Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Call me babe!


__ADS_3

...Flashback🐾🐾🐾...


Setelah Nari dan para bucin mengantarkan Rivan menemui Niki. Jarum jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Nari merogoh ponsel yang sedari tadi dia sematkan di dalam saku jaket.


Sembari menghempaskan tubuh di tempat tidur, dia menekan nomor Kai dan bersiap menjelaskan apa yang tlah terjadi malam ini.


Dering pertama Kai nggak menjawab panggilan Nari. Dering kedua hal yang sama masih terjadi"Mungkin dia sudah tidur" gumam Nari.


Ponsel itu dia letakan di tempat tidur sementara dia melangkahkan kaki ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket, lelah, capek, mengantuk, berbagai macam perasaan bercampur jadi satu pada dirinya. Namun hal yang paling ingin dia lakukan saat ini adalah mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat.


Di kediaman Kai.


Usai berbincang dengan sang ibu di dapur, Kai yang mendapat panggilan dari Nari langsung kembali menuju kamarnya. Rasanya malu kalau berbicara dengan Nari di hadapan Karlina. Hingga sampai ke kamar pun Kai belum menerima panggilan itu.


Saat hendak kembali menghubungi Nari, Kai mendapati sang adik tidur tanpa selimut. Karena di kediaman mereka nggak ada penghangat ruangan, rasanya nggak tega membiarkan sang adik tidur dalam keadaan meringkuk, kedinginan. Sebelum menghubungi Naria, Kai meletakkan ponsel di atas meja belajar, kemudian dirinya menyempatkan diri untuk mencari selimut sang adik dahulu di dalam lemari, sebab selimut yang semula di pakai sedang di cuci sang ibu.


Setelah menyelimuti sang adik, Kai ikut merebahkan diri di samping sang adik. Pemuda ini menekan nomor ponsel sang kekasih dan terdengar nada tunggu di seberang sana.


Lebih dari tiga kali mencoba menelpon Nari, namun gadis itu seolah menghilang ditelan bumi. Kemana perginya? bukankah sebelumnya dia yang lebih dahulu menelepon Kai?. Mengingat Nari dan para teman-temannya sedang dalam perjalanan, Kai menjadi resah. Takut terjadi sesuatu yang nggak diinginkan, terlebih pada Nari.


Setelah hampir sepuluh menit akhirnya dari menerima panggilan tersebut"Halo," sahut gadis itu di seberang sana.


"Maaf, aku tadi ada sedikit pekerjaan. Kamu baik-baik aja kan? bagaimana? apa kamu sudah kembali ke rumah?" Kai langsung menanyakan keberadaan Nari saat gadis itu menerima panggilan.


Terdengar suara tawa Nari di ujung telepon, hatinya seketika dipenuhi bunga-bunga saat mendengar Kai langsung menanyakan keadaannya"Aku baik-baik saja, ini aku sudah kembali ke rumah. Tadi kamu nggak langsung menerima teleponku, sedangkan tubuhku rasanya sudah sangat lengket, jadi aku mandi dulu sebelum menerima panggilanmu" ujar Naria menjelaskan.


Kai menghembuskan napas, merasa lega setelah mengetahui bahwa kekasihnya baik-baik saja"Maaf, aku tadi sedang di dapur bersama Ibu, sekedar menemaninya mengobrol saat membaut kue."


"Oh ya? aku jadi penasaran dengan rasa kue yang dibuat oleh calon mertuaku" tanpa rasa malu Naria langsung menyebut Ibunda Kai dengan sebutan calon mertuanya, membuat Kai mengantupkan bibir, tersipu malu.


"Hei Nona, kedengarannya kamu bahagia akan mempunyai calon Ibu mertua seorang pembuat kue, apa kamu nggak malu menjalin hubungan dengan seorang anak pembuat kue ?."


"Kai!!!" terdengar Nari menghardik pemuda itu"Itu adalah pekerjaan Ibumu!! kamu jangan memandang rendah hal itu. Seharusnya kamu bersyukur, sebab tangannya masih aktif menghidangkan masakan yang enak untuk di nikmati banyak orang, khususnya untukmu. Apa kamu tahu, di rumahku ini semua masakan diolah oleh pelayan, sejujurnya aku sangat merindukan masakan yang diracik oleh Mamahku khusus untukku" protes Nari begitu panjang lebar, membuat Kai tersenyum di seberang sana.


"Entah kebaikan apa yang kubuat di kehidupan lampau, sehingga mendapatkan kekasih sebaik kamu, Naira," bisik hati Kai.


