Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Kandas sebelum berlayar


__ADS_3

Kemeriahan atas pernikahan masih sangat terasa, namun di sudut lain dari tempat itu, ada sebuah duka yang sangat menyiksa. Hati seorang Nona muda tengah merasa perih, beginikah pahitnya cinta? di dalam benak Nari, cinta adalah sebuah kebahagiaan, bukan luka tak berdarah.


Di sini, di depan pintu taman labirin, berbeda dengan taman bunga yang ramai akan tamu undangan, taman labirin milik keluarga Charlotte ini nampak lengang, letaknya berbeda dengan area pernikahan di selenggarakan.


"Susah banget ya mengakui kalau aku kekasihmu?," ucap Nari lirih. Nona muda yang semula menghentak marah kini nampak lemah, energinya seolah habis karena nggak mendapat pengakuan dari Kai.


"Jawab, Kai! apa kamu malu menyandang status sebagai kekasihku??."


"Aku benar-benar menyukamu, Kai!!," emosi gadis ini seperti pelana kuda, membuat nada bicaranya pun ikut turun dan naik.


Kai menghela nafas panjang,"Itu nggak se- sederhana yang kamu pikirkan Nari. Sebuah hubungan nggak bisa bertahan jika di dasari keterpaksaan seperti ini."


Perkataan itu menambah sesak di dada Nari. Ya! dia tahu hubungan ini hanya dia sendiri yang memulainya, sedangkah Kai hanya terpaksa mengikuti demi keamanan beasiswa nya. Tapi, setidaknya bantu dia untuk terlihat benar-benar memiliki kekasih di depan si kembar, hal itu nggak ada salahnya, bukan?.


"Sesulit itu kah menerimaku sebagai kekasihmu, Kai? bukankah kamu juga menyukaiku?," gadis itu mengangkat pandangannya. Yang dia tahu Kai lah yang pertama kali mendekatinya hingga menumbuhkan benih cinta di hati kecilnya.


"Maaf, aku baru menyadari bahwa kita berada di dunia yang berbeda, Naria."


"Apa kamu buta!?, kita berada di dunia yang sama, kai!! kamu dan aku berpijak di atas bumi yang sama! kita berdua di naungi oleh langit yang sama!."


"Aku hanyalah orang biasa, Nar!!!," sentak Kai"Aku salah melangkah dengan mendekatimu, harusnya aku berdiam diri saja memandangmu dari sudut hatiku."


"BODOH!!."


"PENGECUT!!".


"Aku sangat kecewa kepadamu Kai. Pergilah!," sentak Nari dengan kedua tangan yang mengepal.


"Aku nggak perlu pelayan rendah diri seperti dirimu, aku nggak perlu kekasih yang mudah menyerah seperti dirimu!!. Mulai sekarang kamu ku pecat!," ucap Nari kembali menitikan air mata


"Nar....," langkah Kai maju untuk mendekati Nari.


Namun Naria mengambil langkah mundur, gadis itu bahkan menutup kedua telinga.


"Pergilah," ucapnya pelan"Maafkan segala ke-egoisanku memaksamu bersamaku. Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran, aku janji nggak akan mengadukanmu pada papahku."


"Aku__"

__ADS_1


"Nggak usah memaksakan diri lagi Kai, cepatlah pergi sebelum aku berubah pikiran," tatapan seribu makna Nari menyayat hati Kai. Sebenarnya dia sangat menyukai gadis di hadapannya ini, tapi jika melihat begitu besar perbedaan mereka, nyali Kai seketika menciut. Andai sang ayah nggak pergi begitu cepat. Andai kepergian sang ayah nggak menyisakan hutang yang banyak. Andai kehidupan mereka sedikit lebih baik dari sekarang setelah perginya kepala keluarga mereka. Ah, berandai-andai memang sangat menyenangkan, namun sangat menyakitkan saat menyadari semua itu hanyalah hayalan.


"Baiklah, aku pergi. Jaga diri baik- lbaik," jemarinya hendak menyentuh helai rambut Nari, namun gadis itu gegas menghindar.


"Tolong jangan bersikap manis kepadaku," suaranya terdengar begitu pedih. Bingkai matanya kembali berlinang air mata.


Kai mengantupkan bibirnya, berbalik dari hadapan Nari dan berjalan perlahan menjauhinya.


"Hick....hick...," tangis Nari pecah seiring menjauhnya Kai melangkah. Dirinya seakan kehilangan pegangan untuk bisa berdiri dengan kedua kaki.


Joen berdiri diam di balik tembok labirin. Nari memang bar-bar tapi Joen tahu Nari memiliki hati yang lembut.


