
Dengan langkah gontai Nari menyusuri jalan kecil menuju kelas. Bunga-bunga bermekaran seakan mentertawakan kesedihannya.
"Ugh!!, kenapa kalian bermekaran begitu indah sedangkan aku sedang kesusahan." Di cabik-cabiknya bunga pukul enam tak berdosa itu.
"Hei!!." Bu Desi si penyayang tanaman muncul tiba-tiba dari belakang Nari. Kedua tangan berkacak di pinggang nampak begitu garang di mata sang Nona muda.
Seketika tenggorokan tercekat, tatapan tajam Bu Desi membuatnya kesulitan berkata-kata"Anu---" cicit Nari tergagap.
"Anu apa??!, jangan mentang-mentang kamu anak Sultan terus seenaknya menganiaya bunga-bunga tak berdosa ini!!" sentaknya mengejutkan Nari.
"Hick" Sang Nona muda miskin menarik napas namun lebih terdengar seperti isakan.
Gelagat mewek Nari menyentil hati kecil Bu Desi"Ah, maaf, ibu kelepasan" ucapnya pelan menurunkan nada bicara. Bisa-babis dia kalau sampai Nari menangis gegara omelannya.
"Nggak apa-apa, Bu" suara tertahan Nari semakin menciutkan nyali Bu desi. Dia merogoh saku seragam yang dia kenakan.
"Akh di mana permen loli itu" sumamnya.
Tak menemukan apa yang dia cari di saku dia beralih membuka tas kerjanya. Untungnya di sana dia menemukan beberapa tangkai lolipop yang hendak dia berikan pada ponakan yang masih duduk di bangku SD.
"Hihihi" Nari tersenyum senang ketika Bu Desi menyodorkan dua permen coklat dan Strawberry kepadanya. Bu Desi pun lega, sebab wajah cantik itu tak lagi di selimuti awan hitam.
"Lain kali kalai lagi ngambek jangan di lampiasin ke bunga. Kasihan lho dia juga bisa merasakan sakit" jiah~~~ si Ibu jadi ngingetin sama kisah Upin ama Ipin dah.
"Iya, maafin Nari Bu" sahutnya tertunduk.
Kemudian Nari yang senang berlompatan riang gembira mendapatkan dua tangkai lolipop. Meninggalkan Bu Desi dengan wajah sedih meratapi serpihan bunga-bunga yang telah tecabik-cabik berserakan di tanah"Kasihan sekali, sedihnya. Aku dapat merasakan sakit yang kalian rasakan."
Hendro yang kebetulan lewat di jalan itu menatap aneh pada si Ibu.
"Ish!!, bunga lagi bunga lagi. Pake di ajak ngobrol lagi". Gumamnya berlalu dari hadapan Bu Desi setenang mungkin. Dia paling males berhadapan dengan Guru yang rada galak seperti beliau.
Di muara gerbang sekolah Zaid baru menuruni mobil mewahnya. Kali ini dia datang bukan dengan kang supir, tapi dengan Rivan sebagai pengganti kang supirnya.
Udah seperti pelayan pribadi Rivan, membuka kan pintu mobil ketika Zaid hendak turun.
__ADS_1
"Biasa ja! aku kasih kamu kerja di bengkel. bukan jadiin kamu babu!!" tukas Zaid ogah di perlakukan sebaik mungkin oleh Rivan.
"Ya~~~sebagai ucapan makasih aja bro. Kamu tu ibarat lilin yang menerangi kegelapanku. Kamu ibarat hujan yang menyirami hidupku yang kemarau. Kamu tu ibarat gula dalam segelas kopi. Kamu tuh ibarat-----."
"Diem!!!" sentak Zaid.
"Entar orang kita kita pelangi-pelangi di langit nan biru!. Aku lelaki normal ya, Van!!. Please jangan ngomong romantis kaya gitu, geli tau!."
Ujung bibir Rivan menukik naik. Zaid emang teman terhebat, hatinya baek bener!!.
"Huh!" Nari yang tlah sampai di kelas meletakan tas di meja dengan menghela napas berat. Beban hidupnya terasa beraaaatttt banget. Udah kaya memikul gunung krakatau aja dia mah.