"Oke!oke! baiklah!. Jangan mengomel, ingatlah satu hal, perempuan cantik apabila terlalu banyak mengomel maka dia akan semakin cantik. Sudah cukup kecantikan yang kamu miliki, semua itu sudah membuat banyak pria mengagumimu. Tolong jangan menambah saingan cinta untukku, Naria."


Seketika Naria menggembungkan pipi, menggoyang-goyangkan kaki, menjadi salah tingkah mendengar gombalan Kai. Mungkin kalau Jung dan Joen melihat perilakunya sekarang, dijamin mereka pasti akan membully gadis ini.


"Oho! jadi sekarang kamu sudah pandai menggobal?."


Kai terkekeh, malam itu untuk beberapa saat dua insan ini saling melemparkan pujian, menggoda satu sama lain. Nari juga menceritakan bagaimana bertemunya Rivan dan Niki, juga bagaimana cinta mereka yang ternyata masih hangat sampai saat ini.


Sejak saat itu Nari dan Rivan menjalani kisah kasih dengan pasangan masing masing. Rivan semakin sering menjemputnya namun berakhir di taman kota dan menyerahkannya kepada Kai, sementara Rivan lanjut menemui Niki dan menghabiskan waktu bersama.


Hingga suatu hal yang nggak mereka duga terjadi. Nari dan Kai sedang menghabiskan waktu kencan di sebuah Cafe, layaknya seperti pasangan kekasih mereka berbagi sepotong kue dan saling menyuapi.


Nyonya Sook yang kebetulan habis mengantar pesanan bunga untuk pemilik Cafe, cukup terkejut dengan pemandangan di depan matanya.


"Hah??, mereka suap-suapan?" pekiknya dalam hati dengan kening mengkerut. Spontan dia merogoh ponsel di dalam tas, kemudian mengabadikan kebersamaan Nari dan Kai dengan kamera ponsel miliknya.


"Nariiiiii...berani main api kamu, Nak!!" gerutunya dengan mata berapi-api. Oke kali ini dia nggak akan gegabah, dia nggak akan langsung melabrak anak gadisnya.


"Awas kamu Nar, Mamah tunggu kamu di rumah" ujarnya kesal.

__ADS_1


"Kai!! aku nggak akan diam saja. Secepatnya aku akan menemui Ibumu!" sembari meninggalkan area Cafe, Nyonya Sook langsung menghubungi Tuan Charllote. Melaporkan apa yang telah dia lihat. Nggak berbeda dengan dirinya, Tuan Charllote jelas terkejut. Selama ini Nari dan Rivan nampak harmonis di depan mereka.


...💝💝💝💝...


Selepas dari Cafe dua insan di landa cinta itu berpindah ke pinggiran sungai yang tepat berada di depan Cafe.


"Nar, nggak nyesel melepas Rivan?" Kai iseng mengajukan pertanyaan.


Mendengar pertanyaan Kai, rasa kesal membuat Nari melepaskan tangan Kai yang semula menggandengnya.


"Duh jangan ngabek dong, aku nanya doang kok" Kai mencoba mensejajarkan langkah mereka lagi.


Jangan marah pleaseeee!!" bujuk Kai berjalan menghadang Nari sembari menangkupkan kedua tangannya.


"Jangan mulai deh Kai, apa kamu mulai bosen backstreet ?."


Lelaki yang masih berjalan mundur itu menyangkal ucapan kekasihnya"Bukan gitu Nari, kadang kalai lagi ngaca aku tiba-tiba sadar diri. Pencapaianku terlalu tinggi, kamu tu seperti bintang di langit bagi aku."


"Jangan mikir yang aneh-aneh deh, anggap aja kamu tu bernasib sama kaya Ghina yang dapetin bang Joen."


Dia berbalik badan dan melangkah sejajar bersama Nari "Hmmmm...harus mikir gitu ya?."


"Kamu nggak mau??aku tabok lho kalau nggak nurut." Ancam Nari dengan tatapan tajam.


Yang di ancam bukannya takut, dia malah cekikikan mentertawakan tingkah gadis itu "Hihihihi, iya deh iya. Yakin kamu nggak bakal ninggalin aku??."


Tangan kecil Nari mendorong tubuh tegap Kai agar menjauhinya"Ish!!, udah deh Kai, kamu balik deh. Kalau nggak sama kamu aku nggak bakal nikah nih, sana pergi jauh-jauh. Heran deh jadi cowok kok plin-plan banget!" Nari yang memang memiliki kesabaran tingkat rendah, nggak jarang merajuk dan mengusir Kai seperti sekarang ini. Tapi ujung-ujungnya dia bakal bucin lagi sama tu cowok.


