Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Platonik Love


__ADS_3

...**Membuatnya sebuah kebetulan adalah kesalahan pertamaku,...


...Membuat kebetulan itu menjadi nasib adalah kesalahan keduaku,...


...Terus mendorong dirimu dan membuat nasib menjadi takdir adalah kesalahan ketigaku,...


...Menyerah dalam cintaku dan melangkah pergi meninggalkanmu adalah kesalah terakhirku.** -Kai-...


...❣❣❣❣...


"Sampai detik ini Nari masih sendiri," kata-kata Jung terus mengusik pikiran Kai. Masih terduduk di kursi taman memandang kosong lurus ke depan. Tubuh boleh di sini, namun hatinya telah lama tertinggal bersama Nari.


Setahun terakhir, pemuda ini melalui hari-hari dengan penyesalan. Menahan rindu yang terus menggerogoti hatinya. Senyuman Nari, canda Nari, kelakar Nari, ke-egoisan Nari. Sungguh, Kai sangat merindukan semua tentang Naria. Pecundang!!, ya dia memang pecundang. Setelah terperangkap dalam rasa percaya diri, yang kemudian merosot ke bumi, akhirnya Kai memilih mundur dari hadapan Nari. Melangkah menjauhi wanita yang jelas-jelas menginginkannya, bahkan sangat menginginkannya.


Dikala rindu sedang menggebu, Kai hanya bisa memandangi potret sang gadis, yang di ambil dari salah satu foto Naria di laman Instagram.


"Apa kabar kamu sekarang?," berbisik seraya mengusap wajah. Setiap kedua mata itu terpejam, maka bayangan Nari yang menangis di hadapannya, akan terlihat sangat jelas. Sungguh sang waktu tak serta merta mampu menghapus bayangan kesedihan itu, apalagi Nari sendiri, yang merasakan patahnya hati. Begitu juga ketika bertemu dengan Jung, Kai merasa sangat kesakitan jika melihat Jung yang baginya sangat menggambarkan visual Nari dalam versi lelaki.


"Hei!!! melamun lagi, bro? Kesambet setan perjaka lho," Dion sang sahabat semata wayangnya, datang dengan sebotol air mineral.


Tanpa menyahut ucapan Dion, Kai langsung menyabet botol air mineral dan membasuh wajahnya.


Melihat gelagat nelangsa yang sudah biasa dari seorang Kai, Dion hanya bisa menghela napas.


"Kata Pak Jung, Nari masih sendiri."


Dion diam mendengarkan. Setelah sang sahabat nggak lagi bicara, dia menangkupnya wajah nya menghadap, Kai yang menekuk wajahnya ke bawah. Kali ini jejeran rumput hijau di bawah kursi taman mendapat perhatian lekat dari kedua mata Kai.


Setelah beberapa saat menunggu kata yang keluar dari mulut sang sahabat , Dion pun mengajukan pertanyaan"Terus, mau sampai kapan kamu menahan diri?."


Cowok berwajah sendu itu masih tertunduk, lidahnya masih kelu meski sekedar mengucapkan kembali nama Nari.


"Eh, baru ingat. Indah nanyain kamu terus tuh, dia sampai bela-belain pindah jurusan demi dekat sama kamu. Ini kesempatan kedua Kai. sama seperti Nari, Indah juga terang-terangan mengejar kamu. Kelakuan gadis itu persis seperti Nari dulu."


Pikirannya berkelana entah kemana, setiap kata yang keluar dari mulut Dion lewat begitu saja di telinganya.


"Oi!!, move on dong bro!! cewek lain masih banyak. Tuhan menciptakan perempuan lebih banyak dari lelaki di dunia ini biar kita para lelaki bisa memilih sesuka hati."


"Ngomong tu di pikir dulu! mau di hajar cewek-cewek kamu??, tuh lihat mereka mereka pada melototin kita," Kai menunjuk kursi sebelah yang di duduki tiga cewek jurusan sastra. Mereka jelas memandang penuh amarah kepada Dion.


"Maaf mbak!," Dion memberi hormat dengan membungkukan badan.


"Cih!! anak beasiswa belagu. Lidahnya di jaga ya, belakangan ini lidah sapi juga sudah bisa di makan. Apalagi lidah cowok belagu kaya kamu, bisa-bisa aku bikin lalapan."


Dion membungkam mulutnya"Maaf mbak!! keceplosan tadi."


"Mbak!, mbak!! kita seumuran kali. Sialan kamu!." sergah cewek di kursi sebelah.

__ADS_1


Dua sahabatnya menenangkan cewek itu.


"Sabar Ve, cowok kaya gini harusnya kamu takhlukin terus kamu lepehin ke bumi. Biar tau rasa dia," bisik sahabatnya yang bernama Midori. Evelyn melirik Dion dari atas sampai ke bawah.


"Oke juga ni cowok, otaknya encer pula. Calon arsitek nih. Kalau jadi kekasihku se-enggak Papah menyukai manusia pintar, mungkin hubungan kami nggak akan di tentang meski Dion dari keluarga bisa," batin Evelyn.


"Pacaran yuk."


"Uhuk uhuk!!" Kai tersedak. Botol minuman yang di bawa Dion bahkan terjatuh ke tanah.


"Aku?? ka---ka--kamu nembak aku??".


Kai menyeka mulutnya dengan kemeja Dion yang masih shok, atas ajakan berpacarn mendadak Evelyn.


"Ve!! jangan main-main dong! nggak asik nih," keluh Sasa.


