Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Perhatian tak biasa


__ADS_3

Bukan kediaman Charlotte namanya, kalau keadaan sepi, aman, damai dan sejahtera. Kalau Naria enggak berbuat onar, masih ada dua cecunguk berusia dewasa yang masih gemar bertikai. Siapa lagi kalau bukan Joen dan Jung. Masing-masing sudah memiliki pasangan, tapi tingkahnya masih seperti bocah ingusan, berdebat pasal yang nggak penting sama sekali adalah kegemaran mereka.


"Awas ya, kalau lecet kamu harus ganti."


"Ingin rasanya Joen menjambak rambut Jung. Atas perintah Tuhan Charlotte, Joen meminjam kamera milik Jung. Itu pun bukan demi kepentingan sendiri, ini demi si bontot Nari. Dua keluarga sepakat memberikan kejutan untuk Nari dan Kai.


"Adu jotos yok." Tantang Joen, kesal dengan Jung yang cerewetnya minta ampun.


"Ayok, cuman lebih tinggi dua senti doang kamu udah songong." Kekesalan yang telah lama Jung pendam, perihal tinggi badan Joen yang sedikit melampaui dirinya. Mengetahui hal itu Joen tertawa lebar, merasa puas menciptakan kekesalan di dalam hati sang saudara.


Andrea menghela napas"Aku panggilin Mamah ya, biar kalian di omelin."


"Jangan!. Udah cukup aku di omelin Mamah barusan!!" hardik Joen saat Andrea hendak keluar dari kamar mereka.


"Siapa suruh gangguin ulat bulu!. Jadi di garukin Mamah kan otak kamu!."


"Dianya berisik kok, siapa dulu yang ganggu? dia kan?."


"Tapi nggak masukin Bae ke kamar Nari juga!!. Pake main agen rahasia segala, itu bocah bikin kamar Nari kayak kapal pecah" Jung mengusap kameranya, begitu sayang.


Joen menarik kamera itu dari Jung"Akh!! bawel. Buruan siap-siap, aku jamin kamera ini akan aman" enggan mendengar Jung mengulangi omelan sang Mamah, Joen segera pergi dari kamar Jung dan Andrea.


"Ingat ya---"


"Iya!!. Bawel banget sih bang. Kalau rusak juga aku pasti bisa ganti kok, kamera murahan aja belagu!."


"Harganya bisa beli harga diri kamu lho Joen!."


"Kayak harga diri dia mahal aja!" Joen ini, kalau memang nggak mau mendengarkan omelan Jung, seharusnya dia langsung pergi, bukannya nangkring di muara pintu.


"Buk!!" sebuah bantal melayang dengan sempurna ke arah pintu. Namun.....


Wajah merah padam Nyonya Sook, sukses membuat Andrea membulatkan kedua mata.


"Mamah" lirih Jung. Sementara Joen berjalan miring seperti kepiting, coba melarikan diri.

__ADS_1


"Senjata kalian tu banyak jenisnya ya. Kemoceng, sapu, tongsis, sendal, ini bantal."


Segera Jung menangkupkan kedua tangan dan berlutut di hadapan sang Mamah seraya berkata"Ampun Ibu Ratu. Udah cukup marah-marahnya. Kita harus segera pergi kan, nanti kemalaman."


"Buk!" Jung yang sedang mendongak memohon ampun kepada sang Mamah, mendapatkan serangan balik dari bantal tersebut.


Tubuhnya terhubung ke belakang, hingga akhirnya jatuh di lantai.


"Rasakan!. Kamu pikir enak kena tabok bantal. Mamah sama Papah duluan. Kamu sama Andrea segera menyusul. Dan kamu Joen!." Nyonya Sook beralih kepada Joen yang telah sampai di muara pintu kamarnya.


"Kamu berangkat setengah jam setelah kami berangkat. Ingat, harus akur sama Nari. Ini malam spesial untuknya, jangan di bikin emosi. Apalagi sampai di buat menangis!."


Joen pikir pergerakannya nggak diketahui oleh sang Mamah, ternyata dia salah"I---iya Mah. Joen janji kali ini nggak akan jahil sama ulat bulu."


Hanya sebuah lirikan tajam, yang menjadi jawaban atas perkataan Joen. Usai memberikan ultimatum kepada dua putranya, Nyonya Sook melangkahkan kaki menuju ke lantai bawah.


