Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Childish Jung


__ADS_3

...***Penikahan bukanlah bisa hidup dengannya,melainkan tak bisa hidup tanpanya....


...Pernikahan bagaikan rantai dari cincin emas, di awali dengan secercah sinar terang dan di akhiri dengan keabadian....


...Pernikahan bagaikan melihat bunga yang jatuh di musim gugur, selalu berubah dan semakin indah setiap harinya***...


...๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—...


Suasana di kediaman Charlotte semakin ramai, para pelayan semakin terlihat sibuk. Persiapan untuk pernikahan besok sudah hampir selesai.


Kala itu, Jung menuruni tangga dan menghampiri sang mamah yang terlihat sedang mengobrol dengan seseorang.


"Nah, ini mempelai pria nya," jelas Nyonya Sook.


Dengan sopan Jung memberi salam. Wanita itu bernama Selena. Ternyata dia adalah MUA yang akan menghias Jung dan Andrea besok. Bagi Jung dia cukup ramah, sapaan Jung di balas dengan sapaan pula. Bicaranya juga santai.


Namun kedatangan seorang temannya sangat mengejutkan Jung, dan sukses membuat Jung bergidik ngeri.


"Wuahh!! jadi ini say mempelai pria nya??!".


Dengan manja jemari lentik itu hendak menjelajahi tubuh kekar Jung.


"Eh!! eh, jangan di belai-belai," tegur selena. Pria yang di yakini Jung setengah pria setengah wanita itu memberengut, merasa gagal menyentuh kulit halus Jung.


Dan untung saja si pria melambai itu cukup patuh dengan ucapan Selena. Jung hampir kejang-kejang saking gelinya dengan makhluk gado-gado itu.


"Besok, acaranya jam 8 sudah di mulai sayang," ucap Nyonya Sook.


"Siap, tante," sahut Selena mengacungkan jempol. Setelah selesai berdiskusi dengan Nyonya Sook, Selena dan pria solehah hendak pamit diri dari hadapan mereka.


Namun sang asisten masih betah menatap Jung"Marko!, ayo cus," panggilnya, oh ternyata namanya Marco, cukup gagah ya.


"Bye-bye dulu ya mamas tamvan. Besok eke balik lagi yeee~~~~," tampangnya di manis-manisin, bibirnya juga di lemes-lemesi.


Kedua mata Jung membulat, mimpi apa semalam sampai mendapat lambaian tangan dari Marco? ck! seketika rasa takut menguasai diri Jung, bagaimana caranya untuk menghindari Marco? besok? akh!! kenapa harus besok!!!!.


Meski nggak mendapatkan balasan perpisahan dari Jung, Marco tetap tersenyum pada Jung. Nggak lupa matanya berkedip sebelah, owh!! serem banget!!. Mereka akhirnya benar-benar pergi melenggang keluar dari kediaman Charlotte.


Jung menegang di tempat, masih terbayang tampang si pria solehah yang mencoba menarik perhatiannya.


"Jangan tegang begitu, besok kamu sudah sah sama Andrea, kan," ucapan Nyonya Sook melelehkan tubuh Jung yang mendadak beku.


"Mah, itu bencong ngapain ikutin mbak MUA nya?."


"Itu asistennya, katanya sih kalo siang namanya Marco, kalo malam jadi Markonah," Nyonya Sook tertawa menjelaskan nama Marco


"Jadi, besok yang bantuin Jung pake baju itu orang mah?."


Anggukan Nyonya Sook bagaikan bencana bagi Jung"Ganti aja mah!."

__ADS_1


Mata sang mamah membulat bagaikan bola bakso"Tinggal sehari, Jung! jangan macam-macam!."


"Lekong mah!, big no!!," suaranya nggak kalah nyaring dari suara sang mamah. Hal itu membangkitkan emosi dalam diri Nyonya Sook.


"Ingat ya Jung, kalau kamu cerewet mamah jewer telinga kamu."


"Nggak!!, pokoknya Jung nggak sudi di layani pria gemulai itu!!," akhirnya Jung berteriak, bagaikan anak kecil dia melarikan diri dari hadapan sang mamah saat itu juga.


"Hei!, mau kemana lagi?? kamu harus luluran lagi, Jung!!," sayangnya seruan sang mamah nggak di hiraukan Jung.


Di taman belakang.


"Aku harus beresin MUA nya," pria itu bergumam seraya berjalan ke arah taman, duduk di kursi taman dan memaksa otak nya berpikir lebih keras.


"Kenapa Tuan??," Mr.Zack mendapati sang majikan nampak frustasi memegangi keningnya.


"Masa MUA nya pria solehah!," pekiknya lagi.


Mr.Zack tertawa"Anu Tuan, setahu saya mbak Selena itu anaknya temen Nyonya, dia MUA terbaik lho Tuan."


"Tapi asistennya jangan yang melambai seperti daun pisang gitu juga kali Mr! bikin bulu kuduk merinding disko," ujarnya bergidik ngeri.


"Hehehe, iya sih Tuan. Tapi semua sudah di atur sama Nyonya."


"Mr. mau bantuin??," tanya si Tuan muda.


Dengan patuh Mr.zack menganggukan kepala kepada Jung.


"Siap Tuan!."


"Sipp!," dua jempol Jung acungkan kepada sang pelayan.


