Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Manfaat sosial media


__ADS_3

Aura kebahagiaan tengah menyelimuti kediaman William. Tarian aneh yang di lakukan para Nona muda menjadi simbol kebahagiaan itu. Dan Andrea yang belum mengerti hanya ikut bergabung saja, melaksanakan ritual aneh itu bersama sang adik ipar. Sementara Jung, orang yang sedang di kelilingi Naria dan Andrea merasa di jadikan tumbal, sebenarnya apa yang sedang terjadi?!. Kebahagiaan jenis apa hingga membuat Naria yang semula murung mencari ceria?.


Rasa penasaran membuat Jung bangkit dari duduk, mengambil ponsel di tangan Naria. Pria ini membaca pesan di akun media sosial sang adik. Dan barulah di ketahui, Naria mendapatkan tawaran menjajakan barang milik sebuah perusahaan sepatu.


"Stop!!!, jadi kamu bakal menjajakan sepatu milik perusahaan ini?. Emang kamu mau? emang kamu bisa?."


Menghentikan aktivitas nggak biasa saat merayakan kebahagiaan itu, Naria mengajak Andrea duduk. Sang kakak ipar terlihat memijat pelipisnya, merasa pusing usai di ajak berkeliling sambil jingkrak-jingkrak"Bisa dong!. Cuman pamer sepatu doang kan?. Jepret sebentar selesai."


Jung menarik ujung rambut Naria"Gundulmu!. Pekerjaan seperti ini nggak semudah itu nenek lampir!. Akan ada perjanjian yang melandasinya, kamu nggak bisa asal jualan."


"Gundul???, orang rambut Nari lebat begini" gerutu sang adik.


"Yah...abang kayaknya ngerti banget, ajarin dong!."


Sebelah alis Jung menukik naik"Aku sibuk!."


"Sibuk ngapain?!. Ngajar aja sambil main ponsel!" sahut Nari.


Andrea melirik tajam ke arah Jung"Sayang, kok gitu? perasaan kalau lagi ngajar kamu memintaku untuk nggak ganggu dulu. Dan Nari bilang kamu ngajar sambil main ponsel, kamu selingkuh?!.".


Buset!! gitu amat pikiran Andrea. Ini juga si bontot, asal bicara"Weleh, ngomong gitu memangnya kamu ada di kelas ku? masih bocah juga sok masuk kelas sastra."


"Yaaaa...enggak lah. Aku kan masih SMA."


Melihat Naria menunduk dengan mulut mengerucut, Jung langsung mencubit hidung Naria"Pasti Kai yang bilang, ngaku nggak?."


"Nah...kalau Nari ngaku berarti bener dong. Abang ngajar sambil main ponsel."


Sorot mata Andrea semakin tajam.


"Ck!" Jung berdecih"Aku tau kok kamu beberapa kali melakukan panggilan video pada Kai di jam pelajaran ku, tapi di ruangan itu aku main ponsel karena materinya sebagian ada di ponsel ini" seraya memperlihatkan ponsel nya.


"Sayang kalau nggak percaya periksa aja" menyerahkan ponsel itu pada Andrea.

__ADS_1


"Lagipula, wanita mata yang mampu membuatku berpaling dari kamu?" berucap seraya mengusap pucuk kepala Andrea.


Owh! mata Nari rasanya gatal. Eh! tangannya juga, melihat interaksi manis mereka tangannya jadi gatal pengen tabok si abang usil. Dan...


Plak!!!, benar saja, Naria memukul lengan Jung yang sedang mengusap pucuk kepala sang istri"Perasaan tadi ngomong kerjaan deh. Kok abang jadi pamer kemesraan, mata aku jadi ternodai tau!!."


Mendelik pada Nari"Sumpah demi Neptunus, aku tu heran apa sih pesona kamu, sampai banyak yang suka. Sementara sifat asli kamu tu kayak gini, bar-bar dengan emosi seperti petasan.


"Abang banyak ngomong, ayo ajarin jualan di Internet" lah...gadis ini tiba-tiba merengek. Beneran seperti bunglon, sedetik lalu marah, sedetik kemudian merengek manja. Untung Andrea dan Jung sudah hapal betul dengan sifat Nari ini, jadi mereka nggak kaget.