Di dalam kamar Nari, Ghina sengaja mengajak gadis ini mengobrol banyak, tentang idol korea yang sama-sama mereka gemari. Tujuannya agar Nari nggak keluar dari kamar, hingga persiapan mereka nggak di ketahui olehnya.


Saat mendengar dua mobil pergi meninggalkan kediaman mereka, Nari hendak mengintip melalui jendela kamar. Ghina segera melepas Bae, hingga sang bocah membuka lemari pakaian Nari. Nggak mau lemari pakaiannya menjadi tempat bermain Bae hingga berantakan lagi, Nari gegas menggendong sang keponakan.


Bae tertawa. Jemarinya bermain di wajah Nari, menekan pipi chubby sang Onty.


"Jangan di cakar, nanti Onty nggak cantik lagi" ujarnya segera menurunkan Bae.


Ghina tersenyum kecil"Nar, kamu siap-siap deh. Malam ini kita mau ada acara."


"Acara apa?."


"Keluarga tante Karlina mengadakan acara sambutan, atas kepulangan Om Hanan."


Oh, Nari langsung bersemangat, meski perkataan Ghina belum selesai gadis ini langsung mempersiapkan diri. Salah satunya dengan memilih salah satu gaun terbaiknya.


Nari hendak mengambil gaun dengan model pundak sabrina, namun Joen yang datang bagaikan hantu langsung menolak pilihan sang adik.


"Cebol, bisa nggak kalau milih baju yang sopan. Nggak usah pamer pundak, entar kudis kamu kelihatan."

__ADS_1


Awh!!, Ghina menutup mulut Joen. Dia khawatir Nari mencakar wajah sang suami.


"Abang!!!" hardik Nari"Sejak kapan aku kudisan!!." Kedua matanya memerah, ini penghinaan paling parah yang pernah Joen lakukan.


Teringat pesan sang Mamah, Joen lekas memperbaiki kesalahan itu"Bukan begitu. Maaf abang salah ngomong. Abang kan udah sering ngelarang kamu pake baju kayak gini. Lihat deh pundaknya kemana-mana."


Memanyunkan bibir, Nari nggak jadi marah. Sejatinya Joen nggak rela tubuh bagian atasnya di lihat khalayak ramai.


"Ini aja ya" Ghina memilih dress berwarna hitam."


"Kok hitam sih Yang, kan mau itu---" sepasang suami istri ini saling berpandangan. Berbicara dari hati ke hati.


"Ini aja" sebuah dress berwarna merah berlengan panjang, menarik perhatian Joen.


"Ihhh, menyala banget" komentar Ghina membuat Joen urung memilih gaun itu.


Nari yang bingung dengan tingkah mereka berdua, akhirnya bertanya"Kalian kenapa sih? tumben pakaian aku juga di perhatiin."


"Kali ini aja, nurut ya adek cantik, adik manis" sangat jarang berkomentar baik tentang dirinya, Nari semakin di buat bingung.


"Ini kan perayaan Om Hanan, kok kalian sibuk ngurusin aku?!."


"Jangan ge-er dulu. Kita kan mau ke kediaman Kai, kamu bakal ketemu orang tua Kai. Emang kamu nggak mau menarik perhatian mereka?." Ghina bisa aja, sebab pawang Nari adalah Kai, dia menjadikan pemuda itu sebagai alasan atas perhatian mereka kali ini.


Ada rona di wajah Nari, Joen gemas ingin mengusap kasar wajah sang adik. Demi kedamaian dunia ini, sekali ini saja Joen akan membiarkan Nari tenang tanpa gangguan darinya.


"Cari dress yang sopan. Jangan kependekan, setidaknya sebatas lutut deh, keteknya nggak usah di pamerin ya. Nggak sopan, di sana ada Nenek Kai juga."


Cara Joen memperhatikan dirinya sungguh aneh, bedanya tipis banget antara menasihati dengan menghina. Ghina tertawa, bahasa yang di gunakan Joen nggak lembut banget.


"Kalau setelan ini gimana?." Atasan berwarna putih dengan rok merah muda. Saat di padu padankan cukup sopan di pandang. Manggut-manggut, Joen dan Ghina menjatuhkan pilihan pada setelan itu.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.

__ADS_1


Salam anak Borneo


__ADS_2