"Gkgkgk, ampun deh Nar. Lagi kangen kamu ngambek aja" mempercepat langkahnya mengejar Nari di depan.


"Nari..."


Gadis mengabaikan panggilan Kai, dia nampak benar-benar merajuk kali ini.


"Nariiiiii."


"Sayang!, aku juga nggak akan nikah kalau nggak sama kamu" panggil Kai lagi.


Seketika langkah Nari berhenti"Sayang???" bibirnya mengantup menahan senyuman. Dia masih membelakangi Kai saat ini.


Kedua tangan Kai memegangi pundak Nari dan menatapnya lekat lekat"Canda doang Nar."


"Hupffh" Nari yang semula mulai bersemangat kini cemberut dengan bibir mengerucut lagi"Sekejap doang di panggil Sayang."


Kai menelan saliva, dia melepas pundak Nari dan berganti memegangi tengkuknya"I---itu---kamu sih," seperti kaset jadul yang rusak, ucapan Kai tersendat-sendat.


"Sayang?" ulang Nari.


Kepala Kai mengangguk.


"Bilang sayang!" pinta gadis itu manja.


Yaelah, selama pacaran Kai nggak pernah bersikap romantis, juga memanggil Nari dengan sebutan sayang. Entah kenapa mulutnya terasa berat untuk kembali mengucapkan kata Sayang itu.


"Kan tadi sudah" Kai berkelit.

__ADS_1


"Tadi nggak sengaja kan?? kan!! ,kan!! ,kan??!" cecar Nari.


"Udah deh nggak usah di bahas, kamu mau di jajani apa nih?."


"Bocah kali di jajanin."


"Ya sudah, aku jajan sendiri nih ya" Kai cuek meninggalkan Nari menghampiri kang gulali dan membeli untuknya sendiri.


Melihat Kai kembali dengan setangkai gulali saja membuat Nari yang sudah merajuk semakin bertambah cemberut.


"Mau?."


"Nggak!!,his.....apa susahnya sih bilang sayang."


"Nggak usah di bilangin kan kamu udah tau kalau aku sayang banget sama kamu" Kai meraih tangan gadis itu dan mengoyang-goyangkannya.


"Pengen denger langsung" gelayutnya manja di lengan Kai.


"Nggak akh, kita udah gede, Nar. Bukan masanya pacaran dengan kata-kata bucin begitu" kembali berkelit.


"Oh jadi maksud kamu aku bocah?."


Kedua tangan Ka menolak anggapan Nari "Bukan seperti itu."


"Dih ngeles terus, baru tau kalau kamu tu jago ngeles" Nari terus saja menghindari Kai. Langkah kakinya semakin cepat berusaha meninggalkan Kai.


Gemes dengan tingkah Nari, Kai menarik lengan Nari dan menyeretnya ke bawah jembatan. Tiang-tiang penyangga jembatan yang cukup besar membuat mereka terlindung dari pandangan pengunjung lain.


"Nari sayang, berhenti cemberutnya. Kamu terlalu manis kalau terus cemberut, nanti aku diabetes gimana?."


"Kyaaaaa😍" Batin Nari menjerit girang. Kai menyudutkannya di tiang jembatan dan mengurungnya dalam kedua lengannya.


Melihat Nari tersenyum senang Kai pun dapat bernapas lega"Udah puas??"


"Hmmm" sahut Nari malu-malu.


"Mau---?."


"Mau apa?." Tanya Nari gugup. Kira-kira Nari mau di apain??


"Gulalinya," ujarKai dengan senyum termanisnya.


Gulali manis itu Kai suapkan kepada Nari, dan ketika Nari menggigit gulali itu Kai juga ikut menggigit ujung gulali.


"Blussshhhhh" Nari rasanya mau pingsan. Dia nggak pernah sedekat ini dengan Kai, wajah mereka sangat dekat, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.


"Hihihi...,udah cukup Kai. Kalau seperti ini aku yang kena diabetes" perlahan Nari mendorong Kai menjauhinya. Nari membuat jarak di antara mereka.


"Di deketin malah jaga jarak,di anggurin malah merajuk, dasar cewek maha benar." sindir Kai menatap nakal Nari.


Nari hanya tersenyum dengan kedua pipi yang merona, malu mendengar ucapan Kai.


To be continued...


~~♡♡Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen 🤗.

__ADS_1


Pangkalanbun 21 Februari 2023.


Salam anak Borneo.


__ADS_2