
Bukan Tuan Charllote namanya kalau tak kembali memberikan hukuman kepada Nari si Nona bontot, setelah bertukar pikiran dengan Tuan Heru, Papah nya Rivan akhirnya pertunangan Nari dan Rivan pun di batalkan. Namun.....Ada hal lain yang menunggu mereka.
Pada awalnya keputusan para orang tua cukup melegakan hati anak-anak, namun ketika Tuan Heru angkat bicara setelah sahabatnya mengumumkan pembatalan pertunangan Nari dan Rivan...
"Uang saku kamu akan Papah babat habis, karena kamu lelaki dan sudah berani menentang keputusan Papah, maka mulai hari ini Papah lepaskan dirimu."
Kening Rivan mengkerut pertanda bingung.
"Kamu...Papah minta keluarkan dari kediaman Papah dan Mamah."
Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi, tubuh Rivan kaku tak mampu bersuara. Kedua matanya menatap penuh tanya pada sang Papah, namun sayangnya tatapannya tak mendapat balasan dari orang yang selama ini bagaikan pilar penyangga dalam kehidupannya.
"Pah! kenapa mengambil keputusan sepenting ini tanpa berbicara dengan Mamah" Hardik sang Mamah, semarah dan sekesal apa pun dia kepada Rivan, tapi bukan keputusan seperti ini yang dia inginkan. Bandel begitu Rivan anak semata wayang tersayangnya.
Ujung jari Nyonya Sook menyentuh lengan Tuan Charllote, dia takut hal serupa juga terjadi kepada putri tersayangnya.
Dan benar saja, setelah bertatap mata Tuan Charllote kembali angkat bicara.
"Bukan hanya Rivan...Nari juga ku beri hukuman yang sama."
"Hah!!!" Joen bergegas turun dari lantai atas. Ini nggak bisa di biarkan. Si bontot nggak bisa di usir dari kediaman ini hanya karena masalah pertunangan yang bahkan tak dia inginkan.
"Ini namanya pelanggaran hak asasi Pah!!" sentak Joen yang tiba-tiba ikut bergabung bersama mereka.
"Diam kamu Joen!!."
"Nggak!!, kalau Nari di usir maka Joen juga akan memboyong Ghina dan Bae bersamanya!!" ucap Joen dengan nada tinggi.
Bulir air mata perlahan terbentuk dari kedua mata Nari, tak di sangka sang Papah tega mengusirnya.
"Silahkan saja kalau mau pergi, orang Narinya nggak Papah pinta angkat kaki dari sini kok" Tuan Charllote memasang wajah acuh tak acuh. Jelas saja sikapnya membuat Nyonya Sook geram"Kalau ngomong tuh yang jelas Pah!!" dan lengan sang suami pun mendapat pukulan dari sang istri.
Tuan Charllote meringis karena hantaman sang istri"Maksudnya sama seperti Rivan tuh di bagian uang sakunya" ucapnya mengelus lengan yang di tampol sang istri.
Akhirnya sang Nyonya rumah dapat tersenyum lega"Tenang nak! Mamah yang kasih uang saku."
"Heit!!!, kalau sampai Mamah ngasih dia uang saku bakal Papah pangkas juga uang saku Mamah."
Ancaman Tuan Charllote memicu kembali amarah Nyonya Sook"Cih...Suami apaan??anak sama istri nggak di kasih uang saku."
__ADS_1
Wajah Tuan Charllote mengolok-olok tanpa berkata untuk membalas ucapan penuh kesal Nyonya Sook.
Beralih kepada Rivan dan kedua orang tuanya. Sang Mamah tak jauh berbeda dengan Nyonya Sook, Ibu mana yang tega melihat anak nya bakal di usir dan nggak di beri uang jajan.
Melihat kedua orang tuanya cek-cok perihal dirinya Rivan yang tegar akhirnya berucap"Nggak papa kok Mah, Rivan emang salah. Beruntung Rivan hanya di keluarin dari rumah, bukannya dari kartu keluarga" ujarnya nyengir kuda. Dia berusaha mencairkan ketegangan.
Joen merasa iba dengan kondisi Rivan, tangannya menepuk pundak mantan calon adek iparnya, seakan memberikan aliran energi agar dapat bertahan menghadapi kerasnya keputusan orang tuanya.
Seulas senyum dia lemparkan pada Joen"Laki nggak akan lemah, ya kan bang."
"Yoi,hubungin abang kalau kamu perlu bantuan" bisik Joen pelan.
"Siap bang" Rivan balas berbisik.
...๐๐๐๐...
Keputusan telah di ambil, mau nggak mau Nari dan Rivan harus membayar mahal atas prilaku mereka.
"Kasihan banget si Rivan, mana mau ujian akhir. Pikirannya pasti nano-nano banget tuh" gumamnya sembari duduk bersandar di kursi gantung balkon kamarnya. Gelap malam bertabur bintang seakan menyinari hatinya yang suram, ada baiknya akhirnya dia lepas dari pertunangan palsu itu, namun mereka harus membayar mahal atas putusnya sebuah pertunangan.
Di tempat lain Rivan nampak sibuk berkemas. Sang Mamah menatap pilu anak semata wayangnya, lantas hendak kemana perginya Rivan??
