
"Katanya dia nyimpen foto kita semua kok!." Fay yang sedang di interogasi Udin sama Kevin terdesak di kantin.
"Walah!! kalian seperti preman pasar lho, nak. Saya pikir kalian berteman baik," celetuk bi Ijah yang datang ke meja kantin, tempat duduk Fay. Semangkok soto ayam pesanan Fay langsung di sambar Kevin dan melahap nya dengan cuek bebek.
PLETOK!!!"Mulut kamu nggak di ajarin sopan santun?? punya aku itu!!," sentak Fay memukul kepala Kevin, dengan korek api elektrik.
"Nak Fay ngerokok!," bi Ijah kaget dengan penampakan korek api elektrik di area sekolah, di pegang sang wakil ketua kelas pula.
"Buat----, buat motong tali rapia, bi. Sepeda Fay nggak ada gembok nya, jadi demi keamanan kendaraan transportasi sekolah, makanya itu sepeda Fay iket sama tali rapia di parkiran sekolah," jelasnya nyengar-nyengir. Anak orang kaya naik sepeda?? ngibul banget si Fay ini. Dia memang ngerokok tuh, cuman belum kepergok aja.
"Kan pake cutter bisa, Nak Fay."
"Itu berbahaya bi!. Kalau cutternya Fay kantongin terus nggak sengaja ke gores pantat Fay, gimana??," jurus ngeles nya keluar deh.
"Uwgh!!! perih dong bro bemper kamu!!," pekik Udin membayang kan"Masih mending kalau cuman kena bagian bemper, kalau kena pusaka abadi, gimana nasib permaisuri kamu nanti?? kasihan dong harus ketemu sama pusaka cacat!!." Bergidik ngeri. Udin ini manusia paling takut dengan senjata tajam, sebab dia paling nggak bisa melihat darah. Bisa di pastikan akan langsung pingsan kalau ketemu darah.
"Tumben tu mulut ngomong bener," celetuk Kevin.
Fay melirik ke mangkok soto ayam di hadapan Kevin"Kunyuk!! di abisin! bayar ndiri ya sotonya. Nggak ada akhlak banget! aku lapar tau, main embat aja tu soto."
"Bagi bro!!," soto yang tersisa separuh beralih ke hadapan Udin.
"Sruuupp!!, wuah. Mantep dah makan makanan gratis," suara Udin menyeruput kuah soto membuat Fay geram. Apalagi bilang nya gratisan.
Brak!!, meja kantin di gebrak oleh Fay"Bayar sendiri!!. Lihat kan bi, bukan Fay yang makan. Bibi tagih sama mereka," Fay berniat berpindah meja, meninggalkan dua bandit semangkuk soto itu.
Kevin menahan lengan Fay dengan wajah datar"Traktir satu mangok doang nyolot banget. Foto kamu sudah di post neng Nari kan! seneng kan!. Bayar semangkok soto doang bro, belagu banget sih."
Senyum sinis mengembang di wajah Fay"So , gegara foto doang nih?. Buuuw ~~~👎👎, cemen banget sih mental kamu. Knapa nggak protes sama Zaid noh yang sudah jalan ma Nari?," Fay mengacungkan jempol ke bawah di depan wajah datar Kevin.
"Lagian pake ngibul lagi, senga kamu Fay." Udin menghabiskan Soto dan menyeruput es colla, yang lagi-lagi milik Fay.
"Bo'ong apa pula Udiiin!!." tukas Fay dengan kening berkerut.
"Masa Nari nyimpen foto kita kita sih? Jangan ngayal!," lanjutnya.
"Bukti nya foto aku langsung dia post waktu aku protes dia post foto si zaid doang."
"Nari kok yang bilang," tambah Fay lagi.
"Bener kan? kalian seperti kang palak pasar simpang noh. Makan pesanan orang, minum minuman orang, gratisan pula," dengan terpaksa Fay merogoh saku celana dan membayar makanan mereka ke kasir kantin. Bibi ijah hanya tertawa.
Kevin dan Udin girang dengan kemenangan nyaBi Ijah, soto nya mantep," seru Udin sebelum meninggalkan kantin. Dengan lidah melet-melet, Kevin mengolok Fay yang akhirnya dapat menyantap soto baru nya.
"His!!, dasar manusia durjana!," gerutu Fay kesal setengah mati.
...🐧🐧🐧🐧...
__ADS_1
Di belakang sekolah, seorang siswa sibuk menata dua buah kursi.
"Panjatin badan aku aja Nar. Ntar di atas sana kamu tinggal manjat dikit doang."
"Mata kamu butek? lupa ya kalau ku bonsai?," cebik Nari kesal.
"Ya sudah, lewar gerbang sekolah aja deh yuk. Tapi pas jam Istirahat kedua. Kalau sekarang nggak keburu, pak Ucup sudah jaga di depan gerbang jam segini," Rivan bingung nyulik ni cewek, ribet bener mau bolos doang.
"Lah malah diem, buruan ambil satu kursi lagi!!. Kalau cuman dua aku mana bisa naik sampai atas," pinta Nari. Entah setan apa yang merasuki Nari, tiba-tiba kepo banget pengen ngerasain bolos sekolah. Nampaknya bujuk rayu Rivan sukses menghipnotis Naria.