"Tau nih!," sahut Midori. Gadis blasteran Jepang Indonesia itu nggak menyangka dengan tindakan random sang sahabat. Akh Midori ini, bukannya barusan dia nyaranin buat nakhlukin tu cowok. Ckckck


"Iya, aku ngajak kamu jadian. Mau kan??" Evelyn tersenyum manis kepada Dion.


Wajah Dion mendadak merah merona, Kai terkekeh geli melihat tampang malu-malu sahabatnya itu. Setau Kai, ini kali pertama Dion mengenal cewek dalam urusan cinta. bakal gimana jadinya hubungan Dion dan Evelyn ya.


...❣❣❣❣...


Di lain tempat Nari sedang berhadapan dengan Febby dan Arin yang memberondong nya dengan bermacam pertanyaan.


"Kok bisa temenan sama Rivan??."


"Gimana rasanya bolos sekolah??."


"Serius bakal di kawinin sama Rivan??."


"Guys!!! aku punya mulut cuman satu ya! kalian kalau nanya satu-satu dong," Naria menyeruput es jeruk yang di sodorkan Ikbal kepadanya. Nggak lupa dia nangkring di samping Nari sambil ngipasin si tuan putri, pakai kipas ajaib milik Febby. kemana-kemana itu kipas sakti selalu di bawa si Febby. Makhlum, Febby anak mami banget, dia nggak tahan gerah.


"Jawab aja deh, kalian bolos kemana kemarin." Arin begitu penasaran. Dia ikut menyeruput es jeruk milik Nari.


Plek!!!,"Beli sendiri sana!. Aku beli buat Nari ya, bukan buat sharing sama kamu!!." sentak Ikbal sang kipas sakti itu.


"Nggak pake mukul juga kali, nyet!!." Arin ke konter minuman kantin, yang nggak jauh dari meja mereka setelah menoyor jidat Ikbal terlebih dahulu.


"Buset ini cewek, untung jidat aku cakep." Ikbal mengelus jidatnya.


"Lain kali jangan bolos lagi ya, beb," Ikbal beralih kepada Nari. Menyeka lembut tepian bibir Nari yang belepotan setelah menggigit roti isi keju pemberiannya.


"Sudah kapok aku, Bal," ujar Nari tersenyum, membuat kedua mata indah itu terlihat seperti bulan sabit.


"Pinter," Ikbal mengelus pucuk kepala Nari dengan lembut.

__ADS_1


"Sialan!!, jelas-jelas dia bolos sama Rivan. Ikbal masih care aja sama tu cewek!!," gerutu Rena di ujung kantin.


"Nah, sakit hati kan?, gitu juga hati aku kalau lihat Fay perhatian sama Nari seperti itu," balas Nasya.


"Tunggu deh, paling bentar lagi cowok idaman kamu bakal ngintilin si korea, percaya deh," Rika berkata yakin sambil menyantap makan siangnya. Dia sengaja duduk di pinggir kantin biar bisa liatin Hendro main basket bareng Zaid sama Kevin.


"Nah!! nah! bener kata kamu Ka, diam-diam kamu dukun ya," tandas Rena menunjuk ke arah Fay. Di iringi senyuman berjalan ke arah Nari dengan tangan penuh makanan dan minuman.


Nasya cemberut, mulutnya manyun beberapa senti.


"Hahahha!!, Rika gitu loh. Di mana ada Nari pasti para lelaki bucinnya pada berdatangan. Aku suka heran deh sama tu anak, dia pake pelet apa sih?," Rika berujar.


"Memang kita-kita ikan pake di kasih pelet??." Keano sama Bisma nongol bergabung di meja Rika and the geng.


"Beh kaga nyambung ni orang, jampe-jampe mbah dukun, bukan pelete buat ngasih makan ikan, pe'ak!!."


"Ngomong-ngomong, kalian sekarang bucinnya Nari juga?, bikin club ekstrakurikuler atas nama Nari deh. Isinya para pejuang cupu si cewek sialan itu," lenguh Rika kesal.


"Sirik aja kami!. Nari anaknya baik tau. Tapi kamu juga baik, akh! kalian sama-sama baik deh pokoknya. Sama-sama cantik juga," Bisma mengedipkan mata pada Rika.


"Aw!! aku merinding nih. Mata kamu kelilipan ya Bis?? kedip-kedip seperti bola lampu soak," tutur Sasa bergidik ngeri.


Bisma mengacak-acak rambut Sasa"Ulat nangka nyinyir aja kerjaannya."


Sasa mencubit lengan Bisma, terdengar jeritan kesakitan Bisma ke seluruh penjuru kantin. Mereka mendapat tatapan aneh dari siswa-siswa lain yang sedang makan siang di sana. Enggak terkecuali Nari and friends.


Kenao dan Bisma melambaikan tangan ketika Nari melirik ke arah mereka. Tentu saja lambaian mereka mendapat balasan dari Nari. Jadi manyun berjamaah deh bibir Rika, Rena sama Nasya.


"Jangan di liatin, fokus sama aku aja dong, Naria," Fay menggeser Arin yang duduk di hadapan Nari.


"Ya elah gila banget dah!!," keluh Arin terpaksa minggat ke kursi sebelah.


...***...



Nama: Dion Fahlefi.


Tinggi: 1,75.


Alamat : Kota A.


Data tambahan: Siswa beasiswa Klan A.


To be continue...


~~♡♡ Happy reading. Jangan lupa like, vote, fav dan komen ya guys ^,^

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2