"Sayang, kamu bawa Bae pergi ya. Aku yang akan nenangin Nari," rupanya sedari tadi Ghina juga menyaksikan kepedihan Nari, melepas cinta pertamanya.


"Heem, tolong bujuk dia agar jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Ini hari bahagia keluarga kita, setidaknya dia harus selalu tersenyum meskipun hanya di depan bang Jung dan Andrea," pinta Joen sembari mengambil Bae dari gendongan Ghina.


Tepukan hangat tangan Ghina mengejutkan Nari, dia berbalik dan mendapati kakak ipar sekaligus teman curhat terbaiknya. Tanpa bicara, di hanya terisak dalam tangis.


"Jangan di tahan, kalau mau teriak, teriak aja," ucap Ghina mengusap punggung Nari, pelan.


"Pertama kalinya aku merasakan merindukan dan mencintai seseorang, Ghin. Namun dia berpaling dariku karena aku anak orang berada. Apa aku harus membenci sang pencipta yang telah mengantarkanku menjadi putri dari keluarga Charlotte ini?," derai air matanya kembali berlinang. Ghina menepis air mata itu dan menatap Nari.


"Hatiku rasanya pedih, Ghin."


"Luka di hati akan cepat menghilang dengan berlalunya waktu. Kamu masih terlalu muda untuk patah hati seperti ini."


"Masih banyak lelaki yang jauh lebih tampan dari Kai, dan lebih mencintaimu dari pada Kai," tambah Ghina.


"Aku kecewa, semua usahaku sia-sia selama ini. Dia bahkan nggak berniat memperjuangkan ku di hadapan si kembar."


"Ini seperti bukan kamu, Naria. Kamu kecewa karena ini pengalaman pertama kamu saja. Hello!!, open your mind, dunia ini sangat besar. Perjalanan cintamu baru saja di mulai, nggak lucu kan kalau kamu menyerah sebelum berjuang."


Becutan semangat dari Ghina menyadarkan Nari. Dia cantik, baik hati, dan berduit seperti yang di takuti Kai. Jadi nikmat Tuhan mana lagi yang ingin dia dustakan?.


"Aku----haruskan aku berubah, Ghina?," ucapnya sembari menepis isak tangis yang tersisa.


"Ya!, berubahlah menjadi penakluk laki-laki, menyerang lelaki dengan segala kelebihan kamu!!," entah ini serius atau hanya candaan, Ghina mendorong Nari menjadi enggak baik.

__ADS_1


Ada sedikit senyum yang melengkung naik di wajah Nari"Bener juga tuh!," gumam hati Nari.


Melihat senyuman kembali terbit di wajah Nari, Ghina sediki merasa lega. Senyuman itu nampak natural, semoga saja hati kecilnya nggak terlalu menderita karena ulah Kai.


"Sudah nangisnya?," pertanyaan Ghina di angguki Nari.


"Sekarang kita samperin si dosen. Kamu nggak berniat memberikan selamat kepadanya?," Ghina bergelayut di lengan Nari.


"Owh astaga!! aku hampir saja melupakan orang sinting itu," celetuk Nari yang kini tentu dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Mereka pun berjalan meninggalkan taman labirin dengan bergandengan tangan.


"Aku mau jadi cewek jutek aja deh, Ghin," ucapnya sambil mengayunkan tangannya, yang sedang menggenggam jemari Ghina.


"Terus PHP-in para cowok-cowok di luaran sana," tmbah Ghina lagi.


"Hohoho, sepertinya menyenangkan," sahutnya lagi.


"Gimana dengan mulai memacari Alex?." Saran Ghina menghentikan langkah kaki Nari"Hehehhe..kamu jahat, kakak ipar."


"Abis itu mampir lagi ke Aron," sambung Nari terkekeh.


"Itu namanya cewek player, bukan cewek jutek!," dengan nakal Ghina melempar senyuman kepada Nari.


"Jutekin dulu, terus takhlukin. Kalau udah bosan tinggalin," seru Nari bersemangat.


"Ahahaha, bagus Nar. Semangat ya!!,"


Keluarga besar itu berkumpul di depan pelaminan mewah dan berfoto bersama. Dari ujung hingga ke ujung mereka nampak berbaris dengan rapi. Bahkan para pelayan dari kedua belah pihak pun di ajak bergabung dan berfoto bersama.


Joen senang akhirnya Nari tersenyum kembali, setidaknya lebih menyenangkan Nari yang bar-bar ketimbang Nari yang galau.


...****************...



To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


Salam anak Borneo.


__ADS_2