Rivan tak tergiur akan bujukan sang Mamah. Pikirannya saat ini sedang berkelana mencari tempat berlindung dari dinginnya malam saat ini.
Tangan Sang Mamah mencoba menghentikan aksi Rivan, namun dengan lembut tangan itu di tepis Rivan"Rivan udah gede Mah, santai dong. Rivan bisa jaga diri baik-baik kok."
"Kamu mau ke mana??, udah malam begini Nak."
"Mungkin ke tempat teman-teman Rivan,Mah."
"Emang kamu punya temen?, bandel super nyebelin begini emang ada yang mau temenan sama kamu?." Si Mamah bukannya menghibur Rivan eh malah menjatuhkan harga diri anak sendiri"Mamah ngata-ngatain Rivan?."
Dengan seringai tawa bercanda, Mamah yang tak kalah cantik dengan Nyonya Sook itu bertingkah serba salah.
Nggak berapa lama berbincang sembari berkemas, kini tiba saatnya Rivan meninggalkan kamar ternyamannya itu. Seraut wajah sedih berusaha menahan genangan air mata, jelas itu adalah sang Mamah tercinta.
Di ruang tamu Tuan Heru menunggu Rivan yang tlah selesai berkemas.
"Ini uang terakhir dari Papah, terserah mau kamu apakan uang ini. Tapi Papah harap kamu bisa mengartikan uang ini, bukan sekedar untuk biaya makan dan tempat tinggal mu saja"Sebuah kartu berwarna hitam berlist emas dia serahkan kepada Rivan.
__ADS_1
Melihat dari bentuk dan warna nya saja Rivan tahu betul bahwa itu kartu ajaib yang mampu membeli apa saja"Uang tunai di dompet Papah ada berapa??" bukannya lekas menyabet kartu itu, Rivan malah bertanya tentang isi dari dompet si Papah.
Tuan Heru memeriksa uang tunai di dompetnya"800 ribu" ujarnya. Nampak pula beberapa uang puluhan terselip di slot sebelahnya.
Rivan berbalik pada Si Mamah yang mati-matian menahan tangis"Di dompet Mamah ada berapa?."
"hick hick...Awalnya lumayan banyak sih, tadi dapat arisan terus Mamah beliin berlian ini"Di sela kesedihan dia malah pamer berlian pada anak dan suaminya.
"Abis semua Mah??" mendengar menang arisan Tuan Heru tetiba fokus pada si istri, jelas itu bukan uang yang sedikit jika mampu membeli sebongkah berlian kan. Meskipun bongkahannya kecil doang.
Mamah Rivan mengeluarkan semua isi dompet super jumbonya dan menjejernya di atas meja ruang tamu.
"Sisa segini nih Pah". Tangannya menyusun lembaran uang berwarna merah yang memenuhi setiap ruang kosong di atas meja itu.
"Wes wes wes..."Rivan nampak menghitung.
Perlu beberapa menit untuk dia menyusun dan menghitung uang sisa belanjaan si Mamah. Tanpa menghiraukan tatap penuh tanya dari kedua orang tuanya, Rivan bahkan menghitung pecahan 1000-an yang terselip di setiap celah dompet si Mamah.
"9juta 156 ribu 500 rupiah" serunya menghela napas lega. Ya elah si rivan mentang-mentang anak sultan ngitung duit 9 juta kaya capek dan males banget, kalau Author nih auto semangat tingkat dewa dong ya ๐คญ.
"Uang Papah 800 45 ribu." Tuan Heru dan istri mengangguk manut dengan ucapan sang anak. Keluarga aneh ya, tadi aja di kediaman Charllote marah-marah si Papah, ngomel-ngomel si Mamah, sekarang mereka manut bin kalem sama si anak, yah namanya aja keluarga Rivan yang somplak.
"Kartu ajaib Papah nggak usah di kasih ke Rivan, cukup uang yang ada dari dompet Papah sama Mamah aja yang Rivan ambil. Selain biaya sekolah Rivan nggak akan meminta uang lagi dari Papah sama Mamah, gitu kan hukuman dari Papah?."
Manut lagi kan si Papah, dia mengangguk membenarkan perkataan Rivan.
"Tapi Nak, kamu tinggal di mana?."
"Rivan bisa beratap langit beralaskan bumi Mah"Sahutnya cengengesan.
Ada rasa sesal di hati Tuan Heru setelah menjatuhkan hukuman pada Rivan, namun keputusan telah terlontar dari mulutnya. Apalagi melihat sikap Rivan yang menerima dengan lapang dada hukumannya membuat hati kedua orang tuanya seketika melunak. Biasanya Rivan akan mencak-mencak dan mengamuk kalau di jatuhi hukuman. Apa lagi kalau bersangkutan sama uang, ckckckkc Rivan pasti bakal menggila. Namun kali ini berbeda, apakah Rivan sudah berpikiran dewasa?. Pertanyaan itu sempat terlintas di benak kedua orang tuanya.
To be continued...
โกโก~~Happy reading, jangan lupa like vote dan komen โบโบ
Salam anak Borneo.
__ADS_1