Dan... lagi-lagi ada notifikasi terlihat di layar ponsel Naria. Menunjukan ada tawaran kerja sama lagi dari sebuah minuman energi, dan kopi sehat.


"Abang.... gimana dong?!" bergetar, tangan Nari memperlihatkan tawaran kerja sama itu. Andrea pun jadi penasaran, dia mengambil duduk di samping Jung dan ikut membaca pesan tersebut.


"Terima dong, bukanya kamu lagi perlu uang yang nggak habis-habis. Kalau nggak miara tuyul se-enggaknya kamu harus kerja."


Betul juga perkataan Andrea. Masalahnya, Naria belum mengerti cara jualan di akun sosial media ini.


Melihat sang bontot mungkin akan memiliki penghasilan sendiri, sebagai abang yang kerap memberikan uang setelah hukuman itu di berikan kepada sang adik, ada sedikit rasa nggak rela di hati Jung.


"Nggak usah!" begitulah yang Jung katakan.


Naria dan Andrea saling berpandangan, kening dua wanita ini kompak berkerut. Lho... bukankah ini jawaban yang bagus atas masalah Naria?. Kenapa Jung nggak setuju?.


"Kamu kan sudah pernah membuat kesalahan yang fatal, kamu yakin mau nerima tawar kerja ini tanpa seizin Mamah sama Papah?" Jung yakin, kedua orang tuanya pasti nggak akan memberi izin. Sebab, mereka nggak mau perhatian Naria terbagi, antara sekolah dan pekerjaan.


Ya! Papah dan Mamah. Saking senangnya Naria hampir melupakan mereka berdua. Demi kebaikan bersama, Naria nggak mau bersikap asal. Dia akan menjadi anak yang baik dan patuh demi memperbaiki pandangan kedua orang tuanya terhadap dirinya, terlebih pada sang Papah.


"Jangan lupakan juga Joen yang usil itu. Kamu juga harus kasih tau kabar ini sama dia. Dan aku yakin dia juga nggak bakal kasih izin."


"Abang! kok gitu sih?!. Aku kan cuman mau cari penghasilan sendiri, karena Papah nggak kasih aku uang jajan."


"Aku masih bisa ngasih!" hardik Jung.

__ADS_1


"Tapi kan bisa habis!." balas Naria mulai bernada tinggi.


"Heh cebong! nggak usah nge-gas!. Pokoknya aku nggak kasih izin kamu jualan di Internet. Kayak aku nggak mampu kasih kamu uang jajan aja."


Bibir bagian bawah Naria mencibir, seperti bocah yang akan menangis"Onta arab!!!, jualan di Internet nggak ada salahnya kan!!!!!."


Baru selesai Naria berseru, telapak tangan Jung sudah mendarat di wajahnya. Sontak si bontot terhuyung hingga akhirnya terjerembab ke lantai. Beruntung, lantai kamar itu di lapisi dengan karpet berbulu nan empuk. Setidaknya kepala Naria yang terhenyak ke lantai nggak mendapatkan benturan keras.


Pergulatan pun terjadi, Naria dengan segala ilmu bertempur sedari bocah, mengeluarkan jurus gigitan maut. Namun, Jung yang juga sudah ahli semakin pandai berkelit dari serangan Nari.


"Heiii jangan berantem!!" Andrea berseru, namun nggak berniat menarik salah satu dari mereka.


"Naria!!!!!".


"Jung!!!!!."


Nggak satu pun dari mereka menghentikan pertikaian. Hingga tangan gesit Nari berhasil meraih rambut lebat Jung. Dan...


"Argghhhh!!!!!, lepasiiiinnnn!!!!!."


Bukan Naria namanya kalau melepaskan cengkeramannya. Suara jeritan dan rintihan Jung sangat merdu baginya. Andrea hendak membantu sang suami, namun gagal karena Nari memberikan ancaman.


"Coba aja maju, aku bikin pitak kepala abang!!."


Owh...Jung yang malang. Andrea hanya bisa menggigit bibir, memaksa otaknya memikirkan cara untuk melepaskan sang suami dari kemarahan nenek lampir.


Aha! mereka berdebat perihal pekerjaan di sosial media. Maka, Andrea meraih ponsel di atas nakas.


"Nari, aku akan melakukan siaran langsung di Instagram, kamu yakin nggak mau melepaskan Jung???."


To be continued...


Selamat membaca, jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2