" tandas sang Papah.
"Dih!! Jung ke sini kangen sama Mamah," sahutnya bersandar di lengan Nyonya Sook.
"Alah!! jangan sok imut, malu sama uban!!" sentak sang Papah lagi.
"Hfpphh!!" para bucin menahan tawa melihat interaksi mereka. Sebuah pemandangan yang harmonis bagi mereka.
"Uban dari mana? ini sengaja di warnai dikit dalamnya. Biar keren. Ih nggak gaul banget sih!."
Nyonya Sook menepuk lengan Jung"Mulutnya di jaga Jung, mau Mamah cubit itu bibir?."
"Tabok aja, Mah!," Joen mengambil duduk di samping Tuan Charllote. Dia juga bersikap manja dengan sang Papah.
"Yah, saling serang deh," gumam Nari.
"Stop!!," hardiknya.
"Dari pada berdebat, mending oppa-oppa ikut kami aja sekalian. Waktu terus berjalan nih!!," seraya menunjuk pada jam dinding yang telah menunjukan jam setengah 6 sore. Nari berusaha memangkas waktu dan pergi secepatnya ke acara ulang tahun sahabat Rivan, biar kencannya dengan Kai barusan nggak di pertanyakan sang Papah. Dari tadi dia ngeri banget, takut sang Papah menanyakan kemana perginya sore ini.
__ADS_1
"Ogah!!, tuh si onta sudah di utus buat jagain kamu, Nyong!!," tolak Joen. Males banget ikutan jalan sama mereka.
Tuan Charllote menyetujui kata-kata Nari"Ikut aja Joen!!"
"Hihihi, terima kenyataan aja deh," celoteh Jung melirik nakal pada Joen.
"Bakal seru nih kalau abang bedua ikutan. Bakal histeris para cewek-cewek di sana," seru Hendro.
Ikbal menyikut lengan Hendro"Diam Bocah!!."
Yang di senggol hanya nyengir kuda. Rasanya pasti akan menyenangkan sekali menghabiskan waktu dengan dua orang tampan itu"Siapa tau saat bersama mereka dirinya jadi dapet cewek, kalau di pandang-pandang ketampanan ku nggak kalah jauh kok dari merek," batin Hendro.
"Lihat deh, hidung Hendro kembang kempis, pasti lagi menghayal tingkat dewa ni anak." ujar Fay.
Singkat cerita para bucin menceritakan niatan mereka mengajak dirinya dan Rivan ke acara ulang tahun Niki"Tumben mereka akur," gumam hati Nari. Dua bodyguard yang juga telah berkumpul bersama para bocah, hanya dapat menerima tugas dari sang Papah dengan lapang dada. Jung mengetik pesan pada istri tercinta dan menceritakan perihal yang telah terjadi.
"It's okay bebs,, TTDJ sayang 😘".
Dia menyilangkan kedua lengan di dada dan bersandar di jok depan.
"Kebayang nggak dengan keadaan kita sekarang?, kita udah kaya kang supir sama kang kernet, yang lagi ngantarin anak-anak Tk ke sekolah," celetuknya Jung.
Joen menghela napas"Coba aja tadi aku nggak usah kepo sama keributan di bawah, nggak bakal jadi kang supir kan," sahut Joen.
__ADS_1
Wajah cemberut mereka dapat terlihat jelas dari kaca depan kang supir, Nari merasa menang banyak kali ini"Oppa-oppa ku tersayang, makasih atas kebaikan kalian hari ini ya," seloro Nari gembira.
"Diam!! sebelum aku plester mulut kamu cebong!."
Kedua mata Kevin terbelalak mendegar ucapan Joen.
"Awas aja kalau banyak tingkah di sana, aku masukin karung kamu, Mak lampir," tambah Jung lagi.
"Huh!! kalian bedua terlahir dengan mulut penuh cabe ya, nista banget sama adik sendiri," Nari menggerutu.
"Makanya diem kalau mau aman!!," sahut Joen lagi. Nggak berani melawan, Nari hanya bisa memanyunkan bibirnya.
"Bang galak banget sama Nari, kasian bang dia kan berhati lembut."
CEKITTT!!!
Joen menghentikan laju mobil, dirinya dan Jung saling pandang. Naria di kenal para cowok sebagai seorang cewek berhati lembut?? yang benar saja!!!
To be continued...
~~♡♡Happy reading. jangan lupa like vote dan komen ya guys ^,^
Salam anak Borneo.
__ADS_1