"Sudahlah, nggak ada lagi kursi nganggur nya, Nariii. Aku tungguin di atas tembok deh," Rivan dengan leluasa menaiki tembok belakang. Dalam sekejap itu cowok sudah nangkring aja di atas tembok.
"Lima Menit lagi bel bakal bunyi, Nar!!," ujarnya melirik jam tangan.
"Berisik!," Nari menaiki satu kursi dengan kaki bergetar. ajemari lembut Nari meggenggam erat lengan kekar Rivan.
"Kekekeke kamu bakal ketagihan."
"Apaan?."
"Bolos begini!," seringai senyum puas di wajah Rivan, membuatnya nampak menarik hati Nari.
"Tau nih, salah makan apa aku tadi pagi sampai mau aja ngikutin kamu bolos."
"Siniin deh tasnya," pinta Rivan melihat Nari begitu sibuk dengan tas di punggung.
"Ugh!!," Nari melempar tasnya pada Rivan.
"Oiyy!!, Rivan sempat goyah duduk di atas tembok. Spontan dia berseru dengan nada tinggi.
Lokasi bolos mereka tepat di belakang kelas Hendro sang Boyfriend material.
"Dikit lagi, Nar!!," pekik Rivan sibuk banget megangin tangan Nari sambil menjaga keseimbangan tubuhnya, biar nggak oleng.
Suara ribut dua makhluk somplak terdengar si Hendro, yang kebetulan sedang mendapat tugas merapikan meja guru.
"Nar??," batin Hendro. Rasa penasaran menghantuinnya, di tariknya sebuah kursi dan mengintip di lubang angin tembok kelasnya.
Nari kini sudah bertengger di kursi kedua. Rok nya jelas terangkat naik, untung saja pakai celana short di atas lutut.
"GILA!!," seru Hendro melihat Rivan serius dengan ajakan bolos nya di Instagram kemarin.
BUKK BUKK!!!, Hendro menggedor dinding kelas"Nar!!! sadar Nar!!," teriak Hendro.
"Jangan bolos Naria!!," teriak nya lagi. Sayangnya Nari dan Rivan keburu turun ke tembok sebelah.
"Argghhh!!," Hendro berlari keluar kelas seraya menggeram.
__ADS_1
Teng teng!!!!, bel masuk jam pelajaran telah berbunyi.
"Kamvreeet!!," Hendro mengumpat dengan tinju di udara. Kakinya menghentak-hentak kesal dengan keterlambatannya.
Ikbal lewat di depan kelas Hendro dan mendapati tingkal kesal Hendro"EH saingan bau kencur, lagi kesal ya, dek?," tegurnya sambil meledek.
"Ketawa aja terus!," Nari di culik Rivan noh!."
WHAATT!!! biji mata Ikbal membulat"Eh jangan becanda kamu, Ndro!!?, Nari barusan sama Febby sama Arin kok."
"Mata aku nggak buta ya, Bal!!. Barusan manjat tembok belakang sama Rivan," Hendro menepuk-nepuk kening, menyesal karena terlambat.
"Oi!!, nggak denger bel sudah bunyi? ngobrol terus!, buruan naik ke kelas, Ikbal!!," sergah Pak Ibrahim.
"I----iya Pak," Ikbal menaiki tangga dengan wajah gelisah.
Hendro berbalik masuk ke dalam kelas nya, dengan wajah yang nggak kalah gelisah dari Ikbal.
"Argghh, kecolongan deh," Ikbal buru-buru menyusuri lorong kelas atas, dia bahkan berlarian.
"Oi oi!!, kelasnya kelewatan!!," seru Zaid ketika Ikbal berlari melewati kelas. Ikbal ingin memastikan keberadaan Nari di kelas nya yang terpisah Kelas 12 IPA.
"Duileh, salah alamat tu anak kek Ayu ting-tong," seru Zaid lagi.
Ikbal masuk ke kelas Nari dengan tergesa-gesa"Feb, Nari mana!!," napasnya ngos-ngosan. Tatap matanya begitu khawatir.
"Belum balik kelas, eh!," tangan Febby mencari-cari tas ransel Nari, yang sudah nggak ada di kursi. Biasanya mereka gantungin tas di kursi masing-masing.
"Alamak!!," Ikbal tepok jidat, wajahnya pucat.
"Eh eh!!, buruan balik ke kelas!!," sergah Zaid menyusul warga kelasnya yang tersesat.
"Tas Nari kemana, Rin??," tanya Febby bingung.
"Jangan nanyain tas nya doang!. Orangnya kaga ada nih!!," Arin khawatir.
"Apa??, Nari kenapa??," Zaid mulai curiga. Ada yang nggak beres nih.
"Kata Hendro dia lihat Nari di culik Rivan. Mereka manjat tembok belakang," jelas Ikbal dengan napas tersengal-sengal.
"HAH!!!," mereka semua terkaget-kaget.
"NARI BOLOS??!," jerit Pak Ibrahim yang kini sudah berdiri tegap di depan kelas.
Owh!! Nari ketahuan!!!.
To be continue...
__ADS_1
~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like vote Fav dan komen ya teman ^,^ .
Salam anak Borneo.