Wajah cantiknya di sembunyikan di bawah meja dengan kedua tangan menutupi kepala.
Luapan bahagia mendapat Lolipop hanya sebentar saja. Dua permen itu hanya berakhir di saku seragamnya.
"Tuk tuk!!" kakinya menendang pelan kursi depan yang biasa di duduki Febby.
Melihat dari gelagatnya sangat jelas dia sedang di rundung masalah. Saat itu para sahabat dan para bucin belum pada sampai di lokasi Nari, dan sedikit kegaduhan mulai terjadi kertika Fay hadir mencari sosok Nari di kelas itu.
"Neng Nari!!." Di angkatnya kepala Nari yang terasa berat. Di letakan punggung tangannya di kening Nona muda"Heem..nggak panas kok".
"Kenapa Nar???" tanya nya lagi.
Dengan tangis tertahan Nari bercerita perihal hukumannya. Selesai Nari bercerita Fay merogoh dompet di saku"Nih, buat jajan entar siang" dia mengulurkan selembar uang 100 ribuaan.
"Nggak usah Fay, tadi di kasih bang Joen kok. Tapi sembunyi dari Papah, kalo ketahuan bang Joen bakal di depak dari rumah."
Fay terperangah, dia bahkan nggak bisa menutup mulutnya.
"Mingkem Fay!!, aku cuman belum bisa nerima kenyataan aja" Nona muda itu menutup mulut Fay dengan telapak tangannya.
"Eit eit!!!, jangan ada kontak fisik!!, bukan mahrom!!" Udin sejagad raya nongol menambah keterkejutan Fay.
"His!! heboh banget sih." Gerutu Fay.
__ADS_1
Udin menjauhkan tangan Nari dari wajah Fay"Hati-hati dong Neng, iler dia banyak virus nya."
"Enak aja!!!, kaga ada iler bambank!!kamu ngapain sok akrab sama Nari?? perasaan dari dulu diem aja di pojokan mantengin kita-kita begaul ama Nari" di sekanya pinggiran bibir, memeriksa situasi jika emang ada sedikit liur di sana.
"Takdir yang membawaku untuk mendekati Nari, lagian cuman mau jagain Nari doang kok. Sensi bener, PMS ya??" selidik Udin.
"Jauh-jauh Nar, Udin punya penyakit menular, bahaya!" di tariknya Nari untuk keluar dari kelas.
"Kutu kupret!! fitnah aja teros. Mulut durjana, suatu hari bakal aku penjarain mulut kamu tuh" cecar Udin.
"Udah-udah. Aku nggak apa-apa kok Din. Makasih udah care" tukas Nari menyunggingkan senyum manis.
Dunia kelam serasa bercahaya terang benderang bagi Udin. Ini kali pertama dia mendapat senyum yang memang di tujukan Nari kepadanya.
"Dih tersipu malu, nggak ada akhlak. Nari udah punya pacar, jangan ke ge-eran ya!."
Udin manyun. Di sela perdebatan kecil mereka Keano nongol menambah keributan"Lepasin tangannya Fay!!, tangan kamu yang najis nggak berhak pegang-pegang tangan suci Nari!!" di tepisnya tangan tak berdosa Fay. Lantas dia menarik lengan Nari agar lebih mendekat padanya.
Nari jengah, pagi-pagi udah dapat masalah.
"Yah, si songong nongol" hardik Fay mengibas tangan ke udara.
"OI!!!, rame amat kek pasar" Febby dan Arin yang datang bersamaan mengambil alih diri Nari dari para bucin.
"Calon bini orang nih, main kerumunin aja" hardik Febby pula.
"Ayok Nar, lama-lama sama mereka bisa ikutan sengklek kamunya" uluran tangan Arin bagaikan penyelamat untuk Nari. Dia sudah pusing perihal hukuman dari sang Papah, para bucin bukannya nolongin malah nambahin masalah.
Akhirnya Nari dapat bernapas dengan lega. Dia mencurahkan segala keluh kesah kepada dua sahabatnya di dalam kelas. Sedangkan pada bucin lanjut berargumen di luar sana.
To be continued...
~~♡♡ Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen ^,^
27 Februari 2023
__ADS_1
Salam anak Borneo.