Meninggalkan taman dan mengendap-ngendap naik ke lantai atas, mencoba mencari tempat untuknya bersembunyi. Si keras kepala Jung ngotot minta ganti MUA, dia nggak rela tubuhnya di jelajahi si daun pisang yang melambai-lambai itu, sangat mengerikan bagi Jung. Namun sayang yang keras kepala di sini bukan hanya dirinya dan Naria saja, sang mamah juga bisa bersikeras pada pilihannya.


"Ngapain bang?."


"Buset!!,"Jung melambung di kejutkan kedatangan Ghina dari lantai bawah.


"Eh kamu sama mamah ya yang milih MUA nya?," pertanyaan bermuatan emosi itu Jung layangkan pada Ghina.


Ghina menggeleng dengan yakin"Enggak bang, memang kenapa?, bukan MUA yang ngurusin Ghina sama Joen kemarin, ya?."


Jung pun mengangguk dengan bibir mengerucut"Mamah kejam Ghin, nggak mikirin aku!," keluhnya.


"Lho, kalau abang nggak cocok sama MUA nya ngomong dong sama mamah. Memang apa masalahnya, bang?."


"Aku sih nggak masalah sama MUA nya, yang jadi masalah, si asistennya ini. Dia melambai Ghina, pandang-pandangan sama dia aja aku keburu merinding, gimana kalau dia sampai pegang-pegang badanku?? aku bakal pingsan nanti."


Alih-alih memberikan masukan, Ghina justru tertawa geli"Ghina nggak tahu bang harus ngapain. Semua sudah di atur mamah," ujar Ghina tertawa, tingkah Jung saat ini sangat kekanak-kanakan, terus merengek seperti anak kecil minta di belikan permen.

__ADS_1


"Bantuin dong, Ghin!!."


"Ghina bisa apa bang? mamah yang ngatur semuanya, siapa yang bisa ngelawan mamah di rumah ini?."


Perkataan Ghina ada benarnya juga, si mamah orangnya kelewat istiqomah. Kalau sudah menentukan pilihan, pihak lain harus ikut dengan pilihannya.


Terseok-seok, Jung melangkah meninggakkan Ghina yang masih tertawa membayangkan pria solehah lemah gemulai yang Jung katakan.


Di dalam kamar Jung melaporkan hal itu kepada Andrea.


"Ahahaha! benar-benar melambai, sayang?," suara tawa Andrea terdengar renyah, ada sedikit rasa penyesalan setelah mengadukan hal itu pada sang kekasih, sebab dirinya hanya di tertawakan.


"Iya sayang, kemarin dia nyaris menyentuh wajahku, akh!! jadi merinding ingat hal itu."


"Ya sudah, besok aku dampingi kamu pas lagi di dandanin ya?."


"Beneran ya??!."


"Iya, sayang," janji Andrea. Setidaknya ucapan gadis itu sedikit meredakan resah dalam dada.


Setelah menutup panggilan, Jung memantau keadaan dari balkon. Si target sedang berada di taman depan rumah.


"Mah..," panggilnya dari atas balkon.


"Wae??," sahut Nyonya Sook dengan galaknya, dari raut wajah sang putra, sudah terbaca kalau dia masih ingin mengganti MUA.


"Geunyang....". Nggak berani melanjutkan kata-kata, lebih baik mengurungkan niatnya dan tertunduk lesu.


"Jangan cerewer, ya!!," sentak sang mamah mengacungkan jari pada Jung, wajahnya sangat garang menatap Jung.


Sangat sulit menelan saliva, Jung terpaksa mengangguk samar"Aku nggak akan menyerah, kita lihat saja siapa yang lebih keras kepala!," gumamnya tetap berusaha mencari celah.


Setelah melalui beberapa kali survey, terpilihlah kamar si nenek sihir sebagai tempat persembunyian Jung. Dia sengaja meninggalkan ponselnya di kamar. Perlahan mengendap-gendap ke kamar Nari yang berliku di samping tempat tidurnya. Sedangkan masalah Nari, dia nggak akan segan meminta pertolongan si nenek sihir. Hanya kali ini saja, dia harus bisa meyakinkan mamah agar mencari MUA lain saja.


Cukup lama dia berdiam diri di kamar Nari, untung saja hari ini si nenek lampir meminta pelayan mengganti tirai dan seprei nya dengan warna lain. Kalau enggak, Jung akan semakin muak harus bertahan di dalam kamar yang serba ungu itu.


Sengaja bersandar lebih rendah di tepi ranjang Nari yang menghadap balkon. Jung yakin dirinya nggak akan terlihat jika seseorang membuka pintu kamar Nari.


Di lantai bawah Nyonya Sook mulai mencari keberadaan Jung. Beberapa pelayan di perintahkan untuk mencari keberadaannya, namun hasilnya nihil.


"Mamah sih, katanya dia hampir kejang-kejang gara-gara mau di belai bencong," celetuk Ghina.


"Dasar dia nya aja manja, awas kalau ketemu, bakal mamah bejek-bejek tu anak. Sudah mau nikah masih aja kaya bocah.


ingusan!," gerutu Nyonya Sook.


"Maaf bang Jung, setidaknya aku udah coba merayu mamah, tapi belum apa-apa sudah gagal," bisik hati Ghina.


To be continued...

__ADS_1


~~โ™กโ™กHappy reading.jangan lupa like ,vote dan komen ^,^.


Salam anak Borneo.